Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 264. OLAH RAGA PAGI


__ADS_3

"Mas mau mandi sekarang ya? biar aku siapkan bajunya,"ucap Andini Seraya akan bangkit dari kasur. Namun, tangan Dimas segera menahan lengannya sampai membuat wanita itu tak jadi turun dari atas ranjang.


"Nanti saja, ini masih terlalu pagi. baru juga jam 05.30. "Dimas menatap kerah jam dinding yang terpajang di kamar mereka.


"Terus mau ngapain? mau sarapan dulu, gitu? tanya Andini kembali.


"Iya, mau sarapan Kamu."memeluk tubuh istrinya yang semakin terlihat berisi.


"Mas, jangan ngaco deh! malu sama ayam yang sudah nyari makan duluan,"tegur Andini Seraya menyingkirkan tangan suaminya yang bergerak nakal pada kedua gunung kembar miliknya.


"Sekarang kamu makin berisi ya, makin empuk."Dimas masih belum lepas pelukannya, pria itu menyandarkan dagunya pada baru sang istri yang hanya mengenakan sebuah daster tipis.


"Ngomong aja makin gendut gitu,"timpal Andini dengan bibir mengerucut.


"Nggak apa-apa gendut juga, yang penting sehat."Dimas mengarahkan tangannya pada perut sang istri yang semakin hari semakin terlihat membuncit.


"Amin ntar kalau udah lahiran dan nggak menyusui lagi, aku baru diet biar langsing lagi."tutur Andini dengan pikiran yang sudah membayangkan saat anak mereka sudah tumbuh beberapa tahun dan ia sudah tak lagi memberikan ASI untuk anaknya.


"Ya sudah, mending sekarang kita olahraga yuk! jalan-jalan sekitaran sini aja mumpung masih pagi,"ajak Dimas yang membuat Andini terdiam sejenak untuk berpikir.


"Ayok! dokter Dirga juga kan menyarankan aku untuk sering-sering jalan pagi."


"Yuk! mau digendong atau jalan sendiri?"tawar Dimas Raya turun dari ranjang.


"Jalan sendiri lah Mas. kita kan mau jalan pagi, masa akunya digendong sih,"protes Andini yang mengikuti suaminya, hati-hati.


"Ya kali aja mau digendong sampai pintu depan."


"Nggak usah ngadi-ngadi, Ayo jalan!"Andini menggandeng lengan suaminya dan keluar dari kamar.


Sepasang suami istri itu berjalan bersama, keluar dari rumah dan berjalan santai menuju depan, melewati deretan rumah di sekitar komplek itu.


Udara pagi masih terasa segar di tempat itu, Bahkan sang mentari masih malu-malu memancarkan sinarnya. Andini tak melepaskan gandengan tangannya dari sang suami. menikmati sejuknya udara pagi bersama dengan orang terkasih.

__ADS_1


Sesekali ia merasakan tendangan halus dari dalam perut yang membuat senyuman merekah.


Sebegitu bahagianya ketika merasakan sebuah gerakan pada perut yang membuncit. bahkan Andini tak pernah memudarkan senyumnya saat kaki mulai di dalam perutnya kembali memberikan sentuhan.


"Kamu kenapa? Kok dari tadi senyum-senyum sendiri?"tanya Dimas setelah mengamati wajah sang istri.


"Ini lho Mas, anak kamu nggak bisa diam. kayaknya dia ikutan jalan-jalan deh di dalam perut,"jawab Andini saya mengusap perutnya yang tak tahu kalau anak yang ada di rahimnya itu kembar tiga. Ia merasakan setiap detik ada tendangan. Andini mengira bayi yang ada di perutnya itu hanya satu saja, yang memberikan tendangan-tendangan itu berulang kali.


Dimas hanya tersenyum. "Masa? emang jam segini udah bangun?"tanya Dimas dengan raut wajah tak percaya.


"Ya sudahlah, kamu kan tadi subuh gangguin dia terus, pegang-pegang perut, colek-colek udel aku,"jawab Andini yang membuat Dimas tertawa kecil.


"Ya ampun Maaf sayang. Ayah beneran nggak niat buat gangguin tidur kamu,"tutur Dimas Raya menatap karah perusahaan istri yang terlihat membesar dibandingkan dengan perut Mariska, pria itu terlihat seperti sedang ngobrol dengan manusia beneran.


"Jangan gitu mas. mana tuh ada yang lihatin!"Andini menolehkan seorang laki-laki berusia senja yang sedang berjemur di halaman rumahnya.


Dimas mengikuti kemana arah sorot mata sang istri, pria itu hanya mangkuk dengan bibir yang mengembangkan senyum sebagai sapaan.


Karena pria berusia senja itu sedang duduk cukup jauh dari mereka, jadi tidak Mungkin ia berteriak hanya untuk sekedar memberikan sapaan.


"Mas, itu kayaknya ada yang jual aneka kue-kue gitu, Aku mau beli ya!"Andini menuju para seorang ibu-ibu yang sedang berjualan di pinggir jalan.


"Serius sayang, mau beli kue yang ada di sana? apa kita tidak lebih baik membeli kue di toko kue saja?"


"Tapi Andini mau beli itu Mas."


"Oh ya udah. Ini uangnya! Dimas mengambil selembar uang kertas berwarna merah dari saku celananya dan langsung menyerahkan kepada sang istri.


"Tunggu di sini sebentar ya, Mas!"Andini segera berjalan ke arah penjual berbagai jenis kue. Wanita dengan perut membuncit itu memilih berbagai jenis kue yang diinginkannya.


"Wah, lagi hamil kembar ya Mbak?"tanya penjual kue itu.


Andini hanya tersenyum. "Kenapa bisa ibu menebak kalau bayi Saya kembar?

__ADS_1


"Sudah berapa bulan Mbak? tanya penjual itu kembali dengan drama.


"Jalan 9 bulan Bu."jawab Andini kembali.


"Oh berarti sudah tidak akan lama lagi mbaknya melahirkan ya. Tapi dari besarnya aku menduga kalau anak mbak itu kembar."penjual itu kembali membuat Andini seketika langsung menatap karya wanita dengan rambut sebahu itu.


"Masa sih? Memangnya perut saya besar kali ya Bu?"


"Itu menurut Mbak saja. Kalau dilihat sama orang lain dari samping dari dan dari depan perutnya, sepertinya anak Mbak kembar."jelas wanita itu dengan mata yang memperhatikan perut Andini.


"Mbak ini pasti baru pertama kali hamil kan? jadi maklum saja belum tahu apa-apa soal kehamilan. hati-hati lho orang hamil itu harus apik. Jangan sembarangan mengikat juga, nanti ari-ari bayinya bisa melilit,"celoteh wanita itu kembali sambil menunjuk ke arah rambut Andini yang dicebool ke atas menggunakan sebuah ikat rambut.


Andini mengerutkan kedua alisnya saat mendengar penuturan wanita paruh baya di hadapannya. "Masa mengikat rambut juga nggak boleh sih, aneh banget! Ya udah deh, Bu ini semuanya berapa?"Andini menyerahkan plastik berisi beberapa jenis kue yang sudah dibelinya.


"Semuanya Dua puluh lima ribu Mbak."


"Ini uangnya."Andini menyerahkan uang pecahan seratus ribu itu kepada penjual kue tadi.


"Waduh, uangnya gede banget Mbak. nggak ada yang kecil apa?


"Nggak ada, yang kecil belum saya potongin. udah kembaliin aja, itu uang receh banyak Masa nggak ada kembalian."Andini mengarahkan pandangannya pada toples berisi uang milik penjual itu.


"CK... bisa habis uang receh saya ini."gerutu penjual itu sering mengambil uang kembalian dan menyerahkannya dengan kasar karena Andini.


"Risiko penjual dong Bu."Andini segera mengambil uang kembalian miliknya dan berjalan ke radimas yang sudah dari tadi menunggunya.


"Kamu mau kue yang mana Mas? tanya Andini Seraya menyodorkan plastik berisi aneka kue itu ke hadapan suaminya.


"Kenapa? kok mukanya bete gitu?"Dimas memperhatikan wajah istrinya dengan intens.


"Tahu tuh, penjual bawel banget. mana bilang perut aku besar banget, aku kembar lah, ikat rambut harus hati-hati lah.sudah kayak peramal aja."gerutu Andini dengan wajah kesal.


"Oh, gitu doang. udah nggak usah didengerin! Lagian laki-laki atau perempuan harus tetap kita syukuri, yang penting sehat dan selamat."Dimas merangkul gau Andini dan mengusap lembut dengan istrinya untuk menenangkan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


sambil menunggu karya ini update kembali yuk mampir ke karya baru Emak juga yang berjudul. "Divorce on the wedding day."


__ADS_2