Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 230. ANDINI KONTRAKSI


__ADS_3

Setelah pintu dibuka oleh asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu, Mariska langsung mengajak Robert menuju kamar sang ibu yang tergeletak di lantai atas.


"Hati-hati, sayang!"Robert menggandeng tangan istrinya saat menaiki anak tangga.


Setelah itu, keduanya sudah tiba di depan kamar mamanya Mariska. Robert sudah menarik nafas panjang, menyiapkan banyak oksigen untuk menghadapi mertuanya.


Mariska mengetuk pintu terlebih dahulu dan membukanya dengan perlahan. Wanita itu segera masuk ke dalam kamar sang ibu yang diikuti oleh Robert dengan langkah ragu.


"Assalamualaikum Ma."ucap Mariska sambil mendekat ke arah ranjang sang ibu. Terlihat seorang wanita paruh baya sedang berbaring di sana.


"Waalaikumsalam. Anak mama sudah datang." wanita paruh baya itu duduk sambil bersandar kepada kepala ranjang.


Mariska mencung punggung tangan ibunya yang dilangsung disusul oleh Robert.


"Mama sakit apa? terus, Papa kapan pulangnya?"tanya Mariska Seraya duduk di tepi ranjang sang ibu.


"Mama sakit kepala, kayaknya darah tinggi Mama lagi kumat. Terus, Papa lagi keluar kota, mungkin sekitar 3 hari lagi baru pulang." jelas mamanya Mariska dengan.


Robert yang mendengar itu menjadi tidak tega. Walaupun mulut mertuanya seperti kebun cabe, tetapi ia masih punya rasa kasihan kepada wanita yang telah melahirkan istrinya itu.


"Sayang, mending sekarang kita bawa Mama ke rumah sakit aja buat berobat!"ajak robek dengan nada bicara penuh hati-hati.


"Ma, kita ke rumah sakit yuk!"ajak Mariska kepada ibunya.


"Ke rumah sakit, naik motor sama suami kamu gitu?"tanya mamanya Mariska jangan ganggu aja yang terlihat mulai tidak bersahabat.


"Naik mobil Ma,"jawab Robert dengan segera.


"Ya udah, kalian pesan aja dulu taksi online ya!"titah mamanya Mariska dengan wajah sewot.


"Nggak usah pesan Ma, mobil sudah ada di depan. Alhamdulillah kemarin kita baru ambil mobil, Ma."jelas Mariska membuat dahi ibunya langsung mengerut.


"Ambil mobil, maksudnya Kalian beli mobil gitu?" tanya mamanya Mariska dengan ekspresi wajah yang terlihat berubah.


"Iya, Ma."jawab Robert.


Seketika wajah wanita paruh baya itu langsung terlihat berbinar.


"Bagus deh, ada kemajuan berarti. Soalnya, Mama nggak mau nanti cucu Mama dibawa panas-panasan naik motor. Bagus deh kalau kamu sudah beli mobil. Ya, walaupun Mama tahu kalau kamu bukan beli langsung, tetapi. nggak apa-apa, daripada terus-terusan naik motor." Cerocos wanita paruh baya ini tuh yang membuat telinga Robert langsung memanas.


"Ini mertua, lagi sakit saja mulutnya anjir banget."gua Robert di dalam hati.


***


Sementara itu, karena Andini merasa bosan di rumah, dia memilih mengikuti suaminya hari ini.


Hari ini, Andini sengaja ikut ke kantor bersama dengan suaminya. wanita dengan perut membuncit itu duduk di atas sofa yang terletak di ruang kerja suaminya.


Sementara Dimas masih fokus Menatap layar laptopnya.


"Kamu masih lama ya, Mas? tanya Andini yang sudah cukup lama duduk di sana.


"Lumayan. Kamu kenapa sayang?"kalau mau sesuatu, biar aku panggilkan pelayan. mau makan atau minum?"tanya Dimas sambil mengalihkan pandangan dari layar laptop dan menatap ke arah istrinya.

__ADS_1


"Ngak, aku masih kenyang. tadi siang kan aku banyak makan."


"Ya, udah. Kamu duduk aja di situ, atau mau jalan-jalan di sekitar kantor juga boleh, Halo kamu bosan di sini."


"Emm... Aku mau ke toilet dulu deh Mas. perut aku kayaknya mules gini." Andini bangkit dengan hati-hati.


"Mules? kamu nggak kenapa-kenapa kan? tanya Dimas dengan raut wajah yang mulai terlihat khawatir.


"Ngak Mas, kayaknya mau buang air."


"Loh, kok kayaknya?"Dimas kembali menautkan kedua alisnya.


"Gak tau deh, perut aku sakit gini ya. Aku juga gitu lihat dulu deh." Andini berjalan ke arah kamar mandi di dalam ruangan itu dengan hati-hati.


"Mau aku bantu sayang?


"Ngak usah Mas, Aku bisa sendiri kok. kamu lanjutin aja pekerjaanmu."


"Ya, sudah hati-hati!"


Setelah itu, Andini masuk ke dalam kamar mandi dan duduk di atas closet.


"Aduh, ini mules pengen buang air atau apa sih? kok nggak mau keluar."gumam Andini setelah beberapa saat duduk di atas kloset, tetapi ia malah bukan seperti mau buang air besar.


Wanita itu kembali bangkit dan membenarkan pakaian yang dikenakannya.


"Aduh, perut aku kenapa malah tambah sakit gini ya?"Andini berpegangan pada tembok, pada perutnya semakin bertambah.


Perut Andini semakin terasa sakit, bluetooth-nya bergetar dengan keringat dingin yang mulai menetes dari belibis dan dahinya.


Sekuat tenaga ia berusaha menahan rasa sakit pada perutnya dan membuka pintu kamar mandi.


Bruk!


Andini terjatuh, untungnya jatuh dengan perlahan dan tidak terjadi benturan pada bagian belakangnya.


Seketika Dimas mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara itu yang diiringi dengan rintihan dari mulut seorang wanita.


"Astaga, kamu kenapa? Dimas segera bangkit dan mendekat ke arah istrinya.


Andini meringis menangis sakit dengan tangan yang memegangi perutnya. sudut mata wanita itu terlihat basah, tangannya bergetar ketika merasakan sakit dan nyeri yang luar biasa pada perutnya.


"Kamu kenapa? kok sampai jatuh begini?"Dimas segera berjongkok di hadapan istrinya. Wajah pria itu terlihat begitu banyak.


"Pe... Perut Aku Sakit Mas." lirih Andini sambil terus meringis.


"Apa kamu salah makan? tanyanya kembali.


"Ngak, kayaknya asam lambung aku naik. tapi kok ini sakit banget. Mas tolong..."Andini bahkan sampai menangis ketika rasa sakit itu semakin bertambah.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Dimas segera mengangkat tubuh istrinya dan berjalan keluar dari ruangan itu.


Walaupun tubuh Andini semakin berat, tetapi itu tidak membuatnya berjalan dengan lambat. Rasa panik yang luar biasa, membuat deh melupakan seberat apa tubuh istrinya saat ini.

__ADS_1


Setelah tiba di rumah sakit Andini langsung dibawa ke ruang IGD untuk mendapat pemeriksaan


"Mohon maaf, Bapak tunggu di luar saja!" seorang suster menghentikan langkah Dimas yang sudah tiba di ambang pintu.


"Sus, Tolong panggilkan dokter Dirga agar segera memeriksa keadaan istri saya." tidak dimaksud dengan wajah panik.


"Baik, Bapak tunggu di luar saja!" seorang suster menutup pintu IGD dan seorang suster lagi berjalan dengan cepat untuk mewakili dokter Dirga.


Dimas berdiri di depan pintu ruangan itu dengan wajah panik. Perasaannya sudah tak karuan pikirannya kacau.


Entah apa yang terjadi dengan istrinya, Apa mungkin Andini akan melahirkan?


Padahal, Ketika anda menghitung usia kehamilan istrinya masih tujuh bulan.


"Apa iya salah itu?


"Atau ada hal lain?


"Selamat sore, Dimas! Ada apa dengan?"seorang pria yang mengenakan pakaian dokter lengkap dengan stetoskop yang melingkar pada lehernya.


"Dir, tolong istriku. Aku tidak tahu kenapa Andini tiba-tiba kesakitan, padahal usia kandungannya baru tujuh bulan." jelas Dimas panik.


"Baiklah, Kamu tunggu di sini aku akan segera memeriksanya. Dokter Dirga segera masuk ke dalam ruangan itu dengan menghadiri pasien yang terbaring di atas berangkat sambil terus meringis menahan sakit.


Dokter yang terbilang cukup mudah itu segera mengambil tindakan dan memeriksa keadaan Andini.


Tak lupa pula, jarum infus langsung ditusukkan pada kulit punggung tangan Andini. Perlahan, rasa sakit yang dirasakan Andini mengurang, wanita itu kembali bernafas lega.


"Andini, Tunggu sebentar ya! aku akan menemui suami dulu."


"Baik, Dok. "Andini mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Sementara dokter Dirga keluar dan menemui Dimas.


Pria itu langsung mendekat ke arah pintu saat dokter Dirga keluar dari ruangan di hadapannya.


"Dir, bagaimana? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dimas dengan raut tak sabar. terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya.


"Tidak, Dimas. usia kandungan istri kamu masih tujuh bulan. Sebenarnya, lebih baik kita lakukan USG sekarang untuk mengetahui hasil yang sebenarnya. Karena ada satu hal yang membuat Aku curiga istrimu merasakan kesakitan tadi." tutur dokter Dirga yang membuat Dimas semakin penasaran.


" Lalu?"pria itu menatap lekat-lekat dokter sekaligus temannya itu.


"Kita harus melakukan USG untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi."


"Lakukanlah! aku serahkan semuanya padamu. Aku mohon, Lakukan yang terbaik untuk istriku."


"Baiklah, kalau begitu aku akan melakukan USG untuk mengurus dan melanjutkan dan istrimu." dokter Dirga kembali masuk ke dalam ruangan dan memberitahu suster untuk segera mempersiapkan alat USG.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2