Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 212. KAMAR BULAN MADU


__ADS_3

"Dasar si Khalifah, kukunya kayak kuku hantu. tangan Mama sampai luka begini.". Gerutu Sulastri dengan dada naik turun, wanita paruh baya itu masih dilanda amarah.


"Ma, biar Erin bantu obati ya!"Erin memegang tangan mertuanya dan mengajak wanita paruh baya itu masuk kembali ke dalam rumah.


***


Setelah drama adu cakar mencakar itu terjadi, semua ibu-ibu kembali memasak dan mempersiapkan makanan untuk acara sore ini.


Hingga tiba waktunya beberapa pemuka agama dan anak yatim yang diundang, mulai berdatangan untuk melakukan dua bersama.


Orang tua Bima sudah berpakaian rapi dan bersiap menyambut semua tamu yang datang. Begitu juga dengan Tuan Anggara, Dimas dan Andini, mereka yang akan ikut serta menyaksikan acara syukuran tersebut, turut hadir di tempat yang sudah disediakan.


"Bima, istri kamu dimana? tanya Sulastri setelah Bima keluar dari kamar.


"Erin lagi siap-siap ma."jawab Bima, dan Tak lama kemudian pintu kamar itu kembali terbuka. Seorang wanita cantik yang mengenakan dress berwarna putih, rambut yang sengaja dibiarkan tergerai keluar dari kamar.


Sulastri memperhatikan penampilan menantunya dari atas sampai bawah.


"Erin, apa tidak ada baju yang lebih sopan dari ini?"tanya Sulastri yang seketika langsung membuat wajah wanita itu memerah.


"Maaf,Ma. Erin nggak bawa baju lain." jawab Erin dengan wajah menunduk.


"Ya udah, tidak apa-apa jangan khawatir." "Wulan!!! Teriak Sulastri dengan suara yang melengking.


"Ada apa sih, ma teriak-teriak?"tanya seorang wanita yang mengenakan gamis berwarna biru muda, dipadukan dengan hijab yang senada dengan gamisnya.


"Wulan, coba cari gamis kamu yang ditinggal di sini buat nak Erin." titah Bu Sulastri.


"Oh, ini istrinya Bima. Maaf aku baru ketemu. Soalnya aku juga baru nyampe ke sini. Wanita bernama Wulan itu mengulurkan tangannya ke hadapan Erin, yang langsung diterima Erin.


"Nak Erin, ini Wulan kakak perempuan Bima anak kedua Mama. Wulan sudah menikah dan punya anak. Dia tinggal di kota Medan."tutur Bu Sulastri panjang lebar.


Erin hanya mengangguk dengan bibir mengembangkan senyuman. Sebenarnya dia merasa malu di hadapan keluarga Bima yang berpakaian selalu rapi, sementara dirinya hampir semua pakaian yang dimilikinya serba terbuka.


"Ya udah, Wulan!! carikan baju untuk Erin dulu, Wanita itu pergi ke kamar sebelah, kamar yang dulu ditempatinya sebelum menikah.

__ADS_1


Setelah Erin berpakaian rapi, acara dimulai. wanita itu mengenakan gamis berwarna silver dengan hijab berwarna senada.


Wulan mempunyai tubuh ramping sehingga gamis miliknya sangat pas dipakai oleh Erin, yang memiliki bentuk tubuh hampir sama dengan Wulan.


Begitupun dengan Bima, pria itu terlihat gagah dengan balutan koko berwarna silver dan celana bahan berwarna hitam, tak lupa pula Ia menggunakan Peci, karena akan mengikuti pengajian.


Acara Doa bersama telah selesai. Setelah itu dilanjutkan dengan santunan anak yatim. Orang tua Bima sudah menyediakan amplop yang akan diberikan kepada anak yatim dan para pemuka agama yang mereka undang


Ricky yang turut hadir di acara itu pun mengembangkan senyumnya, menatap Bima dan Erin secara bergantian. Karena terlihat penampilan keduanya sangat berbeda dari sebelumnya.


Setelah acara syukuran selesai, Dimas, Andini dan Tuan Anggara langsung berpamitan untuk segera pulang ke kota Jakarta. Mereka berencana menginap di sebuah hotel di kota Medan.


Apalagi Andini meminta kepada Dimas untuk jalan-jalan terlebih dahulu di daerah Sumatera Utara. Setelah mendapat informasi dari Wulan kalau tempat wisata yang ada di Sumatera begitu cantik dan indah dipandang mata, terutama di kawasan danau Toba.


"Tuan Anggara , Nak Dimas, dan Andini jangan kapok ya, datang lagi ke sini." tutur Sulastri saat mereka berpamitan menuju kota Medan sebelum mereka kembali ke kota Jakarta.


"Iya Bu, insya Allah kami datang lagi ke sini. titip Erin ya, Bu." balas Dimas sambil menunjuk ke arah Erin yang berdiri di samping Bima.


"Tenang saja, saya sudah menganggap Erin seperti anak saya sendiri. Oh iya, saya juga menitip Bima karena pas pernikahan Ricky mereka akan ikut lagi ke Jakarta, dan tinggal di sana. Padahal saya lebih senang kalau Erin mau tinggal di sini saja." tutur Sulastri yang jika berbicara tidak pernah singkat.


"Ya udah, sekali lagi hati-hati dan terima kasih sudah datang ke sini. Itu oleh-olehnya sudah dimasukkan semua sama Kang Udin ke dalam bagasi mobil."


"Waduh, jadi merepotkan. Terima kasih banyak ya, Bu, Pak," ucap Tuan Anggara kepada kedua besannya.


"Sama-sama Pak Anggara, hati-hati di jalan ya." balas Pak Karyo.


"Erin, Papa pulang dulu. Kamu hati-hati ya di sini, jangan merepotkan mertuamu." pamit Tuan Anggara kepada Erin yang matanya terlihat memerah dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.


Wanita itu mencium punggung tangan sang ayah.


"Erin, Kakak pulang dulu. Jaga sikap ya, di sini. Jangan manja." nasehat Dimas menyelami adiknya.


"Eh nak Erin, jangan nangis dong.Kan sebentar lagi kalian balik ke Jakarta juga. tinggal Mama sama Papa lagi berdua di sini. Sudah kayak pengantin baru aja." Sulastri mengelus punggung menantunya yang terlihat bergetar menahan tangis.


"Erin, hanya terharu Ma." Erin mengusap sudut matanya.

__ADS_1


"Sudah, anggap saja Mama sama papa orang tua kandung kamu. Jangan sungkan dan jangan ragu. Kalau ada apa-apa, bilang saja Kita ini sudah menjadi keluarga." sulastri merangkul bahu Erin yang membuat wanita itu merasakan kembali kehangatan dari seorang ibu.


Setelah itu Dimas, Andini dan Tuan Anggara segera melakukan perjalanan karena waktu sudah malam.


Acara pengajian itu selesai, sebelum isya. Hingga setelah isya, Dimas dan keluarganya langsung berpamitan.


Rumah Bima tidak terletak di daerah pedalaman, walaupun berjarak sekitar satu dari pangkalan Brandan menuju kota Medan, rumah Bima masih terlihat seperti tidak terlalu pelosok.


Sekitar satu jam kemudian, mereka sudah sampai di kota Medan. Dan langsung menuju hotel yang telah Dimas booking secara online.


Setelah tiba di hotel, mereka langsung menuju kamar yang telah dipesan. Dimas memesan dua kamar. Satu untuk tidur Bersama sang istri, dan satu kamar lagi untuk ayahnya.


"Selamat tidur, ya Pa." ucap Dimas saat mengantarkan Tuan Anggara ke kamar yang akan ditidurinya.


"Kalian juga istirahat, ya." balas Tuan Anggara sambil masuk ke dalam kamar tersebut.


Setelah itu, Dimas merangkul tubuh istrinya dan berjalan bersama menuju kamar yang satu lagi.


"Ayo sayang, kita masuk." ajak Dimas setelah membuka pintu kamar itu.


"Mas, kamarnya mewah banget ya, Mas." Andini masuk ke dalam kamar itu dengan mata berbinar.


"Kok ada kelopak mawar segala? udah kayak kamar pengantin baru saja." ucap Andini saat melihat taburan kelopak mawar berbentuk love di sipray putih yang melapisi kasur berukuran king size di kamar itu..


"Anggap aja kita ini adalah pengantin baru." balas Dimas setelah menutup pintu dan segera merangkul istrinya.


"Pengantin baru, tapi udah ada dedek bayi di dalam perut ." Andini terkekeh sambil mengusap perutnya yang mulai terlihat membuncit.


"Kalau begitu, aku mau menengok dedek bayi sekarang." Dimas mengangkat tubuh istrinya dan membawa tubuh Andini yang mulai terlihat berisi itu, ke atas kasur.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2