
Setelah Mariska memberitahu syarat yang akan dijalani oleh Robert, Robert menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Kok gitu sih sayang? apa tidak ada syarat lain lagi? tanya Robert kepada sang istri.
"Kamu mau aku dan Roberto masih di sini tidak? tanya Mariska dengan nada sedikit meninggi.
"Iya dong Sayang, Aku tidak ingin kalian berdua pergi dari rumah ini. kalian jantung hatiku."sahut Robert.
"Kalau begitu, lakukan seperti syarat yang aku berikan."ucap Mariska dengan tegas.
"Oke deh, Jika dengan begitu kamu bisa memaafkan aku, aku akan melaksanakan semuanya."
"Nah gitu dong, biar kamu tahu rasanya gimana Jadi aku dan tidak akan meremehkan aku lagi."
"Sayang, di jidat kamu ada apa itu? coba sini mendekat!"Robert menunjuk ke arah dahi Mariska.
"Ada apa sih?"Mariska melakukan kedua alisnya.
"Itu, pokoknya sini mendekat! bahaya itu,"Robert memasang wajah serius.
"Apaan? aku takut!"Mariska mencondongkan wajahnya ke arah Robert.
Cup!
Pria itu malah melabuhkan ciuman pada rekening istrinya. "Terima kasih istriku yang cantik, sundul langit,"ucap Robert setelah itu.
"Idih, modus banget!"protes Mariska dengan kesal.
****
Sesuai janji, hari ini Robert akan berperan sebagai Mariska demi mendapatkan Maaf dari istrinya.
Bahkan, pria itu rela libur dan menutup cafenya khusus hari ini.
"Sudah siap belum?"tanya Mariska setelah suaminya keluar dari kamar mandi.
Robert baru selesai membersihkan diri, pria itu masih mengenakan selai handuk tipis yang melingkar pada pinggangnya.
"Sebentar, aku pakai baju dulu Sayang."Robert berjalan ke arah lemari pakaiannya . Begitupun dengan Mariska, wanita itu ikut berjalan ke arah lemari pakaian dan membuka lemari bagian petak baju miliknya.
Tangan Robert mengambil sebuah kaos yang akan dikenakannya, namun tangan Mariska segera menahan dan mengambil kembali sebuah kaos Dari ranjang suaminya.
"Loh, Kok diambil lagi, Sayang! Robert menatap heran ke arah istrinya.
"Hari ini kan kamu mau mengerjakan pekerjaan yang sepatutnya aku kerjakan, jadi untuk memperdalam peran, kamu juga harus berpakaian seperti aku ketika melakukan pekerjaan rumah."jawab Mariska dengan bibir yang tersenyum miring.
__ADS_1
"Maksud kamu?"Robert menautkan kedua alisnya, pria itu masih belum memahami ucapan istrinya.
"Kamu harus pakai ini!"Mariska mengambil sebuah daster dan menunjukkannya di depan wajah Robert.
"Apa?"mata pria itu membulat sempurna, bahkan hampir keluar dari tempatnya.
"Yes, ini adalah baju dinas wanita di Saat mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi, kamu harus pakai ini biar kamu juga memahami Kenapa wanita berpenampilan kucel saat membereskan rumah. Karena.... kalau kamu mengerjakan pekerjaan rumah memakai baju dan celana yang rapi, itu akan terkesan ribet. Paham! Mariska menatap tajam ke arah Robert.
"I ...Iya, paham,"jawab Robert sedikit ragu.
Ia ingin membantah, tetapi saat ini istrinya seolah sedang menguasai bumi.
"Good! sekarang, kamu pakai. setelah ini masak dan menyiapkan sarapan seperti apa yang aku lakukan setiap hari."Mariska menyerahkan daster itu ke arah tangan suaminya.
"Astaga, sayang. Ada-ada aja. nggak sekalian aku ini pakai ****** ***** kamu juga,"protes Robert Seraya memperhatikan sebuah daster tipis bermotif bunga yang dipegangnya.
"Sudah, jangan berisik! Biar kamu lebih memahami dan menghargai peran wanita,"balas Mariska yang seolah tak mau lagi mendengar bantahan.
"Astagfirullah, Ya Allah semoga setelah ini pedangku nggak loyo walaupun aku pakai daster jadi emak-emak,"cicit Robert dengan wajah memelas.
"Cepat!"titah mariska sekembali yang kini sedang berdiri di depan pintu kamar.
"I ..Iya, sayang,"Robert segera memakai daster itu dengan cepat.
"Jangan banyak protes, ini tuh hukuman buat suami yang berlagu dan merendahkan harkat serta martabat seorang istri."cerocos Mariska dengan kesal.
"Iyaa iyaa. Sudah, jangan ngomel terus."Robert berjalan mendekat ke arah Mariska. Wanita itu menahan tawanya saat melihat Robert yang memakai daster berjalan dengan kaku.
"Ya sudah, Sekarang kita ke dapur. Aku cuman mau ngasih instruksi, nanti yang ngerjain semuanya itu kamu,"Mariska menarik tangan Robert ke arah dapur.
Saat ini Roberto sedang tidur, sehingga ia bisa leluasa mengerjai suaminya.
Robert mengikuti setiap perintah Mariska, Ia mengolah beberapa bahan untuk sarapan.
Mariska hanya memberikan instruksi, selebihnya Robert yang melaksanakan.
Tak lupa, Mariska mengabadikan setiap momen yang dilakukan oleh Robert. dia mengambil video di saat Robert memasak, ngepel, cuci piring dan melakukan pekerjaan lainnya.
"Alhamdulillah, memasaknya sudah selesai Sayang. Sekarang saatnya kita makan."ucap Robert dengan penuh antusias.
"Oke, Mama tadi pagi sudah sarapan bubur sama Ciwi sebelum berangkat ke Sayang sarapan tinggal kita aja,"balas Mariska.
Robert mencuci tangannya yang terasa kotor, pria itu melakukan kedua tangannya yang basah pada daster Mariska yang dipakai olehnya.
"Astaga, kamu jorok banget sih! kalau habis cuci tangan, lapnya ke sini bukan ke daster."Mariska menunjuk sebuah lap yang menggantung di dekat wastafel.
__ADS_1
"Maaf sayang. Aku nggak sengaja."enak Robert.
"Bukan nggak sengaja itu, jorok aja."balas Mariska.
"Sudah, jangan marah terus. Perut aku keroncongan, mending sekarang kita makan dulu!"Robert menarik tangan Mariska dan duduk di kursi yang menghadap dengan hasil masakannya.
"Kayaknya semua masakanku enak."ucap Robert Seraya mengambil nasi dan beberapa lauk yang telah dimasaknya.
"Awas ya kalau nggak enak."Mariska mengikuti kegiatan yang sama mengambil nasi dan lauk.
"Kamu yang ngasih instruksi, aku mah cuman melaksanakan perintah aja."oceh Robert.
Mariska mulai menyiapkan ayam kecap hasil masakan suaminya.
Baru juga masakan itu masuk ke dalam mulutnya, sudah ya keluarkan kembali.
"Loh, kok Kamu keluarin lagi, Sayang?" Robert yang belum mencicipi masakannya menatap heran ke arah Mariska.
"Ini beneran ayam kecap?" tanya Mariska dengan ekspresi aneh.
"Iya, Kan kamu bilang tadi tambahin kecap yang banyak. Ya udah aku kasih kecap yang banyak."
"Kecap apa?"Mariska semakin menatap intens karena suaminya.
"Ya kecap yang ada di sana!"Robert menunjuk ke arah rak penyimpanan bumbu.
Mariska bangkit dan mengambil sebotol kecap yang ditunjuk oleh suaminya.
"Yang ini?"tanyanya sambil memegang botol kecap itu.
"Iya."
"Astaga, Robert! pantesan rasanya asin, ini tuh kecap asin bukan kecap manis!"teriak Mariska dengan kekesalan setinggi langit.
"Masa!"Robert menautkan kedua alisnya.
"Coba kamu baca! ini tuh kecap asin!" geram Mariska.
"Mana ku tahu, kan kamu cuman menyuruh pakai kecap. nggak ngomong pakai kecap manis atau asin."Elak Robert kembali tidak mau kalah.
Mariska menata tajam ke arah Robert dengan Gigi mengerat.
Ia menarik nafas dalam-dalam akan memberikan ultimatum untuk suaminya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1