
Ibu....
Siapa yang tidak mengenal namanya? Bahkan saat namanya disebut, wajah seseorang yang selama ini mengasuh kita akan seketika muncul dalam pikiran.
Bila ada pepatah surga di telapak kaki ibu, mungkin itu adalah gambaran yang paling mulia untuk setiap pengorbanan yang telah ia lakukan terhadap anak- anaknya.
Ibu adalah segalanya. Pengorbanan terbesar dalam melahirkan membuat dirinya mempertaruhkan seluruh nyawa. Bahkan setelah sang anak lahir ke dunia, ibu dengan penuh kesabaran selalu setia merawat sampai besar.
Saat ini Izzah tengah berada dalam fase dimana dirinya tengah berjuang untuk mendapatkan panggilan itu.
Bagi Izzah sendiri, Ibu adalah segalanya. Namun, dalam hidup Izzah, ia tak bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu dalam waktu yang lama.
Tuhan berkendak lain padanya, Izzah harus kehilangan Ibunya di usia kecil. Dimana dirinya saat itu sangat membutuhkan kasih sayang seorang Ibu.
Bulan demi bulan berlalu, kandungan Izzah sudah membesar. Sebagai Ibu hamil, Izzah tidak mengalami ngidam yang aneh-aneh seperti kebanyakan wanita hamil lainnya. Semua makanan dapat Izzah nikmati dengan nyaman tanpa ada rasa mual dan yang lainnya.
Terkadang, mood Izzah sering kali berubah-ubah, bisa tiba-tiba bahagia dan beberapa saat kemudian bersedih. Pengaruh janin yang ada di dalam perut lah yang membuat perasaannya mudah berubah.
Kini, Izzah menjadi lebih manja pada Rayhan. Jika Rayhan pulang terlambat dari kantor, seketika Izzah akan menangis. Namun, adakalanya sikap Izzah membuat Rayhan geleng-geleng kepala.
Sebagai suami, Rayhan selalu berusaha menjadi calon Ayah yang siaga, apapun yang Izzah inginkan dengan segera Rayhan turuti. Seperti malam itu....
"Abaaanggg...." panggil Izzah manja. "Sini..."
"Iya sayang, sebentar." jawab Rayhan yang tengah berganti pakaian di kamar mandi.
"Cepetan sini Bang...."
"Iya sayang, tunggu sebentar..."
*Abaaaang, tolongin Izzah Bang....huuu...uuu" ucap Izzah sambil menangis.
__ADS_1
Mendengar suara tangisan Izzah, dengan cepat Rayhan keluar dari kamar mandi tanpa mengancing piyama berwarna biru yang ia kenakan.
"Ada apa sayang kenapa nangis? Ada yang sakit? Yang mana sayang?" tanya Rayhan sambil meraba bagian punggung, pundak, hingga kaki Izzah.
Ya Allah tolong jaga selalu isteriku, lindungilah dia selalu, gumam Rayhan.
"Tolong peluk Izzah, Bang." ucap Izzah manja sambil merenggangkan tangannya.
"Lah, minta peluk to ternyata. MasyaAllah..." ucap Rayhan dengan menggelengkan kepalanya tersenyum.
Rayhan kini telah berubah menjadi pribadi yang religius. Kehadiran Izzah, membuat perubahan besar dalam hidupnya. Rayhan merasa sangat bahagia, isterinya tengah mengandung dan ditambah lagi dengan Ibunya yang sudah berhijrah.
Bu Rosita saat ini sudah menutup kepalanya dengan hijab. Pakaian dan penampilan glamournya di masa lalu sudah ia tinggalkan. Bu Ros benar-benar menjadi manusia yang jauh lebih baik.
"Mami mau berubah Ray, Mami gak mau terus-terusan seperti dulu. Mami mau seperti Izzah. Mami mau mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, apalagi Mami sudah tua begini. Semoga Mami gak terlambat."
"Gak ada kata terlambat Mi. Alhamdulillah, Rayhan seneng banget Mi. Semoga Mami selalu istiqomah. Aamiin."
Bu Ros juga semakin dekat dengan Izzah, begitu perhatian dengan Izzah. Setiap hari selalu saja ada petuah yang diberikannya pada Izzah tentang kehamilan.
Izzah merasa hidupnya sangat bahagia. Memiliki suami yang amat begitu menjaganya, mertua yang begitu perhatian dan mempunyai banyak orang yang sangat menyayanginya.
Mang Diman dan Bi Asih tak pernah absen setiap minggu untuk mengunjungi Izzah. Begitu juga dengan orang tua Izzah, terkadang mereka juga sering menginap di rumah utama Rayhan.
Pak Haris sangat berharap sekali Izzah bisa tinggal bersamanya saat bayinya lahir nanti. Karena Pak Haris ingin berada di dekat cucunya.
Sampai saat ini Izzah masih belum tahu jenis kelamin bayi yang dikandungnya. Izzah dan Rayhan sepakat agar hal itu menjadi kejutan untuk mereka berdua dan keluarganya.
Satu hal yang Izzah dan Rayhan tahu, bahwa bayi mereka kembar. Hal itupun mereka berdua rahasiakan dari keluarga dan orang terdekat.
"Abang sini cepetan." ucap Izzah.
__ADS_1
Rayhan yang tengah duduk menghadap laptopnya memeriksa beberapa file, dengan segera mendekati Izzah.
"Ada apa sayang?" tanya Rayhan mengelus lembut pipi Izzah.
Izzah memegang tangan Rayhan lalu meletakkan diperutnya.
"Kerasa gak?" tanya Izzah.
"MasyaAllah, iya sayang. Apa gak sakit?"
"Gaklah Bang, malah geli." balas Izzah.
Rayhan menundukkan kepalanya condong ke arah perut Izzah.
"Assalamualaikum, anak-anak Ayah." ucap Rayhan mengelus perut Izzah lembut. "Kalian gak usah terlalu sering main bola ya, kasihan Bunda kalian nanti kesakitan." lanjut Rayhan mencium perut Izzah.
Izzah tersenyum bahagia.
"Abang, besok kan ada jadwal Izzah periksa kandungan. Abang bisa temenin gak?" tanya Izzah.
"Tentu saja sayang, kenapa harus bertanya?"
"Izzah takut Abang ada jadwal meeting atau apalah itu."
"Sayang, abang akan lakuin apapun untuk kalian berdua, eh maksud abang bertiga."
Izzah terkekeh, kemudian memeluk Rayhan. Rayhan membalas pelukan Izzah kemudian mencium kening, pipi, leher, dan menjalar ke bagian tubuh Izzah yang lain.
"Abang..." desah Izzah.
Malam indah pun dilalui Rayhan dan Izzah.
__ADS_1