
Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi, seorang bayi mungil menggerakkan kedua tangannya, menggeliat merenggangkan otot kecil pada tubuhnya.
Kedua netra indah itu terbuka, memindai sekeliling kamar.
Entah apa yang dicarinya, mungkinkah bayi yang masih tertidur di atas kasur Itu mencari keberadaan Andini, seorang wanita yang selalu menyambutnya dengan senyum teduh, menggendong dan memeluknya dengan hangat.
"Selamat pagi Dania sayang. Ya ketiga buah hati Dimas dan Andini yang lebih rewel itu adalah Dania si putri bungsu. Yang lahir berbeda hanya hitungan menit saja dari kedua kakaknya.
Putri mama udah bangun ternyata!"suara itu seakan terdengar oleh telinga bayi mungil tersebut. Dania mengarahkan matanya pada seorang wanita yang mengenakan dress berwarna pink dengan rambut yang dibiarkan tergerai.
Mungkin bayi itu belum bisa mengenali suara dan wajah sang ibu, tetapi ia dapat merasakan sentuhan lembut dan dekapan hangat seorang wanita yang ia anggap ibu.
"Mas, Dania udah bangun! kakaknya juga sepertinya sudah bangun."ucap Andini sedikit berteriak hingga membuat suaminya yang sedang memakai kemeja segera mendekat ke arahnya.
"Hello Putri papa yang cantik, anak Papa sudah bangun!"Dimas menatap bayi mungil itu dengan sebuah senyum merekah.
Tampak baby Dasa dan Danes juga menangis saling bersahutan. Membuat Andini dan Dimas sedikit kebingungan, hingga akhirnya Dimas berlalu memanggil salah satu baby sitter yang bertugas menjaga dan merawat ketiga buah hatinya.
Tampak dua orang babysitter memasuki kamar utama. lalu membawa baby dasar dan Danes ke kamar bayi. Disusul oleh Andini membawa baby Dania.
Ketiga buah hati Andini, dimandikan oleh baby sitter dibantu oleh Andini juga. Setelah ketiga bayinya terlihat bersih dan rapi, satu persatu bayinya disusui oleh Andini. tanpa ketiga bayinya sudah tidak sabaran ingin sarapan menyusu ASI dari Andini.
"Sayang sepertinya baby Dania menangis karena dia lapar tadi. Tuh lihat dia nyusulnya lah banget."ucap Dimas sembari memperhatikan istrinya menyusui Dania si putri bungsu.
Beberapa menit Andini menyusui Dania, kini giliran baby Dasa dan Danes yang menikmati sarapan ASI dari sang ibu. Andini sengaja memberikan ASI sebelah kanan untuk Dasa, dan sebelah kiri untuk Danes. Tampak kedua pangerannya juga begitu lahap menikmati ASI milik Andini.
Sebenarnya Dimas merasa tidak tega melihat istrinya sedikit kewalahan, untuk memberikan ASI nya terhadap ketiga buah hati mereka. sehingga Dimas sudah mempersiapkan susu formula untuk membantu asupan gizi kepada putra-putrinya. Tapi tetap saja, sepertinya ketiga buah hatinya lebih menyukai ASI dari sang ibu.
***
__ADS_1
Seharian ini Dimas cukup melelahkan, karena banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan. Apalagi, pengerjaan proyek paksaan akan segera dilakukan. Membuat waktu Dimas sedikit tersita untuk mengerjakan proyek itu yang dibantu oleh para staf dan juga asistennya.
Setelah meeting dengan beberapa orang klien, Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. Dimas langsung pulang ke rumah setelah selesai meeting. Dia sudah sangat merindukan istri dan anak-anaknya yang sudah satu harian tidak ya lihat. karena menghabiskan waktunya untuk bekerja.
Pria itu berdiri di tepi ranjang dengan mata yang menatap sayup ke arah bayi mungil yang sedang bermain, bibir bibir kecil ketiga bayinya sesekali tersenyum.
Jika melihat ketiga buah hatinya, Dimas teringat kembali pengorbanan sang istri saat melahirkan ketiga buah hati mereka.
"Mas, kamu kenapa? tanya Andini saat melihat suaminya terdiam seperti sedang melamun.
"Eh, tidak! aku hanya sedang melihat Dasa, Danis dan Putri kita Dania, mereka anteng sekali bermain."jawab Dimas yang seketika mengalihkan pandangannya pada wajah sang istri.
"Oh, Aku pikir kamu sedang melamun. Oh iya Bagaimana pekerjaan Mas Hari ini, apa semuanya berjalan dengan lancar? tanya Andi Ini sembar memperhatikan erat wajah suaminya yang tanpa kusut Karena kelelahan.
"Alhamdulillah, sayang. Mungkin ini rezeki dari ketiga putra-putri kita. Beberapa minggu belakangan ini pekerjaan Mas berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun. Bahkan proyek-proyek bertubi-tubi datang, untuk kita datangi. Rencananya Mas akan membuka kantor cabang lagi, berharap Kak Herlan dapat menanganinya. Karena aku mengira Kak Herlan sudah pantas memimpin salah satu perusahaan anak cabang perusahaan kita."ucap Dimas memberitahu kepada sang istri.
"Tidak terlalu jauh, masih di kawasan kota Jakarta. Kebetulan ada beberapa ruko miliki tak yang akan dijadikan kantor cabang nanti. Mas juga tidak ingin, kalau Kak Herlan terus menjadi karyawan. Mas juga dia ingin menjadi seorang pemimpin.
Sementara hotel, sudah Mas percayakan kepada Erin dan juga Bima. Tak sanggup juga emas menangani semuanya. Sedangkan papa, usianya sudah semakin tua. tidak mampu lagi membantu Mas untuk menjalankan perusahaan. Jadi ada baiknya Mas mempercayakan Kak Herlan untuk menangani salah satunya."
"Apa kamu serius Mas?
"Tentu saja sayang, Mas sangat serius. Karena Mas juga sudah melihat Bima dan Erin sepertinya mampu mengelola restoran dan hotel. Mas juga melihat kalau Kak Herlan pasti mampu mengelola anak cabang perusahaan."sahut Dimas meyakinkan Andini.
"Uluh.... so sweet banget suamiku, berhati mulia bagaikan Baginda raja. Suamiku memang sangat luar biasa, bijak dalam mengambil keputusan."ucap Andini sembari memeluk suaminya.
Tampaknya Andini merasa sangat bahagia, ternyata suaminya memikirkan jenjang karir kakaknya juga. Dia merasa bangga memiliki suami seperti Dimas, yang tidak haus akan kekuasaan dan harta. Apalagi saat ini, Dimas juga mengembangkan kampus miliknya menjadi sangat besar, terlihat pembangunan lokasi kampus juga bertambah. membuat Andini semakin bangga terhadap suaminya.
Dimas memberikan kecupan di kening Andini. "Ini semua berkat kalian, kalian berempat permata hatiku, yang membuat hari-hari emas semakin berwarna."Dimas kembali memberikan kecupan di bibir ranum sang istri.
__ADS_1
***
Sementara itu, seorang wanita yang sedang mengeluh sakit perut, duduk di atas sofa sambil menyandarkan punggung pada sofa.
Erin terus meringis menahan sakit sampai membuat ayahnya bingung.
Tuan Anggara memanggil salah satu sopir pribadinya. sang sopir berlangsung datang menghampiri sang majikan.
"Iya Tuan."
"Karyo, kita ke rumah sakit sekarang! sepertinya putri saya mau melahirkan."tegas pria yang usianya sudah mulai senja itu, raut wajah cemas dan khawatir terlihat jelas pada wajah keriput itu.
"Baik, Tuan,"karya mendekat dan akan mengangkat tubuh Erin, Tetapi wanita itu segera menolaknya.
"Aku bisa jalan sendiri!"Erin menepis tangan Karyo.
Wanita itu mencoba berdiri, meski perutnya semakin terasa sakit.
"Assalamualaikum. Erin, Kamu beneran mau melahirkan?"Bima datang dengan setengah berlari ke arah Erin.
"Perut aku sakit banget."keluh Erin saat Bima telah berada di dekatnya.
"Bima, kita bawa Erin ke rumah sakit sekarang!"titah Tuan Anggara kembali yang semakin tak karuan.
"Iya,Pa."
Bima segera mengangkat tubuh berisi Erin dan berjalan dengan cepat keluar dari rumah.
Bersambung...
__ADS_1