
Satu minggu kemudian di rumah Nabila....
"Jadi, maksud kedatangan kami ke sini adalah melamar Nabila untuk menjadi istri Anak kami Abraham Arka Wijaya," ucap Rayhan dengan tenang.
Bu MiraβMama Nabila, yang mendengar itu langsung mengerjapkan mata beberapa kali. Alisnya bertautan, ia memandang Nabila yang duduk di sebelah, seakan meminta penjelasan dengan apa yang dikatakan Rayhan. Sementara Nabila hanya membalas dengan cengiran.
"Maaf sebelumnya, ini beneran Bapak ngelamar anak saya si Nabila?" tanya Bu Mira yang dibalas senyuman serta anggukan oleh pasangan suami istri di depannya.
"Tapi ... tadi kata Nabila, hanya ada tamu biasa mau datang ke rumah ini. Nggak bilang kalau mau lamaran, ya Allah ... maaf Pak, Bu. Saya nggak nyiapin apa-apa ini. Aduh jadi malu," ucap Bu Mira dengan tak enak hati.
"Nabila, kamu ini, bikin malu mama saja," lanjutnya sambil menyenggol tangan Nabila kesal. "Mana mama nggak dandan lagi, habis masak di dapur.."
Izzah tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu. Saya sengaja menyuruh Nabila untuk tidak memberitahu, biar nggak repot. Karena kata Kinan Bu Mira baru sembuh dari sakit, lagi pula acara ini juga mendadak kok, Bu, jadi santai saja," balas wanita cantik itu sopan.
"Sekali lagi, saya minta maaf, Pak, Bu, dan maaf kalau rumah ini sangat berantakan, tadi habis ngejar kucing yang bawa lari ikan goreng."
"Nggak apa, Bu," balas Izzah dengan kekehan kecil.
"Tahu kalau ada yang mau ngelamar, saya bisa suruh Nabila buat nge-cat ulang tembok biar lebih cantik. Maklum, Nabila ini suka cakar-cakar tembok kalau lagi putus sama cowok." Ucapan Bu Mira yang membuat Nabila menepuk jidat menahan malu. Ditambah Arka langsung terkekeh sambil memandangnya, seolah tengah mengejek.
"Benarkah?" Izzah tersenyum ke arah Nabila. "Ada-ada saja. Oh, ya, Bu. Perkenalkan ini Arka, anak saya yang akan menjadi suami Nabila nanti," ucap Izzah.
Lalu memberi kode pada pria berkemeja abu muda yang sedari tadi diam itu untuk menyapa calon mertuanya. Dengan cepat Arka langsung mengubah posisi duduknya dan mengangguk ke arah mama Nabila. "Salam kenal, Tante. Saya Arka."
__ADS_1
"Eh iya, salam kenal Nak Arka, saya Mira ibunya Nabila. Sudah berapa lama ya kenal Nabila? Kok kayaknya bukan ini yang suka antar jemput kamu setiap hari? Apa ganti lagi pacarmu, Bil?" tanya Bu Mira polos.
Nabila mengusap wajahnya pelan, malu level dua. "Dia Pak Arka, Ma. Bos yang pernah aku ceritain itu," balasnya pelan.
Dahi Bu Mira mengernyit. "Bosmu? Yang katamu galak, judes, dan sikapnya dingin sedingin kulkas itu?" Ucapan Bu Mira yang kali ini mampu membuat Arka membelalakkan mata ke arah Nabila, wajah tampan itu memerah.
Sedangkan di sebelahnya, Izzah dan Rayhan mencoba menahan tawa.
Nabila yang melihat perubahan wajah pada Arka segera menutup muka dengan bantal sofa yang sedari tadi ia pegang. "Mati aku," ucapnya pasrah.
"Ngomong-ngomong, papa nya Nabila dimana?" tanya Rayhan.
"Mmmm, Mas Yusuf meninggal saat Nabila berusia sepuluh tahun. Ia mengidap penyakit gula darah yang tinggi Pak." balas Bu Mira.
Teringat akan sahabatnya dulu, seorang lelaki yang menaruh hati padanya saat Rayhan meninggalkan dirinya disebabkan kesalah pahaman yang terjadi.
"Iya, papanya Nabila namanya Yusuf, Mas Yusuf. Nah itu dia fotonya." balas Bu Mira menunjuk figura yang menempel di dinding.
Figura itu memperlihatkan tiga orang yang tengah berfoto bersama. Ada Bu Mira, Nabila, dan papanya Nabila.
Mata Izzah menyipit, ia kemudian berdiri mendekati figura itu. Rasa penasarannya akan sosok lelaki yang bernama Yusuf sangat tinggi, hingga ia menjangkau foto yang berada di dinding itu.
"I-ini kan...."
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Rayhan.
"Yah, i-ini Mas Yusuf Yah, sahabat Ibu dulu." ucap Izzah terharu.
Rayhan ikut berdiri kemudian mengambil figura itu dari tangan Izzah. Ekspresi Rayhan terlihat sangat terkejut. Benar, lelaki yang ada di dalam foto itu adalah Yusuf, lelaki yang pernah menaruh hati pada isterinya dahulu.
Teringat kembali pertemuan terakhir Rayhan dengan Yusuf saat ia harus menghajar Yusuf karena berbuat tidak senonoh pada Izzah karena suruhan Bella.
"Ya Allah Yusuf..." ucap Rayhan.
Izzah menatap Bu Mira dengan lekat.
"Apa ibu ini yang namanya Mbak Izzah, yang sering di sebut Mas Yusuf semasa ia masih hidup dulu?" tanya Bu Mira dengan mata berbinar.
Izzah mengangguk, lalu memeluk Bu Mira. Keduanya berangkulan sambil terisak.
"Ya Allah, saya gak nyangka ternyata akan berbesan dengan Mbak Izzah. Mas Yusuf selalu bilang ingin bertemu sama Mbak Izzah untuk meminta maaf. Namun, sampai ia meninggal ia tidak mempunyai keberanian untuk bertemu Mbak Izzah. Mas Yusuf mengatakan ia malu untuk bertemu Mbak Izzah. Dan disaat terakhirnya, Mas Yusuf menitip pesan kepada saya, jika suatu saat saya bertemu dengan Mbak Izzah, Mas Yusuf menyampaikan permintaan maaf sebesar-besarnya atas apa yang pernah ia lakukan terhadap Mbak Izzah." ujar Bu Mira terisak.
"Yaa Allah Mas Yusuf, aku sudah memaafkanmu Mas." ucap Izzah lirih.
Seisi ruangan terlihat haru, bahkan Rayhan merasakan matanya ikut berair.
Izzah kemudian menghampiri Nabila, kemudian mencium kening Nabila. Sementara Arka, ia terlihat memandang Nabila lekat.
__ADS_1