
Kehidupan Izzah berjalan penuh kebahagiaan. Orang tuanya sudah kembali ke kampung. Sikap bu Novi dan Hani sudah berubah jadi lebih baik padanya. Izzah bersyukur memiliki suami yang sangat menyayanginya. Mertuanya pun mulai bersikap lebih perhatian kepadanya.
Namun akhir-akhir ini Izzah disibukkan dengan pekerjaannya di toko kue. Begitu banyak pesanan yang membuatnya sering pulang larut. Rencana bulan madu yang sudah di rencanakan pun jadi tertunda.
Seperti hari ini, Izzah tengah sibuk mengurus orderan di toko kuenya. Hingga Izzah harus pulang terlambat karena harus menyelesaikan orderan pelanggannya tepat waktu. Izzah tak ingin mengecewakan pelanggannya.
Rayhan tengah menyetir pulang dan hendak menjemput Izzah. Suara ponselnya berdering.
[Halo, assalamualaikum bang.]
[Waalaikumsalam sayang.]
[Bang hari ini gak usah jemput, langsung pulang aja. Izzah mau lembur dulu, ada pesanan yang perlu Izzah selesaikan.]
Rayhan terdengar menghela nafas.
[Sayang, kenapa sih masih aja capek-capek kerja. Abang kan juga kerja sayang, apa masih kurang uang belanja yang abang kasih?]
[Bukan gitu bang, Izzah suka sama pekerjaan Izzah ini. Daripada Izzah nganggur dirumah sendirian saat gak ada abang.]
[Abang tau, tapi kalau sudah malam begini harusnya Izzah pulang sama abang. Sebagai isteri yang sholehah harusnya Izzah tau suami itu yang lebih utama. Sayang harus nurut apa kata suami.]
Izzah terdiam.
__ADS_1
[Maafkan Izzah bang, ini yang terakhir kalinya bang. Izzah janji setelah ini Izzah gak akan lagi lembur lagi.]
[Ya sudah, nanti kalau sudah mau pulang, hubungi abang ya. Biar abang jemput.]
[Gak usah bang, abang pasti capek banget. Abang istirahat aja, nanti Izzah bisa pulang bareng Intan. Oh ya nanti makan malamnya Izzah pesan aja ya. Maaf ya bang.]
[Ya udah, terserah Izzah aja. Tapi ingat pulangnya jangan terlalu larut.]
[Insyaallah bang, paling telat jam sepuluh malam.]
[Ya udah, hati-hati ya nanti dijalan.]
[Iya bang, abang juga hati-hati ya. I love you.]
Rayhan lalu memacu kendaraannya kencang agar lebih cepat sampai ke rumahnya. Tiba dirumah, Rayhan merasa begitu lelah. Lastri membuka pintu, menyambut Rayhan dengan senyuman yang menggoda. Pakaiannya begitu tipis menampilkan lekuk tubuhnya.
Seperti biasa, Lastri dengan sengaja berpenampilan seksi karena sebelumnya Izzah telah menghubunginya mengatakan untuk menyiapkan makanan Rayhan karena dia akan pulang terlambat.
"Kesempatan lagi buat aku godain tuan Rayhan. Sudah sering aku menggodanya, namun tetap saja dia tak terpikat sama sekali." gumam Lastri.
Rayhan langsung merebahkan diri di kursi ruang tamu. Kakinya di naikkan ke atas meja.
"Nyonya mana tuan, lembur lagi ya?" tanya Lastri sambil memberanikan diri melepas sepatu Rayhan.
__ADS_1
"Hmmmm...." jawab Rayhan.
"Wah, tumben nih Tuan Rayhan gak ngelarang aku buat melepas sepatunya. Harus lebih dekat nih." gumam Lastri lagi.
Lastri kemudian meletakkan sepatu Rayhan pada rak sepatu. Kemudian kembali mendekati Rayhan.
"Tuan pasti pegel, Lastri pijit ya."
Rayhan tak menjawab, Lastri kemudian memberanikan diri memegang pundak Rayhan kemudian memijitnya.
"Asyiiiikkk bisa pegang Tuan Rayhan sedekat ini. Pasti Tuan Rayhan sudah tergoda." lagi-lagi Lastri bergumam.
Rayhan semakin menikmati pijatan Lastri, pundaknya yang terasa pegal perlahan terasa lebih baik.
"Ternyata kamu bisa mijit juga Lastri." ucap Rayhan.
"Tentu saja Tuan, apa sih yang Lastri gak bisa." jawab Lastri.
"Zah, andai saja kamu yang memijitku, rasanya pasti berbeda. Kenapa akhir-akhir ini kau lebih memilih untuk sibuk dengan toko kue mu itu." gumam Rayhan.
"Hmmmmm...” Rayhan menghela nafas panjang.
"Ada apa Tuan? Apa pijitan saya gak enak?" tanya Lastri.
__ADS_1
Rayhan bangun dari duduknya, kemudian berlalu masuk kamar meninggalkan Lastri yang berdiri mematung.