
Selama Devan berada disana, Arsha lebih banyak diam.
Iya, diam, diam-diam mencuri pandang. Jika kepergok lagi ngelihatin, Arsha langsung pura-pura scroll handphone.
"HP-mu kebalik kayaknya, ya, Nak? Apa ayah duduknya yang kebalik?" tanya Rayhan sambil cekikikan.
"O-oh, ini lagi nge-trend, Yah. Mainan HP kebalik," jawab Arsha asal sambil menahan malu.
Sementara Devan terlihat tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Pukul 20.00 malam, Devan akhirnya pamit pulang. Sebelumnya ia sejak magrib ikut melaksanakan shalat maghrib berjamaah bersama Rayhan beserta keluarganya,
Arsha mengantar Devan ke depan rumah.
"Aku balik, ya." Suara Devan membuyarkan Arsha dari lamunannya sejak tadi.
Devan sudah menaiki motornya.
"Ya. Hati-hati."
"Bentar." Devan mengeluarkan ponsel dari jaket dan mengotak-atiknya beberapa saat. "Itu nomorku," ucapnya bersamaan dengan getar di ponsel Arsha..
Arsha hanya melihat sekilas, lalu mengangguk. "Oke."
Dari mana dia tahu nomorku?
"Kalau minggu ini ada waktu luang, aku ajak bertemu dengan kakakku. Dia orangnya baik, hanya kadang bisa berubah jadi Mak Lampir kalau lagi sensi," ucapnya lagi sambil memakai helm.
"Nanti aku pikir-pikir dulu."
"Kamu pengen tanya sesuatu?"
"Banyak, tapi nggak sekarang, deh. Takut setan datang kalau cuma berduaan gini."
__ADS_1
"Neng Arsha, pacaran nih, ye!" ucap Mang Diman, yang baru saja tiba karena sebelumnya ia menginap di rumah Lilis puterinya.
"Tuh kan, baru juga diomongin, setannya udah datang," ucap Arsha sambil menatap Mang Diman yang berjalan masuk ke dalam rumah setelah menyalami Arsha.
Devan seketika terbahak.
Arsha memasukkan tangan ke saku jaket. "Udah buruan pulang."
Aku takut imanku goyah, bisa-bisa aku yang jadi setannya, lanjut Arsha dalam hati.
"Arsha?"
"Hmm."
"Kalau aku bilang kangen boleh nggak?"
Arsha diam tak berkutik, seketika langsung mengabsen organ tubuh.
Hati aman?
Ginjal aman?
Muka gimana muka?
Hidung? Tolong jangan kembang kempis.
Bibir? Tahan, jangan senyum! Jangan nyengir!
"Mending buruan pulang, deh. Ntar setannya datang lagi!" ucap Arsha akhirnya berusaha menguasai diri.
"Cie Neng Arsha cie, jangan berduaan Neng. Nanti ada setan!" ucap Mang Diman dengan hanya kepalanya yang nongol di pintu.
Iiihh gak nyadar apa setannya itu Kakek sendiri.
__ADS_1
"Ledekin sekali lagi, gak bakal aku ajarin main tik-tok" balas Arsha kesal.
Mang Diman pun kembali masuk ke dalam rumah.
Devan terkekeh sambil memakai helm lalu menyalakan mesin motornya. "Duluan, ya."
"Ya."
Motornya pun mulai melaju. Meninggalkan hati Arsha yang berbunga-bunga.
Arsha berjalan masuk ke dalam rumah sambil membuka WA dan membaca pesan dari nomor baru milik Devan tadi.
[Kamu cantik. Sama seperti dulu.]
Brakkk!
"Ya Allah, Neng. Pintu segede gitu kenapa ditabrak?!" teriak Mang Diman yang membuat Arsha malu dan berlari menuju kamarnya.
Izzah yang duduk di ruang keluarga bersama Rayhan dan Arka mendengar dengan jelas suara pintu yang tertabrak tadi.
Izzah dengan cepat menuju ke arah Mang Diman.
"Bah, itu tadi suara apa?" tanya Izzah.
"Suara Neng Arsha nabrak pintu." jawab Mang Diman santai.
"Nabrak pintu? Kok bisa? Terus Arsha nya gak kenapa-napa Bah?" tanya Izzah lagi.
"Tidak, Neng Izzah teh tenang saja. Itu tadi Neng Arsha teh lagi jatuh cinta. Makanya sampai gak lihat jalan karena terlalu fokus lihat pujaan hati yang pulang."
Izzah tersenyum setelah mendengar penjelasan Mang Diman.
Anak-anakku sudah dewasa.....
__ADS_1