
Jam sebelas malam acara resepsi pun selesai. Namun tak satupun keluarga besar Rayhan beranjak dari pesta tersebut. Mereka semua malah melanjutkan pesta dengan memutar musik romantis.
Beberapa pasangan mulai berdansa mengikuti alunan musik yang diputar. Terlihat pasangan Lisa dan Dokter Harun yang piawai berdansa. Ada juga Ifan dan Intan yang sekedar melangkah ke kiri dan ke ke kanan. Mereka masih terlihat kikuk melakukan dansa.
"Sayang... Maukah berdansa dengan abang?" ajak Rayhan dengan menyodorkan tangannya pada Izzah.
Izzah menggeleng kuat.
"Izzah gak bisa dansa bang." jawab Izzah.
"Nanti abang ajarin." jawab Rayhan dengan menggandeng tangan Izzah.
Hani beserta bu Novi dan pak Haris hanya duduk-duduk meminum jus segar.
"Bu kira- kira Hani bisa dapat suami yang kaya seperti Kak Rayhan gak ya?" celetuk Hani.
"Jangan kebanyakan mimpi kamu nak, selagi masih hidup, kamu lebih baik berusaha memperbaiki diri kamu. Insyaallah jodoh gak akan tertukar." ucap pak Haris.
Hani berdecak kesal terhadap pak Haris. Sementara mang Diman mulai menggoda bi Asih.
"Bu, kita ikut juga ayo seperti mereka, dansa." ajak mang Diman.
"Memang bapak teh bisa gitu dansa?" tanya bi Asih.
__ADS_1
"Wahh dansa itu gampang, tinggal geol kiri, geol kanan selesai." jawab mang Diman menggandeng tangan bi Asih.
"Ciiieeee..." teriak Ifan dan Intan bersamaan.
Mang Diman mulai memegang tangan bi Asih meniru gaya orang-orang yang disampingnya yang tengah berdansa. Mang Diman terlihat kaku dalam menggerakkan badannya. Membuat orang-orang yang melihatnya tersenyum geli.
"Ih bapak malu-maluin saja. Katanya dansa teh gampang. Gak taunya joget aja bapak gak bisa. Joget kok jayak robot kaku begitu." ucap bi Asih lalu berjalan meninggalkan mang Diman yang masih berdiri di lantai dansa.
"Ibu tunggu atuh, bapak teh sengaja joget begitu. Biar yang lain gak iri lihat kehebatan jogetnya bapak. Nanti kalau bapak keluarin joget andalannya bapak, bisa-bisa semua orang terpana bu." balas mang Diman.
"Eleeuh-eleeuh terpana apanya bapak, paling juga orang-orang pada ngetawain bapak. Huh."
"Sudah-sudah, lebih baik sekarang kita pulang saja yuk. Nanti bisa joget berdua dirumah." goda mang Diman.
Setelah merasa lelah, Izzah memutuskan untuk duduk istirahat. Rayhan mengikuti Izzah lalu duduk di sampingnya. Lisa dan Dokter Harun menghampiri mereka berdua.
"Run udah ada tanda belum Lisa berisi?" tanya
Rayhan basa basi.
"Belum Ray, mungkin karena waktu gue yang sedikit buat Lisa."
"Lu sih kerja mulu. Ngomong-ngomong kita agendakan buat bulan madu bareng yuk." ajak Rayhan.
__ADS_1
Izzah dan Lisa saling pandang, lalu tersenyum bahagia.
"Setuju Ray, tapi kita mau kemana?" tanya Dokter Harun.
"Kita serahin ke nyonya-nyonya ini saja." balas Rayhan sambil memegang tangan Izzah.
Izzah lalu terlihat berpikir.
"Gimana kalau kita pergi ke pulau seribu masjid bang." ucap Izzah.
"Seribu masjid?" seru Rayhan.
"Iya bang pulau seribu masjid. Pulau itu telah menjadi destinasi wisata halal terbaik diseluruh dunia bang." jelas Izzah.
"Aku setuju dengan Izzah, kita bisa explore pulau itu. Karena yang aku dengar-dengar pulau itu punya tempat wisata yang cukup banyak. Aku jadi penasaran." tambah Lisa.
"Ya sudah kalau isteri gue bilang oke ke pulau itu, maka gue juga pasti setuju buat kita kesana. Gimana dengan lu Ray?” tanya Dokter Harun.
"Sudah barang tentu gue setuju, apalagi ini jelas-jelas kemauan isteri tercinta gue." jawab Rayhan sambil mencium tangan Izzah.
Mereka pun larut dalam pembicaraan mengenai agenda bulan madu mereka. Tanpa terasa sudah tengah malam, satu persatu keluarga Rayhan pamit pulang. Termasuk juga mang Diman dan bi Asih yang sudah meninggalkan pesta sejak dua jam yang lalu.
Tiba dirumah Rayhan dan Izzah langsung tidur terlelap tanpa melakukan ritual malam pertama yang wajib di lakukan pengantin baru. Karena rasa lelah dan kantuk yang mendera, membuat mereka terlelap dengan begitu pulas.
__ADS_1
Sementara itu orang tua Izzah dan Hani memilih bermalam dirumah bu Ros karena tak ingin mengganggu Rayhan dan Izzah sebagai pengantin baru.