Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 58. KECEPLOSAN


__ADS_3

Andini berjalan ke arah kelasnya dengan kesal, Andini tidak mempedulikan Mariska dan juga Rian yang memanggilnya dengan serentak.


Namun, baru saja melangkah kakinya tiba di depan pintu kelas, ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk.


Andini langsung meraih benda canggih itu, dan membaca pesan dari seseorang yang mengirimkan pesan untuknya.


"Pak Dimas: Saya mau ke rumah sakit dulu, Papa saya masuk rumah sakit."pesan Whatsapp Itu yang dikirimkan oleh Dimas kepadanya.


Seketika Andini langsung mengalihkan pandangannya ke arah halaman kampus, matanya menyipit ketika melihat Dimas berjalan kembali ke arah parkiran.


Setelah itu jemarinya bergerak cepat mengetik sesuatu pada benda canggih dan menggenggamnya.


"Andini: Saya ikut!


Dimas menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Andini yang juga sedang menetapnya di depan pintu kelas.


Pandangan keduanya beradu dengan jarak yang lumayan jauh. Dimas kembali mengetik pesan untuk istrinya.


"Pak Dimas: Jangan! kamu baru masuk kuliah belajar aja dulu. Nanti kalau sudah pulang saya jemput lagi.


Setelah itu, Dimas kembali melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam mobil.


Andini meremas ponselnya sendiri dengan mata yang menatap ke arah mobil Dimas, yang perlahan mulai keluar dari area kampus.


Entah Mengapa akhir-akhir ini sepertinya Andini tidak ingin jauh dari suaminya sendiri. Entah dia sudah mulai mencintai Dimas atau tidak, dia juga belum mengetahuinya.


"Woi...bengong aja!


"Astaga! Andini terlonjak kaget saat suara seseorang dan juga tepukan pada bahunya yang cukup keras.


Andini langsung membalikkan badan dan menatap nyalang ke arah Robert yang sedang nyengir sambil mengangkat dua jarinya.


"Dasar sialan! harusnya kamu tuh nyambut Aku, bukan ngagetin tau."


"Sorry ya, udah Sini, aku pegangin ujung gaun kamu. Kita masuk bersama menuju pangeran Bima." Robert memegang ujung baju Andini.


"Aku ikut, Mariska ayo sini kita jadi dayang-dayangnya. Mariska menarik tangan Rian dan berdiri di belakang Andini.


"Kalian kenapa sih?" wanita itu menepis tangan Robert yang memegang ujung bajunya.


"Kita jadi Bridesmaids, mau ngantar mempelai pria yang ada di ujung!"Mariska menuju ke arah Bima yang duduk di kursi paling pojok.


"Apaan sih, aku ini sudah nikah!"ucap Andini dengan kesal dan segera berjalan dengan cepat ke arah bangkunya.


Mariska, Rian dan juga Robert mematung sejenak ketika mendengar ucapan sahabatnya.


Namun, tak lama ke tiga orang itu kembali tersadar.


"Nikah?!"teriak ketiganya yang membuat semua mahasiswa yang ada di kelas mengalihkan pandangannya ke arah tiga orang.


Andini membekap mulutnya, ketika menyadari apa yang telah dikatakannya barusan.


Wanita itu menggerutu sambil memukul kepalanya beberapa kali, tak henti-hentinya ia membodohkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Akhirnya pikirannya terus tertuju kepada Dimas. Ia sampai keceplosan seperti tadi.


Din, kamu udah nikah? tanya Bima saraya mendekat ke arah Andini yang sedang memegangi kepala dengan kedua tangannya.


Wanita itu menengadahkan wajahnya, menatap ke arah Bima yang sedang menunggu jawabannya.


"Din, Coba kamu jelasin sama kita apa yang kamu katakan barusan?"Mariska dan Robert mendekat ke arahnya.


Begitupun dengan Ran yang melihat teman-temannya berkerumun pemuda itu pun ikut mendekat.


"Kamu beneran udah nikah Din? sama siapa? sama si Bagas? tanya Mariska dengan tatapan penuh selidik.


Andini masih terdiam dengan wajah bingung.


"Atau sama si Bima?" Mariska menunjuk ke arah Bima.


"Enggak, kalau aku udah nikah dia udah aku habisin si Andini." balas Bima dengan wajah yang masih terlihat bingung.


"Yey, pikiran kamu langsung travelling." Robert menyiku lengan sahabatnya.


"Terus siapa dong? kamu kali Rian?" Mariska menunjukkan arah Rian.


"Heh, enak aja walaupun aku jomblo akut, tapi aku nggak mau nikah sama princess. kayak dia. Si Robert kali." Ran menunjukkan Robert.


"Bukan, bukan saya pelakunya. Ampun jangan bakar saya ini semua fitnah!"Robert menunduk sambil menutupi wajah dengan kesepuluh jarinya.


"Eh, tidak perlu terlalu lebay! Mariska menarik rambut Robert sampai membuat pemuda itu kembali menegakkan kepalanya.


"Aku...,wanita itu menatap teman-temannya satu persatu terdiam menunggu jawabannya.


"Aku cuman bercanda!"


"Woi!


"Bakar!


"Bakar!"


"Bakar!" teriak Rian dan juga Robert.


Sementara Mariska dan Bima mendekap tubuh Andini dan mengacak rambut gadis itu.


Bima hanya terkekeh melihat tingkah abstrak teman-temannya, tetapi pemuda itu membuang nafas lega ketika mendengar Andini hanya bercanda.


Sementara di tempat lain, Dimas yang telah tiba di rumah sakit langsung menuju kamar di mana ayahnya.


Hingga langkahnya tiba di sebuah kamar yang menjadi tujuannya.


Dimas segera membuka pintu kamar tersebut. Ia yakin ayahnya hanya ditemani sopir dan juga asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.


Dimas membuka pintu itu lebar-lebar dan segera masuk.


Namun, matanya langsung dikejutkan dengan kehadiran seseorang.

__ADS_1


Seorang wanita mengenakan dress berwarna merah maroon menatap ke arahnya dengan sebuah senyuman.


Senyuman yang mengembang pada wajah cantiknya.


Wanita yang memiliki bentuk tubuh ideal Dengan tinggi badan seratus tujuh puluh Senti meter itu melangkah dengan anggun ke arahnya.


Tinggi wanita itu sangat berbeda jauh dengan Andini yang hanya memiliki tinggi sekitar seratusan lima puluh lima centi meter.


Dimas mematung di tempat. Tubuhnya terasa kaku untuk bergerak, matanya menatap hampir tak berkedip ke arah wanita cantik itu.


Setelah beberapa tahun lamanya, Ia baru menemukan sosok itu kembali.


Seorang wanita yang memutuskan meninggalkannya demi karirnya.


Dulu Dimas memohon kepada wanita itu, agar tidak meninggalkannya dan tetap berada di Indonesia. Tapi sepertinya dia tetap memilih untuk meninggalkan Dimas di tanah air, dan mengejar impiannya.


"Dimas kamu tidak menyambutku?"wanita itu berdiri tepat di hadapan Dimas dan menyentuh bahu tegap Dimas.


"Kamu kenapa ada di sini?


"Kenapa sayang, Aku mencarimu. Wanita itu mendekat dan akan memeluk tubuh Dimas tetapi pria itu memundurkan langkahnya.


"Honey I miss you so much!"ucap wanita itu kembali mendekat dan memeluk tubuh Dimas dengan erat.


Wanita itu menyandarkan kepalanya pada bahu Dimas.


"Alena! lepasin...! Dimas berusaha melepaskan pelukan wanita itu yang malah semakin mengerat.


"No, Aku merindukan dekapanmu.


Alena jangan gini,lepasin aku. Dimas mendorong tubuh Alena agar melepaskan pelukannya.


"Wah.... Dimas, bukankah kamu sangat takut kehilangan aku? Dimas Aku sudah kembali nikahilah aku."


"Sorry Alena, tapi aku sudah menikah.


DEGH!


Kata-kata itu seketika memporak porandakan hati seorang wanita yang sudah mendambakan untuk kembali dengannya.


"Apa? kamu menikah sama siapa? bukannya dulu kamu bilang tidak akan menikah, kecuali dengan aku?"


"Itu dulu, semuanya bisa berubah. Termasuk perasaanku." Dimas menatap lurus, tetapi tatapan itu bukan tertuju karena wajah mantan kekasihnya.


"No! Kamu pasti berbohong, kalau kamu sudah menikah, mana istrimu? Kenapa dia tidak ada di sini Dimas? Aku tahu kamu hanya mencintaiku." Alena kembali mendekat.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2