
Setelah setengah jam mengendarai motor maticnya, Izzah sampai di toko kuenya. Intan dan karyawan yang lain sudah menunggunya didepan toko.
"Udah nunggu lama ya Tan? Maaf ya aku telat." ucap Izzah.
"Iiihh masa bos minta maaf sama karyawan." balas Intan tersenyum.
"Kamu bisa aja Tan, oh ya mulai sekarang kunci toko aku kasih ke kamu aja ya. Biar kamu yang handle, takutnya aku bakal datang terlambat akhir-akhir ini, kasihan kan anak-anak yang lain pada nungguin aku tiap hari." ucap Izzah.
"Kamu beneran ngasih aku tanggung jawab ini Zah?"
"Aku percaya sama kamu Tan. Aku yakin kamu pasti bisa." balas Izzah.
Intan kemudian berjalan membuka pintu toko. Sementara Izzah masih duduk di bangku yang tersedia didepan toko. Yusuf tiba di toko Izzah dan langsung menghampirinya, lalu duduk di bangku depan Izzah.
"Zah maafin aku ya untuk kejadian yang tadi. Aku gak bermaksud ikut campur. Hanya saja aku gak bisa lihat kamu dikasarin Zah." ucap Yusuf.
"Gak apa-apa mas." balas Izzah.
"Izzah, aku tahu bahwa sekarang statusmu masih istri orang. Tapi jujur aku tidak bisa membohongi perasaan aku, kalau aku menyukaimu Zah."
Mata Izzah membulat sempurna, dia begitu kaget mendengar apa yang dikatakan Yusuf. Tanpa mereka sadari Rayhan sudah berada di dekat mereka dan mendengar apa yang dikatakan Yusuf.
Brakk!
__ADS_1
Rayhan menggebrak meja, sontak membuat Izzah dan Yusuf kaget.
"Kurang ajar kau. Laki-laki macam apa kau ini yang menyukai istri orang. Hah?" ucap Rayhan geram.
Bugh...bugh... Rayhan meninju perut Yusuf lalu menendangnya.
"Aaaahhh... Berhenti." teriak Izzah.
Semua karyawan Izzah berhamburan keluar toko. Tak ada yang berani melerai. Rayhan dengan beringas menghajar Yusuf. Yusuf jatuh tersungkur, ia meringis kesakitan. Rayhan hendak menendangnya lagi, namun Izzah menarik tangan Rayhan.
"Sudah cukup, jangan buat keributan disini. Dan mas Yusuf, Izzah mohon pergilah dari sini." ucap Izzah.
Yusuf lalu bangun dengan wajah yang lebam, lalu pergi meninggalkan toko kue Izzah. Izzah merasa kasihan melihat Yusuf, namun Izzah menahan dirinya karena tak ingin Rayhan melakukan hal yang lebih fatal lagi.
Rayhan mengikuti perintah Izzah, nafasnya masih memburu.
"Maaf Zah, abang tidak bermaksud membuat keributan. Abang hanya tidak terima dia..." belum selesai Rayhan berucap, Izzah sudah memotongnya.
"Sudah cukup, aku gak mau denger apa-apa lagi. Aku mohon pergilah, jangan ganggu hidupku lagi."
"Jangan ngomong gitu Zah. Abang gak mungkin pergi dari hidup Izzah. Abang cinta sama Izzah. Tolong pikirkan Zah, anak kita butuh kedua orangtuanya."
"Aku mohon pergilah. Aku lelah." ucap Izzah sambil mengatupkan kedua tangannya di depan Rayhan.
__ADS_1
"Baiklah abang akan pergi sekarang. Tapi abang pasti akan kembali lagi setiap hari sampai Izzah mau nerima abang dan memaafkan abang."
Rayhan memegang tangan Izzah dan menciumnya, lalu pergi menuju mobilnya.
Setelah Rayhan pergi, Izzah menghela nafas panjang.
Apalagi ini ya Allah, kenapa Rayhan kembali lagi setelah aku sudah mulai bisa melupakan dirinya.
Seharian Izzah tak fokus bekerja. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang lebih awal dan meminta Intan untuk menghandle semuanya di toko kue.
Sampai rumah, Izzah langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Bi Asih lalu menghampiri Izzah.
"Tumben pulangnya cepet neng." ucap bi Asih.
"Ya bi, Izzah lelah. Lelah hati dan lelah pikiran."
"Neng, bukannya bibi mau ikut campur urusan rumah tangga neng Izzah dan Rayhan. Bibi dan mang Diman mengenal Rayhan sejak dia masih kecil. Kami lah yang merawatnya. Jadi kami tahu betul Rayhan itu seperti apa."
Izzah hanya terdiam.
"Rayhan itu sebenarnya anak yang sangat baik neng. Bi Asih cuma pengen ngasih saran. Shalat istikharah lah selama tiga malam berturut-turut neng, minta Allah menunjukkan jalan terbaik." ucap bi Asih kembali.
Izzah hanya mengangguk. Lalu bi Asih keluar kamar Izzah. Setelah itu Izzah menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Apa yang harus aku lakukan? Memaafkannya atau melupakannya?