
Setelah sambungan telepon seluler itu tersambung, wanita itu memberitahu apa yang terjadi terhadap Andini kepada Nyonya Laras.
Sementara Nyonya Laras, yang melihat nomor ponsel putrinya menghubungi dirinya langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya.
"Halo assalamualaikum Andini!"Sapa nyonya Laras di ujung telepon.
"Maaf Bu, ini bukan Andini. Ini saya ingin mengabari, kalau pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan.Saat ini berada di rumah sakit dan belum sadarkan diri."ucap wanita paruh baya yang menghubungi nomor ponsel milik Nyonya Laras.
"Degh!!
Jantung Nyonya Laras langsung berdegup kencang ketika mendengar putrinya mengalami kecelakaan.
Nyonya laras menangis histeris mendapatkan kabar Kalau saat ini Andini sedang dirawat di rumah sakit.
Setelah wanita paruh baya itu memberitahu di mana Rumah Sakit Andini sedang dirawat saat ini. Nyonya Laras mau menjerit memanggil Herlan dan Tuan Miko Pratama.
"Herland....."
"Mas...."
"Ada apa Laras? Kenapa kamu menangis dan menjerit memanggilku?"tanya Tuan Miko kepada istrinya.
"Andini Pa....Hua....Hua..." tangis Nyonya Laras
"Iya,Andini kenapa sayang?
"Andini kecelakaan, dan saat ini sedang berada di rumah sakit."ucap Nyonya Laras dengan terbata-bata karena ia terus menangis setelah mendapat kabar Kalau Andini kecelakaan.
"Apa?
"Iya Mas, Ayo kita ke rumah sakit. Andini mengalami kecelakaan."ucapnya Laras membuat Tuan Miko langsung terdiam
"astagfirullah, Tuan Miko dan nyonya Laras pun, langsung berpamitan kepada Tuan Pratama yang masih duduk di kursi roda sambil menangis mendengar kabar Kalau cucunya saat ini mengalami kecelakaan.
"Pa...., kami pamit pergi ke rumah sakit dulu ya, doakan agar Andini baik-baik saja."ucap Miko kepada Tuan Pratama. Nyonya Laras menitipkan Tuan Pratama kepada asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah mereka.
Sementara Herlan, Tuan Miko dan nyonya Laras berlalu meninggalkan rumah utama keluarga Pratama menuju rumah sakit di mana Andini dirawat saat ini.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih lima belas menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit.
Nyonya Laras, Tuan Miko, dan juga Herlan langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit.
"Suster pasien yang baru saja mengalami kecelakaan dimana, ya? "tanya Herlan yang kebetulan melihat suster melintas di sana
"Pasien yang mengalami kecelakaan masih ditangani oleh dokter. Dia masih berada di ruang UGD."ucap sang suster mengerahkan tangannya ke arah ruang UGD agar keluarga Pratama, langsung menuju ruang UGD.
Setelah tiba di sana, Nyonya Laras langsung masuk dan melihat kondisi Andini saat ini belum juga sadar.
"Dokter Bagaimana kondisi putri saya?"tanya Nyonya Laras yang tiba-tiba masuk ke ruang UGD.
__ADS_1
"Maaf Bu, sebaiknya Ibu tunggu di luar saja, karena sebentar lagi lukanya sudah siap kami jahit."ucap dokter itu meminta kepada Nyonya Laras agar langsung keluar dari ruang UGD itu. Mereka tidak ingin terganggu oleh suara cempreng Nyonya Laras yang meraung-raung menangisi putrinya hingga mengganggu kerja mereka.
"Apa Dimas sudah mengetahui Andini mengalami kecelakaan? tanya Tuan Miko kepada Herlan.
"Aku rasa belum,Om!" sahutnya
"Sekarang juga kamu hubungi Dimas, Dia berhak tahu apa yang terjadi terhadap istrinya."ujar Tuan Miko kepada Herlan.
Herlan langsung meraih ponsel miliknya yang ada di saku celananya.
Kring ...
Kring ...
Kring...
Suara Deringan ponsel itu mengalihkan atensi Dimas yang saat ini sedang memeriksa laporan keuangan, restoran miliknya. Yang dikirimkan oleh anak buahnya.
Dimas menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, ketika melihat nomor ponsel Herlan sang kakak ipar menghubungi dirinya.
"Halo Assalamualaikum Kak,"sapa Dimas
"waalaikumsalam! Kamu di mana sekarang Dim?"
"Ada di kantor Kak."jawab Dimas tapi Dimas sedikit khawatir Mengapa tiba-tiba Herlan menghubungi dirinya dan terlihat nada suara Herlan panik.
Degh!!!
Jantung Dimas berdegup kencang. Ia khawatir terjadi sesuatu kepada Andini. Tanpa terasa bulir bening mengalir begitu deras di wajah tampannya. Mendengar kabar sang istri mengalami kecelakaan.
Dimas merutuki dirinya sendiri. Yang telah mengabaikan istrinya saat berada di kampus. Padahal Andini sudah berusaha bersikap manis kepadanya.
Tapi Dimas memilih untuk pergi meninggalkannya begitu saja tanpa menghiraukannya sama sekali.
Dimas memutuskan sambungan telepon selulernya, setelah selesai berbicara dengan Herlan. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya berlari keluar dari kantor masuk ke dalam mobil miliknya. Dan melajukannya ke arah rumah sakit di mana Andini dirawat.
Sepanjang perjalanan Dimas terus merutuki dirinya sendiri. "astagfirullah, Mengapa ini bisa terjadi." tangis Dimas menyesali apa yang terjadi di hubungan mereka.
Sementara di rumah sakit, luka Andini sudah selesai dijahit oleh dokter. Kondisi Andini tidak terlalu parah, dia jatuh pingsan karena terlalu lelah. Dan dia juga kurang istirahat.
Tetapi dokter menganjurkan agar Andini dirawat di rumah sakit, untuk beberapa hari kedepan. Agar dokter dapat memantau kondisi kesehatan Andini. Terlebih Mereka ingin memantau, Apakah ada luka dalam di tubuh Andini.
Saat ini Andini sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Nyonya Laras sedikit bernafas lega ketika dokter mengatakan tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Andini hanya mengalami luka luar saja. Dan luka-lukanya sudah dijahit.
Beberapa menit kemudian Dimas tiba di rumah sakit. Menghampiri Herlan Tuan Miko dan juga Nyonya Laras yang masih berdiri di depan ruang rawat inap Andini.
"Ma....pa... ucapnya sambil memberi salam kepada Nyonya Laras dan Tuan Miko.
"Bagaimana kondisi Andini, Ma?
__ADS_1
"Dia sedang istirahat, tapi lukanya sudah siap dijahit oleh dokter."ucap Nyonya Laras memberitahu.
Dimas tidak sabar ia langsung membuka ruang rawat inap Andini. Dimas masuk dan melihat wajah pucat istrinya yang berbaring lemah di atas Branker yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
"Sayang kok kamu jadi seperti ini? Dimas mengelus wajah pucat istrinya.
"Aku minta maaf ya, telah mengabaikanmu. habis kamu terus tidak menganggapku sebagai suamimu. Padahal aku sudah berusaha memberikan yang terbaik kepadamu."Dimas mengajukan yang istrinya.
Andini perlahan membuka kelopak matanya.
Andini benar-benar berasa hidupnya telah hancur, iya bukan hanya kehilangan orang yang dicintai, tetapi juga kehilangan sahabat yang telah lama ia kenal.
Sahabat yang selalu memberikan support padanya.
Memeluknya saat ia terpuruk, mengulurkan tangan saat dia terjatuh, saling menukar tangis, canda dan tawa bersama.
Andini semakin terpuruk, ketika dirinya mendapatkan surat cerai dari kantor pengadilan agama yang dititipkan Dimas kepada Nyonya Laras.
Itu yang membuat dirinya semakin terpuruk, sehingga pikirannya kacau dan memilih untuk pergi adu balap dengan teman-temannya. saat pulang dari sana dia telah mengalami kecelakaan.
Dimas duduk di tepi ranjang.
"Kamu kenapa bisa seperti ini? ucapnya Seraya mengusap pelan wajah pucat istrinya.
"Mas,"panggilnya dengan lirih.
Andini menggenggam tangan Dimas.
"Mas jangan tinggalkan aku lagi."ucapnya kembali dengan lirih.
Andini menempelkan tangan kekar itu pada pipinya. Tak peduli luka jahitan yang ada di kaki dan keningnya.
"Kamu sudah sadar."Andini tersenyum ketika mendengar suara itu.
"Mas, Maafkan Aku."air mata wanita itu kembali menetes, membasahi telapak tangan Dimas yang menempel pada pipinya.
"Kamu jangan seperti ini."Dimas akan menarik tangannya, tetapi Andini menautkan jemari mereka dengan menggenggamnya dengan erat.
"Aku minta maaf, Jangan tinggalkan Aku Lagi."Andini mencium punggung tangan kekar itu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1