Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
MENJALANKAN RENCANA KEJUTAN


__ADS_3

Semua persiapan pesta kejutan ulang tahun untuk Izzah telah selesai. Intan pun telah datang membawa kue bertemakan bulan dan bintang, sesuai dengan kegeramaran Izzah yang menyukai dua benda langit tersebut.


Rayhan kemudian mengajak semua orang berkumpul di ruang tengah.


"Semuanya, terima kasih banyak ya atas waktunya sudah membantu untuk acara kejutan buat Izzah. Aku harap malam ini kalian semua bisa hadir mengenakan outfit berwarna putih. Agar kita semua bisa seragam." ucap Rayhan.


Mang Diman mengangkat tangan tinggi-tinggi.


"Nak Rayhan, maaf sebelumnya. Otpit itu apa ya? Mamang gak ngerti." tanya mang Diman polos.


"Dasar kolot, outfit aja gak tau." seru bu Ros.


"Diam kamu Lampir, aku gak nanya sama kamu." balas mang Diman.


"Diimaaaann..." teriak bu Ros.


Rayhan menggeleng lalu tersenyum.


"Maaf mang, outfit itu maksudnya pakaian yang mamang gunakan nanti harap warna putih ya, biar seragam." jawab Rayhan.


"Pakaian putih? Celananya juga putih ya? Wah mamang gak punya celana putih. Gimana kalau sarung aja. Tapi nanti orang-orang malah nyangka mamang teh hantu karena pakai putih-putih." ucap mang Diman yang membuat semua orang tertawa.


"Atasannya aja yang putih mang, kalau celana hitam aja. Pasti bagus, dan gak akan dikira hantu sama orang. Hihihi.” jawab Rayhan.


Semua orang kemudian kembali ke rumah masing-masing dan akan kembali malam nanti selepas ba'da shalat isya.


Rayhan juga berpamitan pada bu Ros hendak pulang ke rumahnya untuk menjemput Izzah. Sebelum pulang bu Ros mengajak Rayhan mengobrol serius.


"Ray, mami mau minta sesuatu sama kamu." ucap bu Ros.


"Apa itu mi?" tanya Rayhan.


"Ray, sekarang orang tua Izzah kan sudah tinggal di rumah yang kalian tinggali. Kenapa kalian gak pindah aja kesini sama mami. Mami kan di rumah ini tinggal sendirian. Lagian gak baik juga kalau anak laki-laki tinggal sama mertuanya." ucap bu Ros.


Rayhan terlihat berpikir.


"Nanti Rayhan coba omongin sama Izzah ya mi. Semoga Izzah mau pindah ya tanpa merasa dipaksakan." balas Rayhan. "Kalau gitu Rayhan pamit ya mi, assalamualaikum." lanjut Rayhan kemudian mencium tangan bu Ros.


"Waalaikumsalam." balas bu Ros.


Rayhan kemudian kembali ke rumahnya.


Tiba di rumah Rayhan disambut Izzah yang sedari tadi tengah menunggunya.


Rayhan langsung menggandeng Izzah masuk kamar.


"Abang kemana aja sih? Kok lama banget pulangnya?" tanya Izzah.


Memang sejak hamil Izzah menjadi lebih manja dan ingin selalu berada di dekat Rayhan.


"Sayang, abang kan kerja." jawab Rayhan.

__ADS_1


"Kerja si kerja bang, tapi kok seharian ini gak ngabari Izzah. Padahal hari ini kan hari specialnya Izzah."


Rayhan memang sengaja terlihat lupa kalau hari ini adalah ulang tahun Izzah. Begitu juga dengan orang seisi rumah, Rayhan meminta kepada mereka agar tidak ada yang mengucapkan apapun pada Izzah.


"Hari special? Memang hari ini hari apa?" tanya Rayhan.


"Iiihh abang ternyata sama aja dengan yang lainnya. Masa hari jadi isteri sendiri lupa?" balas Izzah manyun.


"Oohh hari jadi." ucap Rayhan santai kemudian berlalu menuju kamar mandi.


Izzah sangat kesal dengan perlakuan Rayhan yang lupa akan hari spesialnya.


"Abaaaang..." teriak Izzah menggedor pintu kamar mandi.


Sementara Rayhan yang berada di dalam kamar mandi cekikikan.


"Maafin abang ya sayang, ini semua demi kejutan yang udah abang persiapkan. Hihihi." ucap Rayhan.


Kemudian Rayhan keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya.


"Kenapa sih sayang? Dari tadi gedor-gedor mulu. Kebelet pipis ya?"


"Iiihhh. Bukan itu." balas Izzah.


"Terus apa?" tanya Rayhan lagi.


"Dari tadi di bilangin, hari ini kan hari jadinya Izzah."


"Aaaahhh, ajakin makan malam kek, atau apalah. Paling gak ucapin sesuatu gitu. Ini mah malah cuek aja. Abang nyebelin." ucap Izzah membelakangi Rayhan.


Rayhan tersenyum menatap punggung Izzah.


"Aduh aduh bumil ini sensitif sekali. Ya udah, maafin abang ya. Kalau gitu Izzah mau kita makan malam dimana?" tanya Rayhan.


"Ucapin sesuatu dulu." ucap Izzah.


"Barakallahu fii umrik isteriku sayang. Sekarang sebut aja mau dinner dimana?" tanya Rayhan.


"Bentar, Izzah mau check dulu." jawab Izzah kemudian mengambil ponselnya.


"Ini, Izzah mau dinner disini. Menurut reviewnya sih tempat ini bagus banget untuk dinner sambil lihat bulan dan bintang." ucap Izzah sambil menyodorkan ponselnya pada Rayhan memperlihatkan gambar sebuah restaurant.


"Oh tempat ini." balas Rayhan.


"Jadi abang tau tempat ini? Kalau gitu kita kesini ya bang. Pleasee..." rengek Izzah menggoyangkan tubuh Rayhan.


"Iya...iya. Habis shalat isya siap-siap aja kita kesana." balas Rayhan.


"Makasih abang." ucap Izzah mencium pipi Rayhan.


Waktu yang ditunggu Izzah pun tiba. Pak Haris, bu Novi dan Hani sudah lebih dulu berangkat menuju rumah bu Ros tanpa sepengetahuan Izzah.

__ADS_1


"Abang... ayo cepetan.... Bisa kemaleman nanti." teriak Izzah memanggil Rayhan yang berada di kamar mandi.


"Iya sayang, bentar lagi." sahut Rayhan.


"Biasanya yang dandan lama itu perempuan. Ini kok laki-laki ganti baju aja lebih dari satu jam. Iiihhh, ngapain aja sih di dalam." gerutu Izzah.


Rayhan yang tengah bercermin di dalam kamar mandi tertawa geli membayangkan wajah cemberut Izzah yang lelah menunggunya di luar.


"Abaaaang..." teriak Izzah lagi sambil menggedor pintu kamar mandi.


"Iya..iya ini abang keluar." ucap Rayhan sambil membuka pintu.


"Abang ngapain aja sih di dalam. Bertelur ya? Ganti baju lama amat. Ayo udah telat ini." ucap Izzah.


"Iya...iya ayo jalan." ucap Rayhan menggandeng tangan Izzah.


Meski cemberut, Izzah tetap melingkarkan tangannya ke lengan Rayhan kemudian berjalan keluar rumah.


Mobil mereka pun melaju menembus malam. Hingar bingar ibu kota di malam hari menemani perjalanan mereka.


"Ngomong-ngomong, kenapa abang ngajak Izzah coupelan pakai baju putih." tanya Izzah memulai obrolan.


"Ya nggak kenapa-napa sayang. Biar kita serasi aja." jawab Rayhan.


"Oohh." seru Izzah.


Sesuai arahan Rayhan, tepat saat mobil sudah hampir sampai di restaurant tujuan. Ponsel Rayhan berdering, tertera nama 'Rumah' di layar ponsel Rayhan.


"Bentar ya sayang, ini nomor rumah nelpon." ucap Rayhan menepikan mobilnya. "Ada apa ya?" sambung Rayhan pura-pura panik.


"Hallo, assalamualaikum." ucap Rayhan.


"Waalaikumsalam. Tuan Rayhan tolong cepetan kesini Tuan, Nyonya besar Tuan, Nyonya besar..." suara mbok Inem pembantu di rumah bu Ros.


"Mami kenapa mbok...." ucap Rayhan pura-pura panik.


"Cepetan kesini Tuan..." tut...tut.... sambungan telepon terputus.


"Mami kenapa bang?" tanya Izzah.


"Gak tau sayang, kita ke rumah dulu ya sayang. Maaf acara dinnernya kita batalin dulu." ucap Rayhan.


"Iya bang, gak apa-apa. Yang penting kita cepetan kesana bang. Takut mami kenapa-napa." balas Izzah.


Sebenarnya Izzah sedikit kecewa karena dinner romantis yang diharapkannya harus batal. Namun keadaan bu Ros jauh lebih utama bagi Izzah.


Rayhan kemudian memutar balik mobilnya menuju ke rumah bu Ros. Rayhan menatap Izzah dengan perasaan bersalah.


"Maafin abang Zah, abang cuma mau kasih kejutan aja untuk Izzah." gumam Rayhan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2