
Setelah perjalanan yang cukup lama karena macet akhirnya Izzah dan Rayhan sampai di rumah mang Diman.
Mereka disambut gembira oleh bi Asih dan mang Diman yang tengah duduk di teras rumah.
"Masyaallah, alhamdulillah." ucap bi Asih yang melihat kedatangan Izzah dan Rayhan bergandengan tangan.
"Assalamualaikum." ucap Izzah dan Rayhan.
"Waalaikumsalam." jawab bi Asih dan mang Diman.
"Pantes neng Izzah lama pulang, gak taunya lagi berudaan toh. Uuhuuyy." goda mang Diman.
Izzah hanya tersenyum.
"Udah shalat belum?" tanya bi Asih pada Izzah.
"Udah bi, tadi mampir dijalan pas adzan magrib, maklum macet." jawab Izzah.
Sementara dari kejauhan sepasang mata menatap Izzah dan Rayhan dengan hati yang terluka. Dia adalah Yusuf.
Mungkin kau memang tidak ditakdirkan untukku Izzah, gumamnya seraya masuk kedalam kontrakannya.
"Mang ngomong-ngomong Rayhan mau minta izin buat bawa Izzah malam ini." ucap Rayhan.
Izzah yang tak mengetahui rencana Rayhan mengerutkan dahi. Sontak ia bertanya.
"Mau bawa Izzah kemana bang?" tanya Izzah.
"Issshh neng pakai nanya segala. Udah sana ganti baju dulu." titah bi Asih.
Izzah hanya menurut lalu masuk kamar dengan pikiran yang bertanya-tanya kemana Rayhan hendak membawanya.
Rayhan kemudian melanjutkan obrolannya dengan bi Asih dan mang Diman. Membahas tentang rumah yang ingin Izzah bangun. Mang Diman dan bi Asih setuju tentang keinginan Izzah untuk membangun rumah dekat dengan mereka.
__ADS_1
Tak lama Izzah keluar dari kamarnya mengenakan gamis berwarna pink muda lengkap dengan hijab warna senada. Wajahnya dibalut dengan makeup tipis semakin memancarkan aura kecantikan Izzah.
Rayhan tampak terpesona melihat penampilan Izzah.
"Khem...khem... ada yang terpesona nih." ledek mang Diman.
Rayhan langsung sadar dan melihat ke arah lain. Bi Asih tertawa melihat tingkah Rayhan.
"Masyaallah neng Izzah semakin cantik aja. Aura ibu hamil memang gak ada bandingannya." puji bi Asih.
"Bibi bisa aja." ucap Izzah.
"Udah siap berangkat?" tanya Rayhan.
Izzah mengangguk.
"Aduh senangnya penganten baru, duduk bersanding bersenda gurau..." ucap mang Diman berdendang.
"Bapak mau qosidahan kemana?" tanya bi Asih.
"Rayhan sama Izzah kan bukan pengantin baru mang." ucap Rayhan.
"Memang bukan, tapi kan baru ketemu lagi sekarang. Baru mesra-mesraan lagi sekarang." balas mang Diman.
Izzah tersipu malu.
"Bu, bapak juga mau ngajak ibu keluar makan malam. Mau gak?" tanya mang Diman.
"Kita ke restoran bintang lima pak?" tanya bi Asih.
"Kita makan malam di warung bu Joko aja bu." jawab mang Diman.
Bi Asih manyun, lalu mereka semua tertawa. Rayhan dan Izzah lalu pamit.
__ADS_1
Rayhan menggandeng tangan Izzah menuju mobil, lalu beranjak pergi.
"Kita mau kemana bang?" tanya Izzah didalam mobil.
"Izzah duduk manis aja, nanti kalau sudah sampai Izzah baru tau." jawab Rayhan.
Setelah satu jam perjalanan, mereka sampai disebuah hotel mewah nan megah.
Memasuki lobi hotel, Izzah disambut orang-orang yang mengenakan seragam yang sama. Berdiri berbaris sepanjang karpet merah sambil masing-masing memegang setangkai mawar merah dan memberikannya pada Izzah.
Rayhan menggandeng tangan Izzah dengan mesra. Kemudian menyuruh Izzah berjalan lebih dulu. Izzah begitu bahagia mendapat kejutan dari Rayhan.
Seseorang mendekat pada Izzah lalu menuntunnya menuju restoran yang ada di hotel itu.
Izzah sampai pada sebuah meja yang sudah disiapkan khusus untuknya. Terdapat lilin-lilin dan mawar yang tertata cantik diatas meja.
Tak lama kemudian Rayhan berdiri disamping Izzah memegang sebuah kotak berwarna merah. Rayhan lalu duduk dihadapan Izzah, tersenyum bahagia lalu memberikan Izzah kotak itu.
"Untuk Izzah?" tanya Izzah.
"Iya, memang untuk siapa lagi." ucap Rayhan. "Bukalah." sambungnya.
Izzah membuka kotak tersebut, terdapat satu set perhiasan mewah. Izzah lalu tersenyum.
"Terima kasih bang, tapi ini semua terlalu berlebihan." ucap Izzah.
"Gak ada yang berlebihan kok sayang. Abang cuma ingin lihat Izzah bahagia." jawab Rayhan.
"Izzah sudah sangat bahagia bisa bersama abang. Tak perlu dengan barang mewah seperti ini."
"Terima kasih sayang. Abang sangat mencintaimu." ucap Rayhan sambil mencium tangan Izzah.
"Izzah juga sangat mencintai abang." balas Izzah.
__ADS_1
Lalu mereka melanjutkan makan malam romantis mereka diiringi lantunan piano yang dimainkan khusus sesuai permintaan Rayhan. Malam panjang mereka terus berlanjut.
Bersambung....