
Setelah selesai makan, Amira berkata pada Ariel.
"Emmm.... Aku ingin menunjukkan sesuatu pada mu." Ucap Amira.
Amira lalu membawa Ariel menuju kamarnya. Dengan mengatakan hal itu, Amira berpikir maka kedua orang tua mereka tidak akan mengetahui bahwa mereka tengah berpacaran.
"Sepertinya dia terlihat bersikap sedikit tidak normal." Ucap Arka.
"Mungkin mereka sudah berbaikan." Ujar Mama Ariel.
Setelah selesai makan malam, kedua pasangan orang tua itu pergi ke taman untuk berjalan-jalan. Sementara Dafa pergi ke kamarnya untuk belajar dan juga menyelesaikan pekerjaan kantor yang memang sudah mulai dibebankan kepadanya itu.
Sementara itu, di dalam kamar Amira...
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Amira pada Ariel.
"Kabulkan permintaan ku." Ucap Ariel dengan tersenyum.
"Permintaan apa?" Tanya Amira kepada Ariel.
Ariel menyeringai dan berjalan mendekat ke arah Amira. Sementara Amira berjalan mundur ke belakang. Semakin dekat Ariel berjalan ke arah depan, semakin mundur Amira melangkah, tanpa ia menyadari bahwa dirinya langsung terjatuh ke atas tempat tidurnya sendiri. Ariel terjatuh di atas tubuh Amira seraya mencoba untuk menahan tubuh nya sendiri agar tak menindih Amira.
Amira kemudian mencoba untuk berdiri.
Ariel menghentikannya dan berkata, "tidakkah kau ingin mendengar permintaan ku." Ucap Ariel dengan lembut.
"Apa... Apa permintaan mu?" Ucap Amira perlahan.
"Aku ingin mencium mu." Balas Ariel.
Amira langsung terkejut dan mulai mendorong Ariel.
"Apa-apaan ini!!! Aku tidak akan pernah mengabulkan permintaan semacam itu." Ucap Amira berusaha untuk bangun.
Ariel memegang tangan Amira dan menaruh tangan Amira di dadanya.
"Tidakkah kau mendengar itu?" Ucap Ariel dengan wajahnya yang tampak begitu serius.
'Oh ya Tuhan.... Jantungnya berdetak begitu kencang. Entah kenapa dengan mendengarkan detak jantungnya, malah membuat jantungku berdetak lebih kencang lagi.' ucap Amira dalam hati.
Ariel lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Amira. Amira pun menutup matanya dengan erat.
'Apa yang akan terjadi selanjutnya.' pikir Amira dengan matanya yang tertutup.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan berkata, "Amira, bisakah aku masuk ke dalam?"
Itu adalah suara Dafa. Amira pun langsung mendorong Ariel dengan keras sehingga dia terjatuh ke lantai.
"Aduh..." Ucap Ariel meringis kesakitan.
Amira menyodorkan tangannya untuk membantu Ariel berdiri.
"Masuklah Kak." Ucap Amira.
"Kenapa kau lama sekali hanya untuk mengatakan hal itu." Ucap Dafa. "Kalian berdua, kenapa wajah kalian memerah." Ucap Dafa lagi setelah melihat kearah wajah mereka berdua.
"Kakak, kurasa sepertinya Mama ariel memanggilku." Ucap Amira lantas bergegas berjalan keluar dari dalam kamar.
Dafa menatap Ariel dan berkata, "kau jangan berani-beraninya untuk melakukan hal itu." Ucap Dafa dan kemudian berjalan turun ke lantai bawah.
Ariel juga ikut turun seperti mereka berdua, namun dengan raut wajahnya yang tampak kecewa.
"Kami akan pergi sekarang." Ucap Mama Ariel kepada Alia.
Arka berkata kepada Amira dan Dafa untuk mengantar mereka keluar karena Arga sendiri ingin berbicara dengan Alia, mama mereka.
"Aku akan mengembalikan pakaian Kak Dafa besok." Ucap Ariel kepada Dafa.
Dafa pun mengangguk, mereka semua lalu keluar rumah setelah Amira mengucapkan selamat tinggal kepada mereka.
"Bisakah kita berjalan bersama?" Tanya Dafa kepada Amira dengan tangannya yang berada di pundak Amira.
"Kenapa tidak." Balas Amira.
"Kalian berdua sudah berpacaran bukan?" Tanya Dafa secara tiba-tiba.
Amira pun mulai berkeringat. "aku tahu kalian berdua sudah berpacaran." Ucap Dafa mengkonfirmasi hal tersebut.
Amira pun mengangguk dengan wajahnya yang tampan merona.
Dafa menghela napas dan berkata, "Amira, kau sudah punya tunangan, kau tahu itu bukan?"
Amira menjadi tidak bahagia. Dia tidak mengatakan apapun dan hanya terdiam sepanjang keduanya berjalan-jalan.
...****************...
Hubungan Amira dan mamanya menjadi lebih baik.
Setelah sarapan...
"Aku pergi dulu." Ucap Amira.
"Jaga dirimu." Ucap Alia kepada putrinya itu.
Amira tersenyum kearah sang mama dan berkata jangan khawatir alia pun merasa begitu bahagia sama juga dengan apa yang dirasakan Amira.
Amira lalu menjemput Cindy dari rumahnya.
"Ada apa?" Tanya Cindy kepada Amira.
"Tidak ada." Balas Amira.
"Cindy kau yang katakan padaku." Ucap Amira seraya mengendarai mobilnya.
"Mengatakan apa adanya cindy.
"Apakah kau tengah menyukai seseorang?" Tanya Amira kepada Cindy.
Cindy langsung merona dan wajahnya tampak memerah. Dia pun mengalihkan wajahnya.
'Kenapa malah bayangan Calvin yang berada dalam pikiranku . Aku tidak menyukainya kan.' ucap Cindy dalam hati.
Amira tertawa kecil melihat kearah Cindy dan berkata, "ayo, ayo masuk kita sudah tiba sini."
Cindy dan Amira lantas masuk bersama dengan tertawa kecil.
"Hai Amira." Ucap Juna seorang mahasiswa tingkat atas saat Amira masuk kedalam kelasnya.
"Hai." Balas Amira dengan senyum rumahnya.
"Ini..." Juna memberikan sebuah kartu undangan kepada Amira.
"Apa ini tanya?" Tanya Amira kepada Juna saat memegang undangan itu.
"Itu adalah undangan ulang tahun ku. Bisakah kau datang? Kau akan datang bukan?" Ucap Juna.
"Tentu saja aku akan datang dan selamat ulang tahun untuk Kak Juna." Ucap Amira dengan sopan.
Juna berterima kasih kepada Amira dan kemudian kembali ke kelasnya.
"Apakah kau benar-benar akan pergi?" Tanya Cindy dengan serius.
"Kau juga akan ikut." Balas Amira dan duduk di bangkunya.
Cindy lalu duduk di bangku milik Ariel yang berada di samping Amira karena ariel belum juga datang.
"Jangan khawatir, aku disini." Ucapan Amira kepada Cindy.
"Hei kau kecoa, minggir lah." Ucap Ariel kepada Cindy saat dia muncul di hadapan mereka berdua.
"Siapa yang kau panggil kecoak?" Ucap Cindy kepada Ariel dengan raut wajah yang marah.
Ariel menatap Cindy dengan tajam. Cindy pun lalu pindah tempat duduk. Tapi dia bertabrakan dengan Calvin. Cindy hampir saja terjatuh, tapi dengan sigap Calvin menahannya.
Amira dan Ariel pun tertawa.
Setelah beberapa saat, Pak Kim masuk bersama dengan Febby yang juga ikut masuk ke dalam kelas. Febby langsung berjalan ke arah Amira dan berlutut. Hal itu membuat Amira menjadi begitu terkejut.
"Aku minta maaf Amira." Ucap Febby.
Amira langsung berdiri dan meminta Febby untuk bangun juga.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan mu." Ucap Amira.
"Aku akan dikeluarkan dari kampus."
"Itu berita yang sangat bagus." Ucap Cindy.
Amira menatap kearah Cindy. Cindy lalu menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Amira lantas berkata kepada Cindy, "semuanya akan kembali normal. Hanya saja, jangan gunakan cara kotor untuk memenangkan hati seseorang."
Febby lalu meminta maaf kepada semua orang dan dia pun berjalan keluar dari dalam kelas.
Amira menatap kearah Ariel. Saat dia duduk di kursinya, Ariel berkedip padanya dan kemudian memberikan ciuman jauh.
Ariel hanya bisa tertawa.
'Sekarang hanya ada satu masalah yang harus diselesaikan, yaitu menemukan siapa tunangan Amira.'
'Kenapa aku tidak bisa menginvestigasi apapun tentang dia. Maksudku, siapa dia sebenarnya. Aku tidak akan pernah memberikan wanitaku kepada siapapun. Amira adalah milikku.' ucap Ariel dalam hati.
Amira menerima pesan dari papanya.
'Pulanglah dengan cepat. Kau harus menemui tunangan mu.' ucap Arka kepada Amira melalui pesan singkat.
Setelah perkuliahan selesai, Amira berkata kepada Calvin untuk mengantar Cindy pulang ke rumahnya. Sementara Ariel sendiri juga pulang ke rumahnya karena mamanya menelpon nya juga.
Amira tiba di rumahnya. Semua keluarganya sudah mengenakan pakaian mereka dengan begitu rapi. Amira pun bertanya kepada mereka.
"Apakah kalian semua akan pergi ke pesta?"
"Apa kau lupa sayang? Papa kan sudah bilang, kita akan bertemu tunangan mu." Ucap Arka kepada Amira.
"Aku tidak mau menikah." Teriak Amira dengan marah.
"Amira, bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu semalam. Apakah kau sudah lupa dengan apa yang aku katakan?" Ucap Dafa pada Amira.
"Aku tidak akan pernah mau menikah dan sejujurnya aku menyukai orang lain." Ucap Amira. "Lagipula, kenapa aku harus bertunangan sementara Kak Dafa sendiri belum bertunangan?" Ucap Amira lagi lalu pergi kedalam kamarnya dengan penuh amarah.
"Tolong pergilah dan bujuk adikmu. Pernikahan ini adalah yang terbaik untuknya." Ucap Arka kepada Dafa.
"Baik Pa." Balas Dafa.
Dafa lalu pergi ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Amira, dia kemudian masuk ke dalam kamar itu.
Amir berteriak kepadanya, "aku tidak mau pergi."
Amira melempar bantal ke arah Dafa. Dafa dengan mudah menangkap bantal itu dan mendekat kearah Amira.
Dia lalu mengusap kepala Amira dan berkata,
"Mungkin kau bisa meyakinkan mereka untuk membatalkan pertunangan ini." Ucap Dafa.
'Benar, jika aku mengakhiri pertunangan ini, maka aku tidak perlu menikah dengan orang yang tidak aku ketahui.' ucap Amira dalam hati.
"Kakak turun saja lebih dulu. Aku akan mengganti pakaianku dan segera menyusul." Ucap Amira.
Dafa tersenyum lalu keluar dari dalam kamar Amira.
Setelah beberapa saat, Amira datang dengan menggunakan gaun berwarna navy.
"Kau sangat cantik sayang." Ucap Alia kepada Amira.
Amira tersenyum kepada mamanya itu dan berkata, "mama juga sangat cantik."
Amira lalu pergi dan duduk di dalam mobil Dafa.
"Kak, siapa sebenarnya tunangan yang tidak diketahui ini?" Tanya Amira penuh tanda tanya.
"Kau akan tahu nanti." Balas Dafa dengan menyeringai.
Setelah beberapa saat, mereka tiba di sebuah hotel. Amira dan Dafa masuk secara bersamaan.
Amira begitu terkejut melihat sosok Ariel berada di sana.
Ariel mendekat kearah Amira dan berkata, "apa yang kau lakukan disini?"
"Aku bisa menanyakan hal yang sama dengan mu. Kau sendiri sedang apa disini?" Balas Amira.
'Apakah dia disini untuk melihat tunangannya?' ucap mereka berdua dalam hati masing-masing.
Dia pun berkata, "malam ini, aku punya pengumuman yang sangat penting untuk dikatakan."
Ada banyak reporter yang datang dan mulai merekam momen apa yang akan dikatakan oleh papa Ariel itu.
Jantung Amira berdegup dengan begitu kencang. Dia sangat takut bahwa Ariel akan bertemu dengan tunangannya. Amira tidak perduli tentang pernikahannya, tapi dia hanya memikirkan tentang Ariel.
Papa Ariel kembali berkata, "pertunangan putra ku."
Ariel lalu berdiri di samping papanya. Papa Ariel melihat kearah Amira. Amira merasa begitu bingung, kenapa papa ariel melihat kearah dirinya.
Papa Ariel kemudian berkata, "putra ku akan bertunangan dengan putri dari sahabatku, yaitu Amira Arka Wijaya.
Amira dan Ariel sama-sama terkejut.
Dafa lalu memegang tangan Amira dan kemudian menggandengnya berjalan kearah Ariel dan berkata, "bodoh."
Amira menjadi marah kepada Dafa.
"Kenapa kakak menyembunyikan semua ini dari kami?" Ucap Amira kepada kakaknya itu.
Ariel menjadi begitu lega dia lantas memegang tangan Amira dan berkata, "aku tidak akan pernah melepaskan tangan ini lagi."
Pipi Amira langsung merona merah dan kemarahan nya seketika pergi begitu saja setelah melihat Ariel dan dia begitu bahagia mengetahui bahwa Ariel adalah tunangannya yang selama ini dia hindari.
Ariel sendiri tertawa dalam hati karena menertawakan kebodohannya yang selama ini terus menginvestigasi tentang tunangan Amira yang ternyata adalah dirinya sendiri.
'Aku benar-benar bodoh.' ucap Ariel dalam hati.
"Kau terlihat sangat cantik tunangan ku." Bisik Ariel di telinga Amira.
Mereka berdua tengah berdansa.
"Aku akan menginjak kakimu." Ucap Amira dengan menyeringai.
"Aku tidak akan masalah dengan hal itu istriku." Ucap Ariel dengan tersenyum.
Keduanya lalu tersenyum bersama lalu terbahak.
Semua orang yang hadir di pesta itu mengucapkan selamat pada mereka berdua. Kedua orang tua mereka tampak begitu bahagia.
Setelah pesta usai, Ariel mengantar Amira ke rumahnya.
"Jangan lupa dengan kompetisi besok." Ucap Amira saat masuk ke dalam rumah.
...****************...
Pagi berikutnya, Alia masuk ke kamar Amira untuk membangunkan nya pergi kuliah.
Amira sudah bangun dan sudah bersiap pergi ke kampus. Wajahnya tampak begitu sumringah.
Alia mengusap kepala Amira dan berkata, "tetaplah seperti ini sayang."
Amira lalu memeluk sang mama dan berkata, "aku sangat mencintai mama."
Dafa memeluk mereka berdua dari belakang dan berkata, "bagaimana denganku?"
"Hei, kapan kakak masuk?" Tanya Amira.
Dafa menepuk kepala Amira dan berkata, "bodoh. Ayo, kau ikutlah bersamaku dengan mobilku ke kampus."
Amira mengusap keningnya dan berkata, "baiklah."
Mereka kemudian turun dan sarapan bersama.
Setelah beberapa saat kemudian, Dafa dan Amira tiba di kampus. Ariel sudah menunggu Amira di gerbang depan kampus.
Ariel lalu menjulurkan tangannya dan berkata, "ayo pergi sayangku."
Amira memberikan tangannya kepada Ariel dan berkata kepada Dafa.
"Kakak jangan meninggalkan aku nanti kalau kelas kakak sudah lebih dulu selesai ya."
Dafa mengangguk dan kemudian pergi ke kelasnya.
__ADS_1
Ariel dan Amira masuk ke dalam kelas mereka bersama-sama. Teman kelas mereka mendekat ke arah mereka dan mengucapkan selamat kepada mereka.
Hubungan pertunangan mereka berdua diumumkan di seluruh media massa. Amira dan Ariel berterima kasih kepada mereka.
Setelah beberapa saat, dosen masuk dan berkata, "Amira, apakah kau mendaftarkan namamu ke kontes kecantikan?"
Amira tampak begitu terkejut dan berkata, "tidak Pak."
Sementara itu Cindy langsung berdiri dan berkata, "iya Pak, dia mendaftarkan namanya."
Amira melihat kearah Cindy dan mendekat ke arahnya.
Amira menarik telinga Cindy dan berkata, "kenapa kamu melakukan itu semua?"
"Aahhh... Kelinci, sakit." Ucap Cindy.
Amira akhirnya melepaskan telinga Cindy dan berkata, "sekarang katakan padaku. Apa alasan baik dibalik semua ini?"
Cindy berkata, "aku hanya mau membantumu dan Ariel."
Amira berbalik dan menatap kearah Ariel. Ariel sontak memalingkan kepalanya dan menaruh kepalanya di atas meja. Amira mendekat kearah Ariel dan berdiri di sampingnya.
"Sayangku, jelaskan semuanya." Ucap Amira.
Ariel berdiri setelah mendengarkan ucapan Amira yang memanggilnya sayang.
Amira langsung menarik telinganya seperti yang dilakukan pada Cindy dan berkata, "kenapa?"
"Ada kontes pasangan terbaik, jadi aku memberikan namamu sama seperti namaku juga." Ucap Ariel dengan ekspresi yang menggemaskan.
Amira menghela napas dan berkata, "aku tidak tahu apapun tentang kontes itu."
"Aku akan mengajari mu." Ucap Cindy dari arah belakang.
Mereka pun mulai membantu Amira untuk bersiap dan yang lainnya membantu Ariel.
Mereka juga akhirnya mendapat pakaian yang serasi untuk di kenakan Amira dan Ariel.
...****************...
Sementara itu di tempat lain, Sheila tengah mengambil gaunnya dan segera menggunakannya. Dia melihat dirinya sendiri di dalam cermin. Dia tampak sangat cantik. Gaun itu benar-benar dibuat untuk dirinya. Sheila merapikan rambutnya dengan di kuncir tinggi dan menepuk sedikit krim di wajahnya. Dia pun sudah bersiap, dia lalu turun ke lantai bawah dimana kakak dan pelayan nya melihat dia dengan terdiam.
Pelayan berkata, "ya Tuhan.... Nona, anda sangat cantik."
"Kau pasti akan menjadi yang paling cantik di pesta dansa itu, aku yakin." Ucap sang kakak.
"Terimakasih Kak, sekarang aku harus pergi." Ucap Sheila.
Sheila sudah membuat janji dengan Marissa yang sudah berada di depan rumahnya. Papa Marissa akan menemani mereka pergi ke pesta. Saat Marissa melihat Sheila keluar dari dalam rumah, mulutnya tampak menganga.
"Kau sangat cantik." Ucap Marissa.
"Kau juga." Balas Sheila.
Saat mereka masuk kedalam kampus, semua mata tertuju kepada Sheila. Semua orang tampak terdiam.
Sheila mendengar beberapa mahasiswa berkata, "Oh ya Tuhan, Sheila bahkan tidak menggunakan make up dan dia sangat cantik. Dia bahkan lebih cantik dari Lola."
"Tolong aku, aku telah jatuh cinta."
"Aku juga aku jatuh cinta.
Sheila dan Marissa masuk ke dalam ruang pesta. Ruangannya tampak sangat indah, seperti ruang pesta di sebuah istana.
Sheila melihat Dafa, dia tampak dikelilingi oleh para gadis yang menyukainya.
Para gadis itu berkata,
"Dafa, bisakah aku berdansa denganmu?"
"Pergilah, dasar gadis tidak tahu malu. Dafa adalah milikku."
"Tidak, dia milikku!"
Tiba-tiba Lola mendekat kearah Dafa dan semua gadis yang mengelilingi Dafa langsung pergi begitu saja.
"Dafa, bisakah aku berdansa denganmu? Hanya sebagai teman." Ucap Lola.
"Tidak." Balas Dafa singkat.
"Pfffttt, hahahaha!" Sheila tidak bisa menahan tawanya.
Dafa menghindar dari Lola dan dia melihat Sheila tertawa di sudut ruangan. Dafa lalu mendekat kearah Sheila, dan saat dia sudah berada begitu dekat dengan Sheila, Dafa tampak mematung.
"Ada apa? Apakah aku sangat cantik malam ini?" Ucap Sheila.
"Kau selalu tampak cantik." Ucap Dafa.
'Apa dia baru saja memuji ku? Oh ya Tuhan, aku seharusnya merekam ucapannya itu.' ucap Sheila dalam hati.
Tiba-tiba sebuah musik klasik mulai dimainkan. Semua orang mulai mencari pasangan mereka.
'Aku harus berdansa dengan siapa?' pikir Sheila.
Dafa semakin mendekat kearah Sheila lalu membungkuk dan berkata, "bolehkah aku berdansa denganmu."
"Tentu saja." Balas Sheila.
Sheila melihat ekspresi marah dari wajah Lola yang berada di belakang Dafa. Sheila lalu ingin membuat Lola lebih marah lagi. Dia lalu mencium pipi Dafa. Lola kemudian pergi menjauh dengan suara hentakan heels nya yang terdengar begitu keras di lantai.
Sheila melihat wajah Dafa yang memerah.
Mereka kemudian mulai berdansa. Dafa sangat hebat dalam berdansa.
Saat dansa berakhir semua orang bertepuk tangan.
Sheila tersenyum dan tiba-tiba...
'Byuuurrr!'
Seseorang menyiram air di wajah Sheila dan orang itu adalah Lola.
"Lihat, dia sama sekali tidak cantik. Semua itu karena make up." Teriak Lola.
"Apa kau buta? Sheila malah tampak semakin cantik."
"Dia bahkan tampak lebih seksi sekarang." Ucap para mahasiswa lainnya.
Setelah saat itu, Lola pun menyadari bahwa wajah Sheila tidak berubah sedikit pun.
'Kau mencoba untuk mempermalukan aku hah? Sekarang lihatlah, aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana cara untuk mempermalukan seseorang.'
Sheila mengambil dua gelas air dan menyiram nya ke wajah Lola. Seluruh wajah Lola tampak seperti lukisan yang luntur.
"Kau, beraninya kau!" Teriak Lola.
Rahang Lola mengeras dan semua orang terlihat begitu terkejut. Lola benar-benar berubah menjadi orang lain. Sebenarnya masih cantik, tapi tidak secantik saat dia menggunakan make up.
Bahkan dagunya tampak begitu bengkak. Beberapa mahasiswa berkata, "dia bahkan melakukan operasi plastik.
"Memalukan sekali, dia padahal sudah lumayan cantik. Tapi tetap saja dia melakukan operasi plastik. Keluarganya benar-benar berkuasa."
Lola kemudian berlari menutupi wajahnya. Sheila hanya bisa tersenyum puas.
...****************...
Sementara itu di ruangan lainnya, kontes pasangan terbaik dimulai.
Setelah host memanggil nama Amira dan Ariel, keduanya lantas naik ke atas panggung. Banyak orang yang mendukung mereka.
Ada tiga juri yang akan menilai mereka. Mereka berkata, "kami akan menanyakan beberapa pertanyaan kepada kalian berdua. Dan kalian berdua harus menjawab pertanyaan kami."
Amira dan Ariel mengangguk bersamaan.
"Aku akan menanyakan pertanyaan yang sama kepada kalian berdua tanpa kalian melihat jawaban masing-masing. Nama permainan ini adalah, sejauh mana kau mengenal tentang diriku." Ucap seorang juri kepada mereka berdua.
Bersambung....
*Author Note:
Mohon maaf semuanya jika masih ada yang baca kisah ini, author emang lagi mau menyelesaikan kisah yang udah lama hiatus. Jadi buat kalian yang masih mau baca makasih*... 🙏🙏
__ADS_1
Buat kalian yang mau baca kisah lainnya silahkan....