
"Din, kamu nggak apa-apa?"Bima segera mendekat ke arah Andini yang terduduk lemah di atas lantai.
"Jangan dekati Andini!"
BUGH!
Dimas kembali menarik jaket Bima dan melabuhkan satu pukulan keras pada wajah tampan Bima yang merupakan mahasiswanya sendiri.
Sampai membuat pria itu terpental ke belakang.
Bima melap darah yang mengalir pada sudut bibirnya dan menatap kerah Dimas yang terlihat berapi-api.
"Oh, Aku tidak menyangka jadi begini kelakuan seorang dosen. Baiklah, di kampus Kamu adalah dosenku, tapi di luar kamu adalah musuh ku. Aku tidak peduli Siapa kamu sekarang, Aku ingin hanya menolong Andini, tapi kamu memperlakukanku dengan kasar seperti ini. Bima meregangkan ototnya dan mendekat ke arah Dimas dan memberikan bogeman ke wajah tampan Dimas.
Kedua pria itu saling adu jotos, bunyi pukulan keras dari keduanya sampai terdengar ke area pesta.
Beberapa orang yang menyadari itu segera mendekat ke tempat kejadian, di samping rumah Mariska yang tidak terlalu terang , karena di sana tidak ada lampu. Hanya sorot lampu dari area pesta lah yang menerangi tempat itu dan terlihat samar-samar.
"Ada apa?
"Siapa yang berkelahi disana?"
para tamu mendekat ke arah Dimas dan juga Bima.
Robert dan Rian yang menyadari itu adalah temannya setelah mendekat.
"Bima! Rian dan Robert mendekat ke arah dua orang yang sedang baku hantam.
kedua mahasiswa itu melerai pertarungan antara sang dosen dengan mahasiswanya sendiri yang sedang dilanda amarah.
"Rian, kamu pegang tangan Bima!"teriak Robert Seraya berusaha memegang tangan Dimas agar tak bisa lagi memberikan penyerangan.
"Oh my God, Andini!"teriak Mariska ketika menyadari sahabatnya sedang terkapar di atas lantai.
Dimas menyiku perut Robert sampai tangannya terlepas.
Pria itu segera mendekat ke arah Andini.
"Astaga Din, kamu kenapa? teriak Mariska yang baru tiba di tempat tersebut.
__ADS_1
Gadis itu menghentikan langkahnya ketika melihat Dimas berjongkok dan mengangkat tubuh lemah Andini dengan ringan.
Semua yang melihat itu cukup tercengang, Dimas menggendong tubuh Andini berjalan melewati kerumunan orang yang menghadiri pesta ulang tahun Mariska.
Banyak yang bertanya-tanya ada hubungan apa Andini dengan sang dosen killer. Padahal mereka sangat mengetahui kalau Andini dan juga sang dosen killer tidak pernah berdamai. Bahkan keduanya selalu terjadi Aduh mulut walaupun mereka sedang berada di dalam kampus.
Tetapi Mariska tak kalah tercengang, Gadis itu mematung sejenak, tak percaya dengan apa yang dia lihat barusan.
Dimas membawa Andini masuk ke dalam mobil dan segera menjalankan roda empatnya meninggalkan banyak orang dengan seribu pertanyaan.
Pria itu membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesekali matanya melirik ke arah Andini yang terlihat tak karuan.
Gadis itu mencoba duduk dengan tegak tetapi kepalanya yang pusing tak dapat ditahannya. Andini sempoyongan sampai akan terjatuh tetapi tangan kekar Dimas langsung menahannya.
Dimas pun membawa mobil dengan tangan kanan yang memegang setir. Sementara tangan kiri menahan kepala Andini yang sadari tadi bergerak tak karuan.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih dua puluh menit, akhirnya kendaraan yang dikendarai oleh Dimas tiba di halaman rumah. Dimas segera turun dan mengangkat tubuh istrinya perlahan.
"Astaga Apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Kenapa mulutmu bau alkohol? pasti teman laki-lakimu itu mau menjebak mu."umpat Dimas seraya membawa tubuh Andini masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuh istrinya dengan hati-hati.
Dimas sangat kesal terhadap mahasiswanya yang ingin menjebak Andini. Padahal yang sebenarnya bukanlah Bima yang melakukannya. Tapi Dimas mengira kalau Bima pelakunya yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Bima,"gumam Andini dengan suara parau matanya terbuka tetapi sorot netra kecoklatan itu terlihat sayu.
"Apa kamu bilang? Bima? Andini menarik kemeja Dimas sampai tubuh pria itu mendekat.
Andini mengangkat kepala dan akan mencium bibir Dimas yang berada di atasnya. Namun, sebelum itu tiba-tiba saja berkata sesuatu.
"Bima,"ucapnya dengan pelan tetapi masih terdengar jelas di telinga Dimas membuat Dimas ketika emosi.
"Brengsek!
"Plak!
Dimas mendorong tubuh Andini dengan kasar dan mendaratkan sebuah tamparan keras pada pipi mulus gadis itu.
"Aduh sakit, apa yang Bapak lakukan?"Andini membuka matanya lebar-lebar dengan tangan yang memegang pipinya yang terasa memanas.
"Wanita macam apa kamu ini! berani kamu menyebut nama laki-laki lain di hadapan suamimu sendiri!"Dimas menatap ke arah Andini dengan tajam. Napas terdengar memburu, rahangnya mengeras, seolah-olah dirinya ingin menelan Bima hidup-hidup.
__ADS_1
"Apa? Sa... Saya tidak berbicara apa-apa."mata Gadis itu memanas air mata mulai mengenang di pelupuk matanya.
Rupanya tamparan tadi membuat kesadaran Andini sedikit kembali.
Bahkan Andini bangkit dan duduk di atas ranjang.
"Kamu istriku! tapi kamu menyebut nama laki-laki lain di depan wajahku sendiri. Kamu sangat menguji kesabaranku!"Dimas mencengkram dagu Andini cukup keras sampai membuat kulit Gadis itu memerah.
"Maksud Bapak apa? saya tidak mengerti,"suara Andini terdengar tidak jelas karena Dimas masih mencengkram dagunya.
"Kamu sengaja mabuk dengan laki-laki itu kan?! dan kamu juga pasti ingin menghabiskan malam ini bersama laki-laki itu."
Dimas mendorong kepala Andini dengan keras sampai membuat Andini kembali terjatuh di atas kasur.
Air mata Andini sudah tak terbendung lagi, ketika merasakan perlakuan kasar suaminya.
"Selama ini kamu tidak mau saya sentuh. padahal Saya suamimu! yang berhak atas dirimu, bahkan tubuhmu sudah menjadi milik saya. Kamu sudah hak saya sepenuhnya, dan itu sah dimata hukum dan agama. Ternyata kamu lebih memilih menyerahkannya kepada laki-laki lain,"sarkas Dimas dengan amarah menggebu-gebu.
Andini berusaha menyeimbangkan diri dan mencoba duduk kembali.
"Bapak jangan bicara sembarangan! saya tidak pernah menyerahkan tubuh saya kepada bapak, karena saya tidak yakin pernikahan ini akan berlangsung lama.... dan asal Bapak tahu, Saya tidak akan menyerahkan tubuh saya kepada laki-laki yang tidak akan menjadi suami saya selamanya!"apalagi suami itu tidak mencintai saya sama sekali, seperti bapak yang tidak pernah mencintai saya. Untuk apa saya menyerahkan tubuh saya kepada bapak!" tegas Andini dengan bibir bergetar, air mata seolah membanjiri pipinya yang memerah.
"Oh, kalau begitu saya akan membuat pernikahan ini terjalin selamanya,"Dimas ikut naik ke atas ranjang dan mendekat ke arah Andini.
Andini mundur perlahan ketika suaminya semakin dekat.
Dimas menyikapi dress yang dikenakan Andini sampai membuat paha mulus istrinya terekspos sempurna di matanya.
Jiwa ke laki-lakiannya langsung bangkit.
"Tidak! Jangan lakukan ini. Saya belum siap,"rintih Andini sambil terus memundurkan tubuhnya.
Namun, Dimas yang bagaikan orang kerasukan terus mendekatinya.
Pria itu menarik lengan baju Andini dengan keras sampai robek.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN