Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Satu Bulan


__ADS_3

PoV Faradina


"Sekarang sudah jam 04.00. Aku akan menelpon kakek dulu." Ucapku kepada Ammar.


"Kenapa? Tidak bisakah kita kembali sendiri saja?" Tanya Ammar padaku.


"Aku tidak terlalu hebat dalam mengingat arah." Balasku dengan tersenyum canggung.


"Benarkah? Ini adalah informasi yang baru bagiku." Ucap Ammar tertawa kecil.


"Berhentilah menggodaku. Aku akan menelpon kakek sekarang." Ucapku lagi dan mengeluarkan ponsel dari dalam tas ku.


Aku mulai menelpon kakek, tapi sayangnya tidak ada sinyal di sana. Aku duduk di bangku namun aku kembali berdiri dan berjalan beberapa langkah di sekitar pondok itu.


"Tidak ada sinyal di sekitar area ini." Ucapku.


"Apakah kau benar-benar tidak tahu bagaimana caranya kembali?" Tanya Ammar padaku.


"Kenapa aku harus bohong padamu? Kakek yang selalu membantuku dengan melewati jalan di perkebunan ini." Ucapku.


"Kalau begitu jangan khawatir. Kakek pasti tahu bahwa kau tidak terlalu hebat dalam hal mengingat arah. Jadi dia pasti akan datang kemari untuk melihat kita." Ucap Ammar.


"Itu tidak akan mungkin karena kakek kesusahan untuk melihat jalan jika hari sudah gelap apalagi di saat malam hari." Balas ku.


"Kalau begitu tidak ada pilihan lain yang tersisa bagi kita selain untuk mencari sinyal." Ucap Ammar.


Kami berdua pun mulai mengemasi barang-barang kami yang ada di dalam pondok itu dan mulai berjalan mencari sinyal.


Kami berjalan di perkebunan dan persawahan itu sekitar satu jam setengah sebelum akhirnya kami menemukan sebuah pedesaan di tengah area persawahan itu.


"Aku rasa kita menemukan pedesaan, bahkan walaupun aku terlalu buruk dalam mengingat arah." Ucapku tertawa kecil.


"Sebenarnya itu cukup bagus." Ucap Ammar menunjukkan ibu jarinya kepadaku.


Kami lalu berjalan ke arah pedesaan itu dan bertanya kepada warga desa tentang kakek.


"Maksudmu kakek Parman?" Tanya seorang warga desa itu.


Aku pun menganggukkan kepalaku.


Warga desa itu mengatakan kepada kami bahwa rumah kakek Parman berada di bagian depan perkebunan itu dan kami tidak bisa kembali ke sana karena akan memakan waktu setidaknya satu atau dua jam dimana hari sudah akan gelap.


"Apakah ada kendaraan yang bisa membawa kami pergi ke sana?" Tanya Ammar.


"Sebenarnya sekarang sudah terlalu petang dan Fara warga baru saja selesai bekerja. Jadi mereka akan melanjutkan pekerjaan mereka esok di pagi hari." Ucap warga desa itu.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanyaku kepada Ammar.


"Mmmm kalian berdua berteman dengan kakek Parman jadi aku bisa membantu kalian untuk mengatur sebuah kamar untuk kalian berdua menginap malam ini." Ucap warga desa itu.


Aku lalu melihat ke arah Ammar dan dia pun menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih." Ucap kami berdua secara bersamaan karena sudah dibantu oleh warga desa itu.


Warga desa itu lalu membantu kami untuk memberikan sebuah kamar di dalam rumahnya sebagai tempat bagi kami untuk beristirahat. Dia meminta kami untuk membuat diri kami nyaman dan dia akan pergi berkumpul dengan para warga lainnya dan jika kami membutuhkan sesuatu kami bisa memanggil dia di sana.


Dia juga memberikan kami makan malam.


Setelah selesai makan malam, kami pun duduk di luar rumah melihat ke arah para warga yang tengah duduk melingkar di api unggun.


Mereka terlihat tengah menari dan menyanyi dan ada juga anak-anak yang berlari di sekitar api unggun itu dengan suara tawa mereka yang cukup keras. Benar-benar pemandangan pedesaan yang indah Ammar dan aku duduk di teras rumah dan aku menutup tubuhku dengan selimut dan menyandarkan kepalaku di pundak Ammar.


"Apa kau mau pergi ke sana dan ikut menikmati semuanya bersama mereka?" Tanya Ammar kepadaku.


"Tidak, aku hanya suka menjadi penonton." Ucap ku tersenyum.


"Oke, baiklah." Ucap Ammar lalu mencium keningku.


Aku tidak pernah menyangka di zaman modern seperti ini, ternyata masih ada pedesaan yang seperti ini. Bayangkan saja, dari semua orang yang ada di desa ini. Hanya ada segelintir orang yang memiliki kendaraan roda dua. Itu pun hanya dimiliki oleh orang-orang yang sering bepergian ke luar desa. Dan menurut info yang aku dapat dari pemilik rumah tempat kami menginap, hanya sekitar 4 orang saja yang memiliki motor. Selebihnya, hampir semua orang menggunakan traktor sebagai alat transportasi mereka. Jadi sangat sulit bagi kami untuk bisa keluar dari desa ini saat malam hari.


...****************...


PoV Ammar


"Apakah kita harus masuk ke dalam sekarang?" Tanyaku kepada Fara.


Tapi tidak ada respon apapun darinya. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia tengah berbaring di pundak ku. Aku menggerakkan tanganku di depan wajahnya, dan tetap tidak ada respon. Aku pun menyadari ternyata dia sudah tertidur.


Aku lalu menggendongnya masuk ke dalam kamar dan menaruh tubuhnya di atas tempat tidur, Kemudian menyelimuti tubuhnya dengan selimut, dia tampak bergerak sedikit.


"Sshhh.... Kembalilah tidur." Ucapku berlutut dan mengusap rambutnya.


Dia kembali bergerak dan menepuk sisi tempat tidur yang kosong di sampingnya.


"Tidurlah denganku." Ucapnya dengan suara yang terdengar mengantuk.

__ADS_1


Aku tersenyum dan kemudian duduk diatas tempat tidur lalu berbaring di sampingnya. Dia pun langsung memelukku. aku mengusap rambutnya dan kemudian ikut tertidur lelap.


...----------------...


Suara ketukan di pintu membuat Ku terbangun. Fara masih memelukku, aku lalu melepaskan diriku darinya dan beranjak untuk membuka pintu.


"Tuan... Aku akan pergi ke gerbang utama desa kurang dari 10 menit lagi. Itulah alasan aku membangunkan mu. Bersiaplah Tuan." Ucap warga desa itu dan aku menganggukkan kepalaku.


Aku kembali berjalan masuk ke dalam kamar dan mengusap kepala Fara untuk membangunkannya.


"Fara bangunlah. Ayo bangunlah. Kau bisa tidur saat kita kembali di penginapan nanti." Ucapku.


Fara tampak menguap dan masih saja tidak mau bangun.


"Ini masih gelap." Ucap Fara dengan suara yang masih saja mengantuk.


"Saat ini sudah jam 05.00 pagi, warga desa itu harus pergi bekerja sekarang. Jadi kita harus pergi bersamanya." Ucapku dan Fara pun akhirnya bangun.


Kami berjalan keluar dari dalam rumah dan Fara tampak gemetar kedinginan.


Warga desa itu melihat Fara gemetar dan berkata, "bawalah selimut itu denganmu. Aku akan mengambilnya nanti saat kita tiba di gerbang desa."


"Terima kasih." Ucap Fara.


Kami lalu naik ke atas traktor itu dan duduk.


"Tidakkah kau merasa kedinginan?" Tanya Fara kepadaku.


"Ini masih tidak terlalu dingin. Aku bisa mengatasinya." Ucapku kepada Fara.


Aku mengusap tanganku secara bersamaan untuk membuat tubuhku merasa hangat.


"Kita bisa berbagi selimut." Ucap Fara dan berdiri.


"Hati-hati." Ucapku memegang tangannya.


Fara tersenyum dan kemudian duduk di pangkuanku.


"Kita bisa membuat diri kita menghangat." Ucap Fara mendekat kepadaku dan memelukku seperti seekor koala.


Kami akhirnya sampai di gerbang desa setelah satu setengah jam perjalanan dan kami tak lupa berterima kasih kepada warga desa itu.


Kami lalu berjalan ke arah rumah Kakek Parman.


"Kakek, kami berada di pedesaan yang ada di perkebunan itu." Ucap Fara kepada Kakek Parman.


Beberapa saat kemudian, kami pun naik ke dalam taksi dan sebelum itu kami melambaikan tangan kepada Kakek Parman.


"Aku lapar." Ucap Fara.


"Kita akan menemukan sesuatu untuk dimakan di perjalanan nanti." Ucapku padanya.


Kami lalu menemukan sebuah restoran kecil dan memesan makanan untuk dibawa ke pergi. Setelah itu, kami memakan sarapan kami saat kami berada di dalam taksi.


Setelah beberapa saat, kami pun akhirnya bisa kembali ke penginapan dan aku duduk di sofa. Dia juga ikut duduk di sofa bersamaku dan kemudian berbaring di pangkuanku.


"Aku mengantuk." Ucap Fara dan menutup matanya dan memposisikan tubuhnya dengan begitu nyaman.


Aku hanya melihat ke arahnya.


"Usap lah rambutku seperti yang kau lakukan kemarin." Ucap Fara.


Dia lalu memegang tanganku dan menaruhnya di atas kepalanya.


Aku mengangkat kepalanya dari atas pangkuanku dan menaruhnya di sofa, dia pun melihat ke arahku.


"Untuk mengusap rambutmu, aku punya posisi yang nyaman." Ucapku dan memposisikan dia di atas dadaku.


Sekarang dia berada di atas tubuhku, aku pun lalu mengusap rambutnya.


...****************...


PoV Author


Satu bulan berikutnya mereka berencana untuk menghabiskan waktu disana penuh dengan petualangan.


Kegiatan pertama yaitu tracking...


Fara mengajak Ammar untuk tracking di sebuah gunung terdekat yang ada di penginapan mereka. Mereka juga berkemah sepanjang malam di puncak gunung dekat dengan air terjun dan mereka menikmati pemandangan malam di sana. Pada keesokan paginya, mereka pun kembali ke penginapan.


Kegiatan berikutnya yaitu bungee jumping...


Fara dan Ammar pergi untuk melihat di mana mereka bisa melakukan bungee jumping. Fara bertanya apakah baik-baik saja bagi mereka mencoba untuk bungee jumping dan Ammar menerima itu tanpa menolak permintaan Fara.


Saat mereka tiba di dekat area itu, Fara mulai gemetar dan mengabaikan fakta bahwa dia takut akan ketinggian. Ammar pun mengajak Fara kembali ke penginapan tanpa harus melompat. Tapi Fara tetap keras kepala dan mau mencoba setidaknya bungee jumping itu sekali saja.

__ADS_1


Saat Fara mencoba untuk melompat, dia bertanya kepada instruktur yang bertugas, apakah dia bisa melompat secara bersama dengan Ammar. Hal itu pun membuat Ammar merasa begitu terkejut dan mulai ketakutan.


Ammar tidak pernah berencana untuk mau melakukan permainan itu. Dia hanya bermaksud untuk menemani Fara. Tapi sekarang dia tidak punya pilihan lain. Dia harus menerimanya. Ammar pun berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk bisa berani. Setelah itu, mereka pun melompat bersama. Itu adalah pengalaman yang paling tidak akan bisa dilupakan oleh mereka berdua. Fara yang awalnya ketakutan malah menginginkan satu kali lagi untuk melompat. Sementara Amar menyerah karena takut akan melompat lagi.


Pada minggu ketiga di penginapan mereka berencana untuk menghabiskan waktu mereka di penginapan dengan sekedar bersepeda di dekat dan sekitar area penginapan. Ammar menemukan informasi baru tentang Fara yang membuatnya cukup terkejut, yaitu karena Fara tidak suka pergi ke tempat spa.


Suatu malam, mereka berdua pergi bersepeda di malam hari untuk pergi ke sebuah pasar malam. Mereka makan sebanyak mungkin disana dan bersenang-senang dengan orang-orang lokal di sana dan juga ikut berpesta.


Hari berikutnya, Fara mengatakan bahwa dia sangat menginginkan ayam goreng crispy dan Ammar pun mengatakan bahwa dia bisa memesannya. Tapi Fara ingin membuatnya sendiri. Namun satu-satunya masalah adalah mereka berdua sama sekali tidak tahu bagaimana caranya memasak ayam goreng crispy itu.


Mereka lalu menonton video yang mengajari mereka bagaimana cara memasaknya. Tapi yang terjadi, dapur mereka benar-benar menjadi berantakan. Namun tetap saja mereka menikmati waktu masak bersama mereka dan rasa dari ayam goreng crispy yang mereka buat tetap sama lezatnya.


Hari terakhir, mereka habiskan dengan mengemasi pakaian mereka dan menonton acara televisi. Dan pada akhirnya mereka pun check out dari penginapan itu setelah satu bulan berada disana.


Satu bulan benar-benar mereka habiskan untuk liburan dan mengenal satu sama lain. Namun, mereka tak sedikitpun melakukan aktifitas malam yang biasanya dilakukan pasangan pengantin baru. Mereka berdua hanya berpegangan tangan, berpelukan dan memberikan kecupan kilat di bibir.


Setelah sampai di bandara, mereka pun akhirnya naik ke pesawat dan menunggu waktu mereka kembali ke rumah.


Setelah beberapa jam perjalanan, mereka berdua pun akhirnya pulang ke rumah orang tua Ammar setelah bulan madu mereka.


...****************...


PoV Faradina


"Mama, Oma, Om Ammar sudah kembali." Ucap Ria, keponakan Ammar berteriak dan berlari ke arah Ammar.


"Hai manis." Ucap Ammar dan berlutut untuk menggendong Ria dan mengangkatnya ke udara.


"Kalian sudah kembali." Ucap Papa mertua setelah melihat kami.


Ammar berhenti bermain dengan Ria dan mengalihkan perhatiannya kepada Papa mertua.


"Iya Papa. Kami mendarat di sini saat pukul 06.00 pagi hari tadi." Ucap Ammar.


"Fara, Ammar, bagaimana kabar kalian?" Ucap Mama mertua Saat berjalan turun dari lantai atas.


"Aku baik Ma. Bagaimana kabar Mama sendiri?" Tanyaku pada Mama mertua.


"Baik.... baik." Ucap Mama mertua dan menarik aku ke arah ruang tamu.


"Duduk di sini lebih dulu. Kau pasti lelah karena perjalanan yang panjang." Ucap Mama mertua memberikan aku sebotol air minum.


"Mama ingatlah bahwa aku juga berada dalam perjalanan panjang." Ucap Ammar tampak cemberut kepada Mama mertua.


"Kau bisa melewatinya. Tapi bagaimana dengan menantuku ini? Dia pasti sangat lemah." Ucap Mama mertua.


"Huh, siapa yang bilang dia lemah? Dia itu penuh dengan energi. Dia bahkan mengajak aku bermain bungee jumping." Ucap Ammar.


"Wow! Apa kau benar membuat dia melakukan apa yang tidak dia suka?" Tanya Mama mertua padaku dengan wajah yang tampak begitu terkejut.


"Tidak Ma. Aku bertanya kepadanya apakah kita bisa pergi untuk bermain dan dia mengatakan kita bisa melakukannya. Tapi saat aku tiba di sana aku menjadi takut ketinggian dan aku meminta apakah kami bisa melompat bersama. Dia pun menerimanya tanpa menolak. Aku tidak memaksanya." Ucapku memberikan tatapan mematikan ke arah Ammar.


"Iya.... iya... itu benar. Aku hanya tidak bisa menolak permintaannya." Ucap Ammar tersenyum canggung.


"Hai kakak ipar." Ucap Ammar melihat ke arah kakak ipar kami yang berjalan ke arah ruang tamu.


Kakak ipar tersenyum kepada Ammar dan melihat ke arahku.


"Bagaimana perjalanan kalian?" Tanya kakak ipar kepada kami berdua.


"Sangat menyenangkan." Ucap Ammar.


"Hei album pernikahan kalian dikirim satu minggu yang lalu." Ucap Kak Ivan, kakak Ammar, dan dia tampak kesulitan untuk menurunkan sebuah tas besar yang dia bawa.


"Om, Papa tidak membiarkan aku melihat albumnya." Ucap Ria cemberut.


Seluruh keluarga tertawa kecil karena tingkah menggemaskan yang ditunjukkan Ria.


"Kemari lah, kita bisa melihatnya sekarang." Ucap Ammar memanggil Ria dan membuat Ria duduk di pangkuannya.


Kami dan seluruh keluarga melihat foto pernikahan kami.


Aku kembali mengenang acara pernikahan kami setelah melihat album pernikahan itu. Ada semua anggota keluarga besar kami di foto itu. Aku menjadi merindukan keluargaku, terutama Mama, Papa juga Oma dan Opa.


Aku akan mengajak Ammar untuk pergi ke rumah Oma Izzah dan Opa Reyhan suatu hari nanti.


Setelah mengobrol panjang lebar, kami pun merasa kelelahan.


"Kami akan pergi ke kamar kami untuk tidur siang, karena kami tidak cukup tidur semalam." Ucap Ammar dan memegang tanganku saat berdiri.


"Makanlah sarapan kalian dulu dan kemudian tidur siang lah. Tidur dengan perut kosong itu tidak baik." Ucap Mama mertua.


"Baik Ma." Ucap kami berdua.


Kami berdua pun melakukan apa yang dikatakan Mama dan menyantap sarapan kami sebelum tidur siang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2