
Arka menatap Nabila yang sedari tadi menunduk di hadapannya. Gadis itu masih malu menatap wajah mantan bosnya. Sesekali mata bulatnya melirik ke arah Arka, lalu menunduk lagi.
Kini, mereka sedang duduk berdua di teras rumah yang dikelilingi oleh beberapa pot tanaman yang tertata rapi. Sedangkan para orang tua sibuk membicarakan hal pernikahan.
Entah apa yang dibicarakan, gelak tawa mereka terdengar sangat bahagia di dalam sana, setelah tadinya mengharu biru.
"Jangan lihatin saya terus, Pak. Nanti naksir!" ucap Nabila akhirnya, memecah keheningan di antara mereka.
Arka memutar bola mata malas. "Sungguh tinggi rasa percaya dirimu!" balas pria berkulit putih itu sengit.
Nabila terbahak, lalu menggeser kursi dari bahan rotan yang ia duduki itu mendekat ke arah Arka. "Jadi, Pak Arka mau, kan, nikah sama saya?" tanya gadis yang menampilkan senyum termanisnya itu.
"Jangan deket-deket!" ucap Arka ketus, lalu menggeser kursinya menjauh.
"Saya nggak kutuan kok, Pak."
"Mana aku tahu, suh jauh-jauh!" Arka menggeser kursi yang ia duduki menjauh dari Nabila.
"Ish, lihat saja nanti kalau sudah nikah. Saya jamin Pak Arka bakal nempel terus kayak kutu di kepala saya!"
"Katanya nggak kutuan!"
"Eh, iya, anu ... itu bukan kutu, cuma apa ya? Mmmmm hewan-hewan kecil yang ber ekosistem di kepala saya Pak."
__ADS_1
"Dasar jorok!"
"Yang penting cantik."
"Kata siapa?"
"Mantan saya."
"Heleh, mantan aja dibanggain!" cibir Arka.
"Biarin, daripada nggak punya mantan."
"Berisik!" Pria yang memiliki tinggi 175cm itu melipat tangan di dada.
Nabila terkekeh saat melihat Arka yang mulai terlihat kesal. "Pak Arka nggak pernah, kan, ngerasain gemeternya badan pas diusap-usap pipinya sama pacar? Kasihan, kasihan, kasihan."
Nabila refleks memegang kedua pipinya. "Sadis amat, Pak."
"Aku datang ke sini ngelamar kamu karena permintaan ibuku Jadi, kubur rapat-rapat rasa percaya dirimu itu! Di luar sana banyak cewek yang lebih cantik dan lebih baik dari kamu buat antri mau nikah denganku, tapi aku tolak semua!"
"Kenapa? Mereka bawa raket nyamuk?" tanya Nabila penasaran.
"Bukan!"
__ADS_1
"Oh, kirain karena bawa raket nyamuk. Terus?"
"Karena aku memang belum ingin menikah! Dan lihat badanmu itu, rata semua," cecar Arka dengan mata yang meneliti Nabila dari ujung kepala ke ujung kaki.
"Ya ampun Pak Arka!" teriak Nabila histeris, yang membuat Arka terperanjat.
Dielusnya dada karena terkejut gara-gara teriakan gadis itu. "Bisa biasa saja nggak ngomongnya? Nggak usah ngegas gitu, lagi nggak naik motor!"
"Salah Pak Arka juga sih, kenapa kalau ngomong gak di cek fakta dan kebenarannya dulu." balas Nabila diiringi dengan tawa lepas. "Lagian ya, tau dari mana kalau badan saya rata semua? Emang pernah lihat dalemnya? Terus nih ya, kalau di luar sana banyak yang lebih cantik dan lebih seksi dari saya, tapi Bu Izzah sukanya sama saya, gimana dong? Lagian kalau Pak Arka gak mau, kenapa gak nolak aja?"
Arka terdiam, sungguh ia tak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Nabila.
"Pak Arka dengan cepat mengatakan badan saya rata padahal gak pernah tuh lihat gimana dalemnya saya. Beda dong dengan saya. Mata saya sudah ternoda karena melihat Pak Arka goyang-goyang gak pakai baju, terus cuma pakai kolor. Tuh videonya masih di hape saya." ucap Nabila terbahak.
"Kamu iniβ" Ucapannya terjeda, menahan kesal, lalu ia memilih mengembuskan napas panjang. "Kenapa kamu mau menerima lamaran ini? Apa karena saya ganteng, kaya, dan Bos kamu?"
"Nah, itu Bapak tahu, pinter banget sih, Pak Arka. Bener-bener calon suami idaman. Sudah ganteng, pinter, kaya lagi." Nabila menatap Arka dengan mengedip-ngedipkan mata.
Sedangkan yang ditatap bergidik geli.
Arka menggelengkan kepala pelan, ia menyandarkan punggung di kursi. "Ya Allah ... apa dosa hamba sampai diberi calon isteri seperti ini?" gumamnya pelan sambil memijit pelipis yang terasa berdenyut.
Arka heran, baru kali ini ia bertemu dengan gadis yang narsisnya seperti Nabila.
__ADS_1
'Dia patut dimuseumkan, sejajar dengan manusia purbakala, karena masuk dalam kategori manusia langka.'
Bersambung.....