
Biar Mas lap aja pakai air hangat ya, Kamu tunggu di sini. Mas siapkan dulu airnya."Dimas melepas pelukannya dan bangkit dari samping sang istri.
"Oh iya. Mulai besok akan ada orang yang bekerja di rumah kita." tutur Dimas sebelum melangkahkan kakinya.
"Orang yang bekerja? maksudnya asisten rumah tangga Mas?"
"Iya, jadi mulai besok kamu nggak perlu lagi masak dan beres-beres rumah. Pokoknya kamu harus istirahat
"Asisten rumah tangganya udah tua atau masih muda, Mas? tanya Andini kembali dengan mata menatap ke arah Dimas
Ia tidak mau menerima asisten rumah tangga yang usianya masih muda. Ia takut kayak di novel-novel yang sering ia baca. Majikan tergoda sama asisten rumah tangganya sendiri.
"Tenang saja, usianya sekitar 45 tahun. Dia juga akan pulang pergi, nggak nginep di sini." jelas Dimas membuat Andini membuang nafas lega.
"Ya sudah, biar aku aja yang siapin air hangat Mas."
"Jangan! mas bilang istirahat ya, istirahat!"Dimas langsung menghentikan gerakan istrinya yang akan turun dari ranjang.
"Baik yang mulia raja!"Andini kembali pada posisi semula.
Wanita itu membuka ponselnya dan melihat sebuah notifikasi pada sebuah website. Andi Ini segera membuka dan muncul sebuah artikel.
"Pengusaha ternama yang bernama Dimas Anggara. Kali ini lagi-lagi menjadi orang nomor satu pemuda yang sukses di dunia bisnis."
Seketika Andini membulatkan mata ketika membaca artikel itu.
"Apa yang dimaksud di artikel ini, Mas Dimas?
"Ah, tapi nggak mungkin? dia kan hanya seorang dosen, Lagian dia baru memulai bisnis hotelnya yang baru ia rintis. Mungkin ini Dimas yang lain kali. Kan yang bernama Dimas itu bukan hanya Mas Dimas. Tapi tunggu dulu, tidak mungkin namanya sama persis Dimas Anggara kalau itu tidak Mas Dimas Anggara." Andini bermonolog sendiri.
Tapi lagi-lagi Andini merasa kalau artikel itu salah. Mungkin itu hanya kabar hoax atau memang ada yang bernama Dimas Anggara yang lain.
****
Sementara itu, Herlan memperhatikan istrinya yang mondar-mandir tidak jelas. Rian berjalan tak karuan di dalam kamar sambil menggigit kukunya sendiri.
Wajah wanita itu terlihat cemas. Herlan memperhatikan istrinya di depan pintu kamar mandi. Karena pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, dan belum diketahui istrinya.
Kaki Rian terus saja berjalan maju mundur tidak jelas.
"Sepuluh, sebelas, duabelas...... "ucap Herlan sambil mengikuti gerakan kaki istrinya melangkah maju mundur.
Seketika Rian menghentikan gerakan kakinya dan menoleh ke arah Herlan yang menatapnya dengan wajah bingung.
"Eh Bang Herlan, sudah keluar dari kamar mandi ternyata."ucap Rian sambil nyengir tak karuan, dengan tangan yang meremas jemarinya sendiri.
Sudah dari tadi. Kamu ngapain sih mondar-mandir gitu? Herlan mendekat ke arah Rian yang kini berdiri seolah memotong.
"Emmm.... Anu Bang..."wanita itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Anu kamu kenapa? tanya heran kembali dengan Tatapan yang tertuju ke arah bawah istrinya.
Seketika wanita yang mengenakan daster motif bunga-bunga itu langsung menutup area sensitifnya dengan kedua tangan.
"Loh kok ditutup? anu kamu kenapa? Herlan menautkan kedua alisnya dengan wajah yang terlihat semakin penasaran
__ADS_1
"Eeemmmm...... tidak apa-apa Bang. Maksud aku bukan anu aku."
"Terus anunya siapa? anunya tetangga?"
"Bang Herlan, ihk! kenapa jadi bahas anu sih? nanti kita jadi ternganu nganu." Rian Terkekeh.
"Ternganu-nganu, apaan? kamu yang mulai duluan anu anuan. Aku kan jadi menganu."
"Hahaha...... udah lah ngaco! Rian terbahak. sementara Herlan hanya tertawa kecil
"Kamu kenapa mondar-mandir kayak tadi? kebelet pipis apa kebelet BAB? tuh kamar mandinya sudah kosong!"Herlan menunjuk ke arah kamar mandi.
"Aku kebelet anu Bang."
Rian kembali tertawa.
Pantasan udah ngaco, ternyata bentar lagi jam 12.00 malam. Herlan melirik ke arah jam yang terpajang pada dinding kamarnya.
"Hahaha...... bisa berubah ya kalau udah jam 12.00 malam? ucap Rian diiringi tawarnya.
"Sudahlah yuk, tidur! Herlan menarik tangan Rian ke arah ranjang. Namun, wanita itu masih terdiam di tempat semula tidak melangkahkan kakinya sedikitpun.
"Ayo sini."
"Gendong! ucap Rian dengan manja
"CK.... bentar lagi punya bayi tapi kelakuan kayak bayi."Herlan mendekat dan langsung mengangkat tubuh istrinya.
"Mumpung belum ada Bayi aku mau manja-manja dulu."Rian mengalungkan tangannya pada leher Herlan, menyandarkan kepalanya pada Dada pria itu.
Herlan merebahkan tubuh istrinya di atas kasur, lalu ia menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
"Mau ngomong apa? bukannya dari tadi kamu ngomong terus? Herlan menatap wajah istrinya dari jarak dekat
"Ngomong serius Bang."
"Soal apa? bukan soal anu kan?
"Bang Herlan, ih! aku tuh serius Bang." Rian mengerucutkan bibirnya.
"Ya udah, mau ngomong apa?Sini Abang dengerin." Herlan menyelipkan anak rambut pada telinga Rian dan membelai lembut pipi wanita itu.
"Bang Sebenarnya aku takut." cicit Rian dengan wajah serius
"Takut kenapa? Herlan berusaha menanggapi serius ucapan istrinya.
"Takut kalau aku semakin jelek jika perutku sudah membuncit, Abang akan meninggalkan Rian." ucap Rian dengan nada sendu.
"Astagfirullah. Kamu itu istriku, kamu pikir pernikahan itu hanya menilai fisik saja. Aku menikahi kamu, karena aku sudah bersedia menerima kekurangan dan kelebihan kamu. Jadi tidak perlulah berpikir negatif seperti itu kepada Abang." ucap Herlan sambil membelai rambut wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"Tapi Bang, banyak para lelaki yang menyeleweng dari istrinya, karena fisik istrinya berubah ketika sudah melahirkan,
dan itu takut terjadi kepada Rian." ucap Rian
"Astagfirullah, Herlan mencomot kedua bibir istrinya.
__ADS_1
"Kalau berbicara itu harus fakta, jangan menduga-duga." ucap Herlan.
****
Sementara itu suasana di cafe kampung kecil sudah sepi.
Robert, Mariska ,Ricky dan Bima akan menutup Cafe itu dan pulang. Namun, pemandangan Bima tertuju ke arah meja yang terletak paling ujung di mana seorang gadis sedang duduk dengan wajah kacau.
Bima memperhatikan wanita itu lebih detail. sampai pikirannya teringat pada seorang wanita yang menghampirinya setelah ia bernyanyi pada malam itu.
Bima mendekat ke arah Erin yang duduk dengan sendirian. Padahal hampir semua pengunjung kafe itu sudah pergi.
"Hai, kamu nggak pulang? tanya Bima sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Erin.
"Enggak, aku mau nginep di sini
biar aku temani, mau?" seloroh Bima sambil mengangkat alisnya sebelah.
"Kita one night stand gitu? wanita yang mengenakan celana sebatas paha itu tersenyum miring.
"Hahaha.... ." canda. Kamu kenapa nggak pulang? Cafe Ini sudah mau tutup loh.
"Malas aku pulang."
"Malas kenapa? Nanti orang tua kamu nyariin loh.
"Orang tua aku nggak peduli. Mama aku sudah nggak ada papa sakit-sakitan, kakak aku sibuk dengan istrinya. Percuma aku pulang, paling cuma dengar suara papa aku batuk yang membuat hati aku sakit. Rumah aku sepi, aku kayak nggak punya siapa-siapa." ucapnya dengan wajah Sendu.
"It's okay, tapi kamu harus tetap pulang. Ada papa kamu yang pastinya nungguin kamu di rumah.
"Nggak mungkin, papa aku udah minum obat dari jam 08.00 dan setelah itu dia tidur. bangun lagi pagi" Erin mengusap wajah dengan kasar.
"Tapi kamu tetap harus pulang lah, masak kamu mau di sini terus nanti kamu dikurung di sini.
"Dikurung sama Mariska dan Robert. pasangan pasutri somplak." Bima menunjukkan arah Robert dan Mariska yang sudah membawa kunci kafe.
"Woiiiii.... mau balik nggak kamu? atau aku kurung di dalam teriak Robert sambil melempar lempar kunci kafe itu.
"Yuk kita pulang." ajak Bima Seraya bangkit dari duduknya.
"Aku nggak bawa mobil aku ke sini. Aku naik taksi.
"Biar aku antar."
"Suer?
"Of course, Bima mengulurkan tangannya ke arah Erin yang langsung diterima oleh wanita itu tanpa menunggu lama lagi.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK
__ADS_1
YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS