Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 157. SUAMI PELIT


__ADS_3

"Robert, bantuin aku dong!"pinta Mariska yang berdiri di depan cermin.


Robert langsung mendekat ke arah sang istri tanpa menunggu wanita itu kembali memanggilnya.


"Kenapa, sayang?


"Tolong bantu naikin resleting aku dong!"


"Memangnya kenapa?"Robert berdiri di belakang Mariska untuk membantu istrinya.


"Resletingnya nggak bisa dinaikin. Kenceng banget."


"Perut kamu sudah mulai membesar, sayang. Rok ini sudah nggak muat,"jelas Robert setelah berusaha menaikkan resleting rok istrinya.


"Masa? Memangnya perut aku sudah kelihatan banget ya?


"Iya, sudah membuncit."


seketika Mariska membelikan badan menghadap ke arah suaminya dengan mata yang menatap tajam.


"Apa? kamu bilang perut aku buncit!"sergah Mariska dengan mata yang membulat, memelototi suaminya.


"Iya, buncit. Kan kamu lagi hamil,"jawab Robert santai.


"Ya, nggak buncit juga lah robek ngomongnya. Kalau buncit tuh kesannya kayak jelek banget."


"Terus apa dong? masa perut kamu mengembung kayak ikan buntal?"


"Robert!"aku potong bibir kamu baru tahu rasa!"Mariska mencomot kedua bibir Robert.


"Ampun, sayang. Memang kenyataannya gitu kok."


"Enak aja! jadi, maksud kamu tubuh aku ini gendut, perut aku buncit gitu?"sergah Mariska kembali yang membuat nyali suaminya semakin menciut.


"Enggak kok Sayang. kamu tetap langsung melebihi member black green."


"Idih, bohong banget!"


"Serba salah terus aku. Jujur salah, bohong juga salah. Terus aku harus apa?


Robert mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah.


"Harus apa, harus apa. aku nih Yang bertanya harus apa? rok aku nggak muat, terus aku kerja gimana?"Mariska berusaha menahan nafas dan mencoba menaikkan kembali resleting roknya.


Namun, masih saja tidak muat, sampai ia menahan nafas selamat dan membuangnya dengan kasar.


"Ya, sudah. Pakai celana aku aja, sayang."tugas Robert yang membuat mata istrinya langsung membulat sempurna.


"Apa? pakai celana kamu? ogah banget ."


"Lah, terus gimana? masak mau pakai rok Mama?"


"Beliin lah Robert. jadi suami pelit banget!"

__ADS_1


"Bukan pelit, sayang. Nanggung, ini kan hari terakhir kita magang. Kalau beli yang baru, nanti roknya nggak kepakai jadi sayang kan.


"Dasar pelit!Ya, sudah. Aku mau nelpon Papa aja, minta uang buat beli rok."Mariska langsung merespon selnya dengan kasar.


"Aduh, Jangan dong. Nanti Papa kamu marah dan mengira aku ini pelit."Robert menahan tangan istrinya yang mulai mengotak-atik benda canggih itu.


"Kamu memang pelit!"


"Jangan gitu lah, sayang. nanti harkat dan martabat aku hilang di mata papa kamu."


"Memangnya aku pikirin!"


"Kamu harus menjaga kewibawaan suamimu dong, Sayang."


"Kewibawaan apanya? kamu tuh nggak wibawa sama sekali. Masa Aku cuma minta dibelikan rok aja nggak mau, apalagi kalau aku minta dibelikan."carocos Mariska dengan kesal.


"Ya, sudah. Iya, kita beli rok."Robert akhirnya mengalah daripada ia harus dicap suami pelit.


"Rok, sekalian sama bajunya. Oh,iya. celana aku yang lain juga sudah banyak yang nggak muat, kita sekalian beli ya!"ucap Mariska dengan mata berbinar.


"Dompetku menangis!"cicit Robert sambil mengusap sudut matanya.


****


Hari ini Andini begitu semangat bekerja, karena hari ini adalah hari terakhir bekerja di sana.


Andini Tak sabar menunggu jam kerja selesai, Karena setelah itu ia tidak akan kembali bekerja di sana.


Kalaupun ia diminta tetap bekerja, pasti Andini tidak akan mau.


Terlebih lagi, Andini kini sedang berbadan dua, yang membuat dia harus banyak istirahat.


Namun, baru saja jam bekerja dimulai, dia langsung mendapat panggilan dari sang Bos.


Tumben sekali Alvin menelepon, tidak langsung datang ke ruangannya seperti yang kemarin-kemarin pria itu lakukan.


Andini segera datang ke ruangan sang Bos, Iya yakin setelah ini dirinya akan mendapat tugas.


Setelah langkahnya tiba di dalam ruangan yang selalu terlihat senyap itu, matanya langsung disambut oleh Alvin yang sedang menatapnya dengan wajah dingin.


Andini berusaha tenang, semoga saja Alvin tidak memberikan tugas yang banyak lagi hari ini.


"Kamu sehat? tanya Alvin secara tiba-tiba yang membuat Andini terdiam sejenak dan menarik nafas panjang.


"Alhamdulillah. Saya sehat pak."jawab Andini dengan suara ramah meskipun hatinya sedikit dongkol melihat tatapan Alvin.


Alvin menyodorkan sebuah map kepada Andini. "Ini ambil, hari ini hari terakhir kamu bekerja di sini kan?"ucap Alvin yang dibalas anggukan dari Andini.


Andini sudah tahu, isi amplop itu merupakan penilaiannya selama bekerja di kantor itu.


"Setelah jam kerja nanti selesai, kamu beserta teman-teman kamu yang magang di sini. kita makan bersama di kafe yang letaknya tidak jauh dari kantor ini."ucap Alvin kepada Andini yang dibalas anggukan dari Andini.


Setelah menerima Map itu, Andini meninggalkan ruang kerja Alvin. Dan kembali ke ruang kerjanya tetapi sebelumnya, dia memberitahu kepada Mariska, Robert dan Rian undangan bosnya tadi kalau mereka sore nanti makan bersama.

__ADS_1


***


"Papa.... Herlan..."teriak seorang wanita dari lantai bawah rumahnya dengan suara menggelegar sampai terdengar ke lantai atas.


Tuan Miko Pratama yang mendengar teriakan istrinya langsung datang dengan tergesa-gesa.


"Pa, Herlan mana? tanya Nyonya Laras setelah suaminya datang dengan nafas tersengal-sengal.


"Herlan? Herlan masih di kamarnya mungkin. Ada apa sih Ma? pagi-pagi sudah teriak-teriak kayak petir."seloroh Tuan Eko Pratama yang tak digubris oleh istrinya.


Nyonya Laras menarik nafas panjang dengan membuka mulutnya lebar-lebar.


Tuan Miko Pratama yang melihat itu sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan istrinya.


Pria paruh baya itu segera menutup kedua telinganya sebelum suara Nyonya Laras mengguncang gendang telinganya.


"Alaaaaaaan...."suara itu hampir meruntuhkan tembok rumah yang sudah dibangun hampir setengah abad.


Herlan dan Rian yang mendengar teriakan Nyonya Laras langsung keluar dari kamar.


"Pa, Ada apa sih? tanya Herlan dengan heran.


"Gempaaaa..."ucapkan Mega Pratama sambil sedikit terkekeh.


Rian yang mendengar apa yang diucapkan Ayah mertuanya itu membulatkan matanya. wanita itu mengangkat ke atas dasternya dan bersiap lari turun ke bawah.


Namun, baru juga selangkah, Herlan langsung menahan tangannya.


"Mau ke mana? tanya Herlan Seraya menarik dengan istrinya yang siap berlari.


"Katanya ada gempa Bang. kita harus segera turun,"jawab Rian dengan wajah tegang.


"Gempa dari mana? orang gak ada guncangan apa-apa. kamu mau lari dari sini, kalau jatuh gimana? ingat, Kamu sekarang sedang hamil, jangan terlalu lincah dalam bergerak."carocos Herlan yang membuat istrinya mematung. hanya matanya saja yang beberapa kali berkedip.


"Bang, Terus tadi mama kenapa teriak-teriak?


"Ya nggak tahu. Mending sekarang kita turun! hati-hati, jalannya pelan-pelan!"Herlan memperingatkan istrinya sambil menggandeng tangan sang istri.


"Emmmm .. Bang Herlan so sweet banget sih."Rian berjalan sambil menyandarkan kepala pada lengan berotot suaminya.


"Aku itu peduli sama kamu dan calon anak kita,"ucap Herlan yang terus menuntun langkah istrinya, menuruni anak tangga.


"Ya Allah, beruntungnya Aku punya suami sepertimu Bang. sudah ganteng, baik, perhatian lagi."Rian terkekeh dengan tangan yang mengusap-usap perut suaminya.


"Ngapain Ini elus-elus perut aku?"Herlan menyingkirkan tangan Rian dari perutnya.


"Perutnya buncit, Bang Herlan sekarang agak gendutan. Bahagia yah punya istri seperti aku?"Rian tersenyum merekah.


"Bahagia banget, walaupun kadang tersiksa."jawab Herlan yang membuat Rian langsung menegakkan kepala dan menatapnya dengan tajam.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS


__ADS_2