Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
4. Ariel vs Amira


__ADS_3

Ariel membawa Amira ke taman dan berkata, "apa kau ingat kita bertemu di sini."


"Aku tidak ingat." Balas Amira kepada Ariel dan berjalan keluar dari dalam mobil.


Ariel menarik Amira dari belakang dan berkata, "karena sudah melupakan ku, kau akan dihukum."


Amira menelan ludah dan mendorong Ariel menjauh.


"Apa... apa maksudmu? Kau mesum." Ucap Amira.


Ariel menyeringai dan berjalan mendekat kearah Amira.


"Kau menjauh lah dariku." Ucap Amira berjalan mundur.


Sementara Ariel terus berjalan maju mendekat ke arahnya dan dengan senyuman di wajahnya.


"Aku akan memukulmu. Kau tahu, aku ini bisa berkelahi dengan hebat." Ucap Amira kepada Ariel.


"Benarkah? Kalau begitu coba pukul aku." Ucap Ariel dengan tertawa kecil.


Tepat dibelakang Amira, ada sebuah pohon. Amira jadi tidak bisa mundur ke mana pun lagi. Dia menyandarkan tangannya di pohon dan dia mencoba untuk kabur. Tapi dari sisi lain Ariel sudah memegang kedua tangannya.


Ariel mendekatkan wajahnya ke arah Amira. Amira terus berucap, "aku akan membunuhmu."


Ariel lalu mencium kening Amira. Amira pun menjadi terkejut.


"Apa? Apa kau berpikir bahwa aku akan mencium bibir mu?" Ucap Ariel dengan tertawa kecil.


"Kau bajingand, jangan berpikir dirimu terlalu tinggi." Ucap Amira kepada Ariel.


'Aku memang menyukaimu saat di masa lalu, tapi itu sudah sangat lama sekarang.' ucap Amira dalam hati.


Amira meminta Ariel untuk mengantar nya pulang ke rumah atau dia bisa pulang dengan berjalan kaki.


Ariel pun mengantar Amira ke rumahnya dan berkata, "dalam kehidupan ini, kau tidak bisa berlari menjauh dariku dan sampai ketemu nanti."


Amira menghempaskan pintu mobil Ariel dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Nona, apa anda baik-baik saja?" Tanya pelayan yang sudah menjaga Amira sejak kecil itu.


Amira memeluk pelayan itu dan berkata bahwa dia baik-baik saja.


"Tuan Dafa menelpon, dia bilang kepada Nona untuk segera bersiap siap." Ucap pelayan itu.


"Bersiap untuk apa?" Tanya Amira.


"Hari ini akan ada sebuah pesta dan Nona harus pergi ke sana." Balas pelayan.


Amira menghela napas dan kemudian pergi ke ruangan gantinya.


'Ini adalah ruang ganti dan papa yang membelikan semua ini. Aku sangat merindukan mereka, kapan mereka akan pulang? Sekarang gaun jenis apa yang harus aku kenakan?' ucap Amira dalam hati.


Amira tengah bersiap pergi ke pesta. Di sisi lain Dafa baru tiba dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai, Amira turun ke lantai bawah. Pelayan dan Dafa menatapnya dengan melongo.


"Apa aku terlihat aneh?" Tanya Amira kepada mereka berdua.


"Tidak, kau sangat cantik." Ucap Dafa dan menarik tangan Amira.


"Pesta jenis apa yang harus kita hadiri ini?" Tanya Amira kepada Dafa.


"Emmm... Kau akan tahu nanti." Balas Dafa.


Amira melihat kearah Dafa dengan penuh tanda tanya.


"Ayo cepat." Ucap Dafa.


Pesta itu dihadiri semua selebriti ternama dan Amira pun kembali bertanya kepada kakaknya lagi.


"Kak, apakah ini adalah pesta ulang tahun seorang selebritis?" Tanya Amira.


Dafa menggelengkan kepalanya dan berkata kepada Amira untuk memegang tangannya.


Mereka masuk ke dalam ruangan pesta. Banyak orang datang dan semua mereka berasal dari keluarga kaya. Saat Amira masuk, semua orang mulai melihat ke arahnya.


Seorang selebriti terkenal mendekat kearah Amira dan berkata, "bisakah aku berdansa dengan mu Nona cantik?"


'Bukankah dia itu aktor yang sangat terkenal, David Shawn. Aku baru saja tiba dan sekarang harus berdansa! Itulah kenapa aku tidak suka pesta.' ucap Amira dalam hati.


"Apakah anda merasa tidak nyaman Nona?" Tanya David.


"Emmm tidak." Balas Amira kepada David dan hendak memberikan tangannya.


Tapi kemudian Ariel datang dan langsung menarik tangan Amira dari David.


"Dia adalah pasangan ku." Ucap Ariel kepada David dan menarik Amira dari sana.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Ucap Amira kepada Ariel.


"Apa kau bodoh? Bagaimana mungkin kau berdansa dengan seorang pria asing." Ariel berteriak kepada Amira.


Amira menjadi sedikit takut dan berkata, "lalu apakah aku harus berdansa dengan seorang gadis, dan kau itu bodoh."


'Jadi Tuan Muda Ariel menyukainya? Hmmm.... Tapi dia adalah tipe ku.' ucap David dalam hati.


"Apa yang pria ini pikirkan tentang adikku?" Ucap Dafa bertanya kepada David.


"Hanya memikirkan bahwa dia sangat cantik." Balas David.


'Pria ini sangat bahaya, tapi terlebih dahulu kemana pemuda nakal itu membawa adikku pergi?' pikir Dafa dalam hati.


"Setidaknya lepaskan tanganku." Ucap Amira kepada Ariel.

__ADS_1


'Bahkan jika dia tengah cemburu, bukankah ini terlalu berlebihan. Bahkan aku tidak pernah setuju untuk menjadi kekasihnya. Aku tidak bisa berteriak kepadanya. Aarrgg... Aku berharap bahwa kami akan keluar, maka aku bisa memukulinya. Tapi dia akan terluka, arrgghh terserah.' Amira terus aja mengumpan dalam hatinya.


"Apakah kau tengah berpikir untuk memukuli ku?" Bisik Ariel di telinga Amira.


Amira menjadi merona dan diapun mendorong Ariel.


"Nak, siapa gadis cantik ini?"


Dari arah belakang, Mama Ariel mendekat dan bertanya kepadanya.


"Dia adalah gadis yang selama ini aku bicarakan dengan Mama." Ucap Ariel. "Amira, ini adalah mamaku." Ucap Ariel kepada Amira.


Amira menyapa Mama Ariel dengan sopan. Mama Ariel tersenyum kepada Amira dan berkata, "terima kasih karena sudah menemani putra ku."


'Dia sangat sopan, berbeda dengan mamaku. Tapi mama tetap menyayangiku bahkan walaupun kadang-kadang dia marah kepadaku. Tapi apa maksudnya dengan menemani Ariel? Apakah dia sudah salah paham tentang sesuatu?' pikir Amira.


Ariel berkata, "maukah kau berdansa denganku?"


Amira melihat kearah sekeliling di mana orang-orang tengah melihat ke arah mereka.


'Aku tidak mau berdansa dengan nya, tapi jika mama mengetahui bahwa aku menolak, maka mama akan mengurungku sepanjang hari. Pada akhirnya aku tidak punya pilihan lain selain berdansa dengan iblis ini.' umpat Amira dalam hati.


"Kau berdansa dengan baik." Ucap Ariel.


"Ya tentu saja, aku harus berdansa dengan baik." Balas amira kepada Ariel.


"Aku senang kalau tidak menolak ku." Ucap Ariel.


"Terserah kau saja." Ucap Amira.


"Kau terlihat begitu menggemaskan saat kau marah." Ucap Ariel lagi.


Amira lantas menatapnya dengan tatapan mematikan.


"Tersenyumlah." Ucap Ariel.


Amira memberikan senyuman singkat. Kemudian menginjak kaki Ariel. Ariel berusaha mengontrol kemarahan nya dan berkata, " kau mulai ceroboh dalam berdansa."


"Uppsss... Salahku." Ucap Amira dengan tersenyum kepada Ariel.


David tertawa kecil melihat ke arah mereka berdua.


'Menggemaskan sekali.' gumam David dalam hati.


Dafa melihat kearah David dengan penuh pertanyaan. David lalu melihat kearah lainnya.


'Apakah kita belum juga selesai berdansa? Apakah dia mengambil kesempatan dengan berdansa denganku. Tapi aku bukan gadis lemah, aku juga bisa menunjukkan talenta yang aku punya dengan menginjak kakinya. Hahaha... kapan dia akan kesal. Itu membuatku semakin ingin membuatnya marah.' pikir Amira.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" Ucap Ariel bertanya kepada Amira.


"Bukan urusanmu." Balas Amira.


"Tunjukkan padaku, apa yang kau bisa." Ucap Ariel menantang Amira.


Amira menyeringai, mereka berdua mulai berdansa. Semua orang merasa terpesona kepada keduanya. Mereka tidak berhenti untuk terus menari dengan irama musik yang lebih cepat. Setelah selesai menari, semua orang pun bertepuk tangan.


Amira lalu pergi untuk meminum jus. Ariel mengikutinya dan berkata, "aku lihat kau tampak kelelahan."


Amira kembali marah kepada Ariel.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Amira.


"Ayo kita keluar untuk jalan-jalan. Aku akan menunjukkan mu taman di rumahku." Ucap Ariel.


'Tunggu dulu, jadi ini adalah pestanya dan kakakku... Bagus... sangat bagus... Kak Dafa tidak memberi tahu aku sebelumnya karena dia tahu jika aku mengetahui tentang pesta ini, aku tidak akan mau datang kemari.' ucap Amira dalam hati.


Amira lalu melihat kearah Dafa dan menatapnya dengan tajam. Dafa berkedip dan langsung melihat kearah lain.


"Bisakah kita pergi?" Tanya Ariel kepada Amira lagi.


"Memangnya aku punya pilihan lain." Balas Amira.


Ariel menunjukkan rumahnya dan juga taman kepada Amira. Mereka tengah berjalan perlahan.


"Wow, ini semua terlihat sangat indah." Ucap Amira.


Ariel tersenyum dan melihat ke arah Amira.


"Ayo kita duduk di dekat air mancur." Ariel menarik tangan Amira untuk mengikutinya.


Mereka pergi ke sebuah air mancur, kemudian duduk di sebuah bangku panjang. Amira menutup matanya dan menikmati udara yang terasa sejuk. Ariel tengah menatap dirinya.


"Jangan menatapku, lihat ke arah lain saja." Ucap Amira.


"Matamu tertutup, dan bagaimana kau bisa mengatakan hal itu?" Tanya Ariel kepadanya.


"Aku bisa merasakannya, dasar bodoh." Ucap Amira.


'Apa alasan dari dia meninggalkan kota J. Bukankah perusahaan orang tuanya juga ada disana. Sebenarnya tidak mengapa jika ingin pindah, tapi tetap saja semuanya begitu tiba-tiba. Pasti ada alasan di balik semuanya.' pikir Ariel.


Setelah pesta itu selesai, Dafa dan Amira akhirnya kembali ke rumah.


'Oh benar, aku lupa tentang makan malam dengan senior. Aku akan minta maaf kepadanya besok.' ucap Amira dalam hati.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Ini sudah larut malam dan pergilah tidur." Ucap Dafa kepada Amira.


"Bagaimana dengan kakak? Apa yang akan kakak lakukan?" Tanya Amira kepada Dafa.


"Aku punya pekerjaan yang harus aku lakukan, aku akan menyelesaikannya lebih dulu. Setelah itu aku akan tidur." Balas Dafa seraya mengusap kepala Amira lembut.


Amira naik ke lantai atas menuju kamarnya. Tapi, dia kemudian tiba-tiba berhenti di tangga dan berkata kepada Dafa.

__ADS_1


"Tidakkah kakak berpikir bahwa kakak harus menjelaskan sesuatu kepadaku?" Ucap Amira.


Dafa menatap Amira sesaat dan berkata, "pergilah tidur sekarang."


Amira kembali turun ke lantai bawah.


"Tidak, aku tidak mau kecuali kakak memberi tahu aku alasannya. Kenapa kakak membawa aku ke pesta berandalan itu." Ucap Amira.


"Tidurlah Amira." Ucap Dafa mengusap kepala adiknya itu lembut.


Amira menghela napas dan berkata, "baiklah lupakan saja."


Amira lalu pergi ke kamarnya dan mengganti pakaiannya.


'Perlakuan mamanya sangat manis kepadaku. Dia membuatku makan begitu banyak. Orang mana di dunia ini yang tidak menyukai makanan dan mamaku sendiri, dia selalu merencanakan apa yang harus dimakan. Ah yang benar saja, dia tidak berubah sedikit pun. Tapi satu hal yang berubah dari nya adalah, dia dulu sangat menggemaskan dan sekarang dia bertingkah begitu dewasa. Ah kenapa aku memikirkan bajingand itu. Aku tidak peduli. Mungkin itulah kenapa dia berkata kepadaku saat pagi tadi, sampai berjumpa nanti. Aaah tidak lagi, pergilah kau dari hidupku bajingand.'


***************


Keesokan paginya Amira bersiap untuk pergi ke kampus dan turun kelantai bawah. Pelayan dan Dafa tampak terkejut melihat keadaan Amira.


"Apa yang terjadi dengan matamu? Apakah kau tidak tidur dengan nyenyak?" Tanya Dafa.


"Tunggu sebentar, saya akan membawakan beberapa es." Ucap pelayan itu.


Amira duduk di kursi dan berkata, "ada iblis yang terus saja datang ke dalam pikiranku dan dia tidak membiarkan aku untuk tidur."


Dafa tertawa kecil dan berkata, "cepat habis kan sarapan mu."


'Pada akhirnya pria bodoh itu selalu saja masuk ke dalam pikiranku. Sebenarnya sihir apa yang sudah dia lakukan kepadaku? Bisakah aku memukul nya? Ah, tapi Mama akan membunuhku. Mama ku dan mamanya adalah teman baik di masa lalu. Dulu aku memang tidak sering melihat mamanya. Itulah kenapa aku lupa tentang dia. Tapi di pesta semalam, dia sangat sopan kepadaku, seperti seorang malaikat.' ucap Amira dalam hati.


Setelah selesai sarapan, Amira keluar. Sementara Dafa kembali masuk ke kamar untuk mengambil beberapa file. Pagi ini, dia ada urusan penting di kantor dan suatu kebetulan juga bahwa hari ini jadwal kuliahnya masuk saat siang hari.


"Hai...." Teriak seseorang.


Ariel tengah menunggu di mobilnya di depan rumah Amira.


Amira terbatuk, dia tengah meminum air.


"Apa yang kau lakukan disini?" Teriak Amira kepada Ariel.


Ariel keluar dari dalam mobilnya dan bersandar di mobilnya.


"Aku datang kemari untuk menjemputmu."


Ariel mengedipkan matanya ke arah Amira.


'Pria bodoh ini, dasar tidak tahu malu.' umpat Amira dalam hati.


"Amira, aku punya suatu urusan yang penting dan harus aku lakukan di kantor. Hari ini jadwal ku di kampus juga akan dimulai siang nanti." Ucap Dafa yang baru keluar dari dalam rumah.


Dia melihat bahwa Ariel ada disana dan berkata, "oh bagus sekali, pergilah bersamanya." Ucap Dafa pada sang adik.


Amira berteriak, "tidak... tidak akan pernah."


Dafa menepuk kepala Amira perlahan dan berkata, "jangan berteriak dan pergilah bersamanya. Sepulang dari kampus nanti, kita bisa pulang bersama." Ucap Dafa.


"Jangan khawatir kakakku. Aku kan menjadi pelayannya." Ucap Ariel.


"Aku bukan kakakmu." Ucap Dafa.


'Secepatnya kau akan menjadi kakakku.' ucap Ariel dalam hati dan menyeringai.


Amira pergi dan masuk ke dalam mobil a


Ariel.


"Apakah kau sudah merasa lebih nyaman Nona?" Tanya Ariel.


"Apa kau ingin mati?" Ucap Amira kepada Ariel dengan matanya yang melotot.


Ariel menelan ludah nya dan berkata "maaf maaf."


"Hei, kenapa kau tiba-tiba datang kesini?" Tanya Amira kepada Ariel.


Ariel hanya terdiam dan fokus menyetir.


'Pria ini tidak pernah berubah.' ucap Amira dalam hati.


"Aku datang kemari untukmu." Ucap Ariel.


Amira merasa terkejut dan dia terus melihat wajah Ariel. Ariel menghentikan mobilnya dan mendekat kearah Amira.


"Apakah wajahku setampan itu?" Ucap Ariel.


Amira mendorong ariel dan berkata, "hmmpphh... Aku tidak melihat wajahmu."


"Kau harus meminta izin ke lebih dulu sebelum menatapku." Ucap Ariel dengan tertawa kecil.


Rahang amira mengeras dan berkata kau benar-benar ingin mati."


Ariel tertawa dan berkata, "semua orang menatap kita. Ayo pergi."


Amira tidak menyadari bahwa mereka sudah tiba di kampus dan ada banyak mahasiswa yang melihat kearah mobil Ariel. Amira kini berjalan dengan cepat keluar dari dalam mobil Ariel menuju kelasnya.


"Uuhhh Amira ku sayang, apa yang terjadi?" Tanya Cindy pada Amira.


Amira memutar mata malas dan berkata, "lihat saja nanti."


Amira tersenyum ke arah Cindy.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2