
Tubuh Yusuf bergetar membayangkan lekuk tubuh Izzah yang terbalut kain hingga menutupi dadanya. Yusuf mengambil ponselnya hendak merekam perbuatan bejat yang akan dilakukannya pada Izzah.
"Maafkan aku Izzah, aku tak bisa menahan diriku. Aku ngelakuin ini demi keselamatan kamu juga. Aku janji akan bertanggung jawab." ucap Yusuf menyentuh bibir Izzah dengan jemarinya.
Saat Yusuf menunduk hendak mencium Izzah serta membuka kain penutup tubuh Izzah. Tiba-tiba suara adzan maghrib berkumandang.
"Allahuakbar... Allahuakbar..."
Yusuf berhenti, dia terdiam. Lalu menatap wajah polos Izzah.
Dengan cepat dia berlari masuk ke kamar mandi.
"Astaghfirullah apa yang sudah aku lakukan. Kenapa aku jadi seperti ini." ucap Yusuf.
Tak terasa air matanya mengucur deras. Dengan segera dia mengambil air wudhu. Setelah selesai dengan cepat dia berlari keluar kamar tanpa menoleh ke arah Izzah.
Yusuf lalu menunaikan shalat diruang tamu apartemen itu. Sementara di toko kue Izzah, Rayhan terlihat panik. Sejak jam setengah enam sore dia sampai di toko kue Izzah untuk menjemputnya. Namun hingga waktu maghrib Izzah tak ada kabar. Nomornya aktif saat ditelepon, namun tak ada jawaban.
"Sayang kamu dimana?" ucap Rayhan sambil terus menelepon Izzah.
Izzah akhirnya perlahan-lahan sadar. Kepalanya begitu pusing. Saat membuka mata, Izzah kaget karena dia tertidur di atas kasur tanpa mengenakan busana.
"Yaa Allah, dimana aku?" isak Izzah.
__ADS_1
Izzah mencoba untuk duduk. Matanya tertuju pada pakaiannya yang berserakan dilantai. Ponsel Izzah terdengar bergetar dari dalam tasnya yang ada di atas meja. Dengan cepat Izzah meraih tasnya lalu mengambil ponselnya.
Ada lima puluh panggilan tak terjawab dari Rayhan. Izzah semakin bingung akan apa yang terjadi. Lalu dia mencoba menelepon Rayhan.
[Hallo sayang, yaa Allah. Sayang dimana? Abang khawatir sekali, sejak tadi abang nungguin Izzah didepan toko. Sampai-sampai abang keliling taman nyariin Izzah.]
[Aa...aaabaang...] isak Izzah.
[Kenapa sayang? Kenapa nangis?] tanya Rayhan.
[Tolong Izzah bang, Izzah gak tau ini dimana.]
[Tenang sayang, tenanglah. Sekarang buka gps ponsel Izzah. Langsung shareloct ke abang.]
[Baik bang] isak Izzah.
"Zah, aku bisa jelasin semuanya." teriak Yusuf dibalik pintu.
Izzah menangis tersedu-sedu, dia bingung dengan keadaan. Bagaimana dia bisa bersama Yusuf dalam sebuah kamar dengan Izzah yang tak mengenakan sehelai benangpun. Pikiran Izzah berkecamuk. Dengan berurai air mata, Izzah memungut pakaiannya lalu dengan segera mengenakannya.
Setelah selesai mengenakan pakaiannya Izzah segera keluar kamar. Yusuf tengah duduk menunggu Izzah. Melihat Izzah keluar kamar, Yusuf segera mendekati Izzah.
"Jangan mendekat." ucap Izzah ketakutan.
__ADS_1
"Zah, dengerin aku. Aku bisa jelasin semuanya." ucap Yusuf bergetar.
"Sebaiknya begitu, cepat jelaskan. Bagaimana bisa aku ada disini? Lalu kenapa kamu bisa disini juga? Dan... Kenapa aku bisa...?" ucapan Izzah terhenti, air matanya mengucur deras.
"Apa yang sudah kamu lakukan padaku?" teriak Izzah histeris.
Untuk pertama kalinya Izzah berbicara dengan nada kasar pada Yusuf.
"Demi Allah Zah, aku gak apa-apain Izzah." ucap Yusuf.
"Jangan bawa-bawa nama Allah jika berdusta. Lalu kenapa aku bisa disini sama kamu? Aku gak nyangka kamu bisa sebejat ini Yusuf." teriak Izzah.
"Yaa Allah Zah, aku minta maaf sudah membawa Izzah kemari, tapi demi Allah Zah, aku gak sampai apa-apain kamu. Percayalah."
"Kenapa? Kenapa kamu lakuin ini semua?" teriak Izzah.
"Aku khilaf Zah, aku cuma nggak mau Rayhan terus menyiksa Izzah."
"Menyiksa aku? Apa maksudmu? Demi Allah aku gak pernah menyangka kamu bisa seperti ini." isak Izzah.
"Zah..."
Tok tok tok... Pintu apartemen digedor paksa dari luar. Dengan cepat Yusuf membuka pintu. Dia berpikir bahwa itu adalah Bella, namun saat dibuka betapa terkejutnya dia. Rayhan berdiri dihadapannya dengan wajah penuh amarah.
__ADS_1
Bugh..bugh..bugh
Rayhan menghajar Yusuf dengan membabi buta. Izzah terus saja menangis meratapi nasibnya. Izzah berpikir bahwa Yusuf sudah melakukan hal yang tak senonoh pada dirinya.