
Sementara itu, seorang pria baru turun dari mobil. Herlan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, meregangkan otot-otot lehernya yang terasa pegal.
Dari kejauhan sudah terlihat seorang wanita yang mengenakan daster berdiri di ambang pintu.
Herlan tersenyum ketika melihat istrinya dengan perut membuncit sedang menunggu kedatangannya.
Pria itu menyugar rambutnya yang sedikit berantakan dan melangkah dengan segera, ke arah sang istri.
"Assalamualaikum,"ucapnya dengan ada halus.
"Waalaikumsalam. tumben pulangnya malam banget Bang? udah tahu kok jawabannya, pasti di kantor lagi ada acara kecil-kecilan, kalau tidak makan makan dulu sama teman karena ada yang ulang tahun atau ada yang baru jadian," cerocos Rian Seraya mencium punggung tangan suaminya.
Herlan mengerutkan kening ketika mendengar ocehan istrinya. "Kamu kenapa sih? lancar banget penduduknya."Herlan menatap istrinya dengan heran.
"Bukan nuduh, tapi ini kenyataan. pasti alasannya begitu, iya kan? aku mah sudah hafal."cerocos Rian kembali.
"Salah! budayakan bertanya tanpa memberikan jawaban sendiri. Dengarkan dulu penjelasan dari orang yang ditanya,"balas Herlan dengan nada kesal.
Rian kembali membuka mulutnya. iya akan segera memberikan ultimatum pada suaminya.
"Sudah, jangan nyerocos aja! mending makan ini."Herlan menunjukkan sebuah plastik ke hadapan istrinya yang membuat bibir Rian kembali mengatup.
Padahal Wanita itu sudah menarik nafas panjang karena ia akan berbicara sepanjang kereta api.
"Eh Bang aku mau nanya,"ucapkan saat mereka akan berjalan ke arah meja makan.
"Nanya apa? tumben ngomong dulu, nggak langsung nyerocos aja?"Herlan menghentikan langkah dan menatap ke arah istrinya.
"Ikh, aku salah mulu!"kesal Ryan dengan bibir mengerucut.
"Ya, sudah. mau nanya apa?
"Nggak jadi, aku ngambek!"Ryan menghentakkan kaki dengan bibir yang semakin mengerucut
"Jangan gitu bibirnya, tambah jelek!"Herlan menyentuh kedua bibir istrinya.
"Kan, Bang Herlan tuh omongnya kayak orang yang gak cinta gitu sama aku. jangan-jangan emang iya, Bang Herlan nggak Cinta ya sama aku? Bang Herlan nikahin Aku Karena terpaksa ya?"tuduh Rian.
"Memang iya. Kita Kartika karena terpaksa."jawab Herlan sambil terkekeh
",Huaaaa .. Bang Herlan jahat!!! Ryan melebarkan Bibir bawahnya.
"Hussst.... berisik! Nanti orang-orang pada bangun."Herlan membekap mulut istrinya.
"Emmmmph.... tangan kamu asin Bang!"Ryan melepas telapak tangan Herlan dari mulutnya.
"Kebetulan tadi habis ngupil, dapat banyak lagi."Herlan kembali terkekeh.
__ADS_1
"Idih, jorok banget...Hoek..."
"Jadi nggak nih nanyanya? kalau nggak jadi, aku mau mandi dulu."
"Jangan mandi dulu! temani aku makan, kayaknya mama sama papa sudah tidur."Ryan menarik lengan suaminya ke arah meja makan.
"Ya sudah, sekalian buatin aku kopi biar nggak ngantuk!"titah Herlan.
" loh kalau nggak ngantuk Nanti nggak bisa tidur dong, bang. Ini kan udah malam."Rian mulai mengeluarkan kotak berisi makanan itu dari dalam plastik.
"Sengaja, malam ini kan mau lembur,"jawab Herlan santai.
"Lembur lagi? bukannya tadi udah lembur di kantor?"Rian menatap suaminya dengan heran.
"Beda lagi, sekarang lemburnya di rumah, di atas ranjang,"jawab Herlan dengan senyum menggoda.
"Dih modus banget!"Rian menatap sini secara suaminya.
"Biarin, kan fungsinya punya istri begitu, untuk memuaskan hasrat dan berakhir."
"Tau ah, ngomongnya dalam banget,"protes Rian
"Sedalam goa milikmu ya!"Herlan tertawa kecil.
"Bang Herlan ih! Bisa nggak ngomongnya nggak usah mesum terus?
"Biarin, kang kan mesumnya sama istri sendiri. Nggak dosa kok malah tambah pahala."
"Kenapa tiba-tiba nanya gitu?"Herlan membalas tatapan istrinya dengan heran.
"Ya, Aku Hanya penasaran saja. habisnya tadi pagi itu si robek rusuk banget di grup katanya si Ricky minggat dari rumah gara-gara nggak dikasih jatah."
"Heh, jangan sok tahu!"sangkal Herlan
"Bukan sok tahu, memang begitu kata si Robert. Terus sekarang gimana? si Ricky udah balik lagi belum?"tanya Rian kembali dengan tingkat penasaran yang semakin membuncah.
"Ya nggak tahu, emangnya aku ini bapaknya dia apa? jadi orang nggak usah kepo banget, biar itu Jadi urusan rumah tangga mereka."
"Bukan kepo Bang. Aku cuman penasaran."
"sama saja."
"Sudah sih Bang. kalau tahu jawab aja, nggak dosa kok. malah dapat pahala karena mengobati keingintahuan istrinya."
"Sesat banget kamu!"Herlan menyentil jidat istrinya.
"lanjut deh bang. sekarang gimana tuh si Ricky? aku Soalnya khawatir juga, takut dia kenapa-kenapa. secara kan si Ricky itu teman aku dari zaman ke kampus."
__ADS_1
"Tadi pagi Mbak Nisa buru-buru minta Abang booking tiket menuju medan, sehingga aku langsung membooking tiket menuju kota Medan atas nama Mbak Nisa. Dan Mbak Nisa sekarang menyusul si Ricky ke kampung halaman si Ricky. "jelas Herlan.
"Oh begitu. Semoga aja mereka berikan lagi ya! sayang banget soalnya kalau sampai pisah."
"Amin. mana kopinya? Dari tadi ngoceh melulu, lupa apa suaminya nungguin kopi."
"Hahaha... maaf, suamiku."Rian segera bangkit dan bersiap membuat kopi untuk suaminya.
****
Setelah sepasang suami istri yang dipenuhi lumpur itu selesai mandi, Ibu Sulastri dan juga suaminya meminta keduanya Untuk segera menyelesaikan masalah rumah tangga mereka.
Karena Ibu Sulastri sangat mengetahui, tidak mungkin tiba-tiba Ricky kembali ke desa Kalau tidak ada masalah yang sangat berat mereka hadapi dalam hubungan rumah tangga.
Jadi saat ini kedua orang tua Ricky meminta mereka untuk segera menyelesaikannya. agar masalahnya tidak berlarut-larut.
"Sudah lebih baik kamu ajak si Nisa ke kamar,bicarakan dengan baik-baik." titah Ibu Sulastri.
"Ayo! kita bicarakan berdua saja, di sini ada orang kepo!"Ricky melirik kara sang ibu yang malah dibalas tawa kecil dari wanita paruh baya itu.
Ricky langsung terlebih dahulu menuju kamar yang diikuti oleh Nisa dari belakang.
Keduanya masuk ke dalam kamar, Ricky kembali menutup pintu kamar itu rapat-rapat.
Setelah pintu tertutup rapat, keduanya terdiam sejenak.
Sepasang suami istri itu seketika membisu, membiarkan suasana ini mengiringi helaan nafas berat dari keduanya .
Nisa melangkah kan kakinya dengan perlahan, wanita itu berdiri tepat di hadapan suaminya.
Ricky masih terdiam dengan sorot mata tertuju ke arah tembok, Bahkan ia tak melirik sedikitpun ke arah sang istri walaupun hanya dengan ekor matanya.
Nisa menari nafas panjang, iya harus memulai pembicaraan, tidak mungkin mereka akan terus saling diam-diaman seperti itu.
"Ricky....A....aku minta maaf."ucapnya dengan nada sedikit tergagap, lidahnya terasa kelu.
Ricky masih terdiam, membiarkan wanita itu melanjutkan kalimatnya.
"Ricky, Aku tahu aku salah. semua yang aku katakan pada malam itu sangat menyakiti perasaanmu. Aku minta maaf, malam itu aku merasa sedang lelah, seharian otakku di gempur oleh pekerjaan. Saat malamnya kamu berbicara hal itu, Maaf aku tidak bisa mengontrol diri. Aku masih egois..."bisa menghentikan ucapannya, mata wanita itu terlihat memerah, bahkan bibirnya terlihat bergetar menahan tangis.
"Bagus kalau kamu sudah menyadari kesalahanmu,"balas Ricky dengan nada datar.
Seketika Nisa mengangkat kepala, menatap wajah suaminya dengan tatapan kabur terhalang air mata yang mengenakan di pelupuk matanya.
"Jadi, kamu mau memaafkan aku?"tanya Nisa dengan tatapan penuh harap.
"Aku bisa memaafkan siapapun yang sudah mengakui kesalahannya, tapi kekecewaan yang aku rasakan tidak akan mengembalikan semuanya seperti semula."
__ADS_1
"Maksud kamu?"Nisa menatap wajah suaminya dengan dahi mengerut, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran besar saat mendengar kalimat yang keluar dari bibir pria itu.
bersambung....