Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Stress Berat


__ADS_3

Izzah masih tak habis pikir mengapa Rayhan bisa setega itu. Dulu Izzah memang pernah dimadu dengan Bella, tapi semuanya sudah dibicarakan baik-baik. Namun sekarang keadaannya berbeda, apalagi wanita yang dinikahi Rayhan begitu muda.


Air mata Izzah kembali berguguran. Nyeri sekali ia rasakan di dadanya. Sesaknya begitu menyiksa. Izzah selalu berharap semuanya hanya mimpi, lalu bangun dan semua kembali seperti dulu. Namun, rupanya itu hanya riak asa yang terlukis di atas genangan air. Dalam satu sentuhan, riak itu hilang.


Arka dan Arsha dari tadi menangis. Bahkan kini suaranya mengalahkan isakan Ibunya. Namun, entah mengapa tangan Izzah enggan meraih. Seperti ada tali yang mengikat hingga tak sanggup terulur.


Mata Izzah terus menatap kedua bayi mungil yang sedang menangis. Semakin keduanya berteriak, Izzah semakin larut di dalamnya. Ada kepuasan tersendiri menyaksikan itu. Seolah tangis itu luapan amarah Izzah.


"Ya Allah, Neng Izzah. Kenapa atuh Neng Izzah. Kenapa itu Arka dan Arsha dibiarkan. Cup, cup, cup, Sayang. Pengen mimi, iya?" ucap Bi Asih yang datang berkunjung bersama Mang Diman.


Pak Haris, Bu Novi dan Mang Diman ikut masuk ke kamar Izzah.


"Mereka haus, Zah. Susui dulu Nak. Kasihan!" ucap Pak Haris.


Izzah tak menyambut bayi yang disodorkan. Kembali hanya ditatap tanpa ada hasrat mengambilnya.

__ADS_1


"Astagfirullah, Neng, Neng Izzah teh kenapa? Arka dan Arsha teh tidak berdosa. Kalau marah pada ayahnya, jangan menimpakan pada anak." ucap Bi Asih.


Pak Haris sudah menceritakan semuanya tentang prahara yang menimpa rumah tangga Izzah dan Rayhan.


"Dengar, apa kamu pikir dengan begini, masalah akan selesai? Kamu menderita, Si Rayhan malah senang-senang sama istri barunya. Rugi! Rugi!" bentak Bu Novi yang ikut bersuara.


"Anak adalah titipan Allah. Dia mahluk paling lemah. Mau Neng Izzah siksa atau bunuh, mereka gak akan bisa melawan. Jangan sampai Neng Izzah menyesal saat Allah mengambil kembali sebab kita tak amanah menjaganya," terang Bi Asih dengan suara amat tenang.


"Neng Izzah yang Mamang kenal dulu tidak seperti ini. Dulu Neng Izzah begitu kuat, tegar, menghadapi segala masalah." sambung Mang Diman.


Izzah hanya menunduk dan meremas pakaian. Satu, dua tetes buliran bening mulai berjatuhan.


Pak Haris menyelipkan tubuh Izzah di kedua lengannya. Izzah tergugu dan meluapkan segala emosi duka lara.


"Sabar, Nak. Allah tidak tidur. Bahagia dan duka itu dipergilirkan," bisik Pak Haris sambil mengusap punggung Izzah.

__ADS_1


Dalam dekapan ayahnya, tangisan Izzah mengencang.


"Maafkan, Bunda Sayang!" ucap Izzah kepada kedua bayinya.


Tergopoh, Izzah menyongsongnya.


Diciuminya berulang-ulang pangeran dan putri kecilnya. Air mata Izzah dan air mata kedua bayinya bersatu padu. Menit berikutnya kedua bayi itu amat antusias menikmati haknya.


**************


"Temui Rayhan Dengarkan penjelasannya. Setelah itu silakan putuskan apakah akan bertahan atau berpisah!" titah Pak Haris pagi itu.


Entah keberapa kali, Rayhan datang. Ia kukuh ingin bertemu dan bicara dengan Izzah. Namun, Izzah pun teguh tak mau melihatnya.


"Zah, seseorang itu pasti punya alasan ketika dia melakukan sesuatu. Apalagi ini hal yang sangat penting dalam kehidupan," lanjut Pak Haris.

__ADS_1


Semalaman Izzah berpikir, dan pada akhirnya Izzah memutuskan untuk memberikan Rayhan kesempatan untuk bertemu dan menjelaskan semuanya.


Bersambung........


__ADS_2