
Satu minggu sudah berlalu. Tuan Anggara, Tuan Pratama, Tuan Miko Pratama, dan juga Nyonya Laras sudah mengetahui kabar bahagia kehamilan Andini. Semua anggota keluarga merasa bahagia.
Apalagi Tuan Anggara dan Tuan Pratama. mereka sampai tidak bisa mengungkapkan rasa bahagia mereka dengan kata-kata. Di saat usia Tuan Pratama dan Tuan anggaran senja, mereka mendengar kabar Bahagia itu. Hingga kebahagiaan Tuan anggaran dan keluarga besannya berlipat-lipat ganda.
"Sayang, Mas sudah satu minggu nih puasa. bisa nggak ya Mas menjenguk anak kita yang ada di dalam sini."ucap Dimas dengan mengedipkan mata sebelah sambil mengelus perut Andini yang masih terlihat rata.
"Memangnya bisa, Mas?
"Bisa dong, kan dokter juga mengizinkan. asalkan hati-hati dan tidak terlalu kasar mainnya."sahut Dimas.
Kali ini, Entah mengapa, Andini juga menginginkan hal yang sama seperti yang diinginkan oleh suaminya.
Andini bermain cukup agresif. Bahkan, dirinya yang lebih aktif dan memberikan rangsangan kepada sang suami.
Sepasang suami istri itu bermain cukup lama. menyelami lautan madu, memecahkan rasa yang seharian ini terpendam.
Hingga Dimas memilih untuk menyudahi permainan itu terlebih dahulu, karena ia khawatir istrinya terlalu lelah.
Terlebih lagi saat ini Andini sedang hamil muda. Membuat Dimas menjadi tidak tega untuk bermain lebih ganas.
Pria itu mencabut adik kecilnya dari lembah sungai yang terdalam milik sang istri, setelah permainannya mencapai puncak.
Dimas mengambil tisu dan membersihkan mahkota istrinya dengan lembut.
Setelah itu, ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Andini yang dibanjiri keringat.
Dimas mengelap buliran keringat itu dengan perlahan.
"Tumben Mas, cuman sebentar? tanya Andini dengan Tatapan yang tertuju ke arah wajah Dimas.
Keduanya bersemayam di bawah selimut yang ditutup, menutupi tubuh polos mereka.
__ADS_1
"Mas tidak mau kamu kelelahan."jawab Dimas dengan lembut.
"Seperti saat itu ya, Mas? setelah Mas meminum jamu dari Mama."Andini terkekeh ketika membayangkan saat suaminya hampir on sepanjang malam.
"Hahaha..... ,aku sudah tidak mau minum jamu itu lagi. Tanpa jamu pun aku tetap perkasa."Dimas tersenyum getir.
Tangan Andini terulur menangkupkan jemari lentiknya, pada wajah Dimas dan mengusap pipi pria itu dengan lembut. Keduanya saling menatap dalam-dalam menikmati keindahan wajah di hadapannya.
Dimas menggenggam tangan istrinya memberikan kecupan lembut di sana.
Setelah beberapa menit kemudian, keduanya saling memberikan kecupan. Andini mulai memejamkan matanya, entah karena faktor kelelahan, Andini Langsung tertidur pulas mengarungi alam mimpinya.
Dimas tersenyum menatap wajah sang istri yang tertidur polos. Ia pun perlahan memejamkan matanya. Tak menunggu lama, Dimas pun akhirnya tertidur pulas mengikuti sang istri mengarungi alam mimpinya.
Sementara di tempat lain tepatnya di rumah keluarga Robert. Robert sudah semangat empat Lima ketika melihat istrinya tiduran dengan posisi terlentang.
Tanpa basa-basi lagi, pria yang mengenakan kaos tipis dan sarung, langsung naik ke atas kasur dan mendekap tubuh istrinya dengan erat.
"Astagfirullah, Robert!"pekik Mariska dengan mata yang seketika terbuka lebar.
"Kaget ya, sayang?" tanya Robert yang semakin mempererat dekapannya.
"Aku kira entah apa tadi, kamu ada-ada saja aku kirain tadi hantu."
"Astagfirullah, tebak tega banget suaminya disamain dengan hantu." Robert mengerucutkan bibirnya.
"Nggak usah gitu bibirnya. Nggak ada imut-imutnya yang ada malah tambah jelek." Mariska mencomot bibir suaminya dengan kesal.
"Jahat banget sih kamu sayang."
"Bodo amat," udah buruan turun! pengap nih!" Mariska mendorong dada Robert agar menjauh.
__ADS_1
"Kita main dulu yuk!"
"Nggak mau, ah. Aku ngantuk mau tidur.
"Bentar saja sayang, satu ronde aja."pria itu memasang wajah memelas.
"Aku ngantuk! Sudah buruan sana turun!" kasihan nanti dedeknya kejepit.
"Astaga sayang, aku lupa. Maaf ya. Aduh Sayang, maafkan papa ya!'Robert langsung turun dari atas tubuh Mariska dan mengusap perut istrinya yang rata.
"Ini nggak apa-apa kan, sayang? tanya Robert dengan wajah cemas.
"Nggak apa-apa, udah sana! aku mau tidur."
"Aku mau cek dulu." Robert menyikap gaun tidur yang dikenakan istrinya sampai batas perut.
"Kamu modus banget sih." Mariska menarik rambut suaminya sampai membuat pria itu mengadu kesakitan.
"Ampun Sayang, Ya udah nggak jadi deh! Robert melepaskan tangan Mariska dan segera turun dari ranjang.
Pria itu membenarkan kembali lipatan sarungnya dan berjalan ke arah pintu kamar.
"Kamu mau ke mana?" tanya Mariska dengan Tatapan yang mengikuti langkah suaminya.
"Keluar, Kamu tidur saja dulu! titah Robert tanpa menoleh sedikitpun ke arah Mariska yang sedang menatap punggungnya.
"Kamu ngambek? tanya Mariska sedikit berteriak yang tidak digubris sedikitpun oleh pria itu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"