Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
PERTEMUAN


__ADS_3

Hari ini Izzah mengunjungi rumah Bi Asih dan Mang Diman untuk menghadiri acara pernikahan anak mereka. Sampai saat ini Izzah belum juga menghubungi Rayhan, sekedar memberi tahu kalau dia sudah kembali dari kampung.


Saat memasuki tempat resepsi, Bi Asih menyambut Izzah dengan senyum yang begitu mengembang.


"Terima kasih Neng Izzah sudah menyempatkan untuk datang." ucapnya sumringah.


"Sama-sama Bi Asih. Selamat yaa" ucap Izzah pada Bi Asih dan Mang Diman.


Izzah memutuskan untuk tinggal sampai acara selesai. Bi Asih mengajak Izzah masuk ke dalam rumahnya untuk beristirahat. Tanpa Izzah duga Rayhan datang saat acara sudah selesai.


"Mang Diman, Bi Asih, maaf saya terlambat. Banyak sekali pekerjaan dikantor." ucapnya sambil melirik Izzah.


"Aaahh tuan, tidak apa-apa. Terima kasih sudah datang tuan." sambut Mang Diman.


Izzah memilih pergi, menghindar dari Rayhan. Hati Izzah rasanya sakit sekali melihat Rayhan, entah kenapa yang Izzah bayangkan wajah Bella saat melihat Rayhan. Izzah masuk kesebuah kamar yang dia yakini milik Bi Asih. Saat hendak menutup pintu Rayhan dengan sigap mendorong pintu itu lalu masuk dan menutupnya.


Rayhan menatap Izzah dengan lekat. Lalu memeluk Izzah seraya menangis.


"Izzah, Abang rindu. Abang minta maaf Zah. Abang terpaksa Zah. Abang cuma cinta sama Izzah." isaknya.


"Abaang....." ucap Izzah tanpa bisa melanjutkan kata-kata.


"Kenapa Izzah tak pernah menghubungi abang? Kenapa juga Izzah tidak mau menerima panggilan dari abang? Abang tau abang salah. Tapi abang mohon tolong jangan tinggalkan abang Zah."


"Maafkan Izzah, bang. Izzah hanya gak pengen mengganggu waktu abang dengan Bella."

__ADS_1


"Jangan bicara begitu Zah, abang cuma cinta sama Izzah. Apa Izzah tidak merindukan abang?" lirihnya.


"Sungguh bang, Izzah rindu. Rindu sekali dengan abang. Tapi..."


Rayhan menaruh jarinya dibibir Izzah, agar Izzah tak melanjutkan kata-katanya.


"Zah, kalau Izzah mau abang akan segera menceraikan Bella."


"Jangan bang, kasihan Bella. Izzah ikhlas dimadu bang, tapi Izzah hanya takut."


"Izzah takut kenapa? Apa Izzah takut sama Mami?" tanya Rayhan.


"Bukan itu bang. Izzah hanya takut kehilangan abang. Izzah merasa seolah-olah abang akan pergi meninggalkan Izzah." jawab Izzah terisak.


"Dengerin abang Zah. Sampai kapanpun abang gak akan pernah ninggalin Izzah. Karena abang sangat mencintai Izzah. Izzah percayakan sama abang?"


Rayhan dan Izzah lalu melepas segala kerinduan mereka. Rayhan memeluk Izzah dengan erat. Menciumi kening Izzah hingga seluruh wajah Izzah tak lepas dari ciuman Rayhan. Rindu yang selama ini membuncah di dada kini telah terobati. Keduanya begitu larut dalam kemesraan.


Tiba-tiba pintu terbuka, Bi Asih dan Mang Diman sontak kaget melihat mereka yang tengah berpelukan.


"Astaghfirullahhaladzim...." seru keduanya secara bersamaan.


"Bi Asih, Mang Diman jangan salah paham dulu. Aku bisa jelaskan." ucap Rayhan.


"Maaf tuan, kalau saya lancang harus berbicara seperti ini. Saya mohon tuan, jangan jadikan rumah saya jadi tempat maksiat." ucap Mang Diman.

__ADS_1


"Mang, Izzah sebenarnya istriku, aku sudah menikahinya." jelas Rayhan.


Wajah Mang Diman dan Bi Asih terlihat kaget. Namun keduanya akhirnya tersenyum.


"Alhamdulillah, jadi selama ini Neng Izzah dan tuan sudah menikah." ucap Bi Asih seraya memeluk Izzah.


"Iya Bi..." jawab Izzah.


"Syukurlah tuan, maaf selama ini saya pikir tuan dan neng Izzah pasangan yang tak halal." ucap Mang Diman.


"Gak apa-apa Mang, saya juga yang salah karena harus merahasiakan semuanya. Saya hanya belum siap jika Mami nantinya tau tentang Izzah."


"Waahh jadi tuan teh mikir kalau saya akan kasih tau nyonya besar tentang neng Izzah? Ya gaklah tuan, saya kan setia sama tuan Rayhan. Dari dulu juga saya gak tahan kalau kerjanya sama mak lampir kayak nyonya besar." ucap Mang Diman.


"Mak Lampir?" seru Rayhan heran.


"Aduhh gusti Mamang teh keceplosan. Maaf tuan, tolong jangan adukan saya pada nyonya besar." ucap Mang Diman sambil mengatupkan tangan.


"Iihh si bapak teh gak bisa jaga bicara, gimana atuh nanti kalau tuan Rayhan ngadu ke nyonya besar. Bisa-bisa bapak disembur." ucap Bi Asih menahan gelak tawa.


"Ampuunn tuan..." seru Mang Diman.


"Ha...hahaha..." Rayhan tertawa terbahak-bahak. "Astaga Mang Diman sebut Mami sebagai Mak Lampir. Tenang Mang, aku gak akan ngadu. Mami memang cocok disebut Mak Lampir. Habis Mami galak sih. Hahaha..." ucap Rayhan sambil terbahak-bahak.


"Husshh tuan gak boleh ngomong gitu." ucap Bi Asih dengan senyum yang ditahan.

__ADS_1


Mereka semua akhirnya tertawa, kemudian berbincang-bincang hangat sampai sore hari.


__ADS_2