
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, setelah sebulan berjibaku dengan segala persiapan yang menguras pikiran dan tenaga, hari bahagia yang ditunggu keluarga besar Rayhan dan Izzah pun akhirnya akan segera tiba.
Tanggal pernikahan Devan dan Arsha juga dilangsungkan bersamaan dengan pernikahan Arka dan Nabila. Dalam waktu 1 bulan, semua anggota keluarga sibuk menyiapkan acara pernikahan. Mereka tampak sangat bersemangat menyambut acara pernikahan itu.
Hari ini, merupakan sehari menjelang pernikahan. Di kediaman Rayhan diadakan acara luluran untuk kedua mempelai perempuan, Arsha dan Nabila.
Acara berjalan lancar, hanya Vita sahabat dekat Arsha yang hadir, karena Tia tengah ada acara keluarga.
Setelah acara selesai, tiba-tiba Vita, sahabat Arsha yang tomboi itu menangis di pojok ruangan sambil berjongkok. Membuat Arsha dan Nabila saling melempar tatapan bingung, lalu mulai menebak-nebak.
“Kayaknya sembelit, Sha. Udah seminggu nggak BAB,” bisik Nabila sambil cekikikan.
“Bisa jadi.” Arsha manggut-manggut. “Posisinya pas banget lagi. Ngeden dikit langsung berojol tuh.”
“Diem kalian!” sentak Vita yang membuat Arsha dan Nabila terlonjak.
"Ternyata dia dengar, Bil. Perasaan kita udah bisik-bisik padahal." Ucap Arsha.
“Lagian ngapain, sih, Vit, pake jongkok di situ? Kalau keluar isinya, kan, gawat! Bisa aneh kan rumah pengantin ditemani bau sesuatu,” ucap Nabila sambil menatap Vita lekat.
“Kalian jahat, kalian nggak pernah ngertiin aku!"
__ADS_1
Arsha dan Nabila kembali dibuat bingung dengan tingkah Vita.
“Kamu sebenarnya kenapa, sih, Vit?” tanya Arsha, seraya duduk berdampingan dengan Nabila di sofa.
Arsha ingin mendekati Vita, tapi ditahan Nabila.
"Hey, lupa ya kamu, kata mbak-mbak tadi kan nggak boleh gerak dulu, takut lulurnya rontok ke lantai. Kan, sayang! Takutnya besok bukan kamu yang cantik, tapi lantainya." Gelak Nabila.
"Hehehe iya." Balas Arsha.
“Huaaa!” Vita menangis semakin kencang.
Tapi Vita tetap saja menangis.
“Vit, sini deh!” Arsha memanggil gadis itu agar mendekat padanya. “Kenapa kamu?”
“Kamu mau nikah,” kata gadis itu sambil cemberut.
“Iya. Terus?” tanya Arsha heran.
“Tia udah nikah, kamu juga besok nikah. Nabila temen baru aku juga malah barengan nikah sama kamu. Terus aku nongkrong sama siapa dong?” Setelah mengucap itu, Vita kembali menangis.
__ADS_1
“Ya … dia mewek lagi,” kata Nabila sambil menepuk-nepuk bahu Vita.
“Kamu juga InsyaAllah nggak lama lagi nikah, kok, Vit,” ucap Arsha berusaha menghiburnya.
“Tapi doi tiap ditanya kapan nikahin aku, jawabannya masih ngumpulin modal terus. Apa aku ganti tukar tambah aja, ya?” jawab Vita frustrasi.
"Sabar, sabar, mungkin dia emang pengen ngasih yang terbaik buat kamu," balas Arsha menenangkan.
“Jodoh itu nggak disangka-sangka, Vit. Lihat aja si Arsha, siapa sangka dia bakal nikah sama Devan, cowok yang kalian bilang paling tampan di kampus kalian dulu? Enggak pacaran, nggak PDKT-an, tau-taunya lamaran. Mantaplah pokoknya euy!” Nabila mengacungkan jempol di depan wajah Vita.
“Sementara belum kelihatan hilalnya, kamu nongkrong di caffe itu aja Vit. Siapa tahu bisa ketemu cogan juga.” ucap Arsha memberi saran pada Vita.
“Bener juga! Tumben kamu pinter, Sha!” sambar Vita sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Arsha.
“Yaudah, aku pamit. Assalamu’alaikum!” Tiba-tiba saja Vita melesat meninggalkan Araha dan Nabila yang terbengong-bengong.
"Eh, mau ke mana?" tanya Nabila setengah berteriak.
"Cari kantong kresek item di bawah meja, siapa tahu bisa kayak Arsha!" jawab Vita yang tiba-tiba muncul di balik pintu, lalu kembali menghilang.
Arsha dan Nabila saling pandang, lalu terbahak bersama.
__ADS_1