Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Tabur Bunga


__ADS_3

Berita tentang Izzah yang akan menikah tersiar. Mang Diman dan Bi Asih senantiasa mendukung keputusan Izzah.


Pagi itu Izzah pergi ke pantai seorang diri. Ia berjalan menyusuri tepian pantai. Air matanya luruh.


Izzah berdiri menatap lautan yang luas.


"Abaaang...." lirih suara Izzah berteriak.


"Abaaaaang......" teriaknya lagi.


"Maafin Izzah Bang, sampai kapanpun Izzah gak akan pernah bisa melupakan Abang." ucap Izzah dengan berurai air mata.


Siang harinya Izzah mengajak semua anggota keluarga untuk tabur bunga ke tengah laut.


Menggunakan kapal, Izzah menabur bunga ke tengah laut. Tangis Izzah pecah saat membayangkan Rayhan.


"Abang, Izzah mohon izin untuk membina rumah tangga baru. Izzah sudah ikhlas dengan kepergian Abang. Tenanglah disana Bang." isak Izzah.


Bu Ros ikut larut dalam kesedihan. Tangisnya pecah mengingat anak semata wayangnya yang telah pergi.


Begitu juga dengan Mang Diman dan Bi Asih keduanya ikut menangis sambil menabur bunga ke laut.


"Den, semoga Aden ditempatkan disisi yang terbaik oleh Allah. Mamang janji akan selalu jaga Neng Izzah dan anak-anak." ucap Mang Diman.


Suasana haru begitu terasa saat prosesi tabur bunga. Meski belum pernah melihat Ayah mereka secara langsung. Arka dan Arsha pun ikut merasakan kesedihan saat menabur bunga di laut.


"Ayah, meski kita tidak pernah bertemu. Arsha dan Kak Arka sayaaang banget sama Ayah. Kini biarkan Ibu menikah ya Ayah dengan Om Romi. Agar kami bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah." ucap Arsha polos.


Bi Asih mengelus pucuk kepala gadis cantik itu.


Sementara itu ditempat lain, Rayhan juga sudah setuju untuk menikahi Ningsih setelah semalaman ia berpikir.


"Saya siap untuk menikahi Ningsih Pak." ucapnya.


"Terima kasih Nak Rama. Secepatnya akan kita langsungkan pernikahan kalian berdua." ucap Pak Kasim.


Keesokan harinya, Pak Kasim dan Rayhan pergi ke pasar yang ada di kota untuk menjual sayur hasil perkebunan.


Hal ini sudah sering Rayhan lakukan bersama Pak Kasim. Butuh waktu seharian untuk mereka menempuh perjalanan hingga tiba di kota.


Semenjak tinggal di desa terpencil itu, Rayhan tak pernah lagi mengenal dunia maya. Rayhan tak lagi memiliki ponsel. Bahkan menonton televisi saja tak pernah lagi Rayhan lakukan. Kalaupun bisa, Rayhan hanya menonton televisi saat pergi ke kota. Itupun hanya sebentar saat mampir makan siang di warung langganan mereka.


Setelah selesai menjual hasil perkebunan, Pak Kasim dan Rayhan menuju warung langganan mereka untuk makan siang.

__ADS_1


Sambil menikmati santap siang, Rayhan fokus menonton televisi yang tengah menyiarkan acara gossip selebritas ibu kota.


"Pemirsa, setelah hampir sepuluh tahun menjanda mendiang isteri Rayhan Aditya Wijaya, Anindia Azizzah yang kerap disapa Izzah akhirnya akan melepas masa jandanya pada akhir bulan ini. Kabar tersebut didapat dari calon mertua Izzah yang tak lain tante dari mendiang Rayhan, Bu Mona.


Beberapa tahun yang lalu pengusaha muda Rayhan, dikabarkan mengalami kecelakaan setelah pesawat yang ditumpanginya jatuh di perairan pulau X.


Kini Izzah dan Romi calon suaminya tengah mempersiapkan pernikahan mereka."


Dalam layar televisi terpampang jelas foto Izzah dan anak-anaknya beserta Romi.


"Izzah....!" seru Rayhan.


Tak lama foto Rayhan terlihat di layar televisi yang membuatnya heran dan menatap Pak Kasim yang ikut heran.


"Izzah...isteriku." ucap Rayhan.


Kepala Rayhan terasa begitu pusing, hingga membuatnya berteriak kesakitan.


"Izzaaaaahh." teriak Rayhan kemudian tak sadarkan diri.


Hari-hari berlalu, berbagai pesan teror diterima Izzah menjelang hari pernikahannya dengan Romi.


[Dasar wanita murahan]


[Izzah si wanita simpanan]


[Sekali wanita simpanan, tetap jadi wanita simpanan]


[Hobimu jadi wanita simpanan ya?]


[Ingat, aku gak akan pernah biarin kamu bahagia jika menikah dengan Romi]


Dan masih banyak pesan-pesan yang lainnya.


Awalnya Izzah tak ambil pusing, namun lama kelamaan Izzah merasa risih.


Apa ini tanda dari Allah kalau aku gak usah nikah sama Romi...?


Semakin dekat hari pernikahan, Izzah merasa semakin gelisah. Ingin sekali ia membatalkan semuanya, namun melihat wajah bahagia dari kedua buah hatinya, Izzah jadi tak tega.


Hari itu, Mang Diman dan Bi Asih datang berkunjung ke rumah Izzah.


Bi Asih tengah asyik bermain di taman bersama Arka dan Arsha. Sementara Izzah dan Mang Diman duduk di bangku sambil memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Mang, apa Izzah batal aja ya nikahnya?" tanya Izzah pada Mang Diman hang hari itu berkunjung bersama Bi Asih.


"Neng, saran Mamang, kalau Neng Izzah sudah yakin, lanjutkan. Kalau Neng ragu, lebih baik jangan. Mamang tau Neng menikah demi menyenangkan Arka dan Arsha. Tapi ingat, menikah itu bukan untuk main-main. Percuma Neng Izzah berniat untuk bahagiain anak-anak, jika Neng sendiri tidak bahagia." ucap Mang Diman.


Izzah mengangguk, ia mencerna semua ucapan Mang Diman.


Beberapa hari berlalu, esok pagi Izzah akan melangsungkan pernikahannya dengan Romi.


Bu Ros masuk ke dalam kamar Izzah, saat Izzah tengah duduk didepan cermin menatap pantulan dirinya.


"Assalamualaikum Zah, Umi boleh masuk." ucap Bu Ros didepan pintu kamar Izzah yang terbuka.


"Waalaikumsalam, iya Umi. Masuk aja." jawab Izzah.


Bu Ros masuk lalu berdiri dibelakang Izzah yang duduk menghadap cermin.


"Umi gak nyangka setelah beberapa tahun akhirnya kamu mau juga menikah. Umi bahagia." ucap Bu Ros sambil memehang pundak Izzah.


Izzah menghela nafas panjang.


"Umi, maaf sebelumnya. Izzah ragu dengan pernikahan ini. Izzah takut nantinya tidak akan bisa bahagia. Apalagi Izzah sama sekali tidak mencintai Romi. Izzah masih mencintai Bang Rayhan Umi." balas Izzah.


"Anakku, Umi yakin dulu saat Izzah menikah dengan Rayhan. Kalian pasti tidak saling mencintai, seperti yang pernah Rayhan ceritakan sama Umi. Kalian menikah saat itu benar-benar karena dipaksa oleh keadaan. Tapi lihatlah, pada akhirnya kalian saling mencintai." ucap Bu Ros seraya duduk di sisian tempat tidur Izzah.


Izzah bangun dari duduknya dan berpindah disisi Bu Ros.


"Zah, Umi tau ini berat untuk Izzah. Tapi lihatlah wajah bahagia dari Arka dan Arsha. Romi mencintai Izzah dan anak-anak Izzah. Insyaallah nanti seiring berjalannya waktu cinta itu akan tumbuh di hati Izzah. Lagipula Romi itu sudah seperti anak Umi sendiri. Dia kan keponakan Umi. Jadi gak mungkin dia macem-macem." lanjut Bu Ros.


"Umi, sebenarnya Izzah gak mau mempermasalahkan hal ini. Tapi, bagaimana menurut Umi tentang hal ini?" tanya Izzah sambil mengambil ponselnya diatas nakas lalu memberikannya pada Bu Ros.


Layar ponsel Izzah menampilkan berbagai pesan dari nomor tak dikenal.


Bu Ros tersenyum lalu mengelus kepala Izzah lembut.


"Zah, mungkin ini hanya orang iseng yang gak suka lihat kamu bahagia. Atau bahkan perempuan-perempuan yang sakit hati karena melihat Romi akan menikahi kamu. Karena dulu sekali, Umi sering lihat Romi gonta ganti pacar. Maklum dulu masih muda." jawab Bu Ros.


Izzah terlihat berpikir.


"Zah, yakinlah. Jangan lupa bismillah. Restu Umi selalu menyertai Izzah." ucap Bu Ros kembali.


"Terima kasih Umi." balas Izzah lalu memeluk Bu Ros.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2