Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 291. AMPUN SAYANG


__ADS_3

"Oaaa.... Oaaaaa....Oaaaa..." suara tangis bayi seketika membuat keduanya menoleh ke arah kamar.


"Sayang, Roberto bangun."ucap Robert ketika mendengar Sang putra menangis.


"Kamu samperin lah, Kan sekarang yang berperan jadi aku itu kamu,"balas Mariska yang membuat Robert membuang nafas kasar. Saat ini ia tak kuasa membantah.


"Baru juga mau makan! gerutu pria itu Seraya bangkit dan melangkah dengan kesal ke arah kamar.


"Sayang, Roberto kayaknya mau nyusu!"teriak Robert dari dalam kamar.


"Kamu buatkan aja, susu dan airnya ada di kamar,"balas Mariska Seraya berjalan ke arah kamar menghampiri suaminya.


"Kok bau, dedeknya sayang?"tanya Robert udah pada putranya yang terlihat mengejan.


Prutttt


Terdengar bunyi keras dari pantat bayi yang masih tertidur di atas kasur itu.


"Hoek.... bau banget! sayang, dedeknya bau nih!" teriak Robert kembali sambil menutup hidungnya.


"Kamu bersihin lah!" titah Mariska yang kini telah berdiri di dekatnya.


"Oaaa...Oaaaa...."tangis Roberto terdengar semakin kencang.


"Sayang, mana susunya?" Robert menengadahkan tangan ke arah Mariska.


"Kan aku sudah bilang, kamu buat aja sendiri. Tuh susu dan airnya ada di sana!" Mariska menunjuk ke arah susu formula dan juga air yang terletak di atas maka.


"Sayang, Kok kamu tega banget sih? Roberto kan lagi pup, dia juga mau nyusu, masa kamu biarin gitu aja." Robert menatap karya istrinya dengan wajah memelas.


"Kan kamu yang ngurus Roberto hari ini. kenapa kamu malah nyalahin aku?" balas Mariska sambil bersedekap dada.


"Aku nggak bisa, Sayang. Kamu bantuin ya sayang."Robert menatap darah istrinya dengan wajah memelas.


"Gimana? sekarang sudah tahu belum Bagaimana rasanya jadi seorang wanita yang mengerjakan semua pekerjaan rumah dan mengurus anak sendirian?"Mariska menatap intens ke arah suaminya.


"Iya, sayang. Aku minta maaf. janji deh nggak akan meremehkan pekerjaan kamu lagi. tanpamu apalah aku ini? masak nggak becus, seharusnya kecap manis malah jadi kecap asin, bikin susu Roberto juga nggak bisa, ganti popok Roberto juga nggak bisa, nyapu udah nggak bersih. Aku minta maaf sayang." Robert meraih tangan Mariska dan mencium tangan sang istri.


"Bagus deh kalau kamu sudah sadar. Mudah-mudahan nggak kerasukan Dajjal lagi." sinis Mariska.


"Kamu udah maafin aku, kan? tanya Robert dengan tatapan penuh harap.


"Iya, asal jangan mengulanginya lagi. Setelah ini, tidak akan ada kesempatan kedua ketiga dan seterusnya."


"Siap, sayang. sekarang aku udah bisa buka daster kan?


"Iya, ganti baju sana! geli banget aku lihatnya."Mariska terkekeh.


"Terima kasih sayang."Robert langsung memeluk tubuh Mariska dan memberikan ciuman mendalam pada pipi istrinya.


"Robert, sudah ih! kasihan tuh Roberto udah nggak betah."kemarin suka mendorong wajah suaminya agar menjauh.


"Kok, manggil Robert sih?"Robert menatap Mariska dengan bibir mengerucut


"Iya, Pa."


"Nah, gitu dong Ma. entar habis ini kita jalan-jalan.. Mama boleh beli apapun yang Mama mau." rayu Robert.

__ADS_1


"Asik, mau beli tas Hermes!"ucap Mariska dengan penuh antusias.


BUGH !


Robert menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai saat mendengar ucapan sang istri.


***


Sementara itu, Rian sedang menerima telepon sambil berdiri di depan jendela kamar yang sudah terbuka.


"Aku tunggu di depan ya!"


"Iya."


"Iya, sebentar lagi suamiku berangkat kerja."


"Serius?"


"Iya, entar ketemu di gerbang aja."


Seketika Herlan yang baru keluar dari kamar mandi menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan sang istri.


Kening pria itu mengerut, dia berusaha menembak dengan siapa istrinya berbicara.


Namun, perkataan Rian tadi membuat darahnya seketika mendidih. Otaknya langsung memikirkan hal negatif.


Herlan semakin mendekat ke arah Rian yang masih anteng menerima telepon.


"Ya, sudah. Oke aku tunggu. Hati-hati di jalan."ucap Ryan kembali pada lawan bicaranya di seberang telepon.


Ia benar-benar tidak akan mengampuni jika Rian berani bermain di belakangnya dengan laki-laki lain.


"Teleponan sama siapa kamu?!"surga Herlan dengan sorot mata tajam.


Seketika Rian menutup telepon dan menoleh ke arah suaminya.


"Bang Herlan,"ucapnya sambil membalas tatapan pria itu.


"Teleponan sama siapa kamu?!"sergah Herlan kembali dengan geram. urat leher pria itu terlihat menegang dengan rahang mengeras.


"A...Aku..."


"Kamu sedang teleponan sama laki-laki kan?!"her langsung makin mendekat dengan sorot mata yang semakin menajam. Bahkan, Rian belum pernah melihat tatapan seperti itu dari suaminya.


"Aku tadi...."Rian terdiam sambil meremas jemarinya sendiri yang sedang memegang ponsel.


"Tadi apa? kamu sedang teleponan sama laki-laki lain kan? mana ponselnya? sini! Herlan menyodorkan tangannya ke hadapan Rian.


"Enggak, kok. Aku tadi cuman telepon...."jawab Mariska sedikit ragu.


"Sama siapa? kenapa sampai bilang hati-hati segala? dari raut mukamu, ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku. Nana Sini ponselnya!"Herlan semakin menyodorkan tangannya ke arah Rian.


"Nggak mau! orang gak ada apa-apanya,"enak Rian sambil menyembunyikan ponsel ke belakang tubuhnya.


"Kalau nggak ada apa-apa, Kenapa ponsel kamu sembunyikan seperti itu? mana sini cepat! Herlan mendekat, pria itu memepet tubuh Rian pada tembok dan merampas paksa ponsel tersebut dari tangan istrinya.


"Bang, balikin ponselnya!"

__ADS_1


"Diam!"Herlan menekan dada Rian sambil membuat tubuh wanita itu benar-benar menempel pada tembok. sorot matanya semakin tajam dengan urat-urat yang terlihat menegang.


Ini seolah bukan seperti Herlan yang biasanya. "buset, kalau begini caranya bisa mati aku. Bang Herlan galak banget, habis makan apa sih? gerutu Rian dalam benaknya.


Herlan menyalakan layar ponsel Rian, namun layar ponsel itu dikunci dan membuatnya tidak bisa membuka isi ponsel tersebut.


"Sejak kapan ponsel kamu dikunci begini?"Herman menunjukkan lahir ponsel itu karena wajah istrinya dengan geram.


"Sejak tadi,"jawab Rian spontan. setelah itu ia menggigit Bibir bawahnya sendiri.


"Kenapa? kamu takut ketahuan selingkuh?" surga Herlan dengan nada bicara yang terdengar semakin meninggi.


"Bu...Bukan begitu...."


"Apa? sekarang, kamu buka kunci layar ponsel! Aku mau melihat seperti apa laki-laki selingkuhanmu!"Rian kembali menyodorkan ponsel itu ke hadapan Rian.


"Siapa bilang selingkuhan aku laki-laki?"Rian menatap suaminya dengan serius.


"Maksudnya? Herlan menautkan kedua alisnya saat mendengar pertanyaan ambigu dari sang istri.


"Selingkuhanku sejenis denganku. Hahaha...."Rian tertawa kencang, setelah itu ia segera berlari keluar dari kamar.


Saat ini, putranya sedang berjemur bersama neneknya di halaman rumah, sehingga Rian keluar kamar sendirian meninggalkan Herlan yang diliputi kebingungan.


"Rian, tunggu? Apa maksudmu? jangan main-main denganku!"Herlan berlari mengejar langkah istrinya keluar dari kamar.


"Rian! maksudnya kamu jeruk tabrak jeruk gitu?"teriak Herlan kembali sambil terus mengejar langkah Rian yang kini telah menuruni anak tangga.


"Enakan tabrak pisang, Bang."jawab Rian sambil kembali tertawa.


"Bukan, kamu itu jeruk makan jeruk!"gram herland kembali.


"Tapi aku lebih suka makan terong, Bang."Rian terus melangkah dengan cepat sampai tiba di lantai bawah.


"Ini kenapa sih? kok pada ngomongin buah-buahan sambil kejar-kejaran?"tanya Nyonya Laras yang muncul dari pintu depan sambil menggendong cucunya.


"Ini, Ma. Rian selingkuh,"jawab Herlan dengan cepat yang membuat matanya nyala harus seketika membulat.


Rian mematung, ia takut mertuanya marah besar.


"Selingkuh apaan? Nggak mungkin lah. ada-ada aja kamu. orang Rian ini istri baik-baik. paling kamu juga salah paham... Rian, biar mama aja mandi yang cucu mama ya."ucap wanita paruh baya itu sambil menatap ke arah menantunya.


"Iya, ma terima kasih."balas Rian sambil membuang nafas lega.


"Sebenarnya anak mama itu aku atau kamu sih? kok mama lebih mimik kamu!"Herlan menatap istrinya dengan kesal.


"Karena aku nggak salah. Wleee..."Ryan menjulurkan lidahnya setelah itu ia tertawa kencang sambil berlari keluar.


"Heh, Awas kamu ya!"Herlan kembali mengejar istrinya yang kini telah berdiri santai di depan teras rumah.


"Kamu lagi nungguin siapa?!"sergah Herlan saya Raya berdiri di samping Rian. pria itu kembali melempar tatapan tajam kerasan istri.


"Lagi nungguin seseorang."jawab Ryan santai yang membuat darah suaminya semakin mendidih.


"Seseorang siapa? jangan main-main sama aku!" Herlan menarik bahu Rian sambil membuat wanita itu menoleh ke arahnya.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2