
Sekitar pukul sembilan malam acara selesai. Devan hendak pulang, tetapi ditahan Izzah karena mau dibawakan hasil bakaran tadi plus sedikit kue..
"Kasih ke Devan, Sha." Izzah menyodorkan bungkusan ke arah Arsha.
Sementara Nabila, sudah pulang terlebih dahulu, awalnya Rayhan meminta Arka mengantarnya. Namun, Nabila menolak dengan alasan ia membawa motor sendiri, rumahnyapun tak terlalu jauh.
Arsha mengambil bungkusan itu lalu segera keluar.
"Kamu benar-benar serius sama Arsha?" Suara Rayhan yang terdengar dari teras, menghentikan langkah Arsha untuk keluar.
"Iya, Pak."
"Arsha putri kesayangan kami. Tidak mudah mendapatkannya dulu, butuh waktu dan ikhtiar sampai akhirnya ia dan Arka hadir di kehidupan kami." ucap Rayhan.
Dada Rayhan kembali sesak mengingat bahwa sebelum kelahiran Arka dan Arsha, ia dan Izzah pernah kehilangan seorang puteri kecil mereka, Zahra.
"Arsha gadis yang sangat cantik, bahkan paling cantik bagi kami. Jika nanti kalian bersama, saya harap kamu juga akan menganggap Arsha cantik, meski fisiknya akan berubah seiring waktu. Tapi saya jamin, hatinya tetap akan cantik, bahkan akan semakin cantik. Karena cantik hatinya itulah yang membuat ia disayangi banyak orang." lanjut Rayhan.
Suasana sunyi beberapa saat.
"Arsha memang cantik, Pak. Dari dulu, sekarang, bahkan nanti," ucap Devan yang membuat senyum terukir di bibir Arsha..
"Neng, ngapain senyum-senyum sambil ngelus-ngelus pintu. Ini bukan malam Jumat, jangan kumat dulu, Neng." Suara Mang Diman membuat Arsha gelagapan, tersadar kalau tangannya sedang mengelus-elus pintu.
"Kenapa, Sha?" Kali ini suara Rayhan yang membuat Arsha salah tingkah.
__ADS_1
"Ini loh Neng Arsha.... Laghmsmsmfmmmm ...." Mang Diman bicara tidak jelas karena mulutnya dibekap Arsha.
"Diem dong Kek!" ucap Arsha. "Nanti Arsha ajarin tik-tok lagi. Sekalian nanti Arsha kenalin sama Vita." bisik Arsha.
"Arsha, kasihan tuh kakek. Kenapa mulutnya dibekap begitu." ucap Rayhan.
Akhirnya Arsha melepaskan bekapan itu.
"Neng Arsha teh, mau bunuh kakek ya. Kakek teh gak bisa nafas." ucap Mang Diman.
Arsha menunduk dan mengatupkan tangannya.
"Ada-ada saja." ucap Rayhan seraya masuk ke dalam rumah.
"Awas aja kalau Neng gak jadi ngajarin Kakek main tik-tok." bisik Mang Diman.
"Makasih, Sha," ucap Devan sambil tersenyum.
Manis banget, ya, Allah.
"Iya." balas Arsha.
"Aku balik, ya," ucap Arsha sembari naik ke motor dan memakai helm.
Arsha mengangguk. "Mmm ... besok aku longgar, siapa tahu kakakmu juga longgar."
__ADS_1
Sebelumnya Devan sudah meminta untuk mengajak Arsha bertemu dengan kakaknya.
Devan menatap Arsha beberapa saat. "Serius?"
"Tapi ini bukan berarti aku nerima, cuma pengen kenal aja sama kakakmu. Dan kalau besok bisa, nanti aku yang tentukan tempatnya, boleh?"
"Bolehlah. Apa sih yang nggak boleh buat kamu."
Dih, gombal!
"Ya udah, aku masuk. Hati-hati di jalan."
Devan mengangkat jempol, lantas Arsha berbalik dan berjalan ke teras.
"Lho, malah nggak dibawa bungkusannya." Arsha mengambil bungkusan dari Izzah untuk Devan tadi dan bergegas kembali ke depan.
Niatnya mau langsung ngasih ke Devan, tetapi langkahnya terhenti saat melihat sosok Devan tengah bergoyang-goyang.
Arsha mendekat sambil berdeham.
"Eh, Sha?" Seketika goyangannya langsung terhenti dan ia kembali duduk di motor.
"I-ni ketinggalan." Arsha menyodorkan bungkusan dari Izzah tadi dengan sedikit canggung.
"Oh, iya, kelupaan. Makasih."
__ADS_1
Devan pun kembali berpamitan sambil menyalakan mesin, lalu melaju pergi.
"Bisa-bisanya dia goyang gini tadi." Arsha berjalan masuk sambil menirukan goyangan Devan tadi dengan tertawa.