Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
RUMAH BARU IZZAH


__ADS_3

Memasuki rumah Izzah, nuansa warna putih dan biru muda menghiasi ruangan tamu. Izzah begitu menyukai warna itu. Mereka semua lalu duduk lesehan di ruang keluarga, karena sesuai keinginan Izzah. Dia lebih suka duduk selonjoran bahkan berbaring jika sedang menonton televisi.


"Rumahmu bagus Zah." ucap Intan.


"Terima kasih." ucap Izzah.


"Doakan ya, supaya aku dan mas Ifan bisa segera punya rumah sendiri. Biar gak ngontrak melulu." balas Intan sambil tertawa.


"Ooh gitu, berarti neng Intan teh bosan gitu ngontrak di tempat mamang?" celetuk mang Diman yang tak sengaja mendengar obrolan Izzah dan Intan.


"Aduh mang, bukan begitu maksud Intan. Intan dan mas Ifan betah banget tinggal di kontrakannya mang Diman. Tapi, biar bagaimanapun kami juga pasti berharap punya rumah sendirikan mang." jawab Intan.


Izzah hanya tersenyum melihat mang Diman yang terlihat cekikikan.


"Ishhh si bapak, baper sekali sama neng Intan. Masa neng Intan disuruh ngontrak terus sama kita. Neng Intan sama suaminya kan butuh ketenangan juga dirumah mereka sendiri." ucap bi Asih yang ikutan nimbrung.


"Baper? Apa itu bu? Sejenis lemper ya?" tanya mang Diman polos.

__ADS_1


"Astagfirullah, bapak gak gaul sekali. Baper itu bawa perasaan pak, maksudnya bapak teh terlalu cepat terbawa perasaan saat neng Intan bilang gak ngontrak lagi."


"Eleh-eleh ibu teh sudah jadi orang gaul ya sekarang. Emang siapa yang ajarin ibu ngomong pake bahasa gaul?" tanya mang Diman.


"Kepo." jawab bi Asih seraya berlalu meninggalkan mang Diman menuju dapur rumah Izzah.


"Siapa itu kepo? Laki-laki? Wah ibu berani ya sekarang main sama laki-laki." teriak mang Diman mengejar bi Asih.


Izzah dan Intan tertawa melihat tingkat kedua orang yang sudah seperti orang tua untuk mereka itu. Intan kemudian menyusul bi Asih ke dapur membantu menyiapkan makanan dan minuman. Sementara Ifan dan dokter Harun tengah asyik mengobrol. Lisa lalu mendekati Izzah.


"Zah, aku harap kamu suka dengan kejutan ini. Rayhan yang telah mengatur semuanya. Termasuk menyuruh orang untuk menjemput ayahmu." ucap Lisa.


"Rayhan hanya ingin kau bahagia Zah, dia ingin melihatmu tersenyum. Dia pernah bilang, dia sangat bahagia hanya dengan melihat senyuman di wajahmu. Namun beberapa hari terakhir senyuman itu hilang. Rayhan sudah tentu paham kenapa kau tak bisa tersenyum. Dia pun sebenarnya begitu terpukul atas kehilangan Zahra, apalagi semua penyebabnya dilakukan oleh ibu kandungnya Rayhan sendiri. Namun bagaimanapun Rayhan ingin melanjutkan hidup yang bahagia denganmu Zah." ujar Lisa panjang lebar.


Air mata Izzah luruh mendengar penuturan Lisa.


"Terima kasih Lis, sudah selalu ada untuk bang Rayhan selama aku seperti ini." ucap Izzah memegang tangan Lisa.

__ADS_1


"Rayhan itu sahabat aku sejak dulu Zah. Dan aku pasti akan selalu ada buat dia." ucap Lisa.


Izzah mengusap air matanya lalu tersenyum.


"Ngomong-ngomong setau aku, kamu bukannya sahabatan dengan Bella? Kenapa kamu malah dukung aku dengan bang Rayhan?" tanya Izzah.


"Aku bersahabat dengan Bella sejak kami SMA, sementara dia dan Rayhan sudah bersahabat sejak masih kecil. Bella mengenalkanku dengan Rayhan saat SMA, sejak saat itu Bella berubah. Dia mulai menjauh, karena berpikir aku menyukai Rayhan, padahal aku dan Rayhan hanya sebatas teman biasa. Puncaknya setelah kesalah pahaman saat Bella dan kau mendapati aku dan Rayhan tengah berpelukan di ruang kerja Rayhan." tutur Lisa.


"Maafkan aku ya Lis, saat itu juga pernah salah paham terhadapmu."


"Sudahlah Zah, semua itu hanya masa lalu. Mari kita mulai semuanya dengan bersahabat. Maukah kau menjadi sahabatku Zah?" tanya Lisa.


"Tentu saja Lis." jawab Izzah.


"Zah mau gak kamu mengajariku untuk berhijab?" ucap Lisa.


"Masyaallah Lis, beneran kamu mau berhijab?" tanya Izzah.

__ADS_1


"Insyaallah beneran Zah." jawab Lisa.


"Alhamdulillah." ucap Izzah seraya berpelukan dengan Lisa.


__ADS_2