Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
LASTRI VERSUS HANI


__ADS_3

Lastri tengah sibuk di dapur membantu Izzah memasak untuk makan malam. Hani datang dari kamarnya hendak minum air lalu duduk di meja makan.


"Eh kamu sini bawain aku air, aku haus mau minum." perintah Hani pada Lastri.


Lastri berdecak kesal, kemudian mengambil air dari dalam lemari pendingin. Dengan hati-hati agar tak diketahui Izzah, Lastri mengambil garam halus lalu mencampurnya dengan air yang dituangnya ke dalam gelas.


Lastri lalu memberikannya pada Hani.


"Ini air minumnya, silahkan." ucap Lastri.


Saat meminum air itu, Hani memuntahkannya.


"Huuueeekk! Apa-apaan ini? Kenapa airnya jadi asin begini?" teriak Hani.


Izzah yang kaget lalu menghampiri Hani.


"Kenapa Han?" tanya Izzah.


"Gak tau nih, kenapa air yang dikasih pembantu itu asin. Eehh kamu cepat sini." teriak Hani lagi.


Lastri mendekat dengan wajah memelas.


"Kenapa non? Apa salah saya?" tanya Lastri dengan raut wajah sedih.


"Gak usah pura-pura kamu. Kenapa kamu kasih aku air asin hah?" teriak Hani sambil menjambak rambut Lastri.


"Han tenang dulu, mungkin Lastri gak sengaja." ucap Izzah.

__ADS_1


"Eehh kamu juga gak usah ikut campur ya. Ngapain kamu malah belain dia." bentak Hani pada Izzah.


Rayhan yang tengah duduk bersama pak Haris mendengar Hani membentak Izzah lalu dia mendekat.


"Ada apa ini? Berani-beraninya kamu membentak Izzah. Sudah untung saya kasih kamu kesempatan untuk berubah jadi lebih baik, kamu malah tetap seperti ini. Apa mau kamu hah?" ucap Rayhan tak kalah berteriak.


"Bang sudah-sudah, ini semua cuma salah paham." ucap Izzah.


"Lihat, kakak yang kamu benci ini selalu saja berusaha membela kamu walau kamu sudah jahat sama dia." lanjut Rayhan.


Hani hanya menunduk, sementara pak Haris hanya menggelengkan kepalanya.


"Hani, sudah sejak awal ayah bilang. Jaga sikap kamu, jangan seperti ini. Ayah malu sama kelakuan kamu." pak Haris terlihat murung.


Lastri mencuri kesempatan untuk membuat Hani terlihat bersalah. Dia berpura-pura terisak.


Rayhan menatap Izzah, Izzah mengangguk.


"Sudahlah, mungkin semuanya hanya salah paham. Atau mungkin juga Lastri tidak sengaja melakukannya." ucap Izzah.


"Baiklah, kali ini aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Kalian berdua bisa lanjutkan aktivitas kalian masing-masing. Untukmu Hani, jaga sikapmu terhadap Izzah, dan kau Lastri jangan sampai membuat kesalahan." bentak Rayhan.


Lastri dan Hani hanya menunduk, Rayhan lalu mendekati Izzah.


"Sayang, jangan terlalu lelah. Apa gunanya abang menyewa jasa asisten rumah tangga. Jika Izzah tetap saja lelah mengurus semuanya. Biarkan Lastri yang memasak, Izzah istirahat saja ya sayang. Ayo ikut abang." ajak Rayhan.


"Baiklah bang." Izzah mengangguk.

__ADS_1


"Lastri tolong kamu lanjutin semuanya ya. Aku sudah membuat bumbu-bumbunya, kamu tinggal memasaknya saja. Kamu bisa kan?" tanya Izzah.


"Saya pasti bisa nyonya." jawab Lastri.


Izzah dan Rayhan berlalu meninggalkan mereka menuju kamar. Lastri kembali ke dapur untuk memasak. Sementara pak Haris menarik Hani menuju ruang keluarga.


"Sudah ayah bilang sejak awal jaga sikap kamu. Jangan lakuin hal aneh-aneh disini apalagi berlagak jadi nyonya besar dirumah ini. Kalau mau apa-apa ambil sendiri. Jangan lupa juga untuk selalu jaga bicara sama kakak kamu. Apa kamu mau nak Rayhan marah-marah?" bentak pak Haris.


"Iya ayah, Hani janji gak akan bicara kasar lagi pada kak Izzah. Tapi untuk kejadian tadi pembantu itu yang salah yah." ucap Hani membela diri.


"Sudah cukup, ayah gak mau denger apa-apa. Pokoknya ayah minta tolong jaga sikap kamu." ucap pak Haris kemudian berlalu menuju kamarnya.


Hani lalu menuju dapur menghampiri Lastri.


"Eehh pembantu sialan, gara-gara kamu aku malah disalahin semua orang." ucap Hani.


"Syukurin, emang enak siapa suruh sok-sok nyuruh aku ini itu." jawab Lastri sambil tetap fokus memasak opor ayam.


"Berani kau ya." bentak Hani hendak menjambak rambut Lastri.


"Selangkah lagi kamu maju, aku bakalan teriak. Biar Tuan Rayhan marahin kamu." ancam Lastri.


Hani menghentikan langkahnya.


"Awas kau ya." ucapnya berlalu meninggalkan Lastri.


Lastri tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Hahaha rasain kamu. Lastri mau dilawan." ucapnya membusungkan dada.


__ADS_2