
Rayhan terlihat menuntun wanita itu turun dari dalam mobil. Mereka terlihat bicara sesuatu, lalu Rayhan menuntun wanita itu ke arah Izzah.
Suara jantung Izzah makin kencang saat keduanya makin dekat. Wanita berperawakan langsing itu pun sepertinya mengalami hal sama. Tangan yang warna kulitnya hitam itu terlihat bergetar saat ia meremas pakaian.
"Assalamualaikum, semuanya!"
Salam Rayhan mengembalikan Izzah ke alam sadar. Fokus Izzah pada wanita itu buyar, kini beralih menatap Rayhan.
"Assalamualaikum, Mba!" ucap wanita yang kini mengarahkan matanya pada Izzah, tapi tatapannya kosong.
"Maaf Zah, Abang langsung datang. Abang bawa Ana agar kita bisa bicara lebih jelas."
Mang Diman dan Bi Asih ikut masuk ke dalam saat Rayhan menuntun Izzah masuk ke dalam rumah. Setelah mendudukkan Izzah, lantas Rayhan bergegas keluar, semenit kemudian sudah kembali membawa Ana masuk.
Mang Diman dan Bi Asih ikut duduk di ruang tamu sambil memangku Arka dan Arsha. Pak Haris dan Bu Novi menyusul keluar rumah saat di panggil Rayhan.
Bu Novi mengambil Arsha dari Mang Diman untuk di pangku. Izzah memandang ke arah istri kedua Rayhan. Wanita itu menunduk sambil meremas pakaian.
Lalu Izzah mengamati wajah wanita yang mulai terangkat itu. Tatapan matanya kosong. Wanita itu tidak terlalu cantik, tubuhnya kurus dan berkulit hitam.
Semua bayangan tentang wanita kedua yang pernah melintas di kepala Izzah, kini musnah. Wanita itu tak seperti di cerita pelakor yang cantik, muda dan seksi. Sama sekali tidak! Penampakan itu jauh sekali dari gambaran wanita idaman laki-laki.
Suasana berubah tegang serupa sidang pengadilan.
Rayhan mengawali ucapan dengan memperkenalkan Ana. Wanita itu menyedekapkan tangan dan mengangguk. Namun, tatapannya entah ke arah mana.
Sebelum Rayhan melanjutkan ucapan, Bi Inah datang membawa nampan berisi minuman dan sepiring gorengan.
__ADS_1
Sepertinya Rayhan dan Ana kehausan sebab Rayhan langsung meraih minuman. Namun, Ana tak melakukan hal sama. Mata Izzah jadi lebar saat Rayhan mengambilkan minuman untuk Ana.
Bisa-bisanya mereka bermesraan di hadapanku.
Tapi, emosi Izzah yang akan bangkit jadi tertahan sebab melihat tangan wanita itu salah meraih gelas. Lalu Rayhan meletakkan pada tangannya, barulah ia minum
Apa dia buta? gumam Izzah.
"Rayhan coba atuh dijelaskan kenapa bisa jadi seperti ini? Masa dari dulu permasalahan rumah tangga kalian berdua poligami terus? Gak bosen ya poligami?" sindir Mang Diman.
Rayhan menghela nafas panjang.
"Lama-lama Mamang teh bosan atuh sama Nak Rayhan, gak ada habisnya nyakitin Neng Izzah." lanjut Mang Diman.
Semua orang menatap ke arah Rayhan, menununggu jawabannya.
Motor yang dikendarai Ana ditabrak oleh Bu Ros. Hingga dia terpental jauh membuat kepalanya mengalami benturan keras yang mengganggu saraf penglihatannya.
Tiba-tiba Bu Mila datang ke rumah Izzah dan langsung bergabung bersama mereka.
"Maaf semuanya, saya datang kesini murni ingin menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi antara Rayhan dan Izzah." ucap Bu Mila.
"Saya berada bersama Bu Ros di dalam mobil saat kecelakaan itu terjadi. Saya lah yang membantu membawa keduanya ke Rumah Sakit karena kebetulan lokasi kecelakaan itu di tempat yang sepi" lanjut Bu Mila.
Bu Mila kemudian menceritakan bahwa keluarga Ana hendak menuntut Bu Ros ke ranah hukum. Namun dengan segala cara Rayhan minta damai pada keluarga Ana, keluarga Ana akhirnya luluh dengan syarat Rayhan bersedia menikahi Ana.
"Menurut Dokter, Ana akan mengalami kebutaan permanen. Keluarga berpikir takkan ada laki-laki yang mau padanya." ucap Bu Mila lagi.
__ADS_1
Bu Mila mengatakan pernikahan di selenggarakan seminggu setelah kecelakaan yang dialami Bu Ros. Itu terjadi sebab paman Ana yang merupakan preman mengancam akan memenjarakan Bu Ros, jika Rayhan tak jadi menikahi Ana.
"Itulah kenyataannya Zah. Abang tak pernah dengan sengaja mengkhianati pernikahan kita. Hanya saja, tak mungkin melihat Umi dipenjara. Dan sebagai manusia Abang tak tega menyaksikan Ana akan dibuang oleh keluarganya dan harus menanggung cacat seumur hidupnya."
Rayhan terisak, begitu juga Ana. Sedangkan Pak Haris terdengar menghela napas dalam berkali-kali. Sementara yang lainnya terlihat terenyuh mendengar segala penuturan Rayhan. Tanpa ada yang menyadari Bu Mila tersenyum penuh kelicikan.
"Kalau Mba tak rela, saya tak apa diceraikan sekarang juga. Saya sudah berulang kali bilang pada paman untuk tak memaksa, tapi beliau malah memukul tiap saya bicara. Katanya ia takut saya tak ada jodoh dan akan mempermalukan dan menyusahkannya seumur hidup."
Izzah sama sekali tak dapat berkata apa-apa. Izzah terdiam seribu bahasa.
Rayhan kemudian meminta bicara empat mata dengan Izzah.
"Kalau gitu biar saya yang bawa Ana pulang." ucap Bu Mila.
Rayhan menuntun Izzah setelah Ana pergi bersama Bu Mila. Sesampainya di kamar, Rayhan dan Izzah duduk bersisian di tepi ranjang. Untuk beberapa saat, hanya isakan yang terdengar di ruangan.
Rayhan merengkuh tubuh Izzah. Ia mengusap punggung dan mengecup puncak kepala Izzah berulang-ulang. Izzah tak tahu apakah harus membenci atau merelakan keadaan.
Dalam dekapan Rayhan, hati Izzah yang keras, luluh lantak. Amarah yang menggelegak itu ternyata bukan karena kebencian, tapi lebih sebab cinta terdalam.
Aku tak mungkin, dan tak bisa kehilangan Bang Rayhan. Namun, ikhlas itu belum juga terpatri.
Rayhan melepas pelukan, ia menggenggam tangan Izzah dan memciuminya. Lalu, mata yang sudah menyipit akibat banyak menangis ini jadi melebar kala lelaki itu berlutut di hadapan Izzah.
"Cinta Abang pada Izzah tak pernah berubah, bahkan selalu bertambah. Abang tak pernah terpikir mengkhianatinya. Izzah boleh membenci Abang, tapi jangan meninggalkan Abang. Jangan, Abang bisa mati, Sayang!"
Rayhan memeluk lutut Izzah, ia menelungkupkan wajah di atasnya. Lelaki itu menangis kembali di sana. Hati Izzah berkata itu bukan kepalsuan. Jiwanya terguncang seperti yang terjadi pada jiwa Izzah.
__ADS_1
Mengapa? Mengapa ujian lagi-lagi datang. Seberat ini ujian cinta kami?