
Saat aku bangun tidur, aku merasa jika aku sudah penuh dengan energi. Aku lalu bersiap untuk pergi ke kampus dengan perasaan bahagia.
Tapi saat tiba di kampus, aku melihat Lola dan Mila.
"Ah! Perasaan baikku terasa dirusak." Ucapku.
Aku begitu kesal melihat dua orang wanita munafik itu. Aku lalu pergi ke arah Dafa yang tampak tengah duduk di sebuah bangku yang ada di taman. Dia tampak tengah memikirkan sesuatu dan dia tidak menyadari kehadiranku sampai aku mengambil dan memakan coklat yang dia pegang, dia pun menyadari kehadiranku.
"Eh! Itu untuk Tante ku." Ucap Dafa.
"Aku melakukan ini demi kebaikannya. Jika dia memakan ini, dia akan menjadi gemuk." Ucapku.
"Tapi Tante ku orang yang memang memiliki penyakit kekurangan gula darah. Jadi tidak akan apa-apa bagi dirinya memakan coklat itu." Ucap Dafa.
"Oh sial." Balasku.
Aku lalu duduk di samping Dafa di bangku itu.
"Aku akan membelikan yang lain untuk Tante mu nanti. Hmmm.... ngomong-ngomong, apa yang tengah kau pikirkan?" Tanyaku kepada Dafa.
Dia melihat ke arah tanah dan berkata, "ini tentang Mila. Aku tahu dia mencintai aku, tapi aku sudah menolak dia. Aku tidak habis pikir bahwa dia akan melakukan sesuatu hal seperti itu." Ucapnya.
"Apakah kau akan memaafkan dia?" Tanyaku padanya.
"Aku mengenal dia sejak kita masih kecil. Jadi iya, aku akan memaafkannya. Tapi jika itu mengganggumu....."
"Jangan khawatir." Ucapku menyela ucapan Dafa. "Itu tergantung dirimu untuk memilih memaafkannya atau tidak. Aku tidak akan ikut campur dalam hal itu." Balas ku.
"Terima kasih kucing kecilku yang nakal. Oh, ngomong-ngomong apakah kau sudah melihat hasil dari kompetisi itu?" Tanya Dafa kepadaku.
"Belum, tapi aku akan pergi melihatnya sekarang." Balas ku.
Aku lalu pergi bersama Dafa untuk melihat hasil dari kompetisi karya ilmiah itu. Sudah ada banyak mahasiswa di sana dan hasil dari pengumuman kompetisi itu adalah...
Sheila 500+ poin.
Lola 490 poin.
Mila 380 poin.
'Di mana Mila?' pikirku.
Aku mau melihat wajahnya sekarang. Aku melihat sekeliling dan aku melihat dia tengah duduk di bawah sebuah pohon. Aku lalu mendekat ke arahnya. Saat dia melihatku, dia pun langsung berdiri.
"Kau kalah." Ucap ku padanya.
"Hmmmppphh....! Bahkan jika aku kalah taruhan, aku tidak kehilangan apapun lagi." Ucapnya.
"Bagaimana dengan wajahmu? Kau adalah batu yang ditertawakan oleh seluruh kampus sekarang." Ucap ku.
Aku merasa seseorang ada di belakangku dan itu ternyata adalah Dafa.
"Mila, aku tahu apa yang sudah kau lakukan. Tapi aku memilih untuk memaafkan mu. Aku dan Sheila, kami berdua mencintai satu sama lain. Jadi tolong jangan menyebabkan kesalahpahaman di antara kami berdua." Ucap Dafa.
Mila terlihat tampak begitu marah.
Dia pun mengatakan sesuatu, tapi tidak begitu terlihat tulus dari dalam hatinya.
"Baiklah terima kasih, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian berdua lagi." Ucap Mila.
Aku tahu bahwa Mila tidak akan pernah berhenti melakukannya. Aku lebih baik berhati-hati terhadapnya. Setelah itu, Dafa dan aku pun pergi.
"Ingatlah bahwa kau harus datang ke rumahku malam ini untuk makan malam." Ucapku.
"Iya... iya... aku tidak pelupa dan bodoh seperti dirimu." Balasnya dengan menepuk kepalaku dengan keras.
"Siapa yang pelupa dan bodoh? Aku ini jenius." Ucapku padanya.
"Hahaha terserah kau saja." Ucap Dafa padaku.
...****************...
Aku tengah menunggu kedatangan Dafa. Aku merasa sedikit gugup. Apakah dia akan marah kepadaku karena aku tidak mengatakan kepadanya lebih awal tentang masalahku.
'Ding... Dong...'
Suara bel rumah pun berbunyi. Dia akhirnya ada di sini. Aku lalu pergi untuk membuka pintu depan. Dafa tampak berdiri di pintu dengan memegang buket bunga.
'Oh ya Tuhan... Dia tampak begitu tampan.'
"Hai masuklah." Ucapku.
Kami lalu duduk di ruang tamu. Aku tidak tahu bagaimana harus memulai obrolan kami.
'Apa yang harus aku katakan kepadanya lebih dulu? Apakah aku harus mengatakan semuanya?'
"Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan?" Tanya Dafa kepadaku.
"Sebenarnya iya." Balas ku.
"Kalau begitu katakan saja." Ucap Dafa.
"Baiklah, beberapa hari yang lalu...."
Aku mulai mengatakan semuanya kepada Dafa. Setelah aku mengatakan semuanya termasuk dengan organisasi yang dibuat oleh Mama. Dafa pun melihat ke arahku dengan serius.
"Maaf karena aku tidak mengatakan kepadamu hal ini lebih cepat." Ucapku.
Dafa tiba-tiba memeluk ku. Ternyata dia tidak marah padaku.
__ADS_1
'Terima kasih Tuhan.'
Aku pikir Dafa akan marah padaku.
"Maaf karena aku tidak ada saat kau membutuhkan aku." Ucap Dafa. "Mulai sekarang, aku akan mendukungmu dan melindungi dirimu." Lanjut Dafa.
"Terima kasih." Balas ku.
Setelah cukup lama mengobrol, kami pun lalu makan malam dengan Kakak ku. Daffa mengatakan bahwa dia bisa membantu kami untuk menemukan Bibi. Suatu keputusan yang baik karena aku memberitahukan kepada Dafa tentang hal ini.
Setelah makan malam, aku pun kembali mengobrol dengan Dafa.
"Ini sudah larut sekarang, cuaca juga sedang tidak baik di luar sana. Kau lebih baik menginap lah di sini malam ini." Ucapku.
Di luar memang hari tengah hujan begitupun dengan angin yang bertiup sangat kencang. Sepertinya di luar memang tengah badai.
"Baiklah." Balas Dafa yang tidak menolak ucapan ku.
Aku lalu mengajak Dafa berjalan melewati koridor rumah menuju ke arah kamar tamu yang tersedia cukup banyak di rumahku.
"Jangan khawatir, semua kamar di sini terbuka kali ini dan tidak di kunci seperti terakhir kali kau disini. Kau pilih saja salah satunya." Ucapku.
Dafa pun mendekat ke arahku. Wajah kami hanya beberapa sentimeter saja jaraknya. Dia mengangkat daguku seperti biasanya.
"Siapa yang bilang bahwa kita akan tidur di kamar yang berbeda?" Aku akan tidur denganmu." Ucap Dafa.
Aku merasa bahwa wajahku mulai memerah.
"Apa? Dasar mesum! Jangan berpikir bahwa kau bisa tidur denganku." Ucapku.
Dafa semakin mendekat ke arahku, bibir kami pun bersentuhan.
"Kau adalah kekasihku sekarang. Kenapa kita harus tidur terpisah?" Ucap Dafa.
"Emmm.... Tapi.... Waaahh!!" Teriakku.
Dafa langsung menggendong aku dengan gaya seperti pengantin baru dan membawa aku ke kamarku. Dia menaruh aku dengan lembut di atas tempat tidur dan mendekat kemudian dia menciumku dengan begitu inten yang membuat aku tidak bisa menolaknya.
"Mmmppphhh!!"
Setelah ciuman itu, kami berdua hampir saja kehabisan nafas.
'Kenapa dia selalu menciumku secara tiba-tiba?'
"Bisakah kita tidak melakukan hal ini sekarang? Bibiku masih menghilang. Aku merasa tidak baik dengan melakukan hal ini." Ucapku.
"Jangan khawatir. Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku bersumpah bahwa aku tidak akan melakukan suatu hal yang diluar batas sebelum kita menikah. Dan aku hanya mau membuatmu merasa nyaman." Ucap Dafa.
"Terima kasih." Balas ku.
Kemudian dia memeluk aku dengan begitu erat. Aku ingin momen ini tidak akan pernah berakhir.
Aku pun tertidur di dalam pelukannya sampai saat aku bangun, ternyata aku masih berada dalam pelukannya.
Dafa ternyata sudah bangun.
"Aku akan mandi." Ucapku.
Aku lalu bangun dan menyiapkan pakaian kami untuk pergi ke kampus.
Setelah menyelesaikan semuanya, mulai dari mandi, berganti pakaian dan sarapan, kami pun akhirnya berjalan menuju kampus.
"Bagaimana rencana mu untuk menyelamatkan Bibiku?" Tanyaku kepada Dafa.
"Perusahaan Papa ku sangat hebat dalam hal melacak orang dan itu tidak akan terlalu sulit bagi kami." Ucap Dafa.
"Terima kasih." Balas ku.
Kami akhirnya tiba di kampus...
Tentu saja semua orang tengah membicarakan tentang aku, Dafa dan kekalahan Mila. Aku tahu bahwa Mila tidak akan pernah berhenti mengganggu kami. Aku lantas menaruh sebuah pena yang bisa merekam suara di mejaku yang dekat dengan meja Mila. Dia tidak mengatakan apapun sepanjang pagi ini.
'Aku seharusnya merasa bahagia atau khawatir?' pikirku.
Saat jam makan siang datang, Dafa dipanggil ke ruangan dekan. Aku tengah makan saat Mila muncul.
'Apa yang dia inginkan?' pikirku.
"Sheila, aku tahu bahwa apa yang aku lakukan sangat buruk padamu. Tapi tidak bisakah kau memaafkan aku. Aku sudah menyadari bahwa Dafa sangat mencintai dirimu. Aku akan mendukungmu. Aku hanya tidak mau ada kesalahpahaman di antara kita berdua, oke." Ucap Mila.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu jika kau tidak mengganggu aku." Balas ku.
"Terima kasih Sheila. Kau benar-benar baik." Ucapnya.
Kemudian dia pergi begitu saja dengan wajah tampak bahagia.
'Apakah kau pikir bahwa aku akan percaya kepadamu begitu saja? Kau terlalu bermimpi sayangku.' ucapku dalam hati.
Setelah jam kuliah kami berakhir, aku membawa Dafa menuju ke markas rahasia organisasi yang dibangun oleh Mama. Dafa sudah meminta Papa nya, Tuan Arka Wijaya untuk menemukan Bibi. Tapi sebagai imbalannya Papa Dafa mau bertemu denganku. Dia nantinya akan menjadi Papa mertuaku dan malam ini akan menjadi pertemuan pertama kami.
'Apakah dia akan menyukai aku?' tanyaku dalam hati.
Aku tahu bahwa Tuan Arka sebenarnya menginginkan Lola dan Dafa untuk bertunangan. Tuan Arka mungkin saja membenciku karena sudah merusak keinginannya yang ingin melihat Dafa bersatu dengan Lola. Malam ini bisa jadi akan menjadi sebuah bencana bagiku.
Dafa pun menyadari bahwa aku begitu panik saat kami mulai membicarakan rencana tentang pergi ke rumahnya.
"Jangan khawatir. Papa ku itu adalah orang yang baik. Papa hanya akan mengetes dirimu, begitu juga Mama. Aku rasa mereka semua akan sangat menyukai dirimu, termasuk juga adikku. Bahkan jika mereka tidak suka padamu, aku berjanji bahwa aku tidak akan meninggalkanmu." Ucap Dafa meyakinkan aku.
"Terima kasih. Sekarang aku merasa jauh lebih nyaman. Ngomong-ngomong apakah keluargamu itu ramah terhadap orang baru?" Tanyaku.
"Iya tentu saja. Mamaku dan adikku sebenarnya tidak pernah menyukai Lola. Mereka sangat memprotes keputusan Papa dengan menginginkan pertunangan kami. Itulah kenapa kami berdua tidak jadi bertunangan pada akhirnya. Mama ku selalu menginginkan seorang menantu yang baik menurut versinya." Ucap Dafa.
'Oh terima kasih Tuhan, atas kebaikan Mu.' ucapku dalam hati.
__ADS_1
...****************...
Rencana untuk menghancurkan perusahaan Om Surya dan Om Rio, berjalan dengan sangat baik. Para desainer kami mulai mempublikasikan pekerjaan pertama mereka dan mereka sudah berkompetisi dengan perusahaan Om Surya dan Om Rio.
Para customer terlihat lebih menyukai desain dari kami. Dan itu semua sangat baik bagiku dan kakak.
Setelah menyelesaikan pekerjaan di markas rahasia itu, Dafa dan aku pun pergi ke rumahnya. Aku menggunakan pakaian formal yang tidak terlalu mahal dan juga tidak terlalu murah. Seperti biasanya, aku tidak menggunakan make up karena aku memang tidak suka. Dafa mengatakan bahwa keluarganya tidak menyukai seorang wanita yang tampak seperti sebuah lukisan yang berjalan.
Kami akhirnya tiba di rumah Dafa.
'Wah.... rumahnya sangat besar.'
Dafa kemudian memencet bel rumahnya dan seorang gadis muda muncul dengan membuka pintu. Dia tampak begitu cantik dan bulu matanya tampak sangat lentik. Dia terlihat sama seperti Dafa, jadi dia mungkin saja adik dari Dafa.
"Hai, aku Amira, adik Kak Dafa. Kau pasti Sheila bukan?" Ucap gadis cantik itu.
"Iya, aku Sheila." Balas ku.
"Masuklah." Ucapnya dengan sopan.
Sheila lalu membawa kami menuju sebuah ruang tamu yang tampak begitu besar. Aku melihat seorang wanita elegan tampak duduk di sana. Aku yakin jika dia adalah Mama Dafa dan aku merasa jika pria di samping wanita itu adalah Papa Dafa. Dia terlihat begitu serius.
Dafa pun memperkenalkan aku kepada semua orang.
"Dia adalah Sheila." Ucap Dafa.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya Arka Wijaya." Ucapku.
Mereka semua melihatku dari atas dan ke bawah. Aku pun merasa begitu canggung. Akhirnya Nyonya Arka memecah kebisuan itu dan mempersilahkan aku untuk duduk.
Aku duduk di sofa di samping Dafa.
"Berapa usiamu?" Tanya Mama Dafa.
"Dua puluh satu tahun." Balas ku.
"Kau berada Di semester yang sama dengan Dafa. Bagaimana kau bisa berusia 1 tahun lebih muda darinya?" Ucap Mama Dafa padaku.
"Saat masih duduk di sekolah menengah dulu, pihak sekolah memberikan kesempatan bagiku untuk lompat kelas." Balas ku.
Tuan Arka terlihat terdiam, yang membuat aku pun berpikir keras.
'Ada apa sebenarnya? Jangan bilang bahwa mereka berpikir aku ini terlalu muda untuk Dafa. Aku hanya berusia satu tahun lebih muda darinya.' ucapku dalam hati.
"Jadi kau itu seorang mahasiswa yang pintar? Sekarang aku mengerti. Bagaimana pendapatmu tentang Dafa?" Tanya Mama Dafa.
Bagiku, ini adalah pertanyaan yang penting. Jadi aku harus menjawab dengan hati-hati.
"Aku merasa, bahkan meskipun dia sesekali bersikap begitu kejam. Tapi dia sebenarnya begitu baik. Dia mencoba untuk menyembunyikan jati dirinya dengan menggunakan sebuah topeng, tapi dia begitu sensitif dari dalam." Ucapku jujur mengenai apa yang aku lihat dari sosok Dafa.
"Aduh...."
Dafa mencubit aku. Dia pun berbisik padaku.
"Siapa yang bilang bahwa aku ini orang baik? Aku ini anak nakal, oke!" Ucap Dafa.
"Tapi aku hanya mengatakan kebenarannya." Balas ku yang juga membalas untuk mencubit Dafa.
Saat aku melihat ke arah Tuan Arka dan istrinya lagi, aku menyadari apa yang baru saja kami lakukan.
'Keluarga Dafa tengah tertawa.' pikirku dalam hati.
"Hahaha, kau sama seperti aku dan Papa nya Dafa saat baru menikah dulu." Ucap Mama Dafa.
"Kau sangat lucu hahaha." Ucap Amira, adik Dafa.
Bahkan Papa Dafa terlihat tampak terhibur. Dan aku rasa itu semua bukan hal yang buruk.
"Apakah kau mengerti tentang bisnis?" Tanya Papa Dafa.
"Sedikit paham, tapi aku masih belajar dari Kakak yang sudah jauh lebih dulu masuk ke dalam dunia bisnis." Balas ku.
Setelah itu, mereka terus melanjutkan untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepadaku. Itu semua berjalan dengan sangat baik sampai pada saat aku mulai mendengar seekor kucing yang mengeong dan berjalan mendekat ke arah kakiku. Kucing itu sangat menggemaskan dengan tingkahnya yang mengusap kepalanya di kakiku.
Aku lantas mengambil kucing itu dan menaruhnya di pangkuanku. Aku perlahan mengusap kepalanya dan aku sangat menikmatinya. Saat aku melihat ke atas, aku melihat semua orang tampak terkejut.
'Eh.... Apakah aku melakukan suatu hal yang salah? Ada apa?' Tanyaku dalam hati.
"Menakjubkan sekali. Bahkan Tom menyukai dia." Ucap Amira, adik Dafa.
Aku semakin bingung setelah mendengarkan ucapan dari adik Dafa ini.
"Kau pasti bingung sekarang Sheila. Biarkan aku menjelaskan semuanya." Ucap Mama Dafa tersenyum. "Tom adalah kucing yang sangat pemarah. Dia tidak membiarkan orang lain menyentuhnya, hanya kami anggota keluarga saja yang boleh menyentuhnya. Tapi sekarang Tom terlihat sangat jelas memintamu untuk menyentuhnya. Dia tampak sangat menyukai dirimu." Ucap Mama Dafa.
"Oh karena itu." Balas ku.
'Apakah ini adalah tes yang dikatakan Dafa kepadaku waktu itu? Yang benar saja? Apakah ini hanya lelucon saja? Apakah ini normal dengan membiarkan seekor kucing memilih menantu masa depan dari keluarga mereka?' pikirku dalam hati.
Setelah makan malam selesai, aku pun berpamitan dengan keluarga Dafa dan berjalan keluar dari rumahnya.
Aku hendak masuk ke dalam mobil yang disediakan oleh keluarga Dafa, saat seseorang menyentuh pundak ku. Aku berbalik dan melihat Amira, adik Dafa.
"Sebelum kau pergi, aku mau memberikanmu sesuatu." Ucap Amira memberikan sesuatu kepadaku. "Ini adalah barang yang sangat berharga bagi keluarga kami. Jadi jagalah benda ini. Aku sangat menyukai dirimu. Kau tidak seperti para gadis ****** itu yang selalu menggoda Kak Dafa. Lagipula, selama ini aku tidak pernah melihat Kak Dafa sebaik itu. Dia juga tidak pernah memperlihatkan bahwa dirinya itu memiliki kekasih. Aku harap kau bisa mencintai dia. Karena dia itu anak kesayangan di rumah ini. Sudah ya, kau berhati-hatilah, bye." Ucap Amira.
"Bye....!" Balas ku.
Ternyata dia memberikan aku sebuah gelang berwarna merah yang sangat cantik sekali.
Akhirnya aku pun mengetahui, bahwa Mama kandung Dafa sudah meninggal. Sementara Mama yang dia perkenalkan kepadaku adalah wanita yang dinikahi Papa nya saat Dafa berusia 4 tahun. Namun, kasih sayang yang dia berikan kepada Dafa tidak kalah hebatnya dengan Mama kandung. Bahkan seperti yang diceritakan Amira, bahwa Sang Mama justru terlihat lebih menyayangi Dafa dibandingkan dirinya.
Dafa juga menceritakan kepadaku tentang Tante nya yang ternyata merupakan saudara kembar dari Papa nya yang bernama Arsha. Dia bahkan berjanji bahwa suatu hari nanti, dia akan memperkenalkan aku dengan seluruh keluarga besarnya. Termasuk Oma dan Opa nya yang sangat dia sayangi.
Dafa berkata bahwa Oma nya bernama Izzah. Sedangkan Opa nya bernama Reyhan. Aku setidaknya harus mulai menghafal nama-nama dari anggota keluarga Dafa yang banyak itu. Apalagi jika nantinya kami memang berjodoh. Maka sepertinya aku selain harus menghafal nama, aku juga harus menghafal wajah dari seluruh anggota keluarga Dafa termasuk para sepupunya.
__ADS_1
Namun ada satu sosok yang sangat membuat aku penasaran adalah, sosok Oma Izzah. Dafa mengatakan bahwa Oma nya itu adalah sosok inspirasi dari semua anggota keluarganya, termasuk juga Dafa sendiri.
Bersambung....