
Rayhan memacu mobilnya dengan disuguhi pemandangan persawahan dikiri dan kanan jalan. Sampai dia tiba disebuah pasar, tanpa sengaja dia melihat Hani dan ibu tiri Izzah. Lalu Rayhan berhenti di samping Hani dan bu Novi yang tengah berjalan pulang.
"Permisi bu..." ucap Rayhan dari dalam mobil.
"Wah bu liat deh cowoknya ganteng banget, mobilnya juga mewah. Pasti orang kaya." bisik Hani.
"Yaa, ada yang bisa saya bantu?" jawab bu Novi sambil mencubit Hani.
"Saya mau ke desa Sukamaju. Mau ketemu kerabat, apa sudah dekat dari sini?" tanya Rayhan.
"Wah kebetulan sekali mas, kita juga dari desa Sukamaju." ucap Hani kegirangan.
"Kalau gitu mari Ibu dan mbaknya ikut saya saja sekalian." ucap Rayhan.
"Boleh." jawab bu Ros seraya melirik Hani.
"Wah bu, kapan lagi naik mobil mewah sama cowok ganteng lagi." bisik Hani.
Di dalam mobil Hani dan bu Ros tak henti-hentinya berpose menggunakan ponsel dengan berbagai macam gaya membuat Rayhan merasa geli melihat tingkah mereka.
Hani kemudian mengumpat mengingat kejadian Izzah menamparnya. Begitu juga bu Novi merasa marah karena tak diberi uang lebih.
Rayhan menahan emosi mendengan ocehan mereka berdua. Matanya fokus menatap jalanan yang mulai berbatu.
"Bu sepertinya aku pernah lihat deh cowok yang punya mobil ini. Tapi dimana ya?" ucap Hani.
"Ah mana mungkin, itu cuma perasaan kamu saja. Paling juga mirip artis di tv." balas bu Novi.
Rayhan memilih mengenakan kacamata hitam sehingga dia terlihat sedikit berbeda.
"Mas, berhenti didepan rumah yang banyak bunga itu ya." ucap Hani.
Rayhan lalu menghentikan mobilnya. Hani dan bu Novi turun dari mobil.
"Mas mari mampir dulu, nanti biar saya bantuin mas nyari rumah kerabatnya itu." ajak Hani.
"Oh baik, terima kasih." ucap Rayhan seraya turun dari mobil.
__ADS_1
Mereka bertiga lalu masuk kedalam rumah. Pak Haris yang tengah duduk diruang tamu terlihat kaget melihat Rayhan.
"Izzah.....Izzah....cepat bawakan 3 gelas minuman dingin. Ada tamu ini." teriak bu Novi.
"Gak pake lama Zah, aku haus." teriak Hani.
Rayhan mengepalkan tangannya menahan emosi. Izzah lalu datang membawa nampan berisi tiga buah gelas jus jeruk ke ruang tamu. Alangkah kagetnya Izzah melihat Rayhan tengah duduk bersama bu Novi dan Hani.
Secara kebetulan pak Haris pun keluar dari kamarnya.
Selamat siang ayah." ucap Rayhan.
"Selamat siang nak Rayhan." jawab pak Haris.
Hani dan bu Novi saling pandang heran.
"Izzah...." ucap Rayhan yang membuat bu Novi dan Hani menatapnya.
"Aa...aaabang." balas Izzah.
Rayhan datang menghampiri Izzah lalu memeluknya. Bu Novi dan Hani terdiam merasa heran. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
"Iya bang, gak apa-apa." ucap Izzah.
Rayhan lalu mencium kening Izzah, kemudian berbalik menghadap pak Haris. Mata Rayhan menatap ke arah Hani dan bu Novi. Sorot matanya tajam menunjukkan amarah.
"Ayah, maaf saya baru datang sekarang, karena pekerjaan yang begitu banyak." ucap Rayhan.
"Aahh tidak apa-apa Nak, ayah senang akhirnya bisa bertemu lagi dengan menantu ayah." ucap pak Haris.
"Wah ibu gak nyangka ternyata nak Rayhan ini menantu kita, suaminya Izzah." ucap Ibu dengan raut wajah ketakutan.
"Iya, pantes tadi Hani bilang sama ibu, perasaan Hani pernah melihat kak Rayhan dimana gitu, ternyata suaminya kak Izzah." lanjut Hani.
"Tak usah pura-pura baik kalian berdua." teriak Rayhan yang membuat pak Haris kaget.
"Maaf ayah, kalau saya membuat keributan. Tapi sebaiknya ayah tau yang sebenarnya bagaimana kelakuan istri bapak dan anak kesayangannya ini." ucap Rayhan sambil menunjuk Hani.
__ADS_1
"Abang kenapa ini?" tanya Izzah.
"Ayah harus tau semuanya." jawab Rayhan.
"Jangan bang." ucap Izzah.
Rayhan tak mendengar ucapan Izzah.
"Untuk kalian berdua, terutama kau ibu mertuaku yang licik." ucap Rayhan memandang Hani dan bu Novi.
"Cepat berlutut minta maaf pada Izzah atau kau akan ku jebloskan ke penjara karena telah melakukan tidak pidana perdagangan manusia." sambung Rayhan.
"Apa maksud nak Rayhan?" tanya pak Haris heran.
"Dia ini telah menjual Izzah dulu ditempat pelac*ran di Jakarta." jawab Rayhan. "Saya lah yang membawa Izzah pergi dari sana lalu menikahinya." sambung Rayhan.
"Astagfirullah'haladzim ibu.... Jadi selama ini ibu membohongi ayah. Ibu bilang Izzah kerja di butik ternyata......" ucap pak Haris penuh emosi.
"Maafkan ibu, ayah. Ibu khilaf, ibu salah." ucap bu Novi menangis.
"Jangan minta maaf padaku, minta maaflah pada Izzah. Bila perlu seperti yang nak Rayhan katakan, berlututlah didepan Izzah, minta maaf atas segala kesalahanmu." ucap pak Haris.
"Izzah tolong maafkan ibu Zah. Ampun Zah jangan penjarakan ibu. Ibu janji akan berubah Zah. Maafkan ibu Zah." ucap bu Novi sambil berlutut.
"Sudah bu, jangan seperti ini." ucap Izzah.
"Abang, sudah cukup jangan marah-marah lagi. Jangan perpanjang masalah ini, ini sudah takdir dari Allah bang, justru karena ibu membawa Izzah ke Jakarta kita akhirnya dipertemukan bang." ucap Izzah.
Rayhan lalu memeluk Izzah.
"Kau terlalu baik sayang." ucap Rayhan.
"Dengar itu, Izzah yang selalu kau benci dengan mudahnya memaafkan kesalahanmu yang keterlaluan itu." ucap pak Haris.
Bu Novi hanya menunduk tak dapat berkata apa-apa.
Dan kau juga, selama ini ayah tidak pernah melihatmu bersikap baik pada Izzah, jadi mulai sekarang jaga sikapmu pada kakak mu sendiri." ucap pak Haris pada Hani.
__ADS_1
"Baaa...ba...baik ayah." jawab Hani ketakutan.
Bersambung....