
Seminggu sudah Izzah berada dikampung halamannya. Hari ini Izzah putuskan kembali ke Jakarta, karena dia mendapat telepon dari Bi Asih. Bi Asih mengundang Izzah untuk menghadiri acara pernikahan anaknya. Selama di kampung, Izzah sama sekali tidak pernah menghubungi Rayhan, pun juga tidak pernah mengangkat telepon darinya. Izzah hanya ingin Rayhan fokus dengan Bella tanpa ada gangguan darinya.
Izzah berpamitan dengan keluarganya, ayah, ibu tirinya, dan juga Hani. Bahkan Ifan juga datang ke rumah Izza dengan istrinya, Intan. Dua hari yang lalu mereka berdua menikah. Izzah bahagia sekali melihat Ifan sudah menemukan wanita yang sangat tepat untuknya.
"Izzah hati-hati dijalan yaa, insyaallah mungkin bulan depan kami akan ke Jakarta. Mau sekedar jalan-jalan. Bolehkan kami mampir ke rumahmu." ucap Intan.
"Tentu saja, aku akan menunggu kedatangan kalian." jawab Izzah.
Ifan dan Intan lalu pamit pulang.
"Ayah Izzah pamit, insyaallah lain waktu Izzah akan berkunjung lagi." ucap Izzah seraya mencium punggung tangan ayahnya.
"Izzah, maafkan ayah ya nak. Selama ini ayah kurang perhatian dengan Izzah." lirih ayah Izzah berucap dengan mata yang berembun.
"Ayah gak salah apa-apa sama Izzah, jadi untuk apa minta maaf."
"Izzah lain kali kalau Izzah berkunjung lagi kemari, tolong bawa menantu ayah ya. Ayah ingin melihat menantu ayah."
"Insyaallah ayah, semoga bang Rayhan tidak sibuk."
__ADS_1
Rina sudah memasukkan koper Izzah ke dalam mobil. Lalu datang menghampiri Izzah.
"Mari nona, mobil sudah siap." ucap Rina.
"Iya Rin." jawab Izzah.
Izzah hendak berjalan menuju mobil, namun bu Novi dan Hani menghalangi langkahnya. Seketika raut wajah Rina berubah emosi.
"Mau apa kalian menghalangi jalan nona Izzah?" hardiknya.
"Issshhh apa-apaan sih kamu. Kita cuma mau ngomong sama Izzah." ucap Hani.
Izzah melihat Rina lalu mengangguk, pertanda memberi isyarat pada Rina agar memberikan waktu padanya untuk bicara pada Hani dan ibu tirinya.
"Ada apa?" tanya Izzah.
"Izzah, ibu harap kamu jangan cerita yang macem-macem sama ayahmu. Lupain aja yang udah ibu lakuin sama kamu. Toh sekarang kamu sudah bahagia sama suamimu. Secara tidak langsung ibu ini berjasa atas pertemuan mu dengan suamimu." ucap bu Novi panjang lebar.
"Ibu bener, jadi paling tidak kamu itu balas budi sama ibu karena udah ngajak kamu ke Jakarta. Karena ibu juga kamu sekarang bisa hidup kayak orang kaya. Enak banget hidupmu sekarang." tambah Hani.
__ADS_1
"Apa maksud kalian? Apa menurut kalian aku harus berterima kasih karena sudah dijual di rumah bordil?" ucap Izzah dengan geram.
Pak Haris yang berdiri jauh dari mereka mendekat karena melihat Izzah yang terlihat marah. Begitu juga dengan Rina, dia mendekat dan memegang pundak Izzah.
"Apa nona baik-baik saja?" tanya Rina.
"Ada apa ini? Kenapa Izzah terlihat marah?" tanya pak Haris.
"Gak ada apa-apa kok. Tadi ibu sama Hani cuma bilang sama Izzah sering-sering ngasih kita hadiah. Kan sekarang Izzah sudah jadi istri orang kaya" ucap bu Novi.
"Bener yah. Eehh gak taunya Izzah malah marah." tambah Hani.
"Apa-apaan kalian juga kenapa pakai acara minta diberikan hadiah sering-sering. Kalian gak....." ucap pak Haris yang dipotong Izzah.
"Sudah yah, gak apa-apa. Gak usah dipermasalahkan. Izzah lebih baik pamit sekarang, sudah terlambat. Assalamualaikum." ucap Izzah seraya berlalu meninggalkan mereka bertiga diikuti Rina yang mengekor dibelakangnya.
Rina hendak bertanya namun Izzah sudah lebih dulu berbicara.
"Please Rin, aku gak mau bahas apapun. Lebih baik kamu fokus aja nyetirnya biar kita cepat sampai Jakarta."
__ADS_1
"Baik nona." jawab Rina.
Mobil pun melaju meninggalkan kampung halaman Izzah. Ada rasa haru yang menyeruak dalam hati Izzah, memikirkan bagamana menghadapi situasi di Jakarta nanti.