Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 125. MERASA MUAL DAN MUNTAH


__ADS_3

Wanita itu langsung mengambil sebotol air mineral dan meneguknya sampai tenggorokannya terasa lega.


"Ya ampun Sayang, makanya kalau makan hati-hati. Dikunyah dulu baru ditelan." omel Dimas melihat wajah istrinya memerah karena batuk.


"Mas, gara-gara mendengar ucapanmu aku sampai lupa mengunyah." balas Andini sambil terkekeh.


"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Dimas dengan alis yang terangkat sebelah.


"Nggak ada Mas, cuman nggak biasa saja kamu gombal kayak gitu." sahut


"Itu Bukan gombal sayang, tapi ungkapan."


"Sama saja Mas."


"Ya sudah, aku tidak akan berkata seperti itu lagi jika kata-kata manisku bisa menyakitimu." ucap Dimas


"Mas alai banget sih. Hahaha...." Andini tertawa lepas. Tanpa ia sadari ada seorang pria yang memperhatikannya di depan pintu yang tidak tertutup rapat.


"Ehem...suara deheman itu langsung menghentikan tawa Andini, dan ia menoleh ke arah sumber suara.


Matanya membulat ketika melihat Alvin sedang menatap ke arahnya dengan intens.


"Bapak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Andini dengan sedikit ragu.


"Ambilkan makanan saya di bawah." pitanya dengan nada datar.


"Iya Pak," setelah mendengar itu Alvin langsung meninggalkan ruang asistennya.


"Siapa? tanya Dimas dengan nada menatap jeli

__ADS_1


"Pak Bos, Mas. Udah dulu ya, tadi aku disuruh ngambil makanan di bawah." ucap Andini


"kok Kamu? memangnya nggak ada OB?


"Entahlah, mungkin OB lupa mengantarkan makanan siang. Udah dulu ya Mas, aku takut Pak Bos singa itu murka."


"Ya udah hati-hati ya, kalau bosnya galak laporkan saja sama aku.


"Siap Big Bos! aku tutup teleponnya ya, Mas." setelah itu Andini menutup teleponnya dan keluar dari ruangannya.


Setelah selesai melakukan sambungan telepon seluler dengan istrinya Andini, Dimas tertawa ngakak. Ternyata sepupunya itu pintar untuk mendidik istrinya. Dia tahu betul apa yang akan ia lakukan terhadap sang istri. "Sabar sayang, sebentar lagi saatnya kamu akan mengetahui semua tentang siapa suami kamu sebenarnya. Tapi belum sekarang, karena Mama dan Papa belum memberi izin kalau Mas memberitahu segalanya." gumam Dimas di dalam hati.


Tiba-tiba saja Dimas merasa mual. Kepalanya terasa pusing, guncangan di perutnya sudah tidak tertahan lagi. Dimas berlalu ke kamar mandi mengeluarkan seluruh isi perutnya


"Oek....oek..." Dimas muntah hingga tubuhnya terasa lemas


Dimas berusaha memijat kepalanya agar tidak terlalu pusing. Tapi rasa pusing yang dirasakan Dimas tak kunjung berkurang. Malah Dimas kali ini memuntahkan isi perutnya kembali di kamar mandi.


Dimas berusaha berjalan ke ruang UKK yang lokasinya tidak terlalu jauh dari ruang kerjanya. Dimas meminta obat pusing dan mual kepada penjaga UKK.


"Bu, tolong berikan saya obat pusing dan mual. Kepala saya sangat pusing dan perut saya terasa mual." keluh Dimas memberitahu kepada salah satu dokter yang bertugas menjaga UKK.


"Baik Pak Dimas." ucap Dokter wanita itu sambil langsung mengambil obat pusing dan mual di dalam rak obat.


Kemudian Dokter wanita paruh baya itu langsung memberikannya kepada Dimas


"Pak Dimas, kalau sudah makan siang sudah boleh mau makan obat nya." ujar wanita paruh baya itu kepada Dimas.


Dimas langsung menelan obat yang diberikan oleh petugas UKK itu, berharap rasa pusing dan mual yang ia rasakan berkurang.

__ADS_1


"Apa Pak Dimas memiliki riwayat asam lambung? tanya ibu paruh baya itu.


"Tidak Bu, selama ini saya tidak pernah memiliki riwayat asam lambung. Karena saya menjaga pola makan saya." sahut Dimas.


Mendengar pengakuan dari Dimas ,dokter itu menatap Pak Dimas dengan intens."Jangan-jangan istri Pak Dimas Andini sedang hamil, biasanya kalau bukan istri yang merasakan gejalanya, pasti suami yang merasakannya." gumam wanita paruh baya itu di dalam hati sembari terus memperhatikan Pak Dimas.


Setelah sekitar sepuluh menit menelan obat itu, Dimas berpamitan kepada dokter itu. Karena rasa pusing yang ia rasakan sudah mulai berkurang. Tapi saat ini sepertinya Dimas tidak kembali mengajar di kelas. Ia memilih untuk istirahat di ruang kerjanya


"Tiba-tiba saja suara ketukan pintu terdengar jelas di telinganya. Perintah masuk dari Dimas pun terdengar. Seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya.


Dekan yang selama ini membantu Dimas mengelola kampus datang menghampiri Dimas.


"Pak Dimas, saya dengar dari petugas UKK bapak sedang sakit." ucap dekan itu kepada Dimas.


"Saya hanya pusing dan mual saja Pak. Tidak perlu khawatir, Mungkin sebentar lagi akan baikan dengan istirahat sebentar saja." sahut Dimas sambil berusaha duduk kembali.


"Oh iya, ada apa Bapak datang ke ruang kerja saya?" tanya Dimas kepada Dekan itu.


"Saya hanya ingin memberitahukan kalau orang tua Almarhumah Almira, datang ke kampus untuk mengambil berkas milik Putri mereka."ucap sang Dekan kepada Dimas.


"Oh baguslah. Jadi kita tidak perlu repot mengirimkan berkas Almira ke orang tuanya. sahut Dimas.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"

__ADS_1


__ADS_2