Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 114. HADIAH DARI DIMAS


__ADS_3

Setelah itu Dimas melajukan mobilnya ke arah sebuah Mall yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kompleks perumahan mereka.


"Kita mau ngapain di sini, Mas? tanya Andini penuh selidik.


Dimas tidak menjawab. Ia berjalan menggandeng tangan Andini masuk ke dalam mall.


Andini mengikuti langkah suaminya, yang entah ke mana tujuannya, Andini sama sekali tidak mengetahuinya. Saat langkah sang suami berhenti di sebuah toko perhiasan, Andini mengerutkan keningnya.


Dimas meminta kepada pelayan toko untuk mengeluarkan satu set perhiasan model terbaru yang cocok digunakan sang istri.


Wanita yang berprofesi sebagai pelayan toko itu, langsung mengembangkan senyumnya dan mengeluarkan beberapa satu set berlian desain keluaran terbaru.


Dimas langsung memilih salah satunya yang ia yakini kalau digunakan sang istri pasti Andini akan terlihat semakin cantik.


Dimas tanpa meminta aba-aba dari sang istri langsung memasangkan kalung itu kejenjang leher Andini kemudian memasang anting, cincin dan gelang


"Kamu cantik."Puji Dimas yang dibalas senyuman dari Andini.


"Mas, kamu mau beliin ini untuk aku semua? Tanyanya tidak percaya. Karena jarang sekali sang suami memberikan sesuatu yang ia kira tidak terlalu dibutuhkan oleh Andini.


Dimas mengembangkan senyumnya."Apa kamu menyukainya sayang? tanya Dimas yang langsung dibalas anggukan dari Andini.


"Mbak saya pilih yang ini aja ya." ucap Dimas kepada pelayan toko. Andini langsung memeluk sang suami lalu memberikan kecupan hangat di wajah tampan suaminya. ia benar-benar bahagia mendapat hadiah dari sang suami.


"Berapa Mbak?


"Lima ratus juta Tuan!"sahut wanita itu yang mampu membuat Andini membulatkan matanya.


"Mas, mahal banget. Nggak usah jadi deh Mbak, mahal sekali."ucap Andini sambil hendak membuka kalung itu dari lehernya, karna ia yakin suaminya tidak akan memiliki uang yang jumlahnya sangat fantastis yang hanya berprofesi sebagai dosen. Bahkan ia menyesal meminta sesuatu kepada suaminya.


"Jangan sayang, itu untuk kamu. Lagian Mas belum pernah memberikan hadiah yang berharga untuk kamu." ucap pria itu sambil mengembangkan senyumnya. Andini hanya geleng-geleng kepala. Sementara Dimas langsung mengeluarkan black card miliknya dan memberikan kepada pelayan toko itu.


lagi lagi Andini dibuat tercengang, ia melihat black card milik suaminya yang ia yakini pemilik black card itu hanya orang-orang tertentu yang menggunakannya.


Setelah selesai melakukan pembayaran, Dimas mengajak sang istri masuk ke sebuah restoran untuk menikmati makan malam saat ini. Kebetulan Jam menunjukkan sudah hampir pukul tujuh malam. Kalau menunggu masak lagi di rumah sudah tidak mungkin lagi.


Sebenarnya Dimas bukan tidak mampu untuk membayar asisten rumah tangga. Tapi Andini yang tidak ingin memiliki asisten rumah tangga. Dengan alasan banyak dari para asisten rumah tangga yang tidak bisa dipercaya.


Apalagi kalau asisten rumah tangga itu seorang wanita yang masih muda, mengingat Andini sering sekali mendapatkan kabar dari teman-temannya, kalau sang asisten rumah tangga mereka bermain api dengan ayahnya sendiri. Hal itulah yang ditakutkan oleh Andini. Tapi Dimas menuruti semua keinginan sang istri.

__ADS_1


Setelah selesai makan malam, Dimas dan Andini berlalu dari mall menuju rumah sederhana yang mereka tempati. Lebih tepatnya rumah itu sebenarnya rumah Alvin. sementara rumah pribadi Dimas ditempati Alvin untuk sementara waktu.


Entahlah rencana apa yang akan dilakukan Dimas untuk istrinya. Sampai kapan Dimas menutupi identitasnya sebagai pemilik perusahaan dan pemilik kampus. Hanya Dimas dan Alvin yang mengetahuinya. bahkan Tuan Anggara juga tidak mengetahui rencana putranya sendiri.


Terkadang Tuan Anggara ingin keceplosan memberitahu kepada Andini. Tapi karena ia mengingat permohonan dari putranya membuat Tuan Anggara pun bungkam.


Sebenarnya, Erin pun sudah mendapatkan perintah dari Dimas agar tidak membongkar identitas sang kakak. Kalau merekalah yang memiliki kampus dan juga perusahaan yang dipimpin Alvin sekarang.


Dan sepertinya karena Erin kurang menyukai sosok Andini, membuat dirinya pun senang sekali kalau melihat Andini menderita hidup bersama Dimas. Padahal dia tidak mengetahui kalau Andini itu merupakan menantu pilihan dari papanya sendiri Tuan Anggara.


"Mas, Terimakasih ya sudah memberikanku hadiah hari ini."lagi lagi Andini mengucapkan terima kasih kepada Dimas ia merasa bahagia mendapatkan hadiah dari sang suami.


"Nggak usah berterima kasih Sayang, lagian itu sudah menjadi kewajiban Mas. Menafkahi kamu dan juga memanjakan kamu."ucap Dimas sambil langsung meraih tubuh istrinya ke pelukannya, lalu menghujani wajah Andini dengan kecupan demi kecupan.


"Aduh, so sweet Banget sih suamiku." kekeh Andini sambil memberikan kecupan di wajah tampan suaminya


****


Sementara itu sepasang suami istri absurd itu, sedang berboncengan menuju tempat yang akan menjadi tujuan mereka kali ini.


"Nggak apa-apa kan, kita ke ruko dulu buat beres-beres bentar?"tanya Robert seraya memelankan laju motornya agar suaranya dapat didengar oleh Mariska.


"Nggak apa-apa." balas Mariska.


"Enggak, ah. Aku mau nemenin kamu aja,"


"Takut kangen ya, sayang? kalau aku tinggalin." tanya Robert sambil terkekeh.


"Apaan sih? geli banget tahu, dengarnya. Mariska memukul pelan bahu suaminya.


"Geli, tapi suka kan?


"Enggak!


"Nggak apa? nggak mau nolak, ya? Robert menarik tangan Mariska dan melingkarkan pada perutnya.


"Jangan gini, ih! aku nggak nyaman."Mariska akan menarik kembali tangannya tetapi Robert menahannya.


"Kalau begitu kamu saja yang bawa motor, biar aku yang peluk dari belakang."

__ADS_1


"Itu mah modus!"


Motor mereka berhenti tepat di depan sebuah ruko yang terlihat tutup.


Sepertinya Leni sudah membereskan ruko itu sebelum Robert dan Mariska kesana


Setelah turun dari motor, Robert langsung membukakan ruko itu.


Tadinya sempat bertemu dengan Leni dan menyerahkan kunci ruko itu padanya.


Robert membuka ruko itu dan mengendarkan pandangannya ke sekeliling toko yang sudah kosong.


Dulu ia melihat ibunya berlalu lalang dengan lincah di dalam toko itu. Meracik bahan serta melayani pembeli.


Namun, wanita paruh baya itu kini hanya bisa terduduk di kursi roda karena penyakit yang dideritanya.


Mariska mendekat ke arah sang suami dan memperhatikan wajah sendu pria itu.


"Kamu sedih ya, toko kue Mama aku akan tutup? tanya Mariska dengan suara pelan.


"Dulu Mama sangat giat bekerja di sini, Apalagi setelah Papa tiada. Mama lebih giat lagi bekerja dan menciptakan beberapa produk baru yang membuat pengunjung semakin tertarik dan menjadi langganan.


Namun, tak lama kemudian penyakit menyerang Mama sampai ia tak bisa lagi bekerja dan berjuang seperti ini. Aku nggak tahu Mariska Apakah cafe yang kita buat dengan modal pas-pasan, akan menarik pelanggan." ucap Robert dengan pasrah seketika muka lawak pria itu hilang berganti dengan wajah lelah dan Sendu.


"Kita mulai aja dulu, semoga saja rezeki dan ini jalan untuk menuju kesuksesan kita." Mariska mengusap lembut bahu sang suami.


"Kamu yakin mau menemani aku dari awal Mariska?" tanya Robert membalikkan badannya menghadap ke arah sang istri yang terdiam.


"Mariska Kamu itu cantik. Kamu berasal dari keluarga yang cukup berada. Pasti di luar sana ada laki-laki lain yang mencintai kamu dan siap membahagiakan kamu, tanpa harus memulai dari nol seperti aku." Robert menatap dalam bola mata sang istri.


"Kamu jangan ngomong seperti itu. Kita sudah menikah, dan seharusnya berjuang bersama. Berjalan dari awal itu lebih indah daripada tiba-tiba kita dilempar ke puncak. tanpa tahu ada apa saja di sepanjang jalan itu."Mariska membalas tatapan suaminya dengan lembut.


"Tapi perjuangan ini belum tentu ada hasilnya Mariska. Aku takut tidak bisa membahagiakan kamu."


"Apa kebahagiaan itu hanya diukur dari materi? aku termasuk orang yang tercukupi dari segi materi. Apa kamu menganggap aku adalah orang yang selalu bahagia? Tidak! ada kalanya aku merasa hidup hampa. Makanan yang disajikan tidak terasa enak, uang yang aku miliki terasa tidak berguna."ucap Mariska kepada suaminya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2