
[Arsha tengah mengendarai mobilnya, saat sebuah panggilan telepon masuk dari nomor Arka.
[Halo, assalamualaikum. Kamu dimana?]
[Waalaikumsalam, nih lagi otewe mau pulang ke rumah.]
[Aku denger, entar malam ada orang yang mau lamar kamu. Emang bener?] tanya Arka penasaran.
[I-iya, tapi kayaknya orangnya cuma bercanda deh.]
[Emang siapa orangnya? Masa iya dia mau main-main sampai harus ngomong sama ayah segala.]
[Aku juga gak tau Kak, semuanya begitu cepat. Spontan gitu aja.]
[Aku gak pernah denger selama ini kamu punya pacar. Jangan bilang kalau kamu udah ha...]
[Iihh apaan sih, ya Allah naudzubillah. Gak lah, aku masih ting-ting tau.] ucap Arsha penuh penekanan.
[Terus kok bisa tiba-tiba mau nikah?]
[Jodoh kali Kak. Kenapa sih dari tadi nyolot banget bicaranya? Iri ya karena aku duluan dapat jodoh. Iii kasian, iri bilang boss.]
[Woy, ngapain aku iri. Toh paling juga calon kamu itu mirip sama Jarwo tokoh animasi itu.] gelak Arka.
[Enak aja, dia ganteng tau. Kayak Lee Min Ho. Liat aja entar malam.]
[Terserah kamu aja. Asal kamu tahu, kalau dia gak sesuai dengan yang aku harapkan buat jadi pendamping hidup saudariku yang petakilan kayak kamu itu, aku gak bakalan setuju. Biar gimanapun gantengnya.]
__ADS_1
[Iihh kakak kok gitu sih.]
[Serah gue dong. Hahaha. Udah ya aku mau meeting dulu. Ingat langsung pulang, gak pake mampir-mampir. Assalamualaikum]
Tuutt, panggilan berakhir.
"Waalaikumsalam....
"Iihh Kak Arka kenapa sih. Paling juga iri dia. Uuuhh dasar jomblo." ucap Arsha.
Hari ini mood Arka memang tengah tidak baik. Sejak kejadian tadi pagi ia merasa seolah diolok-olok oleh karyawannya sendiri.
Pagi tadi saat Arka berjalan masuk ke dalam kantor. Seorang gadis mengenakan hijab mendekatinya.
"Pak Abraham Arka Wijaya ... maukah Anda menikah dengan saya?" Pertanyaan itu terlontar dari gadis yang mengenakan pakaian berwarna biru itu.
Sementara itu, di ujung sana, beberapa gadis terkekeh sambil terus merekam kejadian itu lewat ponsel mereka.
Hening. Tak ada respons dari pria bertubuh tinggi dan mengenakan jas itu.
Arka bergeming, dengan kedua tangan yang terselip dalam saku celana, ia menatap cokelat dan wanita di depannya secara bergantian. Sedetik kemudian, tangan Arka bergerak melepas kancing jas dan dibiarkan terbuka begitu saja.
Gadis berwajah cantik itu bernama Nabila. Gadis itu tadinya menunduk, kini mendongakkan wajah perlahan. Netra keduanya beradu, lalu seulas senyum tersungging di bibir tipis Arka.
"Kamu, dipecat!" ucapnya tegas, lalu berjalan melewati Nabila begitu saja.
"Tamat riwayatku," ucap Nabila lirih, sambil menurunkan tangan yang sedari tadi menyodorkan cokelat dan bunga tanpa balasan.
__ADS_1
Nabila menoleh ke arah satu-satunya teman yang terlihat sedih di ujung ruangan. "Gagal," lanjut Nabila dan mendapat balasan ekspresi sedih dari temannya itu.
Sementara beberapa orang gadis yang lainnya tengah bersorak ria, merayakan kemenangannya lagi.
************
"Gimana nih, aku nggak nyangka kalau bakal kayak gini kejadiannya," ucap Lala, satu-satunya teman baik Nabila selama bekerja di perusahan Wijaya Group.
"Santai aja, La. Masih banyak pekerjaan di luar sana yang bakal nerima aku, atau ... kalau nggak langsung nikah aja kali, ya?" balas Nabila sambil memindahkan barang yang ada di meja kerjanya ke dalam kardus.
"Seharusnya, kamu tolak tantangan Rani, kan jadi berabe gini," ucap Lala dengan mata berkaca. "Dah tahu si Bos kayak gitu, kamu masih aja terima tantangan si Nenek Lampir," lanjut Lala sambil mengusap ujung mata, menahan agar tidak ada air yang menetes.
"Dah lah, La. Dunia nggak akan kiamat kalo aku nggak kerja lagi di sini, i'ts oke ... santai saja," hibur Nabila sambil mengelus pundak Lala pelan.
Seketika mereka menoleh saat melihat seseorang berjalan mendekat dan mengucap, "Woo ... lihat siapa ini yang sudah packing barang, mau mudik, Bu?" ejek Rani, si Nenek Lampir yang Lala bilang tadi.
"Puas, kan? Akhirnya aku angkat kaki juga dari kantor ini," tanya Nabila santai sambil terus membereskan barang-barangnya..
Gadis berambut keriting itu terbahak. "Nggak perlu aku jawab, kamu sudah tahu, kan, apa jawabannya?" balas Rani sengit.
Nabila menatap musuh bebuyutannya itu sekilas dengan memutar bola mata malas, lalu kembali fokus merapikan barang-barangnya.
"Nabila, sebelum pulang diminta ke ruangan Pak Arka dulu tuh," ucap Sherly, sekretaris Arka yang tiba-tiba datang ke arah mereka.
"Oh, iya, Mbak. Terima kasih," balas Nabila sambil memindahkan kardus ke bawah meja.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Nabila segera bergegas, dilewatinya Rani dengan tatapan malas lalu berjalan menuju ruangan sang Bos, lebih tepatnya, mantan Bos.
__ADS_1