
Seminggu berlalu, kehidupan Izzah kembali normal seperti biasa. Meski terkadang bayangan akan Zahra selalu hadir dibenaknya. Luka bekas jahitannya pun sudah mulai kering karena obat yang rutin dia konsumsi.
Rayhan juga tak pernah kembali ke rumahnya, dia lebih memilih tinggal bersama Izzah di rumah mang Diman. Hubungannya dengan Izzah agak sedikit berbeda. Mereka lebih banyak diam, berbicara hanya seperlunya.
Rayhan masih tidak bisa menerima keputusan Izzah karena telah melepaskan bu Ros begitu saja dari tanggung jawabnya. Tapi tetap saja, sebisa mungkin Rayhan terus mencoba agar Izzah bisa tersenyum kembali.
Seperti hari ini, Rayhan tengah mempersiapkan kejutan untuk Izzah. Semua orang terdekat Izzah diberi tahu, termasuk pak Haris, ayah Izzah. Rayhan telah memerintahkan orang suruhannya untuk menjemput pak Haris di kampung.
Pak Haris mengajak serta bu Novi dan Hani, namun karena bu Novi berpikiran negatif dia menolak untuk ikut dengan alasan tidak enak badan.
Mobil yang menjemput pak Haris pun melaju meninggalkan perkampungan.
"Bu kok kita gak ikut sih sama ayah?" tanya Hani.
"Kalau kamu mau pergi ya udah sana kejar ayahmu. Yang jelas ibu gak mau." jawab bu Novi.
"Jelas aja Hani gak mau pergi kalau ibu juga gak pergi. Tapi kenapa sih ibu gak mau ikut ayah? Padahal kan lumayan bu kita bisa jalan-jalan ke kota." lanjut Hani.
"Ibu punya firasat buruk, takut kalau Izzah mau membongkar kejahatan ibu yang sudah menjual dia di kota dulu."
"Aaahh ibu si..." ucap Hani melenggang pergi meninggalkan bu Novi masuk ke kamarnya.
Sementara itu, Rayhan tengah sibuk mengatur semuanya.
"Lis, semuanya harus berjalan lancar ya. Jangan sampai ada hambatan atau gangguan." ucap Rayhan.
"Siap pak Rayhan." canda Lisa dengan mengangkat tangannya hormat kepada Rayhan.
__ADS_1
"Kamu ada-ada saja." ucap Rayhan.
Keduanya pun tertawa. Sore hari menjelang maghrib, Rayhan menjemput Izzah dari rumah mang Diman. Mang Diman dan bi Asih sedang tak ada di rumah.
"Mang Diman sama bi Asih kemana sayang?" tanya Rayhan pura-pura.
Padahal sebenarnya mang Diman dan bi Asih ikut terlibat dalam acara kejutan untuk Izzah yang disiapkan Rayhan.
"Tadi katanya mau ke rumah Lilis bang." jawab Izzah seadanya. "Kita mau kemana?" lanjut Izzah bertanya.
"Nanti, Izzah juga akan tau. Sekarang abang minta Izzah matanya ditutup dulu ya." ucap Rayhan dengan menunjukkan sebuah syal untuk menutup mata Izzah.
"Kenapa harus tutup mata bang?" tanya Izzah.
"Ini kejutan sayang. Abang mohon yaa, pleasee."
Rayhan lalu menutup mata Izzah dengan syal itu. Kemudian menuntun Izzah untuk masuk ke dalam mobil.
Dalam mobil Izzah hanya duduk diam tak berbicara sepatah katapun. Mobil melaju tak sampai lima menit, lalu berhenti. Hal tersebut membuat Izzah bingung.
"Kenapa berhenti bang?" tanya Izzah.
"Kita sudah sampai." ucap Rayhan.
"Sampai? Kenapa cepat sekali? Memang kita kemana?"
"Iihh bawel, sudah ayo turun sayang." ucap Rayhan sambil menuntun Izzah turun dari atas mobil.
__ADS_1
Mobil Izzah berhenti di depan sebuah rumah terlihat begitu mewah. Rumah itu ialah rumah impian Izzah. Sebenarnya Izzah ingin rumah yang sederhana, namun Rayhan yang awalnya menyerahkan urusan model rumah mereka kepada Izzah akhirnya protes.
Rancangan rumah yang Izzah berikan tak sesuai dengan perumahan yang ada di kota. Rayhan menganggapnya terlalu kuno. Dan akhirnya Izzah pun setuju. Namun soal interior dalam rumah, Rayhan menyerahkan sepenuhnya pada Izzah.
Semua orang, teman-teman Izzah, mang Diman dan bi Asih dan yang teristimewa ayah Izzah berdiri di depan rumah menyambut kedatangan Izzah.
Pernak-pernik lampu hias, kertas-kertas pita warna warni serba bunga-bunga mengiasi halaman depan rumah Izzah. Dengan balon foil membentuk kata Welcome Home, dengan masing-masing orang memegang dua huruf serta sebuah balon berbentuk hati bertuliskan nama Izzah.
Untuk balon foil dengan kata "Welcome" dipegangi dokter Harun, Lisa, Intan dan Ifan. Untuk kata "Home" dipegangi oleh mang Diman dan bi Asih. Sementara balon bertuliskan nama Izzah dipegangi pak Haris, ayah Izzah.
"Sudah siap sayang?" tanya Rayhan memegangi pundak Izzah.
"Ya bang." jawab Izzah.
"Satu, dua, tiga..." ucap Rayhan sambil membuka penutup mata Izzah.
"Surprise...." teriak semua orang.
Izzah kaget mendengar teriakan semua orang namun dia masih mengucek-ucek matanya. Saat penglihatannya sudah jelas, terlihat raut wajahnya yang terkejut. Air mata luruh melihat sosok ayahnya berada dihadapannya. Seketika Izzah menghampiri ayahnya dan memeluknya.
"Loh..loh kok malah nangis, ayah disini bukan mau lihat Izzah nangis. Ayah jauh-jauh dari kampung pengen liat Izzah bahagia." ucap pak Haris.
"Ini air mata bahagia ayah." balas Izzah.
Semua orang terharu melihat kedekatan Izzah dan ayahnya. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah Izzah. Izzah begitu sumringah, raut wajahnya telihat begitu bahagia.
Terima kasih atas senyuman itu sayang, gumam Rayhan.
__ADS_1