
Tiba di rumah sakit Rayhan langsung membawa Izzah ke ruang ICU. Dokter Harun yang saat itu bertugas terlihat kaget melihat Rayhan membopong tubuh Izzah.
Dokter Harun langsung memeriksa Izzah yang belum juga sadar. Sementara Rayhan terlihat panik, dia terus saja mondar mandir di depan ruang ICU.
Tak lama Dokter Harun keluar menemui Rayhan.
"Gimana keadaan isteri gue Run?" tanya Rayhan.
"Gak perlu khawatir Ray, Izzah baik-baik aja. Dia cuma kelelahan, dan sepertinya Izzah sedang hamil Ray." jawab Dokter Harun.
"Aa..pa? Izzah hamil?" seru Rayhan.
"Iya Ray, perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apa Izzah benar hamil atau tidak. Izzah harus kita bawa ke poli kandungan." balas Dokter Harun.
"Alhamdulillah, semoga Izzah benar-benar hamil." ucap Rayhan.
Kemudian Izzah di bawa ke ruang poli kandungan. Dokter Nurul dengan segera melakukan pemeriksaan pada Izzah. Melakukan USG dan pemeriksaan lainnya.
Izzah tersadar saat dokter mengoleskan krim pada perutnya.
"Aku dimana?" ucap Izzah.
"Sayang, kita di rumah sakit." balas Rayhan yang memegang tangan Izzah.
Menyadari hal itu, Izzah langsung melepaskan pegangan tangan Rayhan. Rayhan merasa begitu sedih akan sikap Izzah.
"Saya mau diapain dok?" tanya Izzah.
"Kita akan melakukan USG bu Izzah." jawab Dokter Nurul.
"USG?" seru Izzah.
"Iya bu, kita mau memastikan apa ada janin dalam perut bu Izzah." balas Dokter Nurul.
"Aku hamil." gumam Izzah.
Air mata Izzah tiba-tiba jatuh menetes. Membuat Rayhan semakin sedih dan merasa bersalah.
"Wah lihat pak Rayhan, ini dia janinnya, masih sangat kecil. Usianya kira-kira baru empat minggu." ucap Dokter Nurul.
"Berarti isteri saya benar-benar hamil dok?" tanya Rayhan memastikan.
"Benar sekali pak Rayhan. Ini pak Rayhan bisa lihat sendiri di layar." ucap Dokter Nurul menunjuk sebuah gumpalan kecil di dalam rahim Izzah.
"Masyaallah, alhamdulillah. Sayang kita akan punya anak." ucap Rayhan mengelus kepala Izzah.
Tatapan Izzah kosong, ada rasa bahagia sekaligus sedih yang dia rasakan.
"Tapi ingat pak, bu Izzah tidak boleh terlalu lelah. Bu Izzah harus istirahat total, bedrest. Karena sebelumnya bu Izzah pernah di operasi caesar karena melahirkan prematur, jadi kandungan bu Izzah sedikit lemah." jelas Dokter Nurul.
__ADS_1
"Pasti dokter. Izzah tidak akan melakukan hal-hal yang akan membuatnya lelah." balas Rayhan.
Rayhan dan Izzah lalu keluar dari rumah sakit. Dokter Harun mendekati mereka.
"Gimana hasilnya Ray?" tanya Dokter Harun.
"Izzah beneran hamil. Gue bakalan jadi ayah." ucap Rayhan dengan raut wajah bahagia.
"Selamat ya Zah, aku yakin kau dan Lisa bisa berbagi cerita tentang kehamilan." ucap Dokter Harun.
"Lisa hamil juga Run?" tanya Rayhan.
"Iya Ray, baru dua bulan." jawab Dokter Harun.
"Selamat juga buat lu Run. Ternyata kita bakalan jadi ayah di waktu yang berdekatan." seru Rayhan.
Dokter Harun tersenyum, namun pandangannya menuju Izzah yang terlihat murung dan lebih banyak diam.
"Kamu kenapa Zah? Masih pusing ya?" tanya Dokter Harun.
"Aku gak apa-apa kok, cuma lemes aja. Titip salam ya buat Lisa. Kapan-kapan aku mau ngajak dia ketemuan." ucap Izzah.
"Tentu." balas Dokter Harun. "Oh ya Ray, lebih baik Izzah pakai kursi roda aja biar gak kelelahan jalan ke mobil." saran dokter Harun.
"Gak perlu kursi roda, gue masih kuat kok." ucap Rayhan seraya dengan cepat menggendong tubuh Izzah.
Dokter Harun tertawa melihat tingkah Rayhan.
"Gue balik dulu Run." ucap Rayhan.
Dokter Harun mengangguk, Rayhan lalu berjalan keluar rumah sakit dengan membopong tubuh Izzah.
Sepanjang jalan Izzah berontak ingin di turunkan. Izzah merasa malu karena semua mata tertuju pada mereka berdua. Hingga Rayhan tiba di mobil, barulah Izzah diturunkan. Dengan cepat Rayhan membuka pintu mobil dan menuntun Izzah masuk mobil.
Mobil merekapun melaju di tengah ramainya lalu lintas.
"Izzah mau cerai." ucap Izzah tiba-tiba.
Rayhan begitu kaget mendengar ucapan Izzah hingga dia mengerem mendadak.
"Kenapa Izzah ngomong begitu?"
"Sudah, lebih baik jalan aja. Izzah mau istirahat." ucap Izzah.
Rayhan lalu melajukan mobilnya lagi. Hingga tak lama mereka sampai dirumah. Rayhan hendak membukakan Izzah pintu, namun dengan cepat Izzah keluar sendiri dari dalam mobil tanpa menunggu Rayhan membukakan pintu.
Izzah lalu berjalan cepat menuju kamarnya disusul Rayhan yang mengikuti langkahnya dari belakang. Tiba di kamar, Izzah langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Izzah sama sekali tak memperdulikan Rayhan yang duduk di atas ranjang.
Bagi Izzah, Rayhan seolah-olah tidak ada di dalam kamar. Izzah sibuk melakukan aktifitasnya tanpa memperdulikan keberadaan Rayhan.
__ADS_1
Rayhan yang merasa diabaikan dengan cepat menarik Izzah dan mendekapnya.
"Lepasin." teriak Izzah.
Rayhan semakin erat memeluk Izzah. Tak perduli Izzah yang meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari dekapan Rayhan.
"Tolong dengerin abang dulu sayang. Abang bisa jelasin semuanya." ucap Rayhan.
"Gak, gak ada yang perlu di jelasin lagi. Toh semuanya udah jelas." teriak Izzah.
"Semuanya gak seperti yang Izzah pikir."
"Terserah, pokoknya Izzah mau cerai." pekik Izzah dengan air mata yang mengucur deras.
"Ya Allah sayang, bagaimana bisa Izzah berniat mau cerai dari abang? Apalagi saat ini Izzah tengah hamil." ucap Rayhan.
"Biarin, Izzah muak dengan abang, Izzah jijik." ucap Izzah.
Rayhan lalu melepaskan pelukannya. Air mata Rayhan luruh mendengar ucapan Izzah.
"Sayang, abang gak akan mungkin ceraikan Izzah. Abang mencintai Izzah, sungguh. Semua yang Izzah lihat itu salah. Semuanya tidak seperti yang Izzah pikirkan." jelas Rayhan.
"Izzah gak peduli, yang jelas semua bukti menunjukkan siapa abang yang sebenarnya. Ternyata abang benar-benar lelaki yang tak bisa berubah, abang masih saja main perempuan. Izzah udah gak tahan bang. Tolong bebasin Izzah dari ikatan ini." isak Izzah.
"Gak akan pernah. Abang gak akan mau menceraikan Izzah. Dalam mimpi pun abang gak pernah berpikir untuk berpisah dengan Izzah. Jadi janganlah berharap abang akan menuruti keinginan Izzah." ucap Rayhan.
"Abang egois, abang serakah. Abang tak ingin menceraikan Izzah, tapi di belakang abang juga bermain api dengan mantan isteri abang. Yaa Allah salah apa aku ini." teriak Izzah.
"Beri abang kesempatan untuk menjelaskan semuanya." ucap Rayhan.
"Gaakkk, gak perlu lagi menjelaskan apa-apa. Semuanya sudah terbukti di depan mata kepala Izzah. Abang tega, abang berkhianat, abang..... Aaarrrrrgggghhhh." teriak Izzah.
"Sayang." seru Rayhan.
"Keluar...keluar dari sini. Izzah gak mau lihat wajah abang lagi." pekik Izzah.
"Tapi sayang..."
"Abang yang keluar, atau Izzah yang pergi dari rumah ini." ancam Izzah.
"Baik...baik... Abang keluar sekarang. Izzah istirahat ya." ucap Rayhan.
"Keluaaaarr." teriak Izzah.
Dengan cepat Rayhan keluar dari kamar.
"Bagaimana caranya agar Izzah tau bahwa semua yang dia pikirkan itu salah. Ini semua gara-gara Bella. Aldi pun terlibat di dalamnya. Sialan mereka berdua." ucap Rayhan.
Rayhan lalu menuju mobilnya bermaksud untuk pergi ke rumah Bella.
__ADS_1