
Persidangan demi persidanganpun dilalui. Sesuai ketentuan hukum terhadap kasus protitusi yang menjerat Pak Surya dan Ana. Keduanya dihukum dengan pidana penjara satu tahun empat bulan. Namun karena Ana juga terbukti melakukan tindak pidana penipuan terhadap Rayhan, hukumannya bertambah menjadi tiga tahun.
Sementara Bu Mila terjerat pasal penipuan dan percobaan pembunuhan terhadap Bu Rosita dan diberi hukuman tujuh tahun penjara. Untuk kasus pemerkosaan disertai pembunuhan terhadap Bella, jaksa penuntut umum menuntut hukuman mati.
Hari ini putusan tentang persidangan atas pembunuhan Bella dilaksanakan. Dandi tampil dengan kemeja putih dan mengenakan peci warna senada. Bu Mila dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan tersebut.
Rayhan hadir menemani Pak Seno dalam ruangan persidangan. Rayhan senantiasa menguatkan Pak Seno yang terlihat bergetas saat nama puterinya Bella Pratiwi disebut dalam persidangan.
"Om harus sabar dan tegar." bisik Rayhan pada Pak Seno.
Di persidangan sebelumnya Bu Mila di panggil masuk ke dalam ruang persidangan sebagai saksi. Saat itu Bu Mila juga tampil mengenakan pakaian putih dengan celana hitam.
Raut wajah Pak Seno berubah saat melihat Bu Mila masuk. Hatinya semakin terluka berada dalam satu ruangan bersama orang yang telah membunuh puterinya yang juga merupakan selingkuhan dari isterinya.
Sebelumnya Pak Seno sudah mengajukan surat gugatan perceraian pada Pengadilan Agama yang persidangan pertama akan dijadwalkan dua minggu lagi.
Dan akhirnya, pada sidang putusan hari ini. Hakim memutuskan menjatuhkan hukuman mati pada Dandi karena terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap Bella. Pak Seno tak kuasa menahan tangisnya.
"Dengan ini, Bella mendapatkan keadilan.." isak Pak Seno. "Dan semoga Bella bisa lebih tenang disana, begitu juga dengan saya." lanjut Pak Seno.
Rayhan hanya mengangguk.
Sementara itu di ruang tunggu, Bu Mila yang meminta izin untuk hadir dalam persidangan itu hanya bisa menunggu kedatangan Dandi di ruangan tunggu. Bu Mila beralasan ingin bertemu Dandi. Ia mengatakan pada polisi"Bagaimanapun juga Dandi itu calon suami saya, saya ingin mendengar semua penjelasan langsung dari mulutnya sendiri."
Setelah persidangan selesai, Bu Mila hanya diberikan waktu setengah jam untuk bertemu Dandi. Dandi masuk ke dalam ruangan dengan wajah lesu. Bu Mila yang mengenakan baju warna merah mendekati Dandi lalu memeluknya.
"Sayang, kenapa semua ini terjadi?" ucap Bu Mila.
Dandi yang merasa kaget langsung mendorong Bu Mila.
"Kamu kenapa dorong aku?" isak Bu Mila.
Dua orang polisi yang berjaga memperhatikan mereka dari sudut ruangan.
"Mau ngapain kamu disini? Mau bersyukur karena aku dihukum mati?" teriak Dandi.
"Apa? Di hukum mati?" tanya Bu Mila kaget.
"Iya, aku dikenakan hukuman mati gara-gara anak kamu itu." balas Dandi.
"Maksud kamu apa?" tanya Bu Mila lagi.
"Alah gak usah pura-pura gak tau." jawab Dandi.
"Justru aku kesini nemuin kamu karena aku butuh penjelasan dari kamu. Kenapa kamu lakuin ini semua sama Bella? Apa kirangnya aku sama kamu selama ini?" teriak Bu Mila dengan raut wajah yang berubah marah.
__ADS_1
"Karena sekarang udah gak ada gunanya aku bohong, toh aku bakalan mati juga aku bakal kasih tau kamu. Kamu nyadar gak kalau kamu itu udah tua, keriput dan gak ada seksinya sama sekali. Lihat dong aku ini masih muda dan juga tampan. Mana mungkin aku mencintai kamu."
"Jadi selama ini kamu gak cinta sama aku? Lalu kenapa kamu menikmati permainan aku ha?" cecar Bu Mila.
"Cinta? Hahaha, mana mungkin aku cinta sama nenek-nenek kayak kamu. Aku mau sama kamu itu cuma buat morotin kamu. Berhubungan sama kamu itu aku jadi kaya, lihat aja kamu mau beliin aku mobil, bayarin aku apartement dan beliin aku barang-barang mahal. Ya untuk masalah nikmatin permainan kamu ya itung-itung kan gratisan. Bagaimana aku tidak menggerayangi anakmu yang cantik itu, wajar aja karena dia jauh sekali lebih seksi dibanding kamu." ujar Dandi tertawa.
Di sudut ruangan, kedua polisi itu tampak berbisik dan menahan tawa. Sementara Bu Mila terlihat berang.
Bu Mila melangkah maju lebih dekat dengan Dandi lalu meremas barang berharga Dandi, yang membuat Dandi meringis kesakitan.
"Rasain kamu penjahat kelamin." teriak Bu Mila tertawa.
Tangan Dandi yang terborgol membuatnya tak berdaya mencegah Bu Mila.
"Tolong..." teriak Dandi putus asa.
Kedua polisi itu mendekat, hendak melepaskan tangan Bu Mila.
"Dasar wanita tua, keriput." teriak Dandi.
Tiba-tiba.....
"Aaaarrrggghhhh......." teriak Dandi.
Beberapa anggota polisi dan orang-orang yang ada di pengadilan tersebut mendekat ke arah suara teriakan yang terdengar keras.
Tatapan Bu Mila terlihat kosong. Kedua tangannya kini diborgol petugas. Detik berikutnya ia tertawa keras.
"Hahaha.... Mati kau Dandi." teriak Bu Mila. "Mati kau."
Bu Mila langsung diamankan petugas, dibawa menuju mobil tahanan. Sementara Dandi dengan cepat digotong ke mobil menuju rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Rayhan dan Pak Seno yang dalam perjalanan pulang mendapat berita tentang Dandi yang ditusuk Bu Mila. Rayhan yang mengemudikan mobil, memutar balik menuju rumah sakit tempat Dandi dibawa.
Saat Rayhan dan Pak Seno sampai rumah sakit, beberapa anggota polisi tengah berjaga di depan pintu UGD.
"Apa yang terjadi sebenarnya Pak?" tanya Rayhan.
"Saudara Dandi telah mengalami penusukan yang dilakukan oleh Bu Mila." jawab salah seorang polisi yang berjaga.
"Ya Tuhan Mila, apa yang sudah kamu lakukan." ucap Pak Seno terduduk.
Rayhan mendekati Pak Seno lalu duduk disampingnya.
"Saya tidak habis pikir Ray dengan apa yang dilakukan Mila. Padahal Dandi sudah divonis hukuman mati. Jadi untuk apa dia melakukan ini semua." ucap Pak Seno pada Rayhan.
__ADS_1
"Aku juga sama herannya sama Om. Mungkin lebih baik sekarang kita pulang dulu. Masalah Tante Mila akan lebih baik jika kita menunjunginya besok. Karena saat ini Tante Mila pasti tengah di interogasin oleh pihak kepolisian." balas Rayhan.
Pak Seno mengangguk, "Kamu benar Ray." ucapnya seraya berdiri.
Keduanya hendak meninggalkan rumah sakit ketika seorang Dokter keluar dari ruang UGD. Sayup-sayup keduanya mendengar ucapan Dokter yang mengatakan bahwa Dandi tidak bisa diselamatkan.
"Korban mengalami pendarahan yang hebat, pisau yang tertancap didada mengenai organ vital korban." jelas Dokter tersebut.
"Innalilahiwainnailaihirojiun...." ucap Rayhan.
Rayhan dan Pak Seno akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Sampai rumah Rayhan langsung memberitahu Izzah tentang apa yang terjadi.
Innalilahiwainnailaihirojiun...." ucap Izzah. "Kenapa maah jadi begini semuanya Bang." lanjut Izzah.
"Abang juga benar-benar tidak mengerti sayang." balas Rayhan.
"Semua yang terjadi sudah merupakan takdir dari Allah." seru Izzah.
"Iya sayang. Abang jadi makin kasihan sama Om Seno." ucap Rayhan.
"Untuk itu, Abang harus selalu mendampingi Om Seno." balas Izzah.
"Om Seno sudah seperti Papa Abang sendiri. Dia sahabat baik Papa sejak dulu. Namun karena hubungan Abang dengan Bella yang gagal membuat hubungan kami sedikit renggang. Sekarang semuanya sudah kembali normal seperti dulu." ujar Rayhan.
Kepala Izzah bersandar dibahu Rayhan.
"Sudah terlalu banyak cobaan yang datang dalam rumah tangga kita Bang. Semoga kejadian yang melibatkan Ana itu adalah yang terakhir." ucap Izzah.
"Iya sayang. Abang akan lebih berhati-hati lagi dalam bertindak. Abang tidak mau untuk mudah dijebak oleh orang lain."
"Iya Bang." balas Izzah.
Keduanya kemudian larut dalam keheningan. Suara tangisan Arsha memecah keheningan mereka berdua. Dengan sigap Izzah menggendong Arsha, sementara Arka masih tertidur pulas.
"Sini biar Abang yang gendong." ucap Rayhan meraih Arsha.
Bayi mereka yang kini berusia tiga bulan itu terlihat semakin sehat dan gendut.
"Aduuuhh cup cup cup... Anak Ayah yang cantik ini kok nangis sih." ucap Rayhan menimang Arsha.
Tak lama kemudian Arsha sudah terlihat anteng digendong Rayhan. Izzah tersenyum menatap suaminya yang telaten menguris bayi mereka.
"Oh ya sayang. Mungkin besok Abang mau nemenin Om Seno pergi ke lapas nengokin Tante Mila. Bolehkan?" tanya Rayhan.
"Bolehlah Bang." jawab Izzah tersenyum.
__ADS_1