
"Kamu kenapa sayang? tanya Dimas kepada istrinya.
"Nggak apa-apa Mas."sahut Andini sambil berusaha mengembangkan senyumnya.
"Nggak apa-apa, tapi wajahnya kok seperti ditekuk begitu?"Dimas kembali mengamati wajah istrinya sembari mendekat.
"Apa ada sesuatu yang salah aku buat? tanya Dimas kembali.
"Mas, Andini merasa ada sesuatu yang Mas sembunyikan dari Andini.
"Maksud kamu apa sayang?
"Saat berada di rumah sakit, Mamanya Mariska mengatakan kalau Mas itu memiliki perusahaan besar. Terus dia juga mengatakan, Kalau Mas orang kaya raya di negara ini."maksudnya apa Mas?
"Kamu ini ada-ada saja sayang, namanya juga mamanya Mariska itu sedang emosi. jadi bisa saja ngomongnya ngelantur."Dimas berusaha menutupi segalanya karena dia tidak ingin Tuan Miko Pratama dan nyonya Laras kecewa kepadanya.
Padahal sebenarnya, Dimas sangatlah tidak tega melihat istrinya yang selalu ia bohongi. bahkan fasilitas mewah yang bisa Ia berikan tidak dapat dinikmati istrinya, walaupun saat ini istrinya sedang hamil.
Beberapa kali Dimas meminta persetujuan dari mertuanya. Tapi sang mertua meminta Dimas untuk lebih bersabar. Dimas sudah ingin membeli mobil untuk Andini dan sopir yang akan menghantarkan Andini ke mana saja yang ia mau sudah dipersiapkan Dimas.
Yang saat ini bekerja menjadi sopir perusahaan. Dimas sengaja menempatkan sopir itu di sana, sebelum Andini mengetahui segalanya dan dapat mendapatkan fasilitas darinya Setelah nyonya Laras dan Tuan Miko Pratama menyetujuinya.
"Ya sudah, ini sudah malam lebih baik kita istirahat.
"Tapi mata Andini belum bisa tidur Mas,"
"Ya sudah tidak apa-apa lebih baik kita di kamar saja ngobrolnya."Dimas langsung meraih tubuh istrinya dan menggendongnya masuk ke dalam kamar.
Dimas mendudukkan istrinya di atas kasur. kemudian Ia pun duduk di sampingnya, lalu ia menatap wajah istrinya yang begitu mempesona menurutnya.
Dimas merebahkan tubuhnya dan menaruh kepalanya berada di paha sang istri. Sesekali ia memberikan kecupan hangat di perut Andini yang sudah mulai terlihat.
"Mas geli tahu,"Andini protes ketika suaminya sudah mulai mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat dan tangan Dimas sudah menjalar ke bagian gunung kembar Andini.
"Entah mengapa, Mas bawaannya ingin sekali terus melahap kamu Jika kamu berada di dekat Mas."
"Astaga Mas, tadi malam juga sudah. Masa malam ini minta lagi."
"Itu kan semalam sayang, beda dong hari ini."ucap Dimas sembari menatap istrinya dengan memelas.
Andini merasa tidak tega melihat suaminya. Andini akhirnya setuju suaminya menggempur dirinya malam ini.
__ADS_1
****
Permainan cukup lama membuat tubuh Andini dan Dimas terkulai lemas di atas kasur. Dimas mengangkat kepala Andini dan menidurkannya di atas lengannya.
"Kamu capek sayang?"tanya Dimas Seraya mengelap keringat yang menetes pada dahi sang istri. Andini sedikit kewalahan, melayani hasrat yang dimiliki suaminya yang begitu perkasa. Apalagi saat ini Andini sedang mengandung.
"Lumayan Mas, Mas makin hari makin perkasa. Tapi tidak apa-apa Yang penting Mas puas."Andini tersenyum sambil memainkan jemari di atas dada bidang suaminya.
"Maaf ya Sayang, Kalau Mas bermainnya terlalu lama dan sedikit kasar. Tapi kamu tidak apa-apa kan sayang?
"Tidak apa-apa Mas, aku baik-baik saja kok anak kita juga baik-baik saja."
"Kata dokter Eka, kita harus lebih berhati-hati melakukannya."ucap Andini kepada sang suami.
Andini menatap wajah suaminya dengan senyum menggoda.
Dimas terkekeh lalu melabuhkan sebuah kecupan lembut pada wajah cantik istrinya yang sudah merona.
"Terima kasih sayang, sudah hadir di dalam hidup Mas. Soalnya Cuman kamu yang bisa mengalihkan aku dari segala beban pikiran. Entah mengapa kalau aku sedang pusing, merasa banyak masalah, terus melakukannya bersamamu seakan semua beban dan masalah itu hilang begitu saja."tutur Dimas sambil menyelipkan anak rambut Andini di telinga sang istri.
"Alhamdulillah, kalau aku bisa jadi obat untukmu Mas."
"Bagi Mas , tidak ada obat yang lebih mujarab selain tubuhmu."
"Nanti, iya iya dong."ucap Andini sambil terkekeh.
"Iya sayang, senyum manismu membuat Mas menjadi lupa akan segala masalah yang sedang Mas hadapi. Tubuhmu sudah menjadi candu bagiku.
"Bisa aja kamu Mas, buat aku geer nih."
"Ya sudah, kita istirahat. Andini menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya dan memulai memejamkan matanya.
****
Pagi hari yang indah, Andini sengaja bangun lebih awal dari biasanya. Andini berniat untuk memasak sarapan pagi untuk ayah mertua dan suaminya. Walaupun di rumah utama keluarga Anggara ada beberapa asisten rumah tangga, sesekali Andini ingin memasak sarapan pagi untuk keluarga mereka.
Andini yang saat ini mengenakan daster, sudah stand by di dapur ia ingin menyajikan masakan terbaik untuk suami, mertua, dan adik iparnya.
Akhir-akhir ini Andini sudah banyak belajar memasak. Belajar menjadi istri yang lebih baik dan lebih mandiri. Beberapa bulan belakangan ini Andini sudah banyak berubah. tidak seperti dulu lagi bertingkah urakan.
Andini yang dulunya senang sekali mengenakan pakaian layaknya seorang laki-laki, Kini dia sudah memakai pakaian layaknya seorang wanita.
__ADS_1
Perubahan Andini bukan hanya di situ saja, Andini juga sudah lebih mandiri dan semakin mengetahui Apa tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
Saat ini Andini tidak pernah lagi bergabung dengan teman-teman klub motornya. Apalagi setelah Andini hamil. Berkomunikasi di grup Whatsapp juga dia sudah jarang. Sesekali ia berkomentar hanya untuk menyemangati teman-teman satu klubnya saja.
Ketika Andini sedang asyik bergulat di dapur, seorang wanita datang menghampirinya. ternyata Erin yang memasuki dapur menghampiri dirinya.
Andini langsung menoleh ke arah Erin, "Tumben sekali wanita itu mau menginjakkan kaki di dapur pagi-pagi begini. Padahal Erin tidak pernah sama sekali menginjakkan kaki di dapur semenjak ibunya meninggal.
"Eh ternyata kamu Erin, Kamu sudah bangun? tanya Andini Seraya mengambil sayuran dari dalam kulkas.
"CK ... Kak Andini dan kak Dimas itu sama saja ya. Mentang-mentang aku lagi pengangguran, lihat aku bangun pagi kayak gini aneh begitu."protes Erin dengan wajah kesal.
Maafkan Kakak. Nggak biasanya kamu bangun pagi terus langsung ke dapur balas Andini sambil sesekali menoleh ke arah Erin yang berdiri di sampingnya.
"Kakak juga nggak biasanya bangun pagi terus langsung ke dapur kayak gini." balas Erin yang membuat bibir Andini menyunggingkan senyuman.
Andini dan Erin memiliki usia hampir sama, tidak terlalu jauh berbeda. Oleh karena itu ketika berhadapan dengan Erin ia merasa seperti berbicara dengan sahabatnya sendiri.
"Kakak mau ngapain di dapur?
"Mau masak sarapan pagi untuk kita."
"Emang bisa? tanya Erin yang membuat Andini langsung menoleh ke arahnya.
"Nggak percaya banget sih kamu kalau aku bisa masak."Andini terkekeh.
"Paling juga masak nasi sama masak air." balas wanita itu kembali yang membuat kakak iparnya kembali tertawa.
Ternyata walaupun terlihat menyebalkan Erin cukup asik juga.
Mungkin memang sudah karakter wanita itu jika berbicara sedikit Ketus dan ceplas-ceplos.
"Lihat saja kamu mau di Masakin apa."
"Terserah Kakak mau masak apa yang penting enak."sahut Erin.
Kemudian Andini pun dengan cepat langsung memasak nasi goreng ala Andini. Dia memasak nasi goreng untuk empat porsi, selain memasak nasi goreng, Ia juga memasak telur mata sapi dan ayam goreng untuk lauknya. Dilengkapi dengan lalapan selada dan ketimun, dan juga tomat yang diiris rapi oleh Andini, membuat pleating nasi goreng itu semakin indah, dan menggiurkan. Aroma nasi gorengnya juga menyeruak ke hidung, membuat Erin tidak sabar untuk segera mencicipi nasi goreng buatan sang kakak ipar.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN