Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
26. Morning Kiss


__ADS_3

Alia merasa sedikit sesak dan kesulitan bernafas. Matanya masih terpejam, karena rasa malas untuk membuka mata pagi ini.


“Khh....”


'Kenapa tanganku tidak bisa bergerak sama sekali? Dan kenapa rasanya ada sesuatu yang menindih tubuhku hingga sesak seperti ini?' ucap Alia dalam hati.


Alia membuka matanya secara perlahan, untuk menyesuaikan fokus dengan cahaya matahari yang menelusup dari celah tirai yang menutupi jendela kamar hotel.


Ini adalah hari kedua mereka berbulan madu. Atau lebih tepatnya hari ketiga setelah mereka meninggalkan rumah. Masih tersisa beberapa hari ke depan untuk menikmati honeymoon mereka.


“Emh....”


Alia membuka mata sepenuhnya dan mengerjapkannya berkali-kali. Mencoba benar-benar bangun dari tidurnya yang sangat nyenyak. Karena dia tidak bisa bangun dari posisinya, maka dia hanya menggerakkan kepalanya yang terasa pegal ke kanan dan ke kiri. Tangan dan kakinya benar-benar tidak bisa bergerak karena tertahan oleh sesuatu.


“Huh?”


Akhirnya Alia sadar ketika melihat sebuah tangan besar yang menindih tubuhnya. Alia menundukkan wajahnya ke bawah dan melihat sebelah kaki Arka menindih kakinya.


'Ya Tuhan, pantas saja aku tidak bisa bergerak sama sekali.' pikir Alia.


Alia melirik Arka yang masih damai dalam tidurnya. Dia tertelungkup dengan wajah menghadap Alia, tangan kanannya menindih dada Alia, sedangkan kaki kanannya bertumpu pada kaki Alia.


'Apa dia mau membunuhku dengan cara seperti ini?'


Dengan sekuat tenaga, Alia menyingkirkan tangan Arka yang tepat berada di dadanya. Yang membuat Alia sesak dan kesulitan bernafas. Alia bangkit dari posisinya kemudian menyingkirkan kaki Arka yang juga menindih kakinya. Tapi semuanya sia-sia saja karena Alia tidak berhasil melakukannya.


“Arka, bangunlah! Kakiku sakit”


Alia menepuk punggung Arka berkali-kali agar dia segera bangun dari tidurnya. Membangunkan Arka agar Alia segera bisa mengangkat kakinya yang menindih kaki Alia. Alia bahkan baru menyadari jika tubuh Arka itu cukup besar jika dibandingkan dengan tubuh kecilnya.


Alia kembali menepuk punggung Arka dengan tenaga yang lebih keras. Tapi Arka sama sekali tidak bergerak dan masih tertelungkup dengan damai.


'Apa dia mati?'


“Arka, kau masih hidup kan? Ayo bangun. Ini sudah siang." Ucap Alia lagi.


Alia terus saja mengguncang tubuh kekar Arka agar dia segera sadar dan membuka mata. Tapi matanya tetap terpejam sempurna.


'Apa dia mati rasa?'


Alia sudah mencoba dengan sekuat tenaga untuk membuat Arka bangun, tapi tidak berhasil sama sekali.


Alia menjulurkan tangan kirinya untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur. Alia melirik jam dari layar ponsel yang ia pegang, sudah jam 7.38.


"Negara K dan tanah air berbeda kurang lebih 2 jam. Artinya saat ini di Jakarta sekitar jam setengah 10 pagi." Ucap Alia.


'Hem, apa yang sedang Dafa lakukan di rumah Mama ya? Apa dia sudah pergi sekolah, atau bermain di rumah bersama Oma dan Opa nya?'


"Aku juga merindukan Kak Mia. Dia pasti sedang sibuk dengan cafe barunya sekarang. Bagaimana dengan Morgan? Apa yang dia lakukan sekarang?" Ucap Alia pada dirinya sendiri.


Beberapa hari lagi waktu mereka untuk berbulan madu. Akan ada banyak hal baru yang di temui Alia. Dia merasa tidak sabar untuk segera melanjutkan eksplorasinya.


'Tapi, aku harus membangunkan pria di sampingku, sekarang juga.' pikir Alia.


“Arka, ayolah. Ini sudah siang, Ayo bangun. Kau ini tidur atau mati?”


Alia kembali memukul-mukul punggung Arka. Hal itu membuat Arka menggeliat pelan dan merubah posisinya tanpa membuka mata. Sebelah kakinya yang menindih Alia kini sudah berpindah tempat. Dia yang tadinya tidur dalam posisi tertelungkup, kini berbaring dengan damai dan kembali tenggelam dalam alam bawah sadarnya.


'Ya Tuhan, kenapa dia nyenyak sekali, sampai-sampai sulit untuk dibangunkan seperti ini.'


Alia beringsut dari posisi sebelumnya, kemudian menurunkan kedua kakinya dan duduk di samping ranjang. Alia menatap pantulan dirinya di cermin, karena memang ditembok samping tempat tidur mereka terdapat sebuah cermin besar.


Alia tersenyum sendiri ketika mengingat apa yang terjadi semalam. Sebuah ciuman manis yang mereka lakukan, tapi semuanya berujung tragis.


'Hemmm, hal yang sejujurnya sangat aku nikmati, tapi berantakan karena ulahnya. Kenapa dia tidak bisa melakukannya dengan lembut terlebih dahulu, dan membiarkanku menyesuaikan diri dengan apa yang sedang kami lakukan. Aku ingin dimulai pelan-pelan, hingga aku benar-benar bisa menikmati sepenuhnya dan setelah itu barulah dia bisa melakukan apapun sesuka hatinya.


Dasar pria, tidak bisakah dia melakukannya secara perlahan dan menikmati setiap detik yang kami lakukan. Kenapa selalu terburu-buru sampai kehilangan kendali disaat aku masih belum terbawa suasana.' ucap Alia dalam hati.


Alia mengingat wajah kebingungan dan tampang menyesal Arka semalam, hal itu membuat Alia tertawa kecil karena merasa Arka itu tampak lucu.


Arka merasa sangat bersalah karena merusak suasana yang sedang benar-benar mereka nikmati berdua. Sebuah hal yang baru mereka lakukan selama hampir 2 bulan pernikahan dan mereka belum pernah melakukannya.

__ADS_1


'Yah, tadi malam memang tidak terjadi apapun. Tapi aku tidak tahu, hal apa yang akan terjadi di malam-malam kami selanjutnya. Karena jujur, aku juga menantikan momen itu bersamanya.' ucap Alia dalam hati dengan wajahnya bersemu merah.


“Aish, Alia Luiz, apa yang kau pikirkan? Memalukan.”


Gumam Alia sembari memukul-mukul kepalanya sendiri dengan gemas.


'Ya Tuhan, kenapa aku jadi seperti ini? Pantaskah aku mengharapkan hal itu benar-benar terjadi. Hanya sebuah ciuman saja sudah membuatku gemetar hebat. Apalagi jika dia melakukan hal yang lebih dari itu. Ah sudahlah, yang pasti biarkan semuanya mengalir perlahan.'


Alia lalu segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Hari ini jadwal mereka adalah A Day Fun Ship Cruise.


'Ah, menghabiskan waktu di pantai pasti akan sangat menyenangkan.'


Arka dan Alia memang sangat menggilai pantai. Dan dari apa yang Alia lihat di internet, pantai di negara ini memang sangat indah. Sejak kemarin Alia sudah melewati beberapa pantai, tapi sama sekali belum menginjakan kaki di sana. Hari ini mereka akan pergi dengan kapal pesiar, selanjutnya bermain di pantai. Seharian penuh mereka akan melihat laut.


'Wooah, aku benar-benar sangat menyukainya.'


Setelah selesai mandi. Alia keluar dengan jubah mandi berwarna putih dan juga sebuah handuk yang menggulung rambutnya.


Masih berdiri di depan pintu kamar mandi, Alia memandangi Arka yang belum bangun juga. Wajah Arka ketika tertidur benar-benar polos dan damai.


"Mau sampai kapan dia tidur? Kenapa sudah siang seperti ini masih belum bangun juga?"


Arka masih berbaring dengan posisi seperti sebelumnya.


'Oh Tuhan, apa suamiku ini masih hidup?'


Alia membuka gulungan handuk di rambutnya dan membiarkan rambut basahnya tergerai begitu saja. Alia lalu melempar handuk itu ke sofa yang berada beberapa meter dari tempatnya berdiri. Alia mengencangkan ikatan jubah mandinya, memastikannya terikat kuat. Alia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arka kemudian membungkukkan badannya tepat di atas Arka.


“Arka, ayo bangun!”


Alia menepuk pipi suaminya dengan tangan kanannya, membuat Arka mengernyitkan alisnya sesaat. Itu karena karena Arka merasakan dinginnya tangan Alia karena baru saja selesai mandi.


“Arka, cepatlah. Ayolah, kita akan pergi ke pantai.” Ujar Alia sembari menggoyangkan bahu Arka dengan sekuat tenaga.


Tapi tidak berhasil sama sekali, karena pria tampan itu masih saja damai dengan tidurnya tanpa bergerak sedikitpun.


“Arka Wijaya..."


“Aish, sudahlah. Aku tidak peduli. Terserah kau mau bangun atau tidak, yang pasti aku tidak mau terlambat dan membuat tour guide kita menunggu. Aku akan tetap pergi sendirian tanpamu. Kau disini saja, nikmati tidurmu sampai puas.”


Alia sudah mulai kesal karena Arka tidak mau membuka matanya juga. Seperti disengaja, mengacuhkan Alia begitu saja.


“Aish, dasar...”


Alia bangkit dari posisinya. Berdiri tegak dan siap untuk melangkahkan kaki menjauhi Arka. Tapi tiba-tiba Arka bangkit dari posisinya dan menarik tangan Alia dengan sekuat tenaga. Akhirnya Alia kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas tubuh Arka.


'Ya Tuhan, posisinya sangat... Ehm, tidak nyaman.'


“Mau kemana sayang, huh?” Ucap Arka.


Arka berbicara di depan wajah Alia yang tepat berada di atas tubuhnya. Suara serak Arka mengalun indah masuk kedalam telinga Alia. Membuat jantung Alia tiba-tiba bergetar hebat karena perlakuannya.


“Em... aa... aku... aku...”


'Aish, selalu saja seperti ini. Kenapa aku selalu merasa gugup setiap berada dalam jarak yang terlalu dekat dengannya. Ayolah Alia, kendalikan dirimu. Jika aku bersikap seperti ini malah akan membuat dia berfikir macam-macam.'


“Kenapa sayang? Kau selalu gugup setiap dekat denganku?” Tanya Arka.


Arka mengulurkan tangan kirinya untuk meraih rambut Alia, kemudian menelusupkannya ke belakang telinga Alia.


“Arka, jangan seperti ini. Kumohon!” Ucap Alia.


Alia mencoba mengeluarkan suara pelan dari mulutnya. Namun Arka tidak menanggapinya sama sekali, dan malah menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Kini tangan lembut Arka mulai mengusap pipi Alia dan menyusuri garis rahangnya. Alia menatap matanya yang sayu karena baru saja bangun tidur, rambut Arka yang berantakan malah membuat dia semakin terlihat tampan.


'Ya Tuhan, kenapa suamiku bisa terlihat sangat tampan seperti ini ketika bangun tidur.' ucap Alia dalam hati.


“Give me morning kiss, please...” (Berikan aku ciuman pagi hari, ku mohon) Bisik Arka tepat di telinga Alia.


Udara hangat yang keluar dari mulut Arka terasa menggelitik leher Alia dan membuatnya merinding sesaat.


'Morning kiss? Ya ampun, kenapa suamiku ini genit sekali.'

__ADS_1


“I’m sorry sir. But I don’t wanna do that.” (Maaf Tuan, tapi aku tidak mau melakukannya.) Ucap Alia dengan tersenyum menatap Arka yang terlihat kecewa.


“Tapi aku akan tetap melakukannya sayang." Balas Arka.


Tanpa aba-aba, Arka memutar tubuh Alia ke samping hingga kini posisi mereka berbalik. Arka mencengkram kedua tangan Alia di samping kepala. Tubuh kekarnya menindih tubuh Alia, membuat Alia sama sekali tidak bisa melawan. Sebelah lutut Arka berada di sela-sela kaki Alia. Menekan ranjang untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak terlalu menindih Alia. Tapi sia-sia saja, karena tubuh besar Arka tetap saja menempel dengan tubuh Alia.


“Arka, apa yang kau lakukan? Ini pemaksaan namanya." Ujar Alia dengan suara yang cukup keras, hingga membuat Arka menjauh kan wajahnya dari wajah Alia.


“Sayangnya kau adalah istriku Nyonya Wijaya. Jadi aku bisa melakukan apapun padamu.” Balas Arka.


Dia tersenyum kemudian mengerlingkan sebelah matanya. Alia hanya bisa terbengong tanpa berkedip ketika melihat Arka melakukan itu. Alia merasa benar-benar terhipnotis dengan pesona Arka kali ini. Mata yang masih bengkak dan rambut yang berantakan. Arka benar-benar terlihat kacau pagi ini, tapi pesonanya masih tetap terasa dengan jelas dimata Alia.


“Tapi, kau.... mmppph.”


Alia belum sempat menyelesaikan perkataannya, Arka sudah membekap mulutnya dengan bibirnya. Alia sama sekali tidak bisa melawan karena kedua tangannya dicengkeram Arka dengan erat. Bibir Arka bergerak dengan fasih menyapu bibir Alia. Alia memang tidak bisa menolaknya jika sudah dalam posisi seperti ini. Alia hanya bisa tenggelam dalam perasaan yang tidak bisa dia gambarkan. Saat melakukan itu dengan Arka, Alia merasa mereka berdua benar-benar mabuk dan tenggelam didalamnya.


Alia menggerakkan kepalanya saat mulai kehabisan napas. Tapi Arka tidak menghiraukannya sama sekali. Dia malah meluma*t bibir Alia lebih dalam dari sebelumnya, membuat Alia kembali menikmati ciuman manis Arka pagi ini.


Alia merasa hal ini sangat tidak pantas disebut sebagai morning kiss. Karena Arka terlalu menikmatinya sampai melum*at bibir Alia berkali-kali dan memperdalam ciumannya. Membuat Alia benar-benar kehabisan napas. Alia tidak bisa memeluk tubuh Arka atau melingkarkan kedua tangannya di bahu Arka, karena dia masih mencengkram erat kedua tangan Alia dan menekannya ke ranjang. Alia hanya bisa terlentang dibawah kekuasaannya. Berharap tali jubah mandinya tidak terbuka karena posisi Arka diatas tubuhnya saat ini.


Beberapa saat mereka berdua tenggelam dalam suasana menyenangkan itu. Menikmati morning kiss, yang sedikit berlebihan. Akhirnya Arka menghentikan kegiatannya. Arka mengangkat wajahnya kemudian tersenyum lembut. Dia melepaskan cengkraman di tangan kiri Alia, kemudian mengulurkan jari-jarinya untuk menyeka bibir Alia yang basah.


“Maaf sayang, ehm.... Aku lupa belum menggosok gigi.” Ujar Arka dengan wajah tanpa dosa.


Mendengar hal itu, spontan Alia langsung mendorong tubuh Arka menjauh dari tubuhnya, sehingga kini dia duduk bertumpu pada lututnya di atas ranjang.


“Weekk... iyuuhh..... Argh.... MENJIJIKAN!” Ucap Alia kesal.


Alia menyeka daerah sekitar bibirnya. Kemudian bangkit dari ranjang, segera berlari ke dalam kamar mandi. Alia menyalakan keran air di wastafel dan berkumur berkali-kali. Alia menampung air dengan kedua tangannya untuk mencuci bibirnya.


'Keterlaluan, bagaimana mungkin dia melakukannya sedalam itu.'


“Aish, bagaimana mungkin aku bisa begitu menikmati morning kiss menjijikan itu, iiihhh...” Ujar Alia dengan emosi, kemudian mengangkat kepala, dan menatap wajahnya di cermin.


Alia melihat sosok Arka dari pantulan cermin di hadapannya. Arka sedang berdiri di belakang Alia, menyandarkan tubuhnya ke tembok dan menyilang kan kedua tangan di dadanya. Masih dengan senyum lebar yang membuatnya semakin menyebalkan dimata Alia.


“Apa sangat menjijikan, merasakan bibirku di pagi yang indah ini?” Ucap Arka dengan senyuman mengejek.


Arka melangkahkan kakinya mendekat kerah Alia kemudian memeluk pinggangnya dari belakang. Alia mencengkram tali jubah mandinya, agar Arka tidak berbuat nekat dan menarik talinya hingga terbuka.


“Berhenti bersikap seperti ini Arka. Kita sudah terlambat. Cepatlah mandi!” Ucap Alia.


“Kau sangat menikmati morning kiss tadi kan?” Tanya Arka lagi.


“Tidak. Aku tidak menikmatinya sama sekali. Itu menjijikkan.” Balas Alia kesal.


“Lalu apa maksudnya dengan suara pelan itu?”


“Suara pelan apa? Jangan mengada-ada."


“Kau tidak menyadarinya. Suara indah yang keluar di sela-sela ciuman kita.” Ucap Arka.


Arka berbisik tepat di telinga Alia. Kedua tangannya masih melingkar di perut Alia. Alia berusaha mempertahankan kesadarannya sepenuhnya.


“Aku tidak pernah mengeluarkan suara menjijikkan itu." Balas Alia.


“Tapi aku mendengarnya dengan jelas sayang.” Lagi-lagi Arka berbisik.


“Arka hentikan." Ucap Alia kesal.


“Kau mengeluarkan suara seperti ini… Ahm... emh... enghm.... Sa... yang... Ah...”


“Ish... Berhenti atau aku akan menendang mu." Ancam Alia.


“Enghm... Arka... Sa... Yang... Emmmphhh..."


Arka terus saja mengeluarkan suara ******* itu tepat di telinga Alia, membuat Alia tiba-tiba merinding mendengarnya.


Alia melepaskan kedua tangan Arka yang melingkar di perutnya, kemudian keluar meninggalkannya begitu saja di dalam. Alia menutup kembali pintu kamar mandi dan membiarkan dia terbengong menatap Alia dari cermin.


'Biarkan saja dia mandi dan menggosok giginya. Sejak tadi sangat sulit dibangunkan, butuh tenaga ekstra untuk membuat dia terbangun. Tapi sekalinya terbangun dia malah menggodaku dan melakukan ciuman menjijikkan itu.' ucap Alia dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2