Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Mendadak Dilamar


__ADS_3

"Coba diingat-ingat lagi, Mbak." Seorang pria tampak keluar dari mobil dan berdiri di pinggir jalan dengan ponsel yang menempel di telinga. "Kekinian Caffe kan namanya. Udah disini. Bentar." Dia memutar badan dan menatap caffe.


Arsha mengurungkan niat untuk pergi dan diam-diam terus memperhatikannya.


Wajahnya kayak familiar, siapa, ya?


Pria itu masuk ke caffe dengan ponsel masih menempel di telinga.


Tak berapa lama kemudian ia keluar. "Belum rezeki, Mbak. Nggak ada di sini."


Arsha pun memberanikan diri mendekat.


"Cari sesuatu, Mas?"


Pria berkaus hitam itu membalikkan badan dan menatap Arsha dari atas sampai bawah. Ia terlihat mematikan sambungan lalu melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidung.


Mata Arsha langsung membulat.


Devan?


Arsha refleks menelan ludah berat.


"Apa kabar, Arsha?"


OMG! Dia masih inget namaku. Tahan, Arsha tahan. Jangan pingsan!


"Ba-baik."


Devan tersenyum.


"Maaf, tadi kamu tanya apa?" tanyanya membuyarkan lamunan Arsha.


"Oh, itu. Anu ... kamu makin tampan? Eh, bukan, bukan. Bentar aku inget-inget dulu." Arsha langsung membalikkan tubuh dan mentoyor kepalanya sendiri.


Jangan malu-maluin, Arsha! Harga dirimu dipertaruhkan!


Arsha mengatur napas dan kembali berbalik. "Lagi cari sesuatu?"


"Ah, iya. Tadi kakakku habis makan di sini dan ya ... ada barangnya yang ketinggalan."


"Plastik hitam bukan?"


Devan mengangguk. "Kamu lihat?"


"Isinya apa kalau boleh tahu?"

__ADS_1


"Uang. Lumayan isinya, ada jeruk juga di situ."


Arsha menjentikkan jari. "Ikut aku."


Arsha melangkah ke mobil dan membuka pintu. "Ini bukan?"


Devan menerima plastik hitam itu dan memeriksanya. "Bentar, aku kirim ke kakakku dulu." Ia mengambil gambar lalu sibuk dengan ponselnya beberapa saat.


Yang lama juga nggak apa-apa, lumayan ada pemandangan gratis. Mana makin tampan lagi daripada dulu. Apa dia oplas, ya? Kayak Oppa-Oppa Korea gitu.


"Bener, Sha. Makasih banyak, ya."


Arsha mengangguk. "Sama-sama."


"Mau ada acara habis ini? Mungkin kita bisa ngopi-ngopi bentar?"


Kesempatan emas sebenarnya, tapi aku kan habis makan. Bisa gagal diet ini.


"Lain kali aja, Van. Kebetulan mau ada acara habis ini."


Devan mengangguk-angguk. "Boleh minta nomor HP?"


"No-morku?"


Devan menggeleng. "Nomor Ayahmu."


Arsha tertawa meski bingung. "Suka bercanda, deh."


"Seriuslah, boleh minta nomor Ayahmu nggak?"


Jangan-jangan Devan mau fitnah aku kalau sudah nyuri uang tadi. Gawat ini!


"Sha?"


"Eh, y-ya bentar."


"Atau gini aja, kamu yang telepon Ayah kamu dan di-loudspeaker."


"Memangnya mau ngomong apa? Nggak bakal fitnah aku ngambil duit tadi, kan?"


Devan tertawa kecil. "Enggak. Udah buruan."


Atau mungkin, dia ada kerja sama perusahaan Ayah? Secara dia kan juga anak pengusaha.


Arsha mencari nama Ayah di kontak WA, lalu memanggilnya.

__ADS_1


"Halo. Kenapa, Nak? Mau nambah uang jajan lagi?" tanya Rayhan saat sambungan terangkat.


Devan tampak tersenyum tipis.


"Bukan, Yah. Ini ada yang mau ngomong."


"Siapa Sha?."


Arsha tersenyum dan memberikan ponsel pada Devan.


"Halo, Pak. Selamat sore, perkenalkan saya Devan, Pak."


"Devan, siapa ya?"


"Saya temennya Arsha, Pak."


"Oh ... temennya Arsha. Ada apa, ya?"


"Kalau boleh tahu, nanti malam Bapak ada acara?"


"Nanti malam, sepertinya tidak ada. Paling juga kencan sama Ibunya Arsha.."


Devan kembali tersenyum mendengar ucapan Rayhan.


"Jika diizinkan, nanti malam saya mau ke rumah bertemu dengan Bapak."


Arsha mengernyitkan dahi, tak mengerti maksud dari ucapan Devan.


"Mau ikut kencan?" tanya Rayhan dari seberang sana.


Devan lagi-lagi terkekeh. "Bukan, Pak. Saya berniat melamar Arsha."


Ha?


Mulut Arsha langsung menganga tak percaya.


"Kamu jangan becanda gitu ah, gak enak sama Ayah aku." ucap Arsha.


"Aku serius." jawab Devan singkat.


"Kalau begitu, silahkan datang ke rumah beserta dengan orang tua kamu juga. Jika kamu benar-benar serius." ucap Rayhan.


"Baik Pak." balas Devan.


Mimpi apa aku semalam? Kenapa tiba-tiba main lamar-lamar aja? Atau dia emang udah suka sama aku sejak dulu? batin Arsha.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2