Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
9. Taman Bermain


__ADS_3

Arka, Alia dan Dafa turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama.


"Dafa, apa kau ingin pergi keluar hari ini?" Tanya Arka dengan tersenyum.


"Iya mau." Balas Dafa dengan penuh keceriaan.


Arka berkedip ke arah Dafa dan tersenyum.


"Mama ayo kita pergi." Ucap Dafa dengan penuh keceriaan.


"Tidak sayang, Mama harus bertemu seseorang hari ini." Ucap Alia dan berdiri dari meja makan.


"Mama kumohon." Ucap Dafa memegang baju yang dikenakan Alia dari belakang dan berucap dengan matanya yang berbinar.


Alia berkedip dan tampak berpikir.


'Bagaimana aku bisa menolaknya sekarang, jika dia menampilkan wajahnya yang begitu menggemaskan. Kalau begitu aku akan bicara dengan Morgan dan memberitahunya bahwa aku tidak bisa untuk ikut dengannya untuk memberikan kejutan kepada Kak Mia beserta orang tuanya.'


"Baiklah." Ucap Alia seraya mengusap rambut Dafa.


"Yaaaaaaiiii...!!!" Sorak Dafa.


Dafa berdiri di atas kursi dan melompat penuh kebahagiaan.


Melihat Dafa yang bertingkah tidak hati-hati, Alia dan Arka mereka berdua tampak begitu khawatir. Arka bergegas pergi ke sisi sebelah kanan Dafa sementara Alia berdiri disebelah kiri Dafa.


Mereka berdua memegang Dafa untuk melindunginya agar tidak terjatuh yaitu dengan cara kedua tangan mereka bersentuhan satu sama lain.


Alia dan Arka melihat satu sama lain dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Sementara Dafa merasa begitu bahagia.


'Untukmu semua ini hanyalah sandiwara, tapi kenapa aku merasa seperti sesuatu yang lainnya.' ucap Alia dalam hati dan melihat ke arah mata Arka.


Arka sendiri juga melihat ke arah mata Alia.


'Jika aku bertemu denganmu lebih dulu, maka aku pasti akan jatuh cinta kepadamu.' ucap Arka dalam hati.


Alia kemudian tiba-tiba memindahkan tangannya dan bertanya kepada Dafa.


"Kesayangan Mama, kira-kira mau pergi ke mana?"


Sementara Arka langsung berbalik.


"Pergi ke taman bermain." Balas Dafa dengan tersenyum.


"Taman bermain!" Ucap Alia lagi dan menggendong Dafa di lengannya.


"Iya!" Balas Dafa dan langsung memeluk Alia.


Dafa memberikan jempolnya ke arah Arka dan tersenyum.


'Dafa benar-benar ingin kita semua untuk pergi bersama. Tapi aku rasa dia membenciku.' Ucap Arka dalam hati dan merasa sedikit sedih.


Alia membawa Dafa pergi ke kamarnya untuk menyiapkan dirinya. Sementara Arka sendiri juga pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya.


Saat berganti pakaian, Arka mendapat telepon dari Izzah.


"Assalamualaikum..." Ucap Arka.


"Waalaikumsalam..." Balas Izzah. "Ka, lagi dimana Nak? Gak mau ajakin Dafa sama mantu Ibu ke rumah gak? Ibu kangen sama cucu Ibu yang ganteng itu." Lanjut Izzah.


"Mmmmmm... Maaf Bu, tapi hari ini Dafa ingin pergi ke taman bermain. Sekarang dia dan Mama nya sedang bersiap-siap. Hmmmm bagaimana kalau setelah pulang dari sana, nanti kami akan mampir." Balas Arka.


"Oh ya sudah Nak, kalau begitu hati-hati ya. Bersenang-senanglah, jangan lupa mampir. Ibu akan masakin makan malam spesial buat kalian."


"Bu, gak usah repot begitu. Ibu seharusnya...."


"Sudah, Ibu gak mau tahu dan gak mau nerima alasan apapun. Pokoknya kalian harus makan malam disini. Titik."


Arka menghela napas dan tersenyum.


"Baiklah Bu, kami akan mampir. Tapi ingat, jangan memaksakan diri Ibu ya."

__ADS_1


"Iya Nak, Ibu tunggu ya."


Setelah itu sambungan telepon terputus. Arka lalu keluar dari dalam kamar menuju lantai bawah.


Setengah jam kemudian, Alia dan Dafa akhirnya turun kebawah. Alia memegang tangan Dafa dan berjalan ke bawah dan melihat Arka sudah berada di bawah menunggu mereka. Arka melihat ke arah Alia, ia bahkan tak berkedip dan karena hal itu membuat Alia tampak memerah di pipinya.


'Dia sangat cantik.' ucap Arka dalam hati dan berjalan mendekat ke arah mereka.


Arka tersenyum kearah Alia yang mana hal itu semakin membuat Alia terkejut.


"Kau terlihat...."


Arka hendak mengatakan sesuatu seraya melihat kearah Alia. Dan entah kenapa Alia mulai merasa bahagia.


Tapi kemudian Arka berjongkok ke arah Dafa dan mengangkat tubuh Dafa kemudian menggendongnya.


"Sangat tampan." Ucap Arka kepada Dafa dan kemudian mencubit pipi Dafa.


Alia menjadi kesal karena dia pikir bahwa Arka akan mengatakan bahwa dirinya yang cantik.


"Aaahh jangan cium aku." Ucap Dafa seraya mengusap pipinya dimana Arka telah menciumnya.


"Kenapa?" Tanya Arka dengan wajah yang tampak sedih.


"Karena kumis papa menyakiti aku, itu sangat tajam. Dan Papa harus tahu, hanya mama yang boleh mencium aku. Aku ini sudah menjadi milik Mama." Ucap Dafa yang membuat Arka tidak dapat berkata apa-apa, sementara Alia merasa begitu bahagia.


Alia langsung tertawa dan kemudian mengambil Dafa dari gendongan Arka dan kemudian menciumnya di pipinya yang lainnya.


"Mama sangat mencintaimu sayang." Ucap Alia dengan tersenyum.


'Aku merasa begitu bahagia sekarang. Kau sendiri yang membawa semua topik pembicaraan ini. Sekarang kau tahu siapa yang paling dicintai Dafa. Hmmmpphhh....'


Ucap Alia dalam hati dan tersenyum sementara Arka begitu kesal.


"Aku baru saja memotong nya hari ini." Ucap Arka kepada Dafa dengan memegang kumisnya dan wajahnya terlihat begitu serius.


Sementara Dafa membalikkan wajahnya tanpa mengatakan apapun.


Dan kemudian mereka bertiga berjalan keluar rumah. Alia hendak duduk bersama Dafa, tapi Arka meminta dia untuk duduk bersamanya di kursi depan.


"Tapi aku mau duduk bersama Dafa." Ucap Alia.


"Dan aku tidak mau merasa seperti menjadi seorang supir." Balas Arka dengan tatapan mata yang kesal.


Alia melihat kearah Arka dengan ekspresi yang serius dan kemudian duduk di kursi depan setelah memasangkan sabuk pengaman untuk Dafa.


'Dia duduk bersama ku.' ucap Arka kepada Dafa melalui matanya yang melihat melalui kaca dengan wajahnya yang tersenyum.


Sedangkan Dafa melipat tangannya di dada.


'Sangat sulit untuk memahami dirinya. Dia yang sudah mendorong aku untuk mendekatinya lebih dulu. Dia seolah meminta ku mencoba untuk menggantikan posisi istri pertamanya dan kemudian dia akan bertingkah begitu penuh perhatian, tapi dilain waktu, dia bisa melakukan hal yang membuat aku sakit hati. Sekarang, apa yang harus aku lakukan?' ucap Alia dalam hati dan merasa kesal dan dia tidak senang tentang hal itu.


"Malam nanti, kita akan mampir ke rumah Oma. Oma akan memasak makanan kesukaan Dafa. Gimana menurut Dafa, mau tidak?" Tanya Arka yang tetap fokus menyetir.


"Tentu saja mau Pa." Balas Dafa begitu senang.


>>>> >>>> >>>> >>>> >>>>


Setelah 1 jam, mereka akhirnya tiba di taman bermain. Di sana sudah begitu ramai, ada banyak orang yang tengah berkumpul di sana. Sementara kebanyakan orang lainnya yang tengah menikmati waktu mereka bersama anak dan istri mereka.


"Woooww..." Ucap Dafa setelah melihat sebuah kendaraan besar dari luar.


Alia memegang tangan Dafa dan berkata, "ayo pergi, apakah kita harus ke sana?"


"Yes..." Balas Dafa dengan penuh keceriaan.


"Berhati-hatilah, jangan sampai tersesat." Ucap Arka dan sudah membelikan tiket untuk mereka.


"Iya." Balas Alia seraya melihat ke arah Dafa.


"Aku memperingatkan mu." Ucap Arka seraya tertawa dan berjalan masuk kedalam taman bermain.

__ADS_1


'Apa? Yang benar saja? Aku bukan ini anak kecil!'


Ucap Alia dalam hati dan tampak kesal karena ucapan Arka.


Alia kemudian mengikuti Arka seraya memegang tangan Dafa. Matanya begitu bersinar setelah melihat ada banyak wahana yang bisa dinaiki dan berbagai macam makanan yang berderet disana.


"Mama..... Ada permen kapas." Ucap Dafa dan tampak begitu sangat bahagia.


Alia tersenyum kearah Dafa dan menggendong nya di lengannya.


Sebelum Alia bisa pergi dan membelikan permen kapas itu untuk Dafa, Arka sudah lebih dulu membelikan itu untuk mereka berdua.


"Yaaaaiii... Terima kasih Papa." Ucap Arka dan mengambil satu buah permen kapas dari tangan Arka.


Arka tersenyum dan kemudian memberikan permen kapas yang satunya kepada Alia.


"Aku bukan anak kecil." Ucap Alia dan membalikkan wajahnya ke arah lainnya.


Arka tertawa dan berkata, "siapa yang bilang bahwa hanya anak kecil saja yang boleh memakan ini?"


Alia tetap terdiam dan tidak sedikitpun melihat ke arah Arka.


"Tidak masalah jika kau tidak menginginkannya." Ucap Arka dan hendak menggigit sedikit permen kapas itu, tapi kemudian Alia langsung merebut nya dari tangan Arga dan berkata,


"Ini sejak awal kau berikan untukku. Jadi aku akan memakannya.


Arka tertawa dan kemudian sibuk l


Dafa ingin menaiki roller coaster tapi Alia menolaknya dan akhirnya membuat Dafa menaiki komedi putar. Pada awalnya Dafa sangat sedih tapi kemudian menjadi bahagia ketika komedi putar itu mulai berputar.


Bagi Alia, begitu menyenangkan hanya untuk melihat Dafa yang bahagia. Alia dan Arka berdiri bersama dan tersenyum melihat kearah Dafa.


"Terima kasih." Ucap Arka melihat kearah Alia dengan mata yang menyelidik.


"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Alia.


"Apa kau punya masalah pendengaran atau kau memang suka untuk mengganggu aku?" Ucap Arka bertanya kepada Alia.


"Aku hanya terkejut." Balas Alia.


"Ini hanya kata-kata yang biasa disebutkan." Ucap Arka.


"Tidak terbiasa bagi seseorang sepertimu." Balas Alia dan tertawa.


"Apa maksudmu dengan seseorang seperti aku?" Tanya Arka seraya menaikkan alisnya yang sebelah kanan.


"Maksudnya adalah, tidak biasa untuk orang yang pintar sepertimu." Ucap Alia dan melambai ke arah Dafa semenjak Dafa melambai ke arahnya seraya tertawa dan menikmati dirinya yang duduk di atas sebuah kuda yang berputar.


Arka memegang tangan Alia dan menariknya mendekat ke arahnya.


"A... Apa!!" Ucap Alia dan tampak terkejut.


"Jadi bagaimana pendapatmu tentang aku?"


Arka memegang tangan Alia dengan kuat dan menariknya mendekat ke arahnya. Alia merona dan membiarkan tangannya berada di dada Arka. Mata Alia berputar sementara Arka tidak bisa menghentikan dirinya untuk tertawa.


Alia hanya terdiam, dia tidak bisa mengatakan satu kata pun karena mata Arka terus menatap alia.


"Aku...." Alia hendak mengatakan sesuatu, ketika ada Dafa datang berlari ke arah mereka dan berdiri di antara mereka berdua. Alia merasa malu sementara Arka terlihat begitu tanpa kesal.


Dafa memeluk mereka berdua secara bersamaan dan berkata Mama Papa.


Alia menyentuh kepala Dafa dan berkata, "pelan-pelan saja, Mama akan datang sebentar lagi." Ucap Alia dan dengan cepat pergi ke suatu tempat dimana hanya ada beberapa orang yang berjalan.


"Papa, apa yang terjadi dengan Mama?" Tanya Dafa seraya menarik pakaian Arka.


"Mama tengah malu." Ucap Arka dengan tersenyum.


Dafa tidak dapat mengerti. Jadi dia hanya menggelengkan kepalanya karena kebingungan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2