Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Rama = Rayhan


__ADS_3

Di suatu desa yang terpencil.....


"Mas Rama....." teriak seorang wanita berusia dua puluh satu tahun.


"Eh Ningsih, ada apa?" tanya lelaki yang kini terlihat lebih berotot itu.


"Ini ada bekal dari Ibu buat Mas Rama dan Bapak makan siang nanti." ucap Ningsih.


"Makasih ya." balas Rama.


Ningsih lalu beranjak menuju saung untuk meletakkan makanan yang ia bawa. Dari jauh ia memandang Rama yang tengah sibuk mencangkul. Kulit putih Rama terlihat memerah karena teriknya sinar matahari yang mengenai kulitnya.


"Gak usah dipandangin terus." ucap Pak Kasim.


"Eehh Bapak, ngagetin aja." ucap Ningsih.


"Kamu suka sama Rama?" tanya Pak Kasim.


Ningsih tersipu malu mendengar pertanyaan pria yang rambutnya sudah beruban itu.


"Gak kok Pak." jawab Ningsih.


"Bapak liat-liat kamu selalu memperhatikan si Rama selama ini. Bapak sama Ibu mau nikahkan kamu sama si Sandi, kamu tidak mau. Apa lagi alasannya kalau bukan kamu suka sama Rama." ucap Pak Kasim.


Ningsih menunduk.


"Kamu mau Bapak nikahkan sama Rama?" lanjut Pak Kasim bertanya.


Wajah Ningsih berubah sumringah.


"Bapak beneran mau nikahin aku sama Mas Rama?" tanya Ningsih girang.


"Iya kalau kamu mau. Kalau gak mau ya...."


"Mau Pak...mau. Ningsih mau nikah sama Mas Rama." potong Ningsih.


"Baiklah nanti Bapak bicarakan sama Rama." balas Pak Kasim.


Ningsih kemudian berlarian pulang ke rumahnya.


"Ramaaaaa...." teriak Pak Kasim.


"Iyaaa..."


"Ayo, istirahat makan siang dulu."


"Baik Pak."


Lelaki itu kemudian keluar dari dalam sawah menuju sebuah sungai kecil yang tak jauh. Ia membersihkan tubuhnya yang penuh lumpur.


"Ayo sini makan dulu." ucap Pak Kasim saat Rama selesai membersihkan dirinya.


Pak Kasim dan Rama mulai menikmati makan siang yang dibawa Ningsih tadi.


"Rama, Bapak mau bicara sesuatu sama kamu." ucap Pak Kasim setelah keduanya selesai makan siang.


"Ada apa Pak? Sepertinya serius." balas lelaki yang wajahnya kini dipenuhi bulu-bulu halus.


"Bapak mau menikahkan kamu dengan Ningsih."


Uhukk....!!! Rama yang tengah meminum air terbatuk mendengar ucapan Pak Kasim.

__ADS_1


"Me-menikah!" serunya gugup.


"Iya menikah dengan Ningsih."


Rama menghela nafas panjang.


"Maafkan saya sebelumnya Pak, saya sudah menganggap Ningsih sebagai adik saya sendiri, saya juga sepertinya terlalu tua untuk Ningsih." ucap Rama. "Lagipula, saya sampai sekarang belum tau jati diri saya Pak. Bisa saja saya ini sudah punya isteri atau saya ini mantan penjahat. Atau apapun itu, saya ingin sekali mencari tau jati diri saya Pak."


Pak Kasim mengangguk.


"Bapak mengerti, tapi ini sudah hampir tiga tahun lebih."


"Biarkan saya berpikir dulu Pak, nanti jika saya sudah siap. Saya akan menikahi Ningsih. Biar bagaimanapun Bapak sekeluarga sudah menyelamatkan hidup saya." ujar Rama.


Rama, merupakan nama pemberian dari Pak Kasim pada laki-laki yang ditolongnya dulu.


Saat itu Pak Kasim tengah mencari kayu bakar di hutan. Ia begitu kaget saat menemukan sesosok tubuh pria yang tergeletak di tanah. Kepalanya penuh darah.


Pak Kasim melihat ke arah atas dan mendapati sebuah parasut yang bergantung di pohon.


"Kemungkinan pria ini berusaha melepaskan dirinya yang tersangkut diatas pohon. Namun karena terlalu tinggi hingga ia terjatuh dan kepalanya yang terbentur batu membuatnya amnesia." ucap Bidan Desa yang merawatnya saat pertama kali ditemukan Pak Kasim.


Tiga tahun sudah lelaki yang tidak lain adalah Rayhan itu berganti nama menjadi Rama.


Pak Kasim lalu mengajaknya tinggal di rumahnya. Rayhan yang terbiasa bekerja di kantor, berubah menjadi Rama yang bekerja di kubangan lumpur yang kotor.


Pertama kali masuk ke sawah untuk bekerja, Rayhan begitu kesulitan. Namun lambat laun, seiring berjalannya waktu. Rayhan berubah menjadi Rama si petani gagah.


Postur tubuhnya yang dulu berbeda dengan sekarang yang lebih berotot. Banyak gadis desa yang menaruh hati padanya. Termasuk Ningsih yang saat pertama kali bertemu dengannya baru lulus SMA.


Rama menjadi pria idaman semua gadis di desa itu. Namun tak ada satupun yang bisa membuatnya jatuh hati.


**********************


Romi datang ke kediaman Izzah, ingin mengajak si kembar jalan-jalan.


"Ibu ayo cepat, Om Romi sudah menunggu." ucap Arsha.


"Memang kalian mau kemana?" tanya Izzah.


"Mau ke kebun binatang Bu." jawab Arka yang ikut antusias.


"Apa kalian gak lihat diluar sedang hujan?" ucap Izzah.


Arka dan Arsha kemudian berlarian menuju jendela kamar Izzah untuk melihat cuaca.


"Yaaahh. Gagal dong." ucap keduanya kecewa seraya berjalan keluar dari kamar Izzah.


Keduanya menuju ruang keluarga dimana Bu Ros dan Romi tengah berbincang.


"Loh cucu Oma kenapa cemberut?" tanya Bu Ros.


"Di luar hujan Oma, jadi kita gagal deh ke kebun binatang." ucap Arka.


Arsha terlihat lesu dan langsung duduk disamping bu Ros sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Bu Ros.


"Loh kenapa harus sedih gara-gara gak jadi pergi. Kita kan bisa main sepuasnya di rumah." ucap Romi. "Kalau kalian mau, nanti Om belikan pizza deh." lanjut Romi.


Arka dan Arsha lalu berlarian memeluk Romi.


"Om Romi memang baikk..." seru keduanya.

__ADS_1


Izzah turun dari lantai atas bergabung bersama mereka.


"Om kapan mau nikah sama Ibu?" tanya Arsha pada Romi.


Romi mencubit hidung Arsha.


"Kalau Om sih kapanpun siap sayang. Tapi tuh Ibu kalian belum mau nikah sama Om." balas Romi.


Arsha lalu berlari ke arah Izzah dan duduk di pangkuannya.


"Ibu, menikahlah dengan Om Romi. Supaya Arsha dan Kak Arka punya Papa." ucap Arsha polos.


"Benar Bu, kami berdua juga ingin punya orang tua yang lengkap." sambung Arka.


"Tapi sayang, kalian berdua kan punya Ibu dan Oma. Jadi...."


"Gak ada tapi-tapi... Pokoknya Ibu harus nikah sama Om Romi." balas Arka


"Iya Bu, kami juga ingin punya Ayah seperti teman-teman yang lain. Om Romi orang yang baik dan kami ingin dia yang jadi Papa kami." ucap Arsha.


Izzah menghela nafas panjang.


"Sayang, lebih baik kalian berdua main sana ke kamar. Biar Oma, Ibu kalian dan Om Romi ngobrol bertiga." ucap Bu Ros.


"Baik Oma." balas keduanya bersamaan.


"Bu, ingat ya. Kami mau Om Romi jadi Papa kami." ucap Arsha setelah itu keduanya kembali ke kamar mereka.


Romi tersenyum penuh kemenangan.


"Zah, kali ini aku mohon terimalah aku untuk jadi suami kamu." ucap Romi.


"Tapi Rom, aku ini lebih tua dari kamu. Kamu sepantasnya mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku." ucap Izzah.


"Tapi aku mencintai kamu Zah." balas Romi.


Izzah menatap Bu Ros yang terdiam.


"Aku masih belum bisa melupakan Bang Rayhan, maafkan aku. Aku gak bisa." ucap Izzah.


"Setidaknya pikirkan Arka dan Arsha." ucap Romi berusaha membujuk Izzah. "Menikahlah denganku, izinkan aku untuk menjaga Arka dan Arsha. Masalah cinta nanti bisa hadir sendiri seiring berjalannya waktu." lanjut Romi.


Bu Ros menggenggam tangan Izzah.


"Menikahlah Nak, demi Arka dan Arsha. Ikhlaskan Rayhan agar ia tenang, dan lanjutkanlah hidupmu Nak." bujuk Bu Ros.


Nafas Izzah naik turun, hatinya bimbang.


"Please Bu... Mau ya." ucap Arsha yang tiba-tiba duduk dihadapan Izzah.


"Sayang..." ucap Izzah mencium pipi puterinya itu.


"Iya Bu, mau ya." sambung Arka yang ikut duduk dihadapan Izzah.


"Bismillah." ucap Izzah lalu mengangguk.


"Horeee....." teriak kedua buah hatinya.


Maafkan Izzah Bang, ini semua demi anak-anak kita, batin Izzah.


Bu Ros tampak bahagia, ia lalu memeluk Izzah dengan erat.

__ADS_1


"Alhamdulillah." ucap Bu Ros.


__ADS_2