
Mang Diman dan bi Asih tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruangan tempat Zahra dirawat. Saat mereka masuk ruangan terlihat Izzah tengah menggendong Zahra dalam pelukannya.
"Eh bi Asih sama mang Diman datang ya, ayo sini lihat Zahra dia cantik kan bi. Zahra sayang lihat siapa yang datang nengokin kamu nak." ucap Izzah.
Bi Asih tak kuasa menahan air matanya.
"Ya Allah neng, nyebut neng, nyebut." ucap bi Asih memegang bahu Izzah.
Rayhan tak sanggup melihat Izzah seperti itu, dia memutuskan untuk keluar ruangan disusul mang Diman.
Rayhan menangis meratapi nasib yang terjadi padanya.
"Ya Allah kenapa semua ini harus terjadi." isak Rayhan.
"Nak Rayhan, tegarkan hatimu. Jangan terlalu larut, mamang mengerti perasaanmu. Tapi lihatlah kondisi neng Izzah, seharusnya kamu bisa lebih kuat. Agar bisa menyemangati neng Izzah, jangan malah seperti ini. Semua ini sudah takdir dari Allah, sabar dan tawakkallah nak." ucap mang Diman mengelus punggung Rayhan.
"Mamang benar, seharusnya aku bisa lebih tegar. Masih ada Izzah yang harus aku jaga. Insyaallah aku sudah ikhlas mang atas kepergian Zahra" ucap Rayhan.
Sementara didalam ruangan, Izzah masih saja tak dapat menerima kepergian Zahra.
"Neng, Zahra teh sudah gak ada. Neng harus...."
"Gak bi, Zahra masih hidup bi. Dia gak mungkin meninggal bi. Barusan dia masih bernapas bi." ucap Izzah.
"Nyebut neng. Lihat bibi neng, jangan seperti ini. Kasihan Zahra neng, ikhlaskan neng. Biar Zahra teh tenang disana neng." isak bi Asih.
__ADS_1
"Tapi bi..." isak Izzah.
"Neng dengerin bibi, ini semua sudah takdir dari Allah. Neng Izzah harus sabar dan ikhlas menerima semua ketentuan dari Allah. Insyaallah akan ada kebahagiaan lain yang menanti neng dimasa depan." lanjut bi Asih.
Izzah lalu berjalan menuju ranjang tempat awalnya dia berbaring saat dirawat. Izzah lalu meletakkan Zahra di atas ranjang.
"Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa menjagamu. Kau harus lahir lebih awal dan pergi lebih cepat dari dunia ini. Maafkan ibu nak." isak Izzah.
Rayhan dan mang Diman masuk ke dalam ruangan. Rayhan lalu menghampiri Izzah yang tengah mencium Zahra yang sangat mungil. Rayhan memegang pundak Izzah.
"Maafin Izzah bang, karena tidak bisa menjaga anak kita." isak Izzah.
"Sudahlah sayang, tidak perlu minta maaf, ini bukan salah Izzah. Semuanya sudah takdir dari Allah." ucap Rayhan seraya memeluk Izzah.
"Kalian pulang ke rumah mamang aja, semuanya sudah dipersiapkan oleh Intan dan Ifan beserta tetangga-tetangga yang lainnya." ucap mang Diman.
Izzah dan Rayhan mengangguk. Setelah Rayhan selesai mengurus semua administrasi, mereka akhirnya pulang ke rumah mang Diman.
Sampai rumah mang Diman para tetangga mengucapkan rasa belasungkawa pada Izzah dan Rayhan.
Setelah itu Zahra dimakamkan di TPU terdekat. Saat semua pelayat pulang meninggalkan pemakaman, Izzah kembali menangis di pusara Zahra.
"Maafkan ibu nak." lirihnya.
Rayhan berusaha setegar mungkin, dia mengelus punggung Izzah.
__ADS_1
Mang Diman, bi Asih, Ifan dan Intan senantiasa menemani mereka berdua. Bahkan Lisa dan dokter Harun pun tak beranjak dari sisi Rayhan dan Izzah.
Suasana begitu haru, nafas Izzah naik turun. Luka diperut bekas jahitan belum kering, kini Izzah harus mendapatkan luka yang lebih sakit, yakni kehilangan Zahra.
Dari jauh terlihat bu Ros dan Bella datang mengenakan pakaian serba hitam. Mereka berdua mendekati Izzah.
"Ray, aku ikut berbelasungkawa atas kepergian anakmu." ucap Bella.
Izzah hanya terdiam. Sementara Rayhan menatap ibunya penuh kebencian.
"Iya Ray, mami juga. Bagaimanapun anak itu juga cucu mami." ucap bu Ros.
"Sudah jangan pura-pura lagi." teriak Rayhan.
Izzah tersentak melihat Rayhan yang dipenuhi emosi.
"Kamu kenapa sih Ray, mami..."
"Cukup. Aku muak, semua ini terjadi karena mami." teriaknya.
Izzah memandang Rayhan penuh tanda tanya. Semua orang memandang bu Ros yang terlihat gelagapan.
"Mami lah yang membunuh anak Rayhan." teriak Rayhan.
Semua orang terlihat kaget mendengar ucapan Rayhan.
__ADS_1