Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 96. IJAB KABUL


__ADS_3

Dimas hanya tersenyum Seraya menatap dalam-dalam wajah sang istri yang merona.


"Terus, ini gimana Mas? aku sudah siapin bumbu buat nasi goreng. Andini menunjukkan arah bahan masakan yang terbengkalai.


"Dilanjut nanti aja. Mas harus mengantar kamu dulu ke rumah Mariska, habis itu baru ke kampus. kalau nunggu masakan ini selesai, nanti bisa-bisa kesiangan."


" Ya udah deh, Tapi kamu jangan lupa sarapan di kampus Iya, Mas."


" Iya sayang, Dimas mengacak rambut istrinya pelan


***


Sesuai yang telah direncanakan, Robert dan ibunya beserta adiknya telah tiba di rumah Mariska.


Pria itu sudah tidak mempunyai ayah. Dan ia juga sengaja tidak memberitahu saudaranya yang lain kalau ia akan melaksanakan pernikahan hari ini.


Karena Robert dan Mariska telah setuju untuk merahasiakan pernikahan mereka di depan umum Termasuk orang-orang di kampus.


Mereka hanya memberitahu sahabat dekat saja.


Andini sudah tiba di rumah Mariska dan langsung bergabung dengan teman-temannya.


Sementara itu, kini Robert sudah duduk di depan penghulu yang akan menikahkan mereka.


Mariska hanya mengenakan kebaya pengantin dan hiasan sederhana.


Awalnya wanita itu menolak untuk dirias seperti itu. Namun, Ibunya tetap ingin melihat putrinya tampil berbeda disaat akad. walaupun pernikahan itu tidak disaksikan banyak orang.


Seorang penghulu menjabat tangan Robert dan mulai membaca kalimat Ijab Kabul untuk diikuti yang mempelai pria.


" Bismillahirohmanirohim. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Robert Bin Budi Saputra dengan saudara Mariska binti Pratama dengan mas kawin uang sebesar sepuluh juta dibayar tunai."


Robert menarik nafas panjang dan memejamkan matanya sebentar.


Pria itu memasang wajah penuh percaya diri untuk mengucapkan Ijab Kabul.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan.."


"Huuuuu... " sorak para teman-temannya yang menyaksikan ketika mendengar Robert mengulangi kalimat yang sama dengan penghulu.


"Tenang Semua.... tenang! ini sebuah ketidak sengajaan! Robert berusaha menghentikan sorakan teman-temannya itu.


Terlebih lagi, tawa Andini dan Rian memecah.


kedua wanita itu terpingkal saat melihat tingkah sahabatnya.


" Robert, yang bener ih! "Mariska menyenggol lengan pria di sampingnya.


" Sorry, Ris. Aku belum latihan." bisik Robert

__ADS_1


"Kamu sih sok pintar, orang kalau mau akad nikah tuh latihan dulu."


"Aku kira ini gampang."


"Ini mau dilanjut akad nikahnya atau mau terus diskusi? Sela Pak penghulu itu yang sedari tadi memperhatikan keduanya.


"Lanjut Pak!" Maaf kami diskusi suka Kebablasan. Robert tersenyum kikuk.


"Diskusinya nanti lanjut di kamar aja. Sekarang mempelai pria coba latihan dulu titah Pak penghulu dengan Tatapan yang tertuju ke arah Robert.


"Ehem... tes.... " Robert kembali menarik nafas panjang dan mengikuti ucapan Pak penghulu yang sedang mengajarinya.


Setelah beberapa kali pengulangan dalam latihan, Robert sudah bisa mengucapkan kalimat ijab kabul dengan lancar.


" Tarik nafas dulu, tahan dua jam bisik Mariska sebelum ijab kabul kembali dimulai


" Kayaknya kamu sudah mau jadi janda sebelum akad nikah berlangsung."


"Ngaco kamu! di mana-mana tuh kalau jadi janda yang sudah.


"Hisss... sudah sudah kita mulai lagi Ijab kabulnya ya."


Pak penghulu itu kembali menjabat tangan Robert dan mengucapkan kalimat yang sama.


Setelah itu, Robert bersiap untuk mengulangi kalimat yang tadi dipelajarinya.


"Bagaimana para saksi sah?


"Sah.... "


"Alhamdulillahirobbilalamin....."


Setelah itu, dilanjut dengan membaca doa yang diamini oleh semua yang hadir di tempat akad nikah tersebut.


"Pengantin wanita, silakan dicium tangan suaminya." titah Pak penghulu yang membuat Mariska langsung menoleh ke arah Robert yang tersenyum getir pada wajah tenggelnya.


"Cium lah punggung tanganku Wahai istriku." Robert menyodorkan tangan kanannya ke arah Mariska.


" Idih bahasa kamu itu sudah kayak Baginda Raja aja,mau muntah aku mendengarnya." Mariska mengerutkan kening dengan tatapan tak suka.


"Ini sebuah keharusan. Iya kan, Pak penghulu?


Pak penghulu itu hanya mengangguk dan mempersilahkan Mariska untuk mencium punggung tangan suaminya.


" Ya sudah, sini! dengan terpaksa Mariska meraih tangan Robert dan menciumnya dengan kasar.


" Robert tangan kamu bersih Kan? " tanya Mariska sebelum menempelkan hidungnya pada punggung tangan pria itu.


"Bersih cuman tadi pagi aku lupa...."

__ADS_1


"Lupa apaan? Mariska masih belum menempelkan hidung dan bibirnya pada punggung tangan sang suami.


"Cebok pakai tangan kanan."


"Dasar suami jorok!" Mariska langsung menegakkan kembali kepalanya.


"Namun, tangan kiri robek menahan kepala wanita itu dan langsung menempelkan tangannya pada hidung dan bibir Mariska.


"Kadang wanita itu harus dipaksa biar terbiasa. bener nggak Pak penghulu? tanya Robert kembali kepada Pak penghulu yang masih duduk di hadapannya.


"Mantap sekali Mas Robert, tapi nanti malam jangan terlalu memaksa ya." ucapkan penghulu itu sambil terkekeh


" Tenang saja Pak saya sudah menyiapkan jurus yang paling jitu." ucap Robert sambel terkekeh


" Robert, diam nggak kamu! Mariska melempar tatapan tajamnya.


Setelah itu Pak penghulu dan para saksi berpamitan untuk meninggalkan tempat tersebut.


orang tua Mariska mendekat dan memberikan wejangan kepada anak dan menantu mereka.


Setelah itu Ibu dari Robert juga menghampiri Putra dan menantunya.


" Robert Mama nggak nyangka kamu akan menikah secepat ini. Padahal selama ini Mama mengira kamu tidak laku." ucap Ibu Halimah dengan wajah Haru.


"Nggak laku gimana Ma! orang Anak mama ganteng begini, Mariska aja sampai klepek-klepek minta cepat dinikahi." pria itu melepas peci dan menyugar rambutnya.


Sementara Mariska langsung menatap sinis ke arah pemuda yang kini telah menjadi suaminya.


"Nak Mariska, Mama harap nak Mariska mau menerima Robert apa adanya ya anak mama ini walaupun tidak terlalu tampan, tapi dia baik hanya satu kekurangannya.."


"Apa itu, Ma? tanya Mariska dengan segera.


" Robert itu kurang duit. " wanita paruh baya itu mengembangkan senyum pada wajah sendunya.


Mariska menghela nafas berat ketika mendengar kalimat itu. Ia tahu Robert bukan berasal dari keluarga yang berada.


"Namun, itu bukan masalah besar karena pernikahan mereka tidak akan berlangsung lama. Ia memutuskan menikah dengan Robert karena ia tidak ingin larut dan mengharapkan cinta Dimas lagi.Sementara Dimas sudah menikah dengan Andini dan Andini merupakan sahabatnya sendiri.


" Mama tenang saja. Setelah ini Robert akan giat bekerja banting tulang, lempar daging, Bila perlu robet akan jual ginjal buat membahagiakan istri dan anak-anak Robert. Setuju Kan sayang!" Robert merangkul bahu Mariska dengan Seringai menyebalkan di mata wanita itu.


"Naudzubillah, ngapain jual ginjal segala, kan seram." mending kamu kuliah yang benar sampai selesai habis itu baru melamar kerja di tempat yang bagus Nasehat Ibu Halimah.


"Siap, Mama juga cepat sembuh ya, biar bisa lihat Robert sukses. Pria itu menggenggam tangan sang ibu yang masih terduduk di kursi roda, saat menghadiri acara akad nikah putranya sendiri.


Hati Mariska sedikit tersentuh. Selama ini ia tidak tahu latar belakang hidup Robert seperti apa.


Karena yang ia tahu Robert itu adalah sosok pria yang tengil dan kocak yang dapat selalu menghibur mereka.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2